Just Because

Just Because
Just 18


__ADS_3

Jangan enggan untuk membuatnya terkesan.


...•••...


Sesuatu akan awalnya tidak menarik, akan terasa menarik jika itu baru saja diketahui. Seseorang mencari informasi untuk mengetahui apa yang telah terjadi dan juga apa yang akan terjadi.


Io mungkin biasa saja dengan hal-hal baru yang disukai oleh Ayi. Namun, Yandra l akan menjadikan itu sebagai pengetahuan baru baginya. Yang nantinya akan membuatnya mengenal filosofi es krim dari seorang Ayla Ink. Kata yang membuat suatu rasa dalam dirinya semakin bertambah.


Karena tugas yang pernah diberikan Ayi dan Io sebagai ‘hadiah’ untuk Ahsa beberapa hari yang lalu belum dikerjakan, terpaksa Ayi meminta bantuan Yandra. Ia sudah memberitahu laki-laki yang sudah akrab hampir tiga bulan semenjak mereka kenal. Setelah membuat rencana satu pihak, Ayi memutuskan akan ke rumah lelaki yang memiliki senyum kesukaannya itu. Entah sejak kapan ia mulai memuji orang secara langsung seperti ini.


Jika Io tampan, maka Yandra itu manis. Begitulah bentuk ungkapannya untuk dua lelaki tersebut bagi seorang Ayi. Saat berbincang dengan Dena pun, temannya itu tidak menyangkal penilai Ayi untuk seorang Yandra.


Rencana itu akhirnya terwujud.


  “Rumah loe yang mana, sih?” tanya Ayi pada Yandra dari teleponnya. Karena tugasnya harus selesai dalam dua hari, Ayi bergegas mengerjakannya. Besok, ia sudah harus menyerahkannya.


Mendengar pertanyaan itu, Yandra panik.  “Udah sampai, ya?” Ia balik bertanya. Yandra yang saat ini tengah merapikan kamarnya, lalu tiba-tiba terjatuh karena terburu-buru.


  “Aw!” pekiknya saat sudah mendarat ditambah rasa sakit. Beberapa buku dan kertas juga menimpanya dari atas.


Ayi yang sedang berada di tempat lain mendengar itu dan tidak menahan diri untuk bertanya, “Loe kenapa, Ndra?”


  “Nggak pa-pa, kok,” ujar Yandra yang sedang membersihkan kamar yang menurutnya berantakan. Padahal, masih rapi seperti biasanya. Ia merasa cemas saat Ayi ingin bertamu ke rumahnya.


  “Oh gitu. Gue belum berangkat sih, masih di rumah. Hehe,” ucap Ayi, tanpa melihat pun, Yandra tahu bahwa gadis itu pasti nyengir. Ia bisa tahu bagaimana bentuk senyum yang masuk dalam daftar salah satu hal yang disukainya dari Ayi.


Ya. Sejauh dan selama mengenal Ayi, Yandra belum bisa mengkonfirmasi apa yang sebenarnya ia rasakan terhadap wanita yang selalu terlihat ceria itu.


Suka.


Hanya satu kata yang terdiri dari empat huruf itu saja yang bisa Yandra simpulkan. Ditambah lagi dengan kata ‘mungkin,’ yang akan terkesan tidak pasti. Namun, hal itu sudah cukup mewakili ungkapan yang tak pernah tersampaikan.


  “Lebih jelasnya, aku share loc.” Yandra yang kini tengah mengambil sampah dari belakang lemarinya itu, memutus panggilan saat Ayi menyetujuinya. Ia kembali mengutak-atik ponselnya dan mengirim alamat rumahnya pada Ayi.


Sebelum Ayi datang, Yandra merapikan dan membersihkan kamarnya, membungkus semua sampah yang ada di ruangan pribadinya itu. Ia meneliti lagi, melihat sekeliling. Sudah rapi dan bersih. Ia bisa mengangguk dengan puas saat semuanya terasa sempurna di matanya.


Yandra keluar dari kamarnya.


  “Kamu mau ke mana?” Seorang laki-laki yang berusia sekitar empat puluhan bertanya padanya saat berpapasan di pintu depan rumahnya.


  “Mau buang sampah, Pa,” sahut Yandra, seraya mengangkat kantong berisi sampah yang ditentengnya. Plastik sampah yang tidak besar, karena kamar Yandra tidak seberantakan yang ia kira.


