Jodoh Tak Lari Ke Mana

Jodoh Tak Lari Ke Mana
Termakan Omongan


__ADS_3

Sudah seminggu Kayra menantikan kabar dan kepulangan sang suami. Namun, penantiannya itu belum tercapai. Padahal pencarian terus dilakukan oleh timsar. Terpaksa sambil terus berdoa dan menunggu kepulangan David, Kayra harus mencari nafkah sendiri karena stok uang gajian David sudah mulai menipis.


Dia kembali berjualan keliling bersama anak-anaknya. Tangan kirinya digunakan  untuk menggandeng Kaysa. Sedangkan, tangan kanannya menenteng kotak makanan berisi makanan yang akan dijual. Sementara Davin, dia gendong.


Hari ini karena jualannya masih banyak, dia memutuskan menjajakan jualannya di pinggiran jalan dekan lampu merah. Dia yakin kalau di sana jualannya akan ada yang membeli karena kendaraan sebentar-sebentar menepi menunggu lampunya berwarna hijau lagi.


"Unda, itu ada yang mau beli." Kaysa menggoyangkan tangan Kayra memberi aba-aba di saat Kayra masih sibuk menjuali pembeli.


"Aduh, sabar, Sayang! Ini Bunda masih ngelayani," jelas Kayra tersenyum.


Kaysa mengangguk. Akan tetapi, diam-diam tanpa sepengetahuan bundanya dia berinisiatif untuk menanyai pembeli yang sejak tadi melambaikan tangan. Dia ingin membantu bundanya. Kaki kecilnya segera berlari menghampiri orang yang melambaikan tangan itu.


Namun, tiba-tiba dia menghentikan larinya karena ada orang yang menyapanya. Dia menengok ke arah orang yang menyapanya. Pria itu berada di dalam mobil dengan kaca mobil yang terbuka. Dia tidak sengaja melihat Kaysa di saat hendak membuang puntung rokoknya.


Semenjak mengalami defresi berat, Damar melampiaskannya dengan cara merokok. Bahkan, terkadang dia meminum minuman keras untuk menenangkan jiwanya yang rapuh.


"Hey, kamu Kaysakan?" tanya Damar mengerutkan keningnya.


"Iya, Om." Kaysa mengangguk sambil tersenyum manis karena dia mengenal siapa yang menyapanya.


"Kok, kamu sendirian? Di mana bunda dan ayahmu?" tanya Damar cemas.


"Ayah pelgi lum puyang-puyang." Raut wajah Kaysa langsung berubah sendu.


Melihat hal itu Damar langsung merasa iba. Dia sama sekali tidak membenci Kaysa walaupun dia adalah anaknya Kayra. Dia hanya membenci Kayra dan darah dagingnya sendiri.


"Memangnya, ayahmu pergi ke mana?" tanya Damar segera turun dari mobil.


"Ayah, kelja tapi dak puyang-puyang lagi." Kaysa menitikkan air mata kesedihannya.


"Astaga, lalu di mana bundamu kok kamu sendirian di sini?" tanya Damar menghampiri Kaysa. Dia segera menundukkan tubuhnya hendak mengusap air mata Kaysa.


"Itu, Bunda!" tunjuk Kaysa pada Kayra yang masih sibuk melayani pembeli yang cukup ramai.

__ADS_1


Deggg!


Hati Damar kembali teriris melihat bayi laki-laki yang tampak tenang di gendongan Kayra. Wajahnya miring menghadap ke arah dia dan Kaysa.


"Astaga, kenapa dadaku jadi sesak begini? Bukannya, aku sangat membencinya," batin Damar gemetaran.


Melihat perubahan gelagat Damar  membuat Kaysa merasa aneh. Dia mengusap air matanya sendiri.


"Om, napa tok demeteran gitu? Itu adikku, Om. Namanya, Davin." Kaysa ikut menatap ke arah adiknya.


"Oh, namanya Davin. Yuk, kita ke hampiri bundamu. Om, ingin berkenalan sama adik barumu," ajak Damar penasaran. Kini dia termakan nasihat ibunya dahulu yang pernah berkata bahwa dia pasti akan luluh ketika melihat wajah bayi Kayra.


"Iya, Om." Kaysa mengangguk.


Sedangkan, pembeli yang meneriaki Kaysa tadi langsung mengomel karena Kaysa tak jadi melayaninya.


"Hey, kok malah pergi lagi! Ini saya mau pesan makananya!" teriak pembeli itu kesal.


Damar langsung menengok ke arah ibu-ibu dengan perawakan gendut di dalam mobil.


