
Jalan hidup tidak selalu mulus, pasti akan ada krikil atau batu yang akan menghalangi mu. Bertahan lah.
Siti Nur Halimah
.............
Langit kala itu berwarna hitam putih. Hitam karna gelap malam dan putih karna dipenuhi kerlip bintang yang bertebaran. Di sebuah balkon kamar terlihat seseorang sedang menikmati rokoknya. Pria itu adalah Abdul. Semenjak ibunya menuntut nya memiliki anak membuatnya stres.
Disisi lain ia tidak mau menduakan Aisyah. Tapi ia juga tidak sanggup melihat keadaan ibunya yang menjadi sedikit melenceng dari agamanya. Abdul sebenarnya hanya melampiaskan emosi nya melalui rokok karna sebelumnya ia tidak pernah menyentuh benda itu sama sekali, semenjak berhenti merokok.
" Aisyah." gumamnya saat pandangan nya sedang tertuju kearah Aisyah yang sudah terlelap. Setelah putung rokoknya tinggal sedikit, Abdul mematikannya. Kemudian mendekat kearah Aisyah dan mengecup pucuk kepalanya.
“Aku mencintai mu, Istri ku.” Abdul pun menyusul Aisyah kealam mimpi.
🌷🌷🌷🌷
Pagi harinya, suara berisik membangunkan Aisyah dari tidurnya.
'Hueek... Hueek..."
Aisyah pun bergegas ke kamar mandi melihat suaminya yang sedang muntah.
__ADS_1
"Mas, mas baik-baik saja?" tanya Aisyah sambil memijit pelan suaminya yang entah kenapa terus muntah Air.
Abdul tidak mampu menjawab, ia masih sangat lemas dengan perut yang terasa sangat diaduk-aduk. Aisyah pun menuntun Abdul kembali keatas ranjang. Ia menyeka keringat yang turun dari dahi suaminya dan mengompres kepalanya yang agak panas.
Aisyah jadi bingung sendiri. Pasalnya ini buka pertama kalinya Abdul muntah seperti ini. Setiap pagi selalu mual dan muntah. Sudah beberapa hari pekerjaan Abdul ditunda karna kondisinya yang kurang memungkinkan. Sebenarnya Aisyah sudah memberi tau keadaan Abdul pada ayah ibunya, tapi ibunya masih enggan datang karna masih marah pada Abdul.
"Nanti kita kedokter, ya." Abdul yang sudah tidak kuat hanya sekedar menjawab pertanyaan Aisyah dengan berdehem halus.
Setelah mentari agak meninggi, pasutri itupun mendatangi dokter. Aisyah sangat kesulitan karna harus menemani Abdul sambil mengurus administrasi. Belum lagi keadaan Abdul yang selalu muntah. Hingga membuat Aisyah harus bolak balik dari tempat pendaftaran ke Toilet.
"Bagaimana hasilnya, dok. Suami saya kenapa." tanya Aisyah setelah Abdul di periksa.
"Ini sangat aneh. Pasien sangat sehat. Kenapa sering muntah sampai lemas." ucap dokter agak kebingungan.
" Abdul tidak mengidap penyakit apapun. Bahkan hasil tes sangat sehat."
Abdul maupun Aisyah menjadi putus asa karna tidak menemukan solusinya.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.." Aisyah menangis.
Selama Abdul sakit Aisyah selalu menangis disaat Abdul tertidur, karna saat sadar ia selalu muntah dan lebih parah lagi saat pagi hari yang membuat Abdul menjadi tidak berdaya. Setelah sekian lama akhirnya orang tua Abdul datang. Ibunya segera masuk dan terus mengucapkan kalimat yang menyakiti hati Aisyah.
__ADS_1
"Jangan sok nangis kamu. Jagain suami saja tidak pecus. bagaimana bisa Abdul sakit sampai berhari-hari seperti ini. Kamu itu niat gak sih jagain Abdul, kalau ngga niat pergi sana jauh-jauh dari Abdul." ucapan kasar itu keluar bebas dari sang ibu yang masih sakit hati.
"Ibu, jangan keterlaluan sama Aisyah." ucap ayah Abdul dengan suara yang tertekan.
Sebenarnya ia juga ingin cucu di usianya yang tak lagi muda tapi ia juga tak mampu memaksakan kehendak kepada mereka, apalagi hanya Allah yang bisa mengabulkan keinginan mereka untuk memiliki cucu.
"Ayah, kenapa ayah membela wanita ini juga." ucap ibu Abdul dengan mata yang hampir merembes.
"Bukan begitu sayang, hal ini terjadi diluar nalar manusia. Kita berdo'a saja semoga Abdul tidak memiliki penyakit apapun yang membahayakan." tutur ayah bijak.
Aisyah menangis mendengarnya, dalam hatinya ia sangat merindukan sosok ayahnya. Seperti apa ayahnya jika ia dalam posisi seperti ini.
"Pokoknya ibu ngga mau tau, yah." ucap ibu Abdul ngga mau kalah.
" Kamu keluar dari sini. Jangan dekati anak saya lagi!" ucapnya sambil menunjuk kearah Aisyah.
"Bu, istighfar bu." bentak ayah.
"Kau lihat. Setelah suamimu melawan ibunya kini suamiku juga memarahiku. Pergi kau dari kehidupan anakku. Pergi!" bentaknya.
-to be continued-
__ADS_1
Mohon kritik dan sarannya 🙏