
_ketika rindu tertutup oleh ego_
.
.
.
Setelah bercerita pada Papanya tentang jalan hidupnya, Aisyah mendapatkan pencerahan. Ia memang tidak bisa memaafkan perbuatan ibu mertuanya itu, tapi anak yang dikandungnya juga membutuhkan figur seorang ayah. Dan Aisyah memutuskan untuk kembali menemui Abdul sendirian karna ia belum berniat untuk mempertemukan papanya pada suaminya.
Tok.. tok.. tok..
Karna tidak ada yang membuka pintu, Aisyah pun membuka pintunya sendiri.
Ceklek
Pintu kamar pun terbuka perlahan, pandangan mata Aisyah melihat ke arah ranjang rumah sakit dimana Abdul terbaring sendiri. Pikirnya melayang beberapa menit yang lalu saat dia mengecek kondisi kandungan nya. Janinnya dinyatakan sehat.
Namun Aisyah sempat bertanya mengapa ia tidak merasakan ngidam seperti mual dan muntah layaknya wanita hamil pada umumnya. Dokternya bilang kalau wanita hamil itu ngidamnya memang berbeda-beda. Ada yang merasakan mual parah, ada juga yang tidak.
Namun kadang bukan ibu hamil saja yang bisa merasakan mual, pria juga bisa. Setelah Aisyah bertanya mengapa bisa seperti itu ? Dokter berkata bahwa itu biasanya bisa terjadi pada suami yang terlalu mencemaskan istrinya tapi bukan berarti kalau suami yang tidak mengalami hal ini juga tidak cemas.
Kini ia tau penyebab penyakit Abdul. Mual dan muntah yang dialaminya karna ngidam, namun ia juga tidak menyangka kalau akan separah ini hingga membuatnya terbaring lemah dirumah sakit.
Dan disinilah Aisyah sekarang, berdiri dipinggir ranjang suaminya yang setelah ia tinggal pergi ternyata masih dirawat di rumah sakit.
Sejenak sebuah pertanyaan khawatir hinggap di kepalanya. "Apakah ngidamnya parah hingga membuatnya terbaring lemas disini?"
Lama Aisyah berada disana dan ketika Abdul menunjukkan pergerakan kalau ia akan terbangun. Karna rasa malu dan takut dicelakai ibunya lagi, Aisyah memilih pergi. Aisyahpun segera melangkah meninggalkan tempat itu.
Padahal sebelum kesini tadi ia sudah menyiapkan banyak kata. Namun ia tidak bisa menuduh ibu tanpa bukti. Yang ia takutkan adalah Abdul tidak mempercayai nya dan membencinya karna telah memfitnah ibunya tanpa bukti padahal itu adalah kenyataan, kejahatan tanpa meninggalkan jejak. Meskipun ia sangat merindukan Abdul, ia bisa mengendalikan nya karna egonya telah menguasainya. Karna tergesa ia jadi ceroboh hingga menabrak suster di depan pintu.
"Maaf ya, suster." ucap Aisyah dengan menunjukkan senyum simpulnya.
__ADS_1
" No problem, miss." ucap suster yang ternyata adalah pria gemulai.
Aisyah bertanya-tanya dalam hati, apakah memang pria setengah wanita diperbolehkan bekerja sebagai suster ? Entahlah itu memang iya ada di dunia nyata atau hanya di dunianya Aisyah sama Abdul.Suster yang tadi menabrak Aisyah mendapat tatapan tajam dari pasien yang ternyata adalah Abdul.Sorot matanya mengartikan bahwa ia sangatlah marah.
"Tuan, anda baik-baik saja kah?" tanya suster gemulai itu sedikit gemetar karna tatapan penuh mengintimidasi itu.
"Apakah kau juga memangsa pasien yang sedang sakit?" sarkas Abdul.
"Maksud anda apa tuan ?" tanya suster pria tidar mengerti.
Abdul jengah "Jangan pura-pura tidak tau, aku memang belum sadar tadi. tapi aku juga merasakannya."
