Jodoh Untuk Aisyah

Jodoh Untuk Aisyah
Abdul ngelawak


__ADS_3

Jagan kasih aku harapan kalau cuma kasih status pertemanan. Hukum gantung aja udah di ganti tembak. Masa aku kamu gantungin aja, nembaknya kapan ?


-Sa'adatul Iffah-


Sang mentari terlihat malu-malu menampakkan sinar terangnya. Pekanya si awan pun ikut menampakkan diri menemani sang surya. Kota metropolitan itu mulai dipenuhi kendaraan dan para pejalan kaki.


Di dalam sebuah ruangan sederhana yang di hias seperti sebuah kamar, terlihat seorang wanita cantik yang masih betah berada dalam alam mimpinya. Aisyah, wanita yang sedang masa pencarian jati diri itu masih tertidur di tempat kerja nya. Kemarin ia lembur karna toko tempat nya bekerja sedang ramai dikunjungi pelanggan.


Cahaya matahari yang mulai panas itu menerpa kulit mulus Aisyah seakan mengganggu tidur nyenyak nya.


Perlahan ia membuka matanya, menerjab - nerjab mencoba untuk merasakan cahaya yang masuk dari sela - sela jendela toko.


Takan kanannya meraih hp yang ada di atas rak. Betapa terkejutnya ia melihat jam di hp nya yang menunjukkan pukul 07:40 WIB. Itu berarti ia harus sampai di kampus kurang dari 18 menit. Sedangkan perjalanan ke kampus membutuhkan waktu 10 menit.


Aisyah segera bergegas bersiap hanya sekedar mandi bebek dan langsung berangkat. Untung saja ia sedang halangan jadi tak perlu mengqodho' sholat subuh. Kini ia harus melewatkan sarapan pagi untuk pertama kalinya.


Beruntung saja ia tak ketinggalan bus. Aisyah pun segera menaiki bus tersebut walau harus berdiri berdesakkan dengan para penumpang karna kursi penumpang yang sudah penuh.


Tapi apesnya, sebelum ia sempat pegangan, si pengemudi bus sudah menancapkan gas duluan. Otomatis Aisyah tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya menjadi sangat panik, kedua tangannya asal mencari sesuatu untuk pegangan agar dirinya tidak terjatuh.


Konyolnya, sarung yang di pakai salah satu penumpang lah yang ia jadikan pegangan. Jadi sarung itu sedikit merosot. Untung saja si pemilik sarung memegang sarung yang menutupi aset berbahaya nya itu dengan cepat sebelum sesuatu yang sangat berharga miliknya itu kelihatan.


Betapa terkejutnya Aisyah setelah tau siapa pemilik sarung tersebut.


" Ab... dul ?" gumamnya.


Aisyah segera memposisikan dirinya dan mencari pegangan agar tidak jatuh lagi.


Sedangkan Abdul membenarkan sarungnya. Aisyah menggerutu pada dirinya sendiri betapa bodoh nya dia. Berkali-kali ia memukul kepalanya dengan pelan menyadari betapa memalukannya kejadian hari ini.


🌹🌹🌹🌹


Setelah menempuh perjalanan yang menguji adrenalin jantung mereka, keduanya pun sampai di kampus dengan selamat, walaupun telat dan kini tengah menjalani hukuman yaitu tidak boleh masuk kelas.


Dan disinilah mereka sekarang berduaan di perpustakaan untuk belajar bersama.


Hening.


5 menit...


10 menit kemudian...


" Aaaaaaaaaaa!!!!" teriak Abdul yang mampu mengagetkan Aisyah.


"Kamu kenapa ?" tanya Aisyah cemas karna Abdul tiba-tiba teriak tanpa alasan.


"Ada nyamuk kurang ajar yang nyium bibirku seenaknya tanpa seizinku." jawabnya dengan ekspresi yang dibuat sangat sedih.

__ADS_1


"Jadi bibirku sudah ngga perawan lagi." canda Abdul. Raut wajahnya menunjukkan rasa marah karna merasa kehilangan kehormatan bibir nya yang masih original.


Konyolnya Aisyah menjawab "Terus gigimu hamil ngga?" tanyanya menanggapi aksi ganjil Abdul.


"Gigiku memang gendut semua. Tapi ngga ada isinya kok." ucap Abdul mengakhiri candaannya.


"Ternyata kamu orangnya suka ngelawak ya?" seru Aisyah sambil sedikit terbahak.


"Ngga juga itu karna kamu terlihat sedih. Padahal akan lebih cantik lagi kalau tersenyum." goda Abdul sambil menunjukkan wajah tengilnya.


"Buat apa kamu peduli." ucap Aisyah dengan memalingkan muka, karna sungguh setan yang sedang menggodanya itu hampir menggoyang kan hatinya.


"Kamu kan sahabatku." respon Abdul dengan hati yang tak menentu.


Ingin rasanya ia menangis meratapi status mereka yang hanya seorang teman. 'Tapi lelaki menangis itu tidaklah keren apalagi didepan perempuan.' begitu pikirnya.


