Jodoh Tak Lari Ke Mana

Jodoh Tak Lari Ke Mana
Yakin


__ADS_3

Kini para tetangga laki-laki mulai mencari keberadaan David. Mereka dengan telaten mengemudi motor dengan kecepatan rendah menyusuri jalanan. Mereka berharap bisa berpas-pasan dengan David di jalan tanpa melewatinya.


Setibanya di sebuah jembatan tempat David dijebak tadi, mereka menghentikan laju motor mereka karena menemukan sebuah kejanggalan di lokasi tersebut.


''Eh, ini jembatan kok bisa ada air menggenang sih? Padahalkan tidak ada hujan sama sekali hari ini?'' tanya salah satu dari mereka penasaran.


''Iya, ini aneh banget. Ayo coba kita cek itu air apa? Kamu bawa ponselkan?'' sahut satunya lagi.


''Ini aku bawa ponsel!'' sahut satunya segera merogoh saku jaketnya.


''Good, ayo cepat selidiki air itu,'' perintahnya cepat.


''Siap!'' Dia segera turun dari motor ditemani salah seorang dari mereka.


Dia langsung menyalakan senter ponselnya.


"Astaga, airnya kok berwarna kemerahan?" ucap dua orang itu merasa aneh.


"Hah, masa sih?" tanya mereka yang masih berada di atas motor terkejut.


"Iya, coba deh kalian ke sini cek sendiri!" titah dua orang itu terus memperhatikan airnya.


"Oke," sahut mereka bergegas turun dari motor.


"Eh, aku tak ke bawah dulu mau buang air kecil?" tanya salah satu dari mereka meringis.


"Huh, kamu ini!" sewot mereka gemas.


"Ya sudah, cepat jangan lama-lama!" pesan mereka.


"Iya loh!" Dia segera berlari sambil meringis.


Mereka yang ada segera ikut turun tangan mengeceknya. Mereka berjongkok lalu ikut mengamati airnya. Salah satu dari mereka bahkan ada yang berani menyentuh airnya. Lalu, mengendus baunya.


"Eh, ini air baunya amis loh. Apa jangan-jangan ini bekas darah yang disiram dengan air?" terkanya menatap kawan-kawan.


"Masa sih?" Mereka yang penasaran langsung ikut-ikutan mengendusnya.

__ADS_1


"Eh, benar sekali baunya amis. Jangan-jangan di sini abis terjadi kecelakaan?" terka mereka bersamaan.


Di saat bersamaan terdengar suara teriakan teman mereka yang pamit buang air tadi.


"Hey, cepatlah kalian kemari! Ini ada motor yang terjebur sungai!" teriaknya gemetaran.


"Hah, jangan-jangan habis terjadi pembunuhan di sini? Ayo cepat kita ke bawah," ajak salah satu dari mereka panik.


"Iya, benar. Kalau kecelakaan nggak mungkin ada bekas darah di sini," sahutnya setuju.


Mereka segera bangkit dan buru-buru melangkah menghampiri rekannya itu.


Begitu sampai di dekat dasar sungai mata mereka langsung fokus menatap ke arah sorotan cahaya yang berasal dari ponsel dia yang pamitan buang air kecil tadi.


Kondisi sungai yang dangkal dan berbatu membuat motor David tidak tenggelam. Motor itu terhalang bebatuan yang besar sehingga tidak hanyut terbawa derasnya arus sungai.


"Astaga, bukannya itu motornya David?" ucap salah satu dari mereka yang paham betul dengan motor David.


"Hah, kamu yakin itu motornya David?" tanya mereka yang tidak paham.


"Iya serius. Aku paham banget sama motornya? Warnanya persis banget kayak motor itu. Soalnya, beberapa hari yang lalu aku sempat meminjamnya. Aku ingat banget di body motornya ada stiker berlogo elang emas. Coba deh kita cek dari dekat biar lebih jelas," jelasnya sangat yakin.


"Em, kan kita bisa menapaki batu-batuannya," jelasnya enteng.


"Huh, kau ini kalau bicara gampang banget! Kalau kita terpeleset batuan yang licin terus kejebur bagaimana? Apa kamu mau mati sia-sia?" tanyanya kesal.


