Jodoh Untuk Aisyah

Jodoh Untuk Aisyah
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Aku tanpamu ibarat pistol tanpa peluru. Tiada gunanya.


-Siti Nur Halimah-


Di sebuah lorong rumah sakit tepatnya depan ruangan operasi Aisyah, Tempat itu di penuhi oleh kerabat dan sahabat Abdul serta Aisyah.


Operasi telah dimulai beberapa jam yang lalu. Ummah tidak dapat menahan rasa sedihnya, beliau menangis dipelukan Abah, suaminya.


Semenjak Ayahnya meninggal Aisyah kecil sudah bersamanya, ia yang membesar kan dan mendidik Aisyah.


Dan sekarang Aisyah sedang melawan maut sendirian di ranjang pasien.


Begitu pun dengan Liya. Liya juga menangis tersedu-sedu.


Berbeda dengan Abdul yang malahan tak terlihat sama sekali disana. Abdul memilih menenangkan hatinya yang terasa sangat sakit di Mushola Al ikhlas.


Abdul melaksanakan Shalat sunnah disertai memuja Allah dan membaca banyak sholawat baru kemudian ia berdo'a memohon kepada Allah agar diberikan keselamatan untuk Aisyah.


Ia memantapkan hatinya. Setau dia, sholawat adalah pembuka jalan agar do'a manusia sampai kepada Yang Maha Esa.


Karna itulah ia mengucapkan sholawat sebanyak mungkin sambil mendo'akan Aisyah.

__ADS_1


Setelah merasa cukup tenang ia kembali ke rumah sakit dan bergabung bersama orang orang yang menunggu Aisyah.


Abdul telah mempersiapkan diri untuk menunggu kabar apapun itu dari Allah. Ia siap menerima takdir yang telah Allah garis kan untuk mereka.


Dalam hati ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Aisyah akan baik-baik saja. Di saat yang sama, dokter telah keluar dari tempat operasi.


Pertahanan yang telah lama Abdul bangun runtuh seketika setelah melihat sang dokter menunjukkan raut muka yang kusut. Perasaan Abdul mulai cemas.


"Pasien.. telah berpulang." ucap dokter Park Hoon yang merupakan ahli bedah terbaik dari Korea yang tengah bertugas di Indonesia.


Tangis mereka pecah saat itu juga. Abdul seakan tak percaya dengan kenyataan yang ia dengar dari dokter. Abdul segera berlarian memasuki ruang operasi, tempat dimana Aisyah berada.


Hatinya sakit, sakit sekali melihat betapa pucatnya bidadari nya itu. Salah satu tangannya menyentuh pipi Aisyah yang terlihat sudah tidak memiliki daging sama sekali.


"Kau kedinginan, sayang ?" tanya Abdul dengan getir.


"Aku bahagia. Aku bahagia sekali. Kau tau, Tuhan pasti sangat merindukan mu hingga ia menjemput mu begitu cepat." kematian tidak bisa dihindari jika sang Khalik telah menghendaki, semua akan terjadi.


" Aisyah, Aisyah, Aisyah!!" Abdul memanggil nama istrinya. Ia masih menangis. Ternyata ia masih tak sanggup merelakan kepergian Aisyah.


" Aisyah!!" teriak Abdul putus asa. Sampai Akhirnya Abdul pun tak sadarkan diri dan keajaiban pun terjadi pada Aisyah.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


Abdul mulai sadarkan diri. Sekarang ia sedang ada dalam ruangan yang serba putih. Kejadian itu masih sangat membekas dalam benaknya.


" Aisyah." gumamnya pelan.


Sorot matanya kosong. Padahal ia selalu memantapkan hatinya kalau ia akan baik-baik saja.


Tapi apa, ia bahkan tak bisa menggerakkan tubuhnya. Bukan lumpuh atau apa tapi lebih tepatnya adalah ia sudah tidak memiliki harapan sama sekali dan itu berimbas pada tubuhnya yang terasa sangat lemas.


Ia ingin berteriak minta tolong tapi tak mengeluarkan suara sama sekali. Ada apa dengannya ? apa ia lumpuh ? tapi kenapa?


" Aisyah, aku tanpamu bukanlah apa-apa. Tiada artinya." pikirnya.


.


.


.


To be continued-

__ADS_1


__ADS_2