Jodoh Untuk Aisyah

Jodoh Untuk Aisyah
Di Bawa Orang Kaya?


__ADS_3

Hidup adalah perjuangan bagi hambanya yang beriman~


Hidup adalah pengorbanan ikhlaskan semua permasalahan~


Angkat tangan tundukkan kepala cobalah berdo'a~


Memohon ampunan nya meminta petunjuknya~


[Allah Ingin Kau dekati # song by QHUTBUS SAKHA]


.


.


.


.


Dalam kos kecil, sempit, namun bersih dan cukup nyaman itu terlihat seorang wanita yang sedang menata rapi tempat barunya. Rambutnya di kuncir keatas memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus. Pintu rumahnya tertutup rapat jadi tak masalah kalau ia tidak menggunakan jilbabnya.


Aisyah menata pakaiannya dan meletakkan figora kecil yang sempat ia bawa. Setelah menempuh perjalanan 3 jam Aisyah pun sampai di kota baru yang semoga akan mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Ia juga tidak tau, akan seberapa lama ia di tempat itu.


Tak lama kemudian perutnya terus berdemo minta di isi. Setelah berpakaian tertutup Aisyah bergegas mencari makanan yang masih buka dan beruntung nya kota ini ketika malam masih banyak manusia yang beraktivitas.


"Pak, bakso satu porsi ya." ucapnya pada pedagang kaki lima.


"Siap mbak."


Setelah pesanannya datang, Aisyahpun memakannya dengan lahap karna sudah sangat kelaparan mengingat ia makan terakhir kali tadi siang dan ini sudah hampir tengah malam dan untungnya ada pedagang yang tak jauh dari rumahnya.


Tiba-tiba...


"Pak, bungkus semuanya." seorang pria berpakaian jas mahal dilengkapi dengan jam yang kelihatannya juga mahal. Aisyah dan pedagang pun kaget. Buat apa makanan sebanyak itu.

__ADS_1


"I.. Iya, tuan." setelah membungkus banyak bahkan tiga plastik besar tidak cukup.


"Tuan...." si penjual mau berkata kalau plastik besarnya cuma itu, jadi mau menawarkan kalau mau pakai plastik kecil tidak.


"Itu saja." jawab si pembeli pria itu sambil menyodorkan uang ratusan cukup banyak.


"Tuan, ini kelebihan." tolak si penjual halus.


"Anggap saja ini rezeki buat bapak. Sudah malam sebaiknya bapak pulang." ucap pria itu sambil mengangkat satu persatu plastik bakso.


Aisyah sejenak kagum dengan kedermawanan pria paruh baya itu. Sejenak setelah mengagumi kebaikan pria paruh baya itu, tiba - tiba saja kepalanya terasa pusing, dan Aisyah tidak sadarkan diri saat itu juga.


“Tolong, ada orang pingsan.”


🌷🌷🌷🌷


Aisyah menerjabkan mata nya menyesuaikan cahaya yang masuk dalam penglihatannya. Sorot matanya fokus melihat ruangan yang sedang ia tempati saat ini. 'Dimana ini?' Fikirnya. Kamar dengan gaya eropa modern dengan design mewah yang cukup menenangkan jika di pandang.


Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya masuk.


"Kamu siapa?" tanya Aisyah bingung. Kenapa ia bisa berada didalam kamarnya orang kaya.


"Nama saya Wati, nona. Saya adalah kepala pelayan dirumah ini." sejenak Aisyah mengingat kalau semalam ia tiba-tiba pusing dan pingsan.


"Nona bisa membersihkan diri dulu, setelah itu ditunggu tuan besar di meja makan." ucap si pelayan dan berpamitan pergi.


Aisyah pun segera kekamar mandi, ia takjub melihat kamar mandi yang begitu mewah dan lengkap seperti hotel. Tentu saja ia kagum karna selama ini ia hidup di pondok pesantren yang mana masih menggunakan gayung warna warni yang mudah pecah.


Walaupun ia sudah pernah kehotel bersama Abdul, tapi hotel yang ia pakai adalah hotel bintang 3 jadi biasa saja. Namun kalau hotel bintang lima juga kurang bisa bersaing dengan kamar mandi rumah ini yang begitu bagus.


Ah, Aisyah jadi mengingat Abdul, ia merindukan kehangatan suaminya. Setelah lama melamun di dalam bath up Aisyah pun membilas dirinya dan segera keluar setelah memakai baju ganti yang diberikan pelayan tadi. Aisyah agak bingung kemana ia akan pergi menyusuri rumah ini, karna jujur saja rumahnya luas sekali.


"Mbak." panggil Aisyah pada salah satu pelayan yang kebetulan sedang lewat.

__ADS_1


"Iya Nona. Ada yang bisa saya bantu?" ucap pelayan itu sopan.


"Em, " Aisyah agak malu jadi ia terdiam sejenak.


"Ruang makan dimana, ya.?" tanya Aisyah.


"Oh, mari Nona, ikut saya."


Si pelayan pun menunjukkan jalannya pada wanita yang ditolong tuannya. Setelah sampai disana pelayanan itu memilih untuk undur diri melakukan pekerjaannya yang lain. Aisyah membungkukkan badannya menyapa pria paruh baya yang dilihat nya kemarin saat di tengah jalan, tempat dimana ada pedagang kaki lima disana.


"Terima kasih telah menolong saya, Tuan. Saya akan membalas kebaikan anda." ucap Aisyah tulus.


"Ya. Kemarilah nak mari sarapan bersama." ajak pria paruh baya itu.


"Tapi..."


"Jangan sungkan anggap saja rumah sendiri." Ucap pria itu dengan lembut. Hati Aisyah berdesir mendengar ucapan pria paruh baya itu. Mereka saling menatap, tanpa sadar mereka merasakan perasaan asing yang singgah dalam hati mereka.


" Baiklah, Tuan."


Aisyah pun duduk di kursi depannya, sebenarnya ia ingin tanya kenapa hanya mereka berdua disana apa pria ini tidak punya keluarga ? tapi pertanyaan itu hanya ia simpan dihati setelah melihat wajah sendu dari pria paruh baya ini.


"Bagaimana keadaanmu, apa sudah baikan ?" tanya pria itu lembut.


"Iya. Tuan." jawab Aisyah singkat. Sebenarnya ia agak kurang nyaman dengan tatapan aneh pria itu tapi ia masih mencoba menahannya.


"Jangan panggil Tuan. Panggil saja Papa." pintanya.


"Tapi Tuan bukan bapak saya." ucap Aisyah sedikit sopan tapi dalam hati ia menggerutu, enak saja minta di panggil papa.


"Ekm.. nama kamu siapa, nak." tanya pria itu lagi.


" Aisyah."

__ADS_1


" Oh, ya Allah." pria itu menangis.


to be continued-


__ADS_2