
Senyuman manis di bibir Nayla langsung luntur. Baru saja dia dibuat terbang melayang ke udara. Kini dia dibuat jatuh sejatuh-jatuhnya oleh David.
"Huh, dasar! Awas kau! Sekarang kau memang suka menghinaku. Tapi, lihat saja nanti ketika anak ini sudah lahir. Akan aku buktikan bahwa aku juga bisa menjadi ibu yang baik dan berpengalaman untuk seorang bayi. Bahkan, istrimu itu pasti akan kalah saing karena aku bisa penuh perhatian sama anakku. Sementara dia waktunya habis terkuras buat mengasuh anak kakaknya. Dan Kaysa pasti akan kekurangan kasih sayang seorang Ibu," batin Nayla tersenyum licik.
Tak sengaja Kayra melihat ekspresi wajah Nayla. Dia langsung begidik ngeri. Dia paham dengan isi hati Nayla.
"Pasti dia sedang mengumpati penghinaan Mas David lalu berpikiran buruk. Semoga saja dia bukan orang yang jahat," batin Kayra merinding.
Mengetahui sudah mulai ada perang dingin di antara Nayla dan David, ibunya Nayla segera melangkah masuk. Dia malas menanggapi hal-hal yang berbau keributan.
Mengetahui hal itu, orang-orang yang ada di sana langsung mengikutinya. Kini beberapa di antara mereka langsung duduk di ruang tamu. Sementara David hendak mengajak Kayra beristirahat di dalam kamar.
"Semuanya, aku antar Kayra ke kamar dahulu," pamit David tersenyum.
"Iya, silahkan!" sahut mereka tersenyum.
"Ayo ikut sama Mas," ajak David tersenyum sambil menggandeng tangan Kayra.
"Baik," jawab Kayra mengangguk patuh.
Mereka berdua langsung melangkah pergi meninggalkan ruang tamu. Kayra hanya diam saja selama perjalanan menuju kamar. Hal itu membuat David merasa was-was. Dia tahu kalau istrinya ini pasti masih merasa cemburu gara-gara masalah tadi antara dia dan Nayla. Dia segera menghentikan langkahnya ketika sampai di kamar mereka.
"Stop ini kamar kita," perintah David tersenyum.
"Oh," balas Kayra singkat, padat dan jelas.
David segera membuka pintu kamar tersebut.
"Ayo masuk," ajak David tersenyum manis.
Kayra hanya mengangguk saja. Dia tidak membalas senyuman David. Hal itu membuat David semakin ketar-ketir.
Mereka segera masuk ke dalam kamar. David menutup pintunya. Tanpa menunggu lama David segera memeluk tubuh istrinya dari belakang.
__ADS_1
Mata Kayra langsung melebar sempurna. Dia terkejut sekali. Bukannya senang Kayra malah meminta lepaskan.
"Mas, lepas, ih!" omel Kayra cemberut.
"Nggak mau!" tolak David mengecupi pucuk kepala Kayra. Tinggi Kayra hanya sebatas bahu David. Jadi, David tidak kesulitan sama sekali. Dia mengeratkan pelukannya.
Mendapatkan penolakan dari David, hati Kayra makin kesal. Dia diam saja tidak merespon aksi David. Bibirnya mengkerucut.
Tidak mendapatkan respon sama sekali dari Kayra. David langsung membalikkan tubuh Kayra agar menghadap ke arahnya.
Kayra langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia malas menatap wajah sang suami.
"Hey, wajah suamimu di sini!" David segera menggeser wajah Kayra agar menatapnya.
Bukannya menatap David, Kayra malah menunduk ke bawah.
"Astaga, ternyata istriku ini sekarang sudah sangat mencintaiku sepenuhnya. Baru saja aku sok perhatian sama wanita lain sudah cemburu buta begini!" David mendongakkan wajah sang istri agar menatapnya. Namun, Kayra langsung menoleh ke arah lain. Tersirat di wajahnya rasa kesal.
Melihat hal itu, David tersenyum geli. Lalu, menolehkan wajah Kayra agar menatap ke arahnya.