Ayah Yandra memerhatikan sekali lagi.  “Buang sampah kok, rapi gitu. Terus ... wangi lagi,” selidik laki-laki yang lebih tua itu setelah sedikit menajamkan indera penciumannya.


  “Nggak, kok. Aku kebetulan abis mandi tadi.” Yandra berkelit. Ia memang sudah mandi beberapa saat yang lalu, setelah Ayi memberitahu akan ke rumahnya. Namun, itu sudah lama.


Yandra merasa risih saat ayahnya itu terus menatapnya. Jadi, ia ingin bergegas pergi dari sana.


  “Yaudah, Pa. Aku mau buang ini dulu,” imbuh Yandra, kemudian berlalu meninggalkan papanya.

__ADS_1


Sang ayah tertegun tiba-tiba. “Young love,” gumamnya, kemudian terkekeh dan geleng-geleng. Ia tahu jika anaknya itu sedikit berbeda penampilannya hari ini. Dirinya memang tidak pernah mendapati Yandra mengenalkan kenalannya selama ini. Hanya beberapa orang teman saja yang pernah ia ajak pulang. Itu pun saat ia masih SMP dulu. Yandra bukan anak yang pendiam, ia hanya kurang dalam sosialisasi saja.


Setelah membuang sampah, Yandra memilih duduk di ayunan yang ada pada pohon di depan rumahnya. Menunggu Ayi. Ia sudah tidak sabar. Sembari mendengarkan sebuah lagu, wajah Yandra tak lepas dari senyum. Ia bahkan mengikuti lirik lagu yang diputar dari ponselnya.


Today was a fairytale


You were the prince


I used to be a damsel in distress


You took me by the hand and you picked up at six


Today was a fairytale


Lagu tersebut sepertinya cocok untuk suasana hatinya saat ini. Ia bahkan tak memedulikan berapa lama ia akan menunggu.


Jauh dari dugaannya, seorang sudah ada di depannya.


  “Oh, jadi rumah loe di sini?” Ayi tiba-tiba muncul. Ia terlihat masih duduk di sepedanya. Pakaiannya sangat santai, hanya dengan memakai kaos dan celana jeans yang sedikit longgar. Ia terlihat menelisik seluruh pekarangan rumah Yandra yang ditumbuhi beberapa bunga dan tanaman hias.


Yandra terkejut dengan kemunculan Ayi yang tiba-tiba, lalu kemudian tersenyum.


“Lebih tepatnya rumah orangtuaku,” sahut Yandra, ia senang karena orang yang ditunggunya sudah datang.


Gadis itu turun dan menuntun sepedanya menuju Yandra yang juga menghampirinya. “Gue kalau ngomong ama loe kalah mulu, tau nggak,” cerca Ayi, sambil memperbaiki tasnya kemudian tertawa bersama Yandra.


Butuh waktu sekitar dua puluh puluh menit untuk sampai di rumah Yand—maksudnya rumah orangtua Yandra, tapi bukan dengan bersepeda. Jika memakai sepeda, mungkin lebih dari satu jam, apalagi jika Ayi yang membawanya.


Ayi masih melihat-lihat tanaman yang ia lewati saat menuju di mana Yandra berada.


Ia sudah sampai.


"Mau dong. Ngomong-ngomong, mama loe penyuka tanaman, ya?” tanya Ayi, sembari menaikkan tali tas selempangnya yang sedikit melorot. Sepertinya ia membawa banyak buku hari ini.


Yandra mengira Ayi sedikit tertarik dengan tanaman yang tumbuh di halaman rumahnya.


  “Bukan mama, tapi Kak Aydan yang aku bilang dulu. Dia suka sama tanaman sejak kecil,” jelas Yandra yang sudah membuka pintu rumah.


Ayi masih mengingat perkataan Yandra dulu. Ia masuk mengikuti langkah Yandra yang berjalan di depannya hingga sampai di ruang tamu, ia mendapati tiga orang yang tengah berbincang santai. Salah satu beserta lainnya dari mereka bisa Ayi tebak, pasti orang tua Yandra. Dan seorang lagi? Oh, mungkin itu Kak Aydan yang Yandra maksud tadi. Apa hanya itu keluarga Yandra di rumah ini? Ayi ingin menanyakannya saat matanya mencari sosok lain yang ternyata tidak hadir di sana.


Laki-laki yang tadinya tertawa, kini menghentikan tawanya saat melihat dua orang muncul dari balik pintu.


  “Eh? Siapa tuh, Dek? Pacarmu ya? Ya? Ya ya ya ya?” sosor Aydan, terlihat kaget saat adiknya membawa seorang yang ....


