Jodoh Untuk Aisyah

Jodoh Untuk Aisyah
Aisyah Kepo


__ADS_3

Aisyah kepo


Nasehat untuk orang tua :


“Jangan ikut campur dengan rumah tangga anak – anak mu. Jika mereka datang untuk di beri pengertian, Nasehatilah mereka. Jika mereka datang mengadu masalah mereka, cari kan lah solusi yang tepat. Dan jika mereka bertengkar, ingatkan lah mereka dengan kelebihan dari pasangannya, karna kadang seorang suami istri berengkar karna hanya melihat keburukan dari pasangannya saja. Sampai lupa dengan kelebihan dan kebaikan pasangannya.”


.


.


.


.


“Aisyah.. kita akan bersama.”


“Kau tidak ingin menemui ku, Aisyah?”


“Aku mau kamu, Aisyah. dimana kamu Aisyah..” ucap Abdul dengan lirih, ia sudah kehabisan tenaga. Abdul masih saja sama. Ia seperti orang gila karna ngidam. Dan ngidam nya untuk bertemu dengan istrinya, tapi belum kesampaian.

__ADS_1


Sebagai seorang ibu, ia tidak tega melihat anaknya seperti itu. Nanik pun keluar dari kamar rawat inap dan menangis di ruang tunggu. Nanik sangat sedih melihat keadaan putranya yang semakin memburuk.


Ayah Abdul baru datang dari kantin rumah sakit dan membeli makanan.


“Bu, makan lah sedikit.” Suaminya mencoba membujuk.


“Ayah, aku sangat sedih.” Ucap Nanik sambil menangis.


Ayah pun menghembuskan nafasnya dengan pelan.


“Ayah sebenarnya tidak mau mengatakan ini. Tapi biarlah Aisyah dan Abdul menjalani kehidupan mereka. Seharusnya ibu tidak ikut campur. Walau bagaimana pun, rumah tangga mereka milik mereka. dan mereka berhak untuk memilih jalan hidup mereka. dan ayah lihat, Abdul baik – baik saja selama ini. Jadi jika nanti Aisyah kembali, kita harus bisa meyakinkannya untuk kembali dengan Abdul.” tutur sang ayah bijak.


“Ayah benar. Ibu terlalu egois selama ini. Abdul adalah anak kita satu – satunya. Ibu hanya ingin memiliki cucu yang lucu.” Ucap Nanik masih sesegukan.


“Ayah juga menginginkan seorang cucu. Kita berdo’a saja pada yang Maha Kuasa. Semoga saja mereka cepat di beri momongan. Do’a ibu adalah yang paling mujarap untuk anak – anaknya.” Tutur Ayahnya.


Di ujung bangku. Aisyah juga berada di sana. Ia memakai masker dan kaca mata. Sekarang Aisyah memakai pakaian mahal yang sudah di belikan oleh papanya sehingga kedua mertuanya tidak bisa mengenalinya sama sekali.


“Sepertinya ibu sudah berubah. Aku senang mendengarnya. Tapi, aku masih ingin tau kenapa ibu pergi mendatangi dokter psikolog? Aku harus memastikannya.” Ucap Aisyah dalam hati.

__ADS_1


Tanpa menunda, Aisyah langsung mendatangi ruangan di mana ia melihat ibu mertuanya tadi baru saja keluar dari sana.


Tok tok tok...


Pintu ruangan terbuka, dan seorang dokter cantik berambut pendek yang sedang membukakan pintu untuknya.


“Oh, dokter. Assalamu’alaikum wr wb.” Sapa Aisyah sopan dan menyalami tangan si dokter.


“Ya. Waalaikum salam. Ada perlu apa? apakah kau sudah mendaftar untuk konsultasi kemari?” tanya si dokter psikolog.


“Tidak dokter. Maafkan saya, apakah anda sedang sibuk sekarang?” tanya Aisyah dengan lembut.


“Tidak juga. Aku baru saja selesai dengan pasien terakhir ku. Dan bersiap untuk pulang. Memangnya ada perlu apa?” tanyanya balik.


“Em, bisa kita bicara sebentar di dalam?” pinta Aisyah dengan memohon.


“Tentu saja. Ayo, silahkan masuk.”


Mereka berdua pun masuk.

__ADS_1


“Oh ya, nama nona cantik ini siapa?” tanya si dokter.


Bersambung.........


__ADS_2