"Huh, baiklah." Wanita gendut itu segera turun dari mobil.


Damar dan Kaysa segera menghampiri Kayra. Pembeli yang sangat ramai membuat Kayra tidak menyadari kehadiran Damar.


"Sini biar aku saja yang menggendong Davin agar kamu bisa leluasa berjualan," sapa Damar iba melihat Davin. Dia tetap enggan menatap Kayra. Ya, tujuannya hanya kepada Davin saja.


Kayra langsung menengok ke arah Damar. Sungguh dia terkejut sekali. Dia tidak menyangka kalau Damar akan hadir menjumpainya setelah tahu betapa marah dan bencinya Damar padanya.


Para pembeli pun ikut menatap Damar. Kening mereka mengkerut melihat pria tampan dan memakai seragam khas kantoran bersikap baik kepada penjual makanan. Mereka berbisik-bisik membahas Damar.


"Tidak perlu, Tuan. Terima kasih atas tawaran baiknya," tolak Kayra tersenyum.


Damar langsung menghela napas kasar.

__ADS_1


Jujur dia sangat kesal karena keinginannya ditolak Kayra. Dia segera mengalihkan ke tawaran lain karena tak tega melihat darah dagingnya tersiksa akibat aktivitas Kayra.


"Ya sudah. Biarkan aku saja yang melayani pembelinya. Aku tak tega melihat David tersiksa," tawar Damar segera duduk di samping Kayra tanpa melihat wajahnya. Tangannya segera meraih pelastik dan alat penyapit makanannya.


Kayra diam tercengang melihat aksi Damar. Sedangkan, Damar mulai melanjutkan aksi jualan Kayra lagi. Para pembeli semakin merasa aneh dengan sikap Kayra dan Damar. Mereka merasakan ada perang dingin di antara keduanya.


"Maaf, Ibu tadi pesan berapa?" ulangi Damar dengan nada dingin. Dia masih saja merasa kesal dengan Kayra.


"Em, aku pesan sepuluh ribu saja," jawab ibu tersebut mulai takut dengan sikap Damar.


"Berapa dapatnya kalau sepuluh ribu?" tanya Damar jutek tanpa menatap Kayra.


Melihat gelagat Damar yang buruk membuat Kayra cemas dan khawatir. Dia takut kalau pelanggannya akan kabur gara-gara ulah Damar yang tidak bersahabat.


"Sudah, biarkan aku saja. Ini kalau Tuan mau menggendong Davin," balas Kayra mencoba bersabar.


"Good, gitu saja repot!" Damar tersenyum menang. Dia meletakkan apa yang dia pegang ke wadah makanan Kayra. Lalu, segera bangkit.


Kayra pelan-pelan ikut bangkit. Lalu, mengeluarkan anaknya dari gendongan. Kemudian, memberikannya pada Damar.


"Ayo Kaysa kita duduk di sana saja. Biarkan bundamu melayani pembelinya," ajak Damar tersenyum gemas. Senang sekali hatinya saat menggendong Davin.


"Iya, Om." Kaysa mengangguk patuh.


Mereka berdua bergegas melangkah mendekati bangku yang terdapat di depan sebuah toko. Sedangkan, Kayra kembali berjongkok melayani pembelinya.


"Eh, dia itu memangnya siapa sih, Mbak? Kok, sikapnya arogan banget?" tanya salah satu pembeli kesal.


"Em, dia itu suaminya almarhumah mbakku. Semenjak ditinggal mbakku sikapnya langsung berubah derastis jadi seperti itu." Kayra tersenyum getir sambil memberikan kantung plastik yang sudah diisi makanan sesuai pesanan pembeli.


"Oh, berarti, dia itu sangat mencintai almarhumah mbakmu. Makanya, sampe ngerubah sikap aslinya?" tanya pembeli sambil menerima kantung plastiknya.


"Iya benar sekali. Dia memang sangat mencintai mbakku." Kayra tersenyum. Mengingat saudara kembarnya membuat dada Kayra sesak. Matanya langsung berkaca-kaca. Namun, sekuat tenaga dia menahannya agar airnya tidak lolos.

__ADS_1


"Wah, beruntung sekali ya, mbakmu itu. Oh ya, ngomong-ngomong kamu ini janda apa masih punya suami?" tanya pembelinya penasaran.


"Aku masih punya suami. Cuma sekarang dia masih merantau," bohong Kayra semakin menahan air di matanya agar tidak lolos. Pertanyaan pembeli membuat hatinya sangat sedih.


__ADS_2