
Aisyah pun sampai di tempat Abdul.
"Kau dari mana saja ?" tanya Abdul terlihat marah.
Ia membawa 2 bungkus bakso, lontong, air dan beberapa makanan ringan yang lain.
"Kau membeli semua ini untuk ku?"
"Tentu saja kamu. Buat siapa lagi."
"Tega kamu ya, nanti aku jadi gendut mendadak gimana ?"
"Bawel. Nih, makan mumpung masih anget. Memangnya kamu ke mana saja sih ? dari tadi di tunggu in ngga nongol - nongol." kesal Abdul.
"Udah nongol nih."
"Iya sekarang. Nanyaku tadi."
"Yang penting kan dah nongol." Cerocos Aisyah ngga mau kalah.
"Ampun dah." si Abdul menyerah.
Walau bagaimanapun perempuan kalau disuruh debat cerewet nya pakai amat. Kagak ada yang nandingin. Tak terkecuali Aisyah. Tunggu.. bukankah Aisyah itu pendiam ?
"Emm.. seperti nya ada yang salah." ucap Abdul mengungkapkan kebingungannya.
"Apanya." tanya Aisyah yang masih mengunyah pentol bakso.
"Sejak kapan kau menjadi cerewet seperti ini?" tanya Abdul yang menyadarkan Aisyah kalau sifatnya tak seperti biasanya.
"Emm.. mungkin semenjak bertemu dengan mu ?" jawab Aisyah asal.
__ADS_1
"Bagaimana bisa...?"
"Kenapa kau tanyakan padaku ?" ujar ais pura pura kebingungan.
"Lalu pada siapa lagi aku bertanya ?" tanya Abdul.
"Dosen?" canda Aisyah. Mereka pun tertawa bersama.
"Waahh... sejak kapan virus ku menular padamu." Ungkap Abdul tidak percaya.
"Ganti pertanyaan lain bisa ? sendari tadi tanyanya sejak, sejak, dan sejak." kesal Aisyah yang mulai bosan dengan obrolan yang Abdul ciptakan.
"Baru dua kali."
"Tapi kan tetap saja." siang itu mereka habiskan dengan penuh canda tawa.
"Aku duluan, ya. kelasku di mulai 5 menit lagi. Assalamualaikum." pamit Abdul setelah baksonya habis.
🌷🌷🌷🌷
Sore ini hujan turun sangat deras padahal Aisyah ada jam setelah ini. Ia menghela nafas nya yang terasa berat.
"Hari ini terasa melelahkan. Tadi pagi aku sudah malu saat tragedi di bus dan juga kenapa Yusuf harus muncul lagi di hadapannya dengan begitu cepat?" gerutu nya dalam hati.
" Aaaaaaaaaa!!!" teriak Aisyah kencang saat sesuatu yang sangat menggelikan menggelitik pundaknya. dengan panik ia meraih benda itu dan ia melihat..
" Ular..." teriaknya lebih kencang lagi. ia benci ular.
"Itu mainan bukan sungguhan." suara itu tiba-tiba datang entah darimana dan membuatnya kaget sampai ulat itu jatuh dari tangannya. Ia pun menoleh dan ternyata orang iseng itu Abdul.
"Kau mau mati ?" ucap Aisyah menatap nya dengan sinis. Kedua matanya bahkan melotot.
__ADS_1
Ia sudah sangat kesal hari ini mengingat pertemuannya dengan Yusuf tadi siang membuat nya stres. Dirinya marah bukan karna ia mencintai Yusuf, ia marah karna Yusuf telah melukai harga dirinya.
"Wah,, kamu benar-benar berubah, Ais." Abdul benar. Aisyah sadar, ia kesulitan mengontrol emosi nya akhir" ini.
" maafkan aku. Jangan di ulangi lagi." kini sorot mata Aisyah sudah seperti biasanya.
" Yusuf tidak menjemput mu ? mengapa aku tidak pernah melihat nya kemari." Aisyah menghela nafasnya pelan. Mengapa Abdul mengingat kan nama itu lagi padanya.
"Entahlah." Aisyah tak mampu menjawab dengan banyak kata.
"Kemana perginya, kau tak tanya ? kau istrinya mana mungkin kau tak tau." desak Abdul.
Batin Aisyah menjerit mendengar itu. "Aku tak pernah menikah dengan lelaki itu Abdul, engkaulah yang aku cintai, hatiku dipenuhi olehmu. tapi mengapa lidah ini kelu sekali untuk jujur" pekik Aisyah dalam hati.
Aisyah tak bisa menahan semua ini. Ia segera berbalik bermaksud untuk pergi meninggalkan tempat itu.
" Aisyah, mau kemana ?"
"Kerja." jawabnya tanpa menoleh.
Tubuh mungil itu mulai basah terkena air hujan, si pemilik tubuh menerjang derasnya hujan karna sudah tak sanggup melihat lelaki yang selama ini dicintai nya.
Namun beberapa menit kemudian tubuh nya terasa tidak kehujanan lagi, ia menoleh kebelakang dan mendapati Abdul tengah memayunginya. Sedangkan Abdul sendiri basah karna kehujanan.
Kedua mata mereka bertemu, disaat Aisyah asik bengong, Abdul menaruh payung itu diantara tas ransel Aisyah.
"Kau adalah sahabatku. Aku hanya ingin melindungi mu sebagai teman. Jadi jangan sampai sakit." ucapnya yang kemudian berlalu pergi.
Apakah akan selalu seperti ini ? mereka hanya saling memuja dalam diam. seperti seorang pengecut.
To be continued..
__ADS_1