Aisyah sedih mendengarnya. Maksud hati ingin lebih dari sekedar sahabat.


Ia ingat kalau ustad Nighomodhin pernah berkata. "Cantiknya seorang wanita itu tergantung siapa yang memandangnya. jika pria itu suka pada wanita itu, ia akan menjawab 'cantik' kalau pria itu tertarik pada perempuan itu dan akan menjawab 'tidak' jika si pria tidak tertarik."


Aisyah ingin menanyakan hal itu kepada Abdul, tapi ia sangat malu. Ia ingin tau seperti apa perasaan Abdul padanya.


" Abdul." panggil Aisyah. Abdul pun menoleh.


"Apa aku cantik ?" tanya Aisyah sambil menundukkan kepalanya.


"Tentu saja. Allah itu maha adil. Cantik atau tampan tak hanya Allah berikan pada paras seorang hamba, tapi juga hati. Wanita yang paling cantik adalah wanita yang cantik hatinya. Lalu bagaimana dengan mu, apakah kamu sudah merasa kalau hati mu begitu cantik ?" jawab Abdul. Jawaban itu sangat tidak memuaskan rasa penasaran Aisyah.


Aisyah sadar, tak seharusnya ia berharap pada Abdul. Tak mungkin Abdul akan memilihnya karna tak mungkin juga ia memiliki perasaan yang sama. Sepertinya Aisyah telah salah berharap pada Abdul.


Dalam hati, Aisyah beristighfar meminta ampun kepada Allah karna telah berharap pada manusia, bukan pada Allah.


Aisyah sadar bahwa Allah adalah maha pencemburu dan berharap kepada manusia adalah perbuatan yang tercela.


"Kenapa melamun, apakah Yusuf berkata padamu kalau kamu tidak cantik ?" pertanyaan Abdul membuat ia kelagapan.


Kini Aisyah sadar Alasan mengapa Abdul sangat perduli padanya itu karna yang Abdul tau Aisyah adalah istri dari sahabatnya, Yusuf. Itulah alasan Abdul menjaga Aisyah layaknya seorang sahabat.


"Tidak juga." jawab Ais.


🌹🌹🌹🌹


Tak terasa hari sudah mulai siang. Waktu nya makan siang. Aisyah adalah wanita yang rajin dan tepat waktu.


Uminya (ibu Yusuf) selalu menegaskan padanya kalau wanita harus bisa me manage waktunya. Apalagi sekarang Aisyah harus bisa menyesuaikan jadwal kuliah, kerja, dan belajar.


(pesan masuk)

__ADS_1


Abdul 👳


"Datanglah kelapangan."


Aisyah🧕


"Untuk apa?"


Abdul👳


" Aku belum mendapatkan teman disini. Temani aku."


Aisyah🧕


"Baiklah."


Aisyah.pun bergegas merapikan beberapa bukunya dan melesat pergi. Ia melewati beberapa lorong untuk sampai.


Namun sebuah lengan kekar menahannya untuk pergi. Lelaki itu menarik paksa tas ransel Aisyah.


Entah tempat apa itu Aisyah pun tak tau karna ia masih siswa baru.


Yang Aisyah tau tak ada siapapun di ruangan itu hanya ia dan Yusuf. Benar. Lelaki yang menarik paksa dirinya adalah Yusuf.


"Apa yang kau lakukan ?" bentak Aisyah setelah Yusuf melepaskan tas ungu miliknya.


Yusuf hanya menarik tas Aisyah karna memang Aisyah sangat menjaga kehormatan dirinya untuk suaminya kelak.


"Itu... ada hal penting yang harus ku katakan." ucap Yusuf dengan sedikit terbata. Jujur saja, rasa itu masih ada.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan, huh?" ini pertama kalinya Aisyah marah.


Mungkin meluapkan segala emosi nya yang selama ini ia pendam. Siapa juga yang tidak marah ketika di perlakukan begitu hina olehnya.


"Aku tidak bermaksud apa-apa...." ucapan Yusuf terpotong oleh Aisyah yang sedang mode galaknya.


"Alah.. kagak ada seorang pria yang menyeret seorang wanita ketempat sepi kalau tidak mau berbuat yang bukan-bukan." amarah Aisyah memuncak.


Apalagi perutnya keroncongan membuatnya kesulitan mengontrol emosi nya, ia sangat muak melihat Yusuf.


"Bukan begitu. Tolong dengarkan aku dulu." pinta Yusuf.


"Asal kau tau, Yusuf. Aku tidak pernah sekalipun mencintai mu. Assalamualaikum." Aisyah pun pergi meninggalkan Yusuf yang hanya memandang nya dengan pandangan yang kosong.


"Aku bukannya ingin marah. Hanya saja aku belum siap untuk bertemu lagi. Hatiku terlalu sakit untuk mengingatnya. Namun, tak perduli betapa kesalnya aku, semua itu hilang seketika saat aku melihat.. Abdul." gumam Aisyah.


-To be continued-

__ADS_1


__ADS_2