
Sesungguhnya hati manusia itu ibarat kertas yang putih. Jika tercoret pena akan menjadi hitam. Sejatinya hati manusia itu bersih. Akan menghitam jika tergores oleh dosa.
-Ustadz Minanur Rohman-
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan tokopun akan segera ditutup.
"Mbak, aku lapar. Keluarga cacing yang hidup dalam perutku udah pada break dance minta jatah, aku ke warung sebelah dulu ya." pamit Aisyah pada Aini. Aini juga salah satu pekerja di toko pusat oleh-oleh itu.
" Warungnya mbok zum ya?" tanya Aini.
"Iya."
"Nanti bungkusin buat aku juga ya Sya, aku lapar." pinta Aini memelas.
"Siap mbak, aku permisi dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aisyah pun menuju warung mbok zum yang hanya beberapa meter dari tempat kerjanya. Bakso beranak yang di jual mbok zum memang ngga ada tandingannya. Super enak pokoknya. Aisyah mengangkat kepalanya keatas mrlihat betapa indahnya bintang bintang yang bertebaran di langit.
" Subhanallah." ia menerjab - nerjab menikmati indahnya ciptaan Tuhan yang tiada tara.
Di tengah perjalanan pulang tanpa sengaja mereka bertemu, Aisyah dan Yusuf.
Saat ini moodnya telah membaik, ia juga telah merelakan segalanya. Tak baik bagi seorang muslim bertengkar terlalu lama. Lagian ia sudah melihat kalau Yusuf benar-benar menyesal.
"Maafkan aku Aisyah." ucap Yusuf. Ia menunduk malu atas kesalahannya.
"Tak apa. Aku mengerti, sudahlah jangan dibahas lagi saat itu kita masih remaja yang memang sedang masa pencarian jati diri."
"Aku tidak bermaksud menyakiti hati mu. Saat itu, aku berdosa. Semenjak kamu mengembalikkan kemeja putih milik Abdul, aku sudah tau kalau Abdul menyukaimu. Terlihat jelas dari sorot mata nya kalau ia sangat bahagia. Tapi dengan egois aku tetap memaksamu agar mau menikah dengan ku. Karna aku yakin kalau suatu saat aku pasti bisa memenangkan hatimu. Tapi aku salah, maaf aku mendengar percakapan mu dengan Liya. Andai saja dari awal aku tau kalau Abdul yang kamu pilih, aku takkan memaksamu. Jelas Yusuf.
" Abdul menyukai ku?" tanya Aisyah menyakinkan.
"Kau tak tau ?" tanya Yusuf balik.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷
Perkataan Yusuf tentang Abdul selalu berlinang di kepalannya. Aisyah tidak bisa tidur. 'Apakah Abdul benar mencintainya'. hanya satu kalimat itu yang selalu berputar di otaknya. Rasanya Aisyah ingin pagi cepat tiba, karna ia ingin memastikan kegelisahannya, pada Abdul.
Pagi harinya Aisyah bergegas pergi ke kampus karna memang hari ini ia ada jadwal kuliah tapi bukan itu yang menjadi prioritas nya untuk cepat sampai ke kampus melainkan agar cepat bisa bertemu dengan Abdul karna ia ingin memastikan perasaan Abdul.
Namun ekpektasi tak seindah realita, tanpa ia sadari ada sebuah mobil yang menabraknya sampai ia terpental jauh. Pandangannya berkunang-kunang dan iapun tak sadarkan diri.
🌷🌷🌷🌷
Setelah mendapatkan beberapa pengobatan, akhirnya Aisyah sadarkan diri. Pemandangan pertama yang Aisyah lihat adalah Liya mencekam seorang wanita.
"Apa yang kau lakukan Liya, kau menyakitinya." ucap Aisyah dengan halus.
"Kau baik-baik saja. Dokter bilang kau sempat kritis saat itu." tanya Liya cemas tangannya masih mencekam wanita itu. Aisyah menjawab pertanyaan itu dengan bertanya balik.
"Siapa dia?" tanya Aisyah pada Liya.
Liya menendang kaki gadis itu hingga terduduk. Aisyah terkejut melihat sikap Aisyah yang sangat kasar.
"Kau terlalu kasar kepadanya, lepaskan saja dia." tutur Aisyah pelan.
"Apa ? lepaskan ? dia sedah menunggumu keluar dari toko semenjak subuh dan mobil nya ia jalankan saat kamu keluar dan sengaja mengarahkannya kepadamu. Ini percobaan pembunuhan yang disengaja." ucap liya berapi-api menunjukkan kemurkaannya.
Jujur, Liya mencari identitas si pelaku dengan susah payah dan Aisyah meloloskan nya begitu saja.
"Siapa namamu ?" tanya Aisyah lembut pada wanita yang menabraknya.
" Alim.." jawab gadis itu lemah. Banyak sekali lebam di tubuhnya.
"Dari mana asalmu ?"
"Jawa." jawab Alim dengan menunduk malu, ia merasa bersalah pada Aisyah yang memperlakukannya dengan lembut.
Liya yang melihat basa basi itu terlihat tidak terima.
__ADS_1
"Apakah ini waktunya untuk bertanya hal yang tidak penting. Siapa namamu ? huh, menyebalkan sekali." sindir Liya pada Aisyah.
Tapi Aisyah tak meresponnya. Ia tau nanti Liya akan baikan lagi dengan sendirinya setelah emosi nya membaik. Aisyah memilih untuk menanyai Alim dengan baik-baik.
"Maafkan aku." jawab Alim beriringan dengan air mata yang dibalas sebuah amarah dari Liya.
" Kau fikir permintaan maaf mu akan mengembalikan keadaan menjadi seperti semula, huh?" bentak Liya tepat di telinga Alim.
" Sudahlah Liya. Semua sudah terlanjur terjadi." ucap Aisyah lembut berharap kalau sahabat baiknya itu menjadi lebih tenang.
"Mbak Aisyah tidak marah?" tanya Alim yang dijawab gelengan oleh Aisyah, pertanda kalau ia menjawab tidak.
"Sungguh kau sangat murah hati mbak Aisyah. Saya minta maaf atas kesalahan saya, saya khilaf."
"Lalu kenapa kau melakukanya, kita tak saling mengenal. sangat tidak mungkin kalau kamu melakukannya tanpa alasan yang jelas." bentak Liya.
"Seseorang menyuruh saya." ungkap Alim masih dengan tangisnya.
"Siapa ?" bentak Liya lagi.
"Mbak Cha cha. Maafkan saya mbak." Alim menunduk.
"Tak apa. manusia memang tempatnya salah. tak ada satupun manusia yang sempurna di dunia ini. Benar kan ?" ucap Aisyah dengan menampakkan senyuman tulusnya.
"Inget ngga kata mbah Anwar Zahid, Kiyai kondang yang terkenal di Jawa timur." tanya Liya yang terlihat sudah tidak marah.
"Yang mana?" tanya Aisyah karna memang ia tidak tau.
"Menungso. Menos menos kakean duso." jawab Liya sambil menahan tawanya, sepertinya ia telah memaafkan Alim setelah tau kebenarannya.
"Mbak Liya orang Jawa, ya?" tanya Alim.
"Ngga.. aku asli Aceh pernah tinggal di Jawa tengah selama 6 tahun." Alim mengangguk faham.
Termasuk salah satu keajaiban adalah tidak taunya seorang hamba apa yang akan terjadi esok hari. Seperti yang terjadi pada Aisyah, Liya dan Alim. Mereka berteman walau harus diawali dengan perselisihan.
__ADS_1
-to be continued-