
Sesungguhnya kesabaran manusia itu ada batasnya.
-Abdul-
Terik matahari siang itu terasa menyengat kulit. Abdul beserta Aisyah berencana akan pergi ke rumah kedua orang tuanya Abdul.
" Assalamualaikum." seru mereka serempak.
"Waalaikumsalam wr wb." jawab bu nanik, ibu mertua Aisyah. Mereka pun masuk setelah menyalami ibu.
"Ayah, mantu kesayangan datang." teriak Bu nanik keras.
Tak lama kemudian ayah Abdul datang dan mereka pun bercengkrama. Aisyah pernah mempelajari suatu ilmu kalau 'Sebagai istri harus bisa berbaur dengan keluarga suaminya.' Oleh karna itulah, walaupun Aisyah susah buat mengakrabkan diri dengan orang lain, Akhirnya ia bisa menyesuaikan diri dengan keluarga suaminya.
****
Gemericik air masih terdengar di kamar pasutri yang tergolong masih baru itu karena Abdul sedang membersihkan diri. Setelah dirasa cukup, Abdul pun menyudahi kegiatannya. Setelah mengganti bajunya Abdul berjalan mendekati ranjang dimana Aisyah berada. Memasuki selimut disebelah Aisyah.
Karna pergerakan itulah, Aisyah jadi terbangun.
__ADS_1
"Apa aku mengganggumu, sayang." tanya Abdul sambil memeluk erat Aisyah. Aisyah hanya membalasnya dengan dengkuran dan melanjutkan boboknya. Abdul tertawa dibuatnya.
βIstri ku sangat menggemaskan.β Ucapnya sambil menciumi Aisyah.
π·π·π·π·
Hari pun berganti, tak terasa kini rumah tangga Abdul dan Aisyah sudah berusia tujuh tahun. Sayangnya sang Maha Esa belum memberi kepercayaan kepada mereka untuk memiliki keturunan.
Rumah tangga yang awalnya baik-baik saja kini menjadi mengkhawatirkan. Di sebuah ruangan cukup besar itu terlihat mencekam. Abdul dan ibunya, keduanya tidak ada yang mau mengalah.
" Abdul, kamu tau kan ibu sudah tidak lagi muda. Ibu hanya ingin gendong cucu." ucap sang ibu dengan menangis tersedu-sedu. Abdul pusing sekali, ibunya sendari kemarin menuntutnya untuk segera memiliki anak yang membuatnya semakin kualahan menghadapi ibunya.
"Sebentar, sebentar, terus. Sebentarnya itu kapan, 5 menit lagi atau seribu tahun lagi." ucap ibunya berapi-api. Usianya yang tak lagi muda membuatnya mudah tersulut emosi. Apalagi keinginannya tak pernah tercapai untuk mendapatkan cucu dari anak satu-satunya.
"Ibu berdo'a saja ya." jawab Abdul mencoba untuk tenang menanggapi kekesalan ibunya.
"Tidak bisa. Abdul." bentak si ibu.
"Ya Allah bu, istighfar. Jalan hidup ini ada yang mengatur. Jangan seenaknya sendiri memaksa kami. Kami cuma manusia biasa yang tidak bisa mencetak anak tanpa ridho dari Allah. Yakinlah kalau tuhan sedang menyiapkan balasan yang lebih indah dari cobaan yang kita alami." jawab Abdul pula dengan suara meninggi.
__ADS_1
" Abdul, kau... Kau sekarang berani memarahi ibumu." tutur ibunya. Abdul hanya memalingkan muka sedikit jengah menghadapi ibunya.
"Jadi ini yang diajarkan istri mu, kau di suruh membangkang dan tidak lagi menghormati ibumu." ucap ibunya kecewa.
"Bu, jangan bawa nama Aisyah. Dia tidak ada hubungannya sama sekali dengan perseteruan kita." sanggah Abdul.
"Tidak ada hubungannya bagaimana. Bilang saja kamu sekarang membelanya dan melupakan ibumu. Dengar Abdul, kamu harus menikah lagi." ucapan ibunya membuat Abdul semakin marah.
" IBU!" bentaknya dengan suara yang sangat keras.
" APA?" sarkas ibu.
"Kemana kewarasan ibu ? Jangan meminta sesuatu yang sangat berat untuk Abdul penuhi." tutur Andul dengan jengkel. Ia khilaf sementara, sedang lupa untuk menghormati ibunya.
"Anak kurang ajar. Jaga bicaramu pada ibumu." si ibu pun berdiri dari duduknya.
"Kamu sudah berubah Abdul. Kemana perginya putraku yang penurut dan pembela ibu. Ibu kecewa sama kamu. Kamu lupa kalau surgamu masih berada di bawah telapak kaki ibumu walau kau sudah menikah." ucapnya lalu meninggalkan anaknya yang menurutnya sudah berubah. Ia lupa bahwa anaknya tidak sepenuhnya bersalah dalam masalah ini.
to be continued -
__ADS_1
Mohon kritik dan sarannya π