
Maaf ya, kalau lama nggak up-up. 🙏🙏🙏
Ada sesuatu hal yang sulit dimengerti. 😉
"Tapi, apa, Vid? Apa karena kamu tak punya uang?" tanya Lira sangat paham. Dia tahu kalau David pasti keberatan membayar detektif mengingat pekerjaan David yang jelas tidak berpenghasilan besar. Jika dilihat dari kendaraan yang dia gunakan.
"Em, iya benar sekali. Kalian kan tahu selama aku koma di sini. Tentu saja aku tak punya penghasilan. Aku bukan orang kaya. Aku hanyalah pekerja buruh di bengkel," jelas David sangat malu sekali.
"Hem, kau ini jujur sekali jadi pria. Baiklah, nanti aku yang akan menalanginya dahulu," ucap Lira terkekeh geli.
"Eh, kamu serius, Lir?" tanya David takjub. Dia tidak menyangka kalau Lira orang yang sangat baik.
"Iya, aku serius. Namun, tentu saja ada syaratnya," jelas Lira tersenyum.
"Syarat? Memangnya, syaratnya apa kalau aku boleh tahu?" tanya David bersemangat.
"Syaratnya gampang kok. Kamu cukup menikahiku saja," jelas Lira tersenyum.
Gluk!
David langsung menelan ludah. Dia tidak menyangka kalau Lira memberikan syarat yang amat sangat sulit. Jelas saja dia tak mungkin menuruti keinginan konyol tersebut. Cinta dan kasih sayangnya cukup untuk istri dan anak-anaknya saja.
Bukan hanya David saja yang terkejut. Orang-orang rumah pun ikut terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Lira sudi menjadi istri kedua David karena terlalu mengaguminya.
"Kok, diam? Tawaranku itu sangat mudah loh. Bukannya kamu itu merasa senang jika bisa memiliki banyak istri?" tanya Lira tersenyum.
David langsung menggeleng cepat.
"Aku sama sekali tidak ada niatan untuk menghadirkan madu di dalam rumah tanggaku. Sudah cukup aku melukai hati istriku. Lebih baik, aku usaha sendiri saja mengungkap kasus yang menimpaku ini saat sudah sembuh nanti," jelas David tidak suka.
"Oh ya, bukannya tadi kamu sudah berjanji untuk tidak mengganggu keluargaku. Ini kenapa kamu mulai memberikan syarat yang tidak-tidak?" tanya David kecewa lagi dengan Lira.
__ADS_1
"Aku bukannya ingin mengganggu rumah tanggamu. Aku hanya memberi tawaran saja biar kamu tidak terlalu terbebani. Oh ya, bagaimana dengan biaya pengobatan kamu selama dirawat di sini? Itu tidak gratis loh," sindir Lira tersenyum.
"Ah, itu nanti akan aku usahakan juga jika aku sudah sembuh. Untuk saat ini, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya karena belum bisa membayarnya," jelas David tertunduk lesu. Dia tidak menyangka kalau Lira memanfaatkan kelemahannya.
"Em, untuk biaya perawatanmu itu, kami tidak bisa memberikan kelonggaran waktu. Kamu kan tahu berapa banyak uang yang harus kami keluarkan untuk merawat kamu. Bahkan, kami sampai meminjam uang kepada rentenir loh." Pak Anwar langsung menyenggol lengan putrinya yang sangat keterlaluan. Namun, Lira tidak memedulikannya.
"Jadi, jika diulur-ulur bunganya jadi semakin besar loh. Apa kamu yakin akan hal itu? Kalau saranku sih, kamu menikah saja denganku," saran Lira tersenyum.
"Ah, ini cobaan apa lagi, Tuhan? Apa ini karma untukku karena sempat menyia-nyiakan istri dan anakku ... sehingga keluargaku selalu saja tertimpa musibah dan sulit sekali bahagianya," teriak David sangat frustrasi mendengar perkataan Lira yang sangat memberatkannya itu. Lagi-lagi dia harus bertemu perempuan tidak punya hati seperti Nayla.
Pembantunya Lira ikut sedih merasakan penderitaan yang dialami David. Begitupula dengan Pak Anwar.
"Ahaha! Aku terkesan sangat licik sekali ya, Vid?" tanya Lira tertawa puas.
David langsung menatap Lira tajam.
