Jodoh Untuk Aisyah

Jodoh Untuk Aisyah
Memutuskan Untuk kembali


__ADS_3

Memutuskan untuk kembali


“Oh ya, nama nona cantik ini siapa?” tanya si dokter.


“Aisyah, dok.” Jawab Aisyah yang mampu membuat sang dokter terkejut. Ini bukan Aisyah menantunya bu Nanik kan ya? Atau Aisyah yang lain?


“Aisyah. boleh kah aku bertanya, kamu tidak mungkin menemui ku tanpa alasan, bukan?” tanya si dokter.


“Tentu saja tidak, dok. Saya menemui anda karna memang saya membutuhkan informasi dari anda. Saya harap anda menjawab dengan jujur karna saya juga anggota keluarga dari pasien anda.” Ucap Aisyah sedikit menunjukkan wajah serius agar sang dokter tidak meremehkannya.


“Baiklah. Sekarang katakan padaku. Apa yang membawamu kemari, Aisyah. apa kah kau salah satu keluarga dari pasien ku?”


“Ya. Namanya Bu Nanik. Saya adalah menantunya. Suami saya di rawat disini. Saya memiliki alasan tersendiri kenapa saya tidak menemui suami saya. Dokter mengenalnya, kan?” tanya Aisyah dan si dokter mengangguk. Dokter itu tertegun melihat Aisyah.


“Ya, aku mengenalnya.” Si dokter berniat untuk memberitau Aisyah. Walau bagaimanapun, Aisyah terlihat baik dan lembut. Ia pasti mau membantu.


Bisa kah dokter memberi tau saya apa saja yang terjadi? Apakah suami saya menderita gangguan jiwa, sehingga ibu mertua harus datang kemari?” tanya Aisyah bertubi-tubi.


“Oh, jadi kau adalah istriya Abdul?” ucap si dokter dengan senang.


“Ya.”


“Pantas saja Abdul tidak bisa berpaling dari mu. Kau adalah wanita yang cantik, anggun, lembut dan sangat pengertian.” Puji nya untuk Aisyah.

__ADS_1


“Anda terlalu berlebihan dokter. Tentu sajasaya cantik, karna saya juga seorang wanita.” Canda Aisyah.


“Haha.. kau benar. Oh ya, mengenai pertanyaan mu. Aku akan menjawab semuanya.”


.


.


.


.


Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter psikolong. Aisyah merenung di kamar rawat inap Abdul. Yang kebetulan kedua mertuanya sedang tidak di sana. Mereka lagi cari makan mungkin, pikir Aisyah. Sore itu, Abdul masih tertidur. Aisyah berada di sampingnya sambil menggneggam tangan suaminya.


.


.


.


“Jadi kau berencana kembali kesana?” tanya Hanan sedikit tidak rela, di tinggalkan anaknya.


“Aku akan sering menghubungi papa. Jaga diri papa baik-baik.” Ucap Aisyah dengan senang.

__ADS_1


“Baiklah, setelah urusan papa di sini selesai. Papa akan menemani mu di kota yang sama dengan suami mu. Papa akan usahakan sudah bisa menginap di sana sebelum cucu papa lahir.” Ucap Hanan dengan senang. Ia tidak percaya, ia masih di beri kesempatan oleh Allah untuk melihat cucunya. Ia harus bersyukur.


“Jangan bilang, papa akan membuat istana di kota itu.” Ucap Aisyah menyelidik.


“Tentu saja harus. Papa harus membuatkan istana yang megah untuk cucu – cucu papa nanti.” Ucap Hanan dengan bangga.


“Ayolah pa. Tidak perlu berlebihan. Harta tidak akan di bawa mati. Jadi sudah cukup papa bekerja kerasnya.” ucapAisyah dengan lembut dan sedikit manja.


“Anak papa sudah besar ternyata. Baiklah. Papa tidak akan membuat istana yang megah. Tapi rumah yang lengkap untuk cucu – cucu papa nanti.”


“Rumah yang lengkap?”


“Ya. Rumah dengan fasilitas Wifi, kolam renang, dan taman bermain yang di penuhi oleh bunga warna warni. Papa ingin punya cucu laki – laki dan perempuan. Nanti papa akan membelikan mereka miniatur pesawat dan mainan untuk anak gadis sebanyak – banyaknya.” Ucap Hanan dengan tertawa.


Aisyah melongo mendengar keinginan sang ayah. “Pah, itu terlalu berlebihan. Seharusnya papa...” belum selesai Aisyah berucap sudah di sela oleh sang ayah.


“Oh iya. Papa ada kerjaan yang belum di selesaikan. Papa pergi dulu, ya.”


Aisyah hanya bisa menatap kepergian sang ayah tanpa bisa mencegah.


“Kau terlalu berlebihan Ayah. Terima kasih karna telah menjadi ayah yang baik untuk Aisyah. dan terima kasih karna setia pada bunda Aisyah saja.”


Bersambung...........

__ADS_1


__ADS_2