
Menenangkan hati ibu mertua
“Dari mana kau tahu?” tanya Nanik. Sekarang Nanik sudah
kembali setelah ia bisa mengendalikan dirinya lagi.
“Aku akan mengatakan semuanya pada ibu setelah shalat
subuh. Aisyah baru saja bangun, Bu.” Ucap Aisyah sambil tersenyum lembut.
Nanik hanya bisa mengangguk dan ikut sholat berjamaah
bersama mereka. Setelah sarapan,
“Suamiku, aku ingin keluar sebentar bersama ibu mertua.”
Ucap Aisyah meminta izin.
“Tidak bisa. Kau harus menemani ku.” Ucap Abdul yang
tidak mau ditinggalkan lagi.
“Aku akan segera kembali.”
“Tidak mau, bagaimana kalau ibu mau menamparmu lagi?”
ucap Abdul masih tidak terima. Nanik sangat sedih mendengar keluhan putranya.
“Tidak akan. Tadi ibu melakukan hal itu karna mengira aku
enak-enakan tidur. Dan tidak merawat mu dengan benar. Semua ibu pasti marah
saat melihat hal itu.”
“Apa kau juga akan marah saat berada di posisi ibu?”
tanya Abdul. hanya Aisyah yang ucapannya di terima oleh telinga dan hatinya.
“Ya.” jawab Aisyah meski dirinya tidak yakin kalau ia
__ADS_1
akan langsung marah tanpa bertanya dan memastikan.
“Baiklah. Jangan lama-lama.” Ucap Abdul sambil mengecup
mesra dahi Aisyah. nanik menunduk malu melihat kemesraan sang anak yang sengaja
dia tunjukan untuknya.
“Bu, bukan berarti aku langsung memaafkan mu. Jika bukan
karna Aisyah, aku juga masih enggan untuk berbicara dengan mu. Jika nanti
kalian kembali dan di tubuh istri ku ada yang lecet. Aku akan langsung
menyalahkan ibu.” Aisyah hanya bisa menggeleng mendengar ucapan Abdul yang
diluar perkiraannya. Seperti inikah lelaki yang ia cintai?
“Iya.” Nanik hanya bisa pasrah mendengar itu. Ia hanya
bisa menahan diri untuk lebih ihklas lagi agar Nafik tidak muncul.
mengelilingi taman. Aisyah memilih tempat itu agar Nanik tidak tertekan. Dan
fikiranya bisa segar saat melihat keindahan bunga yang di tanam sangat indah.
“Bu, aku minta maaf.” Ucap Aisyah tulus.
“Kenapa?” Nanik bingung. Ia merasa kalau selama ini
dirinya yang telah berubah dan berbuat kasar pada menantunya itu, tapi kenapa
malah Aisyah yang minta maaf.
“Aisyah sering mengunjungi suami Aisyah saat melarikan
diri dari ibu. Namun tanpa sengaja Aisyah melihat ibu menemui dokter psikologi.
Awalnya Aisyah mengira kalau suami Aisyah lah yang sakit. Tapi ternyata ibulah
__ADS_1
yang konsultasi.” Ucap Aisyah jujur.
Nanik tidak tau harus berkata apa. Selama ini ia bisa
menyembunyikan hal itu dengan rapat agar anak dan suaminya tidak tau. Tapi
malah ketahuan oleh menantunya.
“Aisyah minta maaf atas kelancangan Aisyah. Aisyah hanya
takut hal buruk terjadi pada suami Aisyah.” ucap Aisyah dengan jujur.
“Baiklah. Ibu juga tidak berhak marah. Justru ibu sedikit
lega karna ibu bisa berbagi. Seharusnya ibu yang meminta maaf padamu. Semua ini
adalah salah ibu.” Ucap Nanik.
“Bu, semua ini sudah takdir. Jadi ibu jangan merasa
bersalah. Ibu akan semakin terbebani dan itu sangat mempersulit pengobatan
ibu.”
“Tapi ibu masih kesulitan mengendalikan diri ibu.”
“Aisyah tidak tau apakah ibu bisa sembuh atau tidak. Walau
kepribadian Nafik tidak bisa di hilangkan, setidaknya ibu bisa mengendalikan
Nafik. Dan itu sangat berguna untuk ibu agar tidak ada yang bisa meremehkan ibu
lagi.” Ucap Aisyah yang mampu membuat Nanik berderai air mata karna terharu.
“Terima kasih nak. Karna sudah menenangkan hati ibu.”
“Sudah menjadi kewajibanku, bu. Karna aku juga anak ibu.”
Nanik menangis mendengar itu, ia merasa sangat iba pada Aisyah. ia sudah sendari kecil tidak mendapatkan rasa kasih sayang dari ibunya. {a seharusnya bisa menjadi ibu yang baik untuknya. Dia hanya bisa menyesal dan memperbaiki diri.
__ADS_1
Bersambung.........