"Ih, jangan menatapku seperti itu, ah. Aku takut akan semakin terpesona dengan ketampananmu itu." Lira tersenyum geli.
"Uh, aku tidak menyangka kalau hari ini bisa memerankan tokoh antagonis di sini," ucap Lira menitikkan air mata karena terlalu banyak tertawa.
David langsung menatap Lira lagi. Keningnya mengerut mengartikan kata-kata Lira itu. Orang-orang yang ada di sana pun ikut merasa aneh dengan sikap Lira.
"Aduh, pasti kamu merasa bingungkan dengan kata-kata aku ini?" Lira tersenyum sambil mengusap air matanya.
David merasa semakin aneh dengan sikap Lira yang berubah-ubah.
"Sudah, jangan diambil hati kata-kataku tadi. Aku hanya becanda saja kok," jelas Lira tersenyum.
Mereka semua langsung tersenyum setelah mengetahui bahwa Lira hanya becanda saja.
"Maksudmu, kamu hanya mengerjaiku saja tadi?" tanya David masih ragu.
__ADS_1
"Iya David. Mana mungkin aku sudi menjadi madu istrimu. Memang kamu pikir menjadi madu itu enak. Di setiap tempat aku dibenci orang. Lebih baik, aku singkirkan saja istrimu kalau benar ingin memiliki kamu. Haha," goda Lira terkekeh.
"Huh, Non Lira ini ada-ada saja tingkahnya. Bibi kira tadi Non Lira benaran loh," ucap Bi Marni tersenyum geli.
"Hehe, sekali-kali buat gempar orang rumah kan tidak masalah, Bi. Yah, hitung-hitung senam jantung," jelas Lira terkekeh geli.
"Ck, aku tidak menyangka kalau kamu itu jago berakting. Aku benar-benar tertipu dengan peranmu. Jangan bilang kalau kamu itu seorang aktris?" tanya David tersenyum malu.
"Ah, tentu saja aku bukan aktris. Aku ini hanya seorang relawan. Kerjaan aku hanya mengobati orang yang tidak mampu," jelas Lira terkekeh geli.
"Wah, berarti kamu benar-benar berhati mulia. Jarang-jarang jaman sekarang ada wanita yang sekolah tinggi-tinggi hanya untuk membantu orang yang tidak mampu," puji David tersenyum bangga.
"Ah, jangan berlebihan begitu memujiku. Aku hanya sedih saja ketika melihat orang-orang pedalaman yang tidak memiliki biaya untuk berobat. Kalau dengan orang kalangan mampu tentu saja aku tidak menggratiskan mereka," jelas Lira terkekeh.
"Itu tindakan yang benar, Lira. Masa iya sama orang kaya mau digratisin juga. Lalu uang mereka mau buat apa nanti? Belum tentu mereka ingat membagikan sedikit rejeki mereka pada orang yang tidak mampu. Padahal itu kewajiban mereka loh," ucap David tersenyum bangga.
"Iya sih. Ya sudah, kamu istirahat dulu. Nanti, aku hubungi adik sepupuku yang berprofesi sebagai detektif. Jadi, kamu tak perlu bingung soal biayanya," titah Lira tersenyum.
"Baik, terima kasih banyak, Lir? Aku akan selalu mengingat jasa-jasamu ini," balas David sangat senang.
"Ah, tidak perlu diingat-ingat. Lebih baik, kamu membalas kebaikan aku ini dengan cara mencarikan aku jodoh pria yang tampan kayak kamu," ledek Lira lagi.
David terdiam sejenak.
"Oke, aku akan perkenalkan kamu sama mantan anak buahku saja. Aku rasa dia sebelas dua belas dengan aku. Badannya tinggi, kulitnya putih, dan wajahnya tampan," ucap David setuju.
"Baik, aku tunggu janjimu itu. Awas saja kalau kamu sampai berbohong. Aku tidak segan-segan membuang istrimu ke Eropa biar kamu semakin tersiksa," ancam Lira tersenyum geli.
"Hey, kau!" David melotot.
"Haha, ya sudah. Cepatlah istirahat biar cepat sembuh. Katanya ingin cepat ketemu anak dan istrimu," titah Lira tersenyum.
__ADS_1
"Baik, Bu Dokter Lira." David memasang tangan posisi hormat.