Jodoh Untuk Aisyah

Jodoh Untuk Aisyah
Sifat Ibu Mertua Yang Berubah


__ADS_3

Pernahkah kau alami hidupmu teramat tak berarti~


Pernahkan kau alami sesuatu yang sulit kau hadapi~


dan pernahkah engkau mencari jawaban atas semua ini~


Dan pernahkah kau sadari Allah ingin engkau dekati~


✓Lagu islami. |QHUTBUS SAKHA|


.


.


.


.


Gerimis mendung menemani hati Aisyah yang saat ini sedang kurang baik. Semenjak meninggalkan rumah sakit Aisyah mengurung dirinya sendiri dirumah. Masih teringat jelas ucapan keji ibu mertuanya sebelum ia melangkahkan kaki untuk pergi.


"Dasar, Mandul."


Aisyah bukannya tak mau kembali kerumah sakit tapi ia hanya tak mampu lagi untuk mendengar kata sarkas dari ibu mertuanya. Hinaan demi hinaan yang dilontarkan sangat menyakiti hatinya.


Tak lama kemudian pintu kamarnya terbuka, Aisyah sangat terkejut melihat ibu mertuanya.


"Cih, kamu masih disini rupanya." ibu melipatkan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


" ini, untukmu." ia melemparkan sejumlah uang ratusan yang cukup banyak.


" itu uang 100 juta. Ambil dan pergilah dari kehidupan Abdul." serunya masih dengan ucapan pedasnya.


" ibu." Aisyah menangis. Ia merasa sangat tidak ada harganya sama sekali didepan ibu mertuanya.


"Berhenti memanggilku ibu, aku bukan ibumu!" Aisyah tak bisa berbuat apalagi selain menangis lagi.


"Seharusnya kamu harus sadar diri jadi perempuan. Kamu tidak bisa membahagiakan Abdul. Jadi pergi saja dari sini. Kamu hanya akan membuatnya sedih kalau masih ada disini." Ucapnya semakin marah. Aisyah masih menangis.


"Tapi Aisyah mencintai Abdul, bu. Aisyah akan membahagiakannya dengan cara Aisyah. mungikn Allah belum mempercayai kita untuk merawat seorang anak. Aku akan berusaha bu. Aku pasti akan cepat hamil.” Ucap Aisyah dengan sedih.


"Kamu ngga bisa hamil. kamu fikir diamnya Abdul selama ini karna dia ikhlas. Tidak! asal kau tau Abdul cuma kasihan sama kamu. ingat KASIHAN! jadi pergi dari sini sebelum aku menyeret mu."


"Ibu!"


"IBU." geram Aisyah. ia sedikit menaikan nada suaranya kara hatinya sudah sangat sakit. Bahkan nama ibunya yang sudah tiada pun di seret oleh ibu mertuanya. Ini sudah sangat keterlaluan.


"Apa! aku benar bukan?" Ibu mengambil pisau lipat kecil dari tas kecil yang di bawanya. Aisyah gemetar melihat pisau itu, kakinya perlahan mundur kebelakang. Ibu juga semakin ke depan dan membuat Aisyah terpojok, punggungnya membentur tembok.


"Aku akan melukai mu kalau kau berani melawanku. Kau tidak bisa mengabulkan keinginanku untuk mempunyai cucu jadi angkat kaki mu dari sini sebelum nyawamu melayang." Ancam Nanik.


"Pergi!" teriaknya lagi.


Karna tak tahan Aisyah pun mengambil koper dan membereskan pakaiannya. Walau pun ia di usir oleh ibu mertuannya, rasa cintanya pada Abdul tidak berkurang sedikitpun. Dengan perasaan hancur ia pergi meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan itu. Aisyah melangkah dengan pelan menelusuri jalan di kotanya. Ia tak tau harus kemana karna ia merasa sudah tidak memiliki apa-apa lagi.


Hubungan nya dengan Abah dan Umi sedikit renggang setelah batalnya pernikahan nya dengan Yusuf. Abah ataupun umi sebenarnya masih menganggapnya sebagai anak, memperlakukannya masih seperti biasanya. Hanya saja dirinyalah yang terlalu malu bertemu dengan mereka. Apalagi kalau menceritakan rumah tangga nya pada mereka. Ia sangat malu.

__ADS_1


Aisyah mendudukkan dirinya disalah satu kursi di pinggir jalan, kalau tidak salah tempat yang ia singgahi itu seperti alun alun. Ia masih merenung mau kemana setelah seharian ini berkeliling.


Sejenak ia berfikir, ibu mertuanya itu tidak seperti biasanya. Setelah melihat sorot matanya saat membawa pisau, Aisyah sedikit ragu yang mengusirnya itu ibu mertuanya yang asli atau kembarannya karna kalau di lihat dengan jelas dia seperti seorang yang berbeda.


Aisyah menggeleng. " kamu itu konyol sekali, Sya. Sudah jelas kalau ibu mertua mu itu tidak punya kembaran. Kenapa kamu malahan berfikiran yang aneh seperti itu. Daripada berfikir yang tidak masuk akal, lebih baik aku mencari masjid.’ Pikir Aisyah.


Setelah shalat dhuhur hati Aisyah menjadi sangat lega sudah mengadu pada yang kuasa tentang hidupnya yang selalu saja mendapatkan masalah, ditambah dengan kerinduannya pada kedua orangtuanya.


Didalam posisi seperti ini andai saja ia masih punya orang tua ia pasti tidak akan sesedih ini. Aisyah memutuskan untuk pergi meninggalkan negara itu. Sejenak ia berfikir negara mana yang akan dijadikannya tempat tinggal.


Aisyah merogoh dompet dan uang tabungan nya yang kurang dari 10 juta. sepertinya ia harus berhemat, tidak mungkin keluar negri. Ia tidak menerima uang dari ibu mertuanya karna ia masih ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Abdul. tapi ia akan menunggu saat yang tepat untuk menemui abdul lagi, ia masih tidak ingin menemui ibu mertuannya.


Ia kemudian memutuskan untuk pergi ke luar kota yang letaknya memang cukup jauh dari tempat tinggal Abdul tapi strategis untuk tempat perekonomian.


Kota perantauan Aisyah ini termasuk kota metropolitan yang terdapat banyak gedung tinggi, kampus elit, perusahaan elit dan menengah juga beraneka bangunan yang cukup bisa bersaing dengan kota besar di luar negeri.


“Suamiku, aku hanya ingin menenangkan fikiran ku sejenak di tempat ini. Biarlah ibu tenang. Dan nanti aku akan kembali saat beliau sudah tidak marah lagi. Karna aku tidak yakin, apakah aku masih bisa bertahan lagi kalau nanti aku akan di usir untuk yang kedua kalinya.” Ucap Aisyah sambil menghapus genangan air yang membasahi pipinya. Kemudian ia mencium foto Abdul yang telah di lihatnya sendari tadi.


.


.


.


-to be continued-


Mohon kritik dan sarannya

__ADS_1


__ADS_2