"Merasakan apa, tuan.?"
Abdul melempar barang yang ada diatas meja menjadi berserakan dilantai.
"Kau fikir aku tidak tau perlakuan menjijikan mu wahai manusia jadi jadian" bentak Abdul pada pria gemulai dengan riasan tebal itu, tidak lupa juga bulu mata palsu yang terpasang rapi di wajah tirusnya.
Suster yang di anggap sebagai pria jadi jadian hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Kalau dalam karakter kartun pasti akan keluar tanduk banteng di atas kepalanya.
" Cih, kamu kan tadi yang mengelus tangan ku. Kau fikir aku tidak tau." kata Abdul dengan tangan terkepal. Dia geram mengingat yang mengusapnya adalah pria padahal di dalam mimpinya ia sedang bercengkrama dengan Aisyah. Tapi ternyata dia sedang di lecehkan dalam dunia nyata.
Yang di tuduh pun tidak mau kalah.
"Tuan. Jangan sembarangan berbicara. Saya baru saja datang dan langsung melihat anda yang baru membuka mata. Dengar. Saya baru saja datang sesaat setelah Anda membuka mata. Mana mungkin aku melakukan pelecehan pada anda." Ucap sang suster tak kalah sengit karna ia juga merasa sudah benar.
"Tapi jelas-jelas tadi....." ucapan Abdul di sela oleh si suster.
"Tuan ! dengar ya. Saya memang pria berpenampilan agak wanita. tapi saya tetap bereaksi ketika melihat bokong besar juga dada yang jumbo milik wanita. dan asal tuan tau. Saya bukan jeruk makan jeruk." tuturnya menggebu.
"Permisi." suster itu segera pergi walaupun belum memeriksa pasien nya. Salah kan saja sendiri, pasiennya yang sudah memancing amarahnya duluan. Namun saat tangannya menyentuh gagang pintu mendadak suster gemulai itu berhenti dan berbalik.
"Apa ?" tanya Abdul penuh selidik, kenapa suster jadi jadian ini tidak pergi juga.
__ADS_1
"Tuan tadi di depan pintu saya menabrak seorang wanita yang membawa anda pertama kali kesini. Apa mungkin wanita itu yang sudah mengelus anda. Karna memang wanita itu terlihat tergesa-gesa."
Abdul termenung setelah kepergian suster itu sesudah mengecek keadaanya.
'Jadi Aisyah datang kemari secara diam-diam. Tapi kenapa. Apakah terjadi sesuatu tanpa ku ketahui ?' gumam Abdul, Namun itu tidak berlangsung lama karna ia langsung pergi kekamar mandi untuk menyelesaikan mualnya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya dan suaminya, orang tua Abdul maksudnya.
"Astaga Abdul." seru ayah sambil membantu anak semata wayangnya naik ke atas ranjang.
" Abdul kau tidak memiliki penyakit apapun, kan." tanya ibu sambil menutupi rasa bersalah nya.
"Ayah, ibu, kemana Aisyah kenapa dia tidak pernah kemari." ucap Abdul dengan suara seraknya menahan tangis.
Jujur saja, si ayah tidak tau dimana menantu cantik nya itu, juga kenapa tega sekali meninggalkan suaminya yang sakit sendirian di rumah sakit.
Sedangkan ibu yang sudah tidak tahan lagi segera pamit keluar sebentar. Ibu ingin menangis, ia merasa sangat bersalah karna tidak bisa mengendalikan diri nya.
Sesungguhnya tanpa ada yang tau, ia memiliki dua kepribadian yang berbeda. Ada karakter lain yang muncul dalam tubuhnya disaat dalam keadaan tertentu.
Aisyah masih berada di rumah sakit. Ia menatap ruangan dimana disana ada abdul dan kedua mertuannya. Ia masih sangat merindukan suaminya, tapi keegoisan dan rasa sakit hatinya pada ibu mertuanya. Membuat Aisyah enggan untuk kembali dan berada di sisi mereka lagi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..............