Sayangnya kekuatannya kalah jauh dengan David. Tubuh David tidak bergerak sama sekali. Yang ada David malah ********** lembut. Awalnya Kayra tidak merasakan apa-apa karena dia memang tak ada niatan membalasnya. Namun, durasi ******* lembut yang lama membuat tubuh Kayra merasa merindin. Tanpa dia sadari, bibirnya ikut bergerak mengikuti alunan bibir David.
Cukup lama mereka menikmatinya. David melangkah maju hal itu membuat tubuh Kayra bergerak mundur mengarah ke kasur. Naluri kelelakiannya mulai meronta-ronta minta dipuaskan. Begitu kaki Kayra sudah terpentok kasur. David mendorong pelan tubuh Kayra, menjatuhkannya ke kasur.
Mata Kayra yang sempat terpejam langsung terbuka lebar. Dia paham arah tujuan David mengajaknya ke kasur. Dia segera menghentikan lumatannya. Merasakan hal itu, David langsung menjauhkan bibirnya.
"Loh, kenapa berhenti, Sayang?" tanya David lesu. Matanya memerah karena hasratnya tertunda.
"Aku kan masih masa nifas, Mas. Lagi pula luka operasiku belum sembuh total. Apa Mas melupakan hal itu?" tanya Kayra tersenyum. Akhirnya, dia tidak marah lagi karena habis menikmati momen indah bersama sang suami.
"Astaga, aku nyaris melupakan itu!" David menepuk jidatnya pelan.
Kayra tersenyum geli.
__ADS_1
"Lalu, kalau sudah begini ... bagaimana dengan nasib dia?" David menunjuk sesuatu yang sudah menonjol.
"Enggak tahu!" Kayra mengangkat bahunya sambil memasang raut wajah tidak peduli.
"Aduh, kok bisa nggak tahu sih! Pokoknya kamu harus tanggung jawab," ancam David tersenyum.
"Loh kok, aku yang disuruh bertanggung jawab. Itukan ulah Mas sendiri," tolak Kayra tersenyum geli.
"Tapi kan, ini semua gara-gara kamu asalnya. Pokoknya, kamu harus tanggung jawab," paksa David tersenyum genit.
"Yeee, suruh siapa Mas membohongi aku?" tanya Kayra cemberut lagi.
"Hey, maksud kamu bohong apa? Mas, nggak merasa membohongi kamu," jelas David tersenyum geli. Dia paham arah pembicaraan istrinya.
"Ya sudah, kalau nggak merasa. Aku mau istirahat saja!" Kayra mendorong dada David. Dia mulai kesal lagi.
"Hey, jangan marah lagi! Aku akui kalau aku tadi sudah salah berkata. Tadi, itu aku bingung harus beralasan apa untuk mencegah aksi Nayla yang ingin menggendong tubuh Davin. Kalau aku terang-terangan menjelaskan permasalahannya, pasti para pembantu akan tahu kalau aku tidak menyukai Nayla. Hal itu tentu akan membuat aku dinilai jahat sama mereka," jelas David tersenyum. Tangannya mengelap sudut bibir Kayra yang basah.
"Oh," jawab Kayra tersenyum tenang.
"Hey, singkat sekali jawabanmu itu hanya 'oh' saja." David berdiri.
"Lalu, bagaimana dengan dia!" tunjuk David lagi sambil tersenyum genit.
"Nggak tahu, Mas! Mas, pikirkan saja sendiri," jawab Kayra santai. Bibirnya tersenyum geli melihatnya.
"Hey, nggak bisa begitu dong! Inikan terjadi gara-gara kamu juga. Jadi, kamu harus ikut andil mencari solusi untuk menidurkannya lagi," ucap David tidak terima. David tersenyum genit.
"Pokoknya aku nggak mau ikut-ikutan, Mas! Mas, cari saja idenya sendiri. Aku juga mana tahu soal begituan," jelas Kayra sangat polos. Dia memang tidak tahu menahu soal begituan. Pergaulan dia bersama temannya tidak pernah sampai ke arah sana.
"Hah, kamu serius nggak tahu? Masa sih?" goda David tersenyum genit.
"Iya aku serius. Mas, seharusnya sudah paham soal itu." Kayra menatap serius sang suami.
__ADS_1
"Oke deh Mas percaya. Bagaimana kalau Mas kasih tahu caranya?" David tersenyum senang. Dia memiliki ide brilian.