
Mengendalikan itu lebih sulit daripada saat sebelum terjerumus rasa.
...•••...
Kontrol diri adalah hal yang sulit. Mereka yang sudah terlibat tidak bisa menakhodai haluan perasaannya sendiri.
Seperti halnya jatuh cinta. Itu bukanlah suatu rencana yang bisa diatur dan dikendalikan dengan tali kekang.
Kuda yang liar saat mengamuk, bisa dikendalikan dengan membunuhnya, tapi akan sangat jauh dengan rasa cinta. Membunuhnya sama saja dengan bunuh diri.
Yandra … tidak bisa mengendalikan perasaannya.
Pikiran Yandra mencari hal yang bisa ditanyakan pada Ayi. Ia hanya akan mengatakan apa yang ia ingat untuk saat ini saja. Hal yang sedang ia pikirkan.
Karena sedikit gugup, Yandra tergagap. “A-anu ... i-itu.” Laki-laki yang memanggil Ayi itu terbata saat kata-kata yang ingin disampaikannya tenggelam. “Kenapa kamu manggil aku Ndra?” tanya Yandra akhirnya. Itu bukan yang ingin dia tanyakan. Yandra sangat gugup saat ini, pikirannya terganggu karena beberapa hal.
Ayi menyadari apa yang terjadi pada Yandra. Entah mengapa, gadis itu menyukai sikap malu-malu yang ditunjukkan laki-laki yang akhir-akhir ini ia pikirkan beberapa kali secara kebetulan.
“Oh, itu. Itu panggilan spesial gue ke loe,” jelas Ayi seadanya dan tanpa memiliki alasan yang signifikan. Ia sendiri tidak tahu kenapa ingin memiliki panggilan tersendiri untuk Yandra. Apa jangan-jangan … ia sendiri yang belum sarapan tadi pagi?
Yandra makin salah tingkah. Pipinya memiliki selapis tipis kabut merah muda yang tak terlihat. Tanda bahwa ia sedang merona.
Seorang Ayi, selalu bisa membuatnya merasa senang dan bahagia dengan cara dan tindakan yang sederhana. Apakah bisa, jika Yandra merasakan hal ini sepanjang hidupnya?
Ia akhirnya menatap Ayi dan tersenyum. Senyum tulus yang menyiratkan berbagai perasaan.
“Makasih,” gumam Yandra, menyamarkan rona merah di wajahnya dengan buku miliknya. Ia tidak ingin Ayi memergokinya.
Ayi menyukai hal itu.
Lalu, Ayi terlihat serius saat mengatakan, “Kayaknya, gue ….” Kalimat itu berhenti saat ia kembali mengatakan, “Lupain.” Ia memikirkan tentang bagaimana seorang Yandra yang hadir dalam hidupnya. Perasaan aneh itu tak bisa ia terjemahkan dalam bahasa yang mudah mengerti. Perasaan yang masih asing.
Ekspresi Yandra sudah kembali normal saat mengangguk. Ia benar-benar tak ingin waktu ini berlalu.
Wajah Ayi sedikit berbeda saat ini, keningnya mengerut. Sebenarnya, Yandra masih penasaran dengan apa kelanjutan kata