  “Ma, Pa. Ini Ayi, temen Yandra. Dia ke sini mau ngerjain tugas,” tukas Yandra, menunjuk Ayi yang sudah memasang senyum ramahnya. Ia mengabaikan kakaknya yang kini masih terlihat bingung dan heran.


  “Halo Om, Tante,” sapa Ayi, tersenyum ramah. Setidaknya ia tahu sopan santun pada orang yang lebih tua darinya.


Aydan mulai beraksi, tapi terselip oleh ucapan orang lain.

__ADS_1


  “Wah, tumben nih, adek bawa temennya,” seru papanya terlihat senang.


  “Semenjak SMA, ini pertama kalinya loh, adek bawa temen cewek ke rumah,” tutur perempuan yang memiliki mata yang sama dengan Yandra.


Sapaan adek yang diucapkan keluarganya itu membuat Yandra merasa sedikit malu pada Ayi. Ia juga mulai mewaspadai Aydan yang bisa saja menjelekkannya di depan Ayi.


   “Mama sama Papa jangan bongkar rahasia gitu, dong,” lontar Yandra, sedikit keberatan.


  “Masih bau lumpur juga, udah main rahasia-rahasiaan,” sembur Aydan yang terlihat menggerakkan tangannya untuk meraih gitarnya yang berada tak jauh dari tempatnya, lalu memetiknya, memainkan lagu Good Time milik Owl City. Lagu yang ia maksudkan untuk menyindir adiknya.


Yandra mendengus.


Woah oh oh oh.


Aydan terlihat asyik dengan melodi yang berasal dari gitarnya.


  “Hmm, sekarang Papa paham kenapa tadi kamu pa—“


  “Itu Papaku!” potong Yandra cepat, ia mengenalkan papanya pada Ayi sebelum lebih sesuatu menjadi semakin ember.


Sang ayah yang mengerti sesuatu membalas dengan cepat. “Itu anakku.”


Mereka semua kemudian sontak tertawa. Ayi segera menyalami kedua orangtua Yandra.


Saat tiba pada Aydan. “Aydan, satu-satunya saudara kesayangan Yandra,” tutur laki-laki yang memiliki senyum yang sama dengan Yandra. Aydan lebih dulu mengulurkan tangannya pada Ayi. Ia terlihat tersenyum mengejek pada Yandra yang berdiri di belakang.


  “Kakak maluin tau, nggak!” Yandra terlihat merengut. Ia tak ingin memberi kesan yang buruk pada Ayi.


Ayi tak mau kalah. “Ayi, satu-satunya temen Yandra yang suka Taylor Swift,” balas Ayi. Ini di luar dugaan Yandra.


Aydan dan semua yang ada di ruang itu tertawa lucu mendengar penuturan wanita muda tersebut. Mereka sedikit tertegun, tidak ada yang tidak tahu bagaimana kecintaan Yandra pada musik yang dilantunkan wanita berambut pirang itu.


  “Ternyata … ada juga makhluk yang sejenis sama adek ya, Ma,” goda Aydan pada adik laki-lakinya yang diam-diam mengulum senyum setelah terperangah.


Yandra cepat-cepat mendatarkan wajahnya, berusaha bersikap wajar. “Berisik,” ketusnya pada kakak laki-lakinya itu. Ia kemudian menoleh ke arah Ayi yang masih terkekeh.


  “Sudah, sudah kalian. Udah pada gede juga,” tegur mamanya, menengahi perdebatan kecil dua kakak beradik itu. “Kalian ngerjain tugasnya di mana?” tanyanya pada Yandra.


  “Di kamar Yandra aja, Ma” pungkas Yandra. Aydan ingin berkomentar, tapi dilototi sang ibu.


  “Yaudah, nanti Mama bawain kalian minum,” sahut mamanya lagi.


  “Makasih, Tante,” ujar Ayi yang dibalas dengan senyum.


  “Yuk,” ajak Yandra akhirnya. Ayi harus segera menyelesaikan semua tugasnya dan Io hari ini.


  “Kami permisi dulu Om, Tante, dan Kakak kesayangannya Yandra,” pamit Ayi sopan. Hal itu membuat mereka terkekeh lagi. Aydan sudah tertawa lebih dulu. Rasanya menyenangkan menemukan orang yang sesuai dengan selera humornya.


Sepertinya, keluarga Yandra menyukai Ayi.

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2