"Hehe, maaf! Ya sudah, sebaiknya aku hubungi basarnas dulu. Oh ya, tolong beberapa orang di antara kalian segera menyusuri sungai untuk mencari tubuh pengendara motornya," ucap salah satu daru mereka.


"Oke, ayo kamu dan kamu ikut denganku," ajaknya bersemangat.


Dua orang segera membuntuti langkahnya.


"Ya Tuhan, kalau benar itu motornya David alangkah kasihannya istri dan anak-anaknya yang masih pada balita," gumam salah satu dari mereka yang mulai melakukan pencarian.


"Iya benar. Kira-kira Kayra mau tidak ya kalau aku yang menggantikan posisi David untuk menafkahi dia dan anaknya," ceplos salah satu dari mereka malah berangan-angan.


Plakkk!

__ADS_1


Pria yang kasihan sama keluarga David menepuk kuat bahu pria yang berangan-angan itu.


"Awww! Kok, malah dipukul, sih?" ucapnya meringis kesakitan.


"Suruh siapa kalau ngomong ngacok begitu? Sudah tahu tetangganya masih tertimpa musibah, bukannya didoakan yang bagus-bagus ... eh, ini malah doain yang buruk gitu," omelnya kesal.


"Hehe. Kan, aku cuma berandai-andai saja. Aku bukan doain yang buruk-buruk. Kalau istilah lainnya sih, sedia payung sebelum hujan." Pria itu cengengesan.


"Apa bedanya berandai-andai sama mendoakan keburukan kalau begitu ceritanya? Kamu ini memang minta diberi obat waras biar otaknya nggak meleset kalau berpikir," ucapnya tambah kesal.


Dia segera melangkah cepat meninggalkan pria itu karena malas berdebat yang ujungnya hanya bikin emosi saja.


"Astaga, kalian ini bukannya fokus mencari korban? Ini malah ngomong yang nggak berfaedah," omel yang satunya lagi sambil menyorot area sungai menggunakan senter ponselnya.


"Entah itu bukannya berdoa yang baik-baik ... malah nyumpahin tetangganya jadi janda benaran," sahutnya kesal.


"Ye, mana ada aku nyumpahin? Aku kan cuma berandai-andai loh," jelasnya tak terima.


"Ck, kau!" Karena semakin kesal dengan ucapan temannya yang tidak beres itu, dia langsung menggertakan giginya. Dadanya terasa panas. Tangannya begitu gatal ingin memberinya pelajaran berharga agar otaknya lurus.


"Sudah-sudah! Ini kok malah eyel-eyelan jadinya? Kamu sebaiknya balik sama mereka saja! Biar aku sama Madun saja yang mencari jasad korbannya," ucapnya kesal.


"Huh, gitu saja diambil hati. Ya sudah. Aku sama mereka saja," jawabnya segera berbalik arah. Dia segera kembali ke temannya yang lain. Sedangkan, dua pria itu segera melanjutkan pencarian menyusuri sepanjang aliran sungai.


Lima menit telah berlalu, mereka berdua belum juga menemukan jasad korbannya. Tim basarnas pun sudah berdatangan dan langsung bergerak membantu mereka. Sebagian dari mereka ada yang bertugas mengevakuasi motor dibantu tetangga Kayra.


Dan sebagian lainnya bergerak menyusuri area sungai mencari tubuh pengendaranya yang mungkin sudah hanyut jauh terbawa derasnya arus sungai. Dengan keahlian dan saling bahu membahu, akhirnya motor tersebut bisa dievakuasi ke daratan pinggir sungai.


"Tuh kan asli ini motornya David," ucapnya sangat yakin sambil menyenteri stiker bergambar elang di body motor yang remuk itu.


"Ya Tuhan, kasihan sekali istri dan anak-anaknya David. Pasti mereka sangat shock jika mengetahui hal ini," ucapnya sangat iba dan sedih.


"Semoga saja David masih bisa diselamatkan," ucap beberapa orang tetap optimis.


"Aamiin," sahut mereka bersama-sama memanjatkan doa untuk David.


"Ayo sebaiknya kita segera menyusuri sungai juga membantu mereka," ajaknya semangat.

__ADS_1


"Siap!" Mereka semua berbondong-bondong ikut serta mencari tubuh David.


Baru saja mereka melangkah beberapa meter, telinga mereka menangkap suara teriakan beberapa orang minta tolong.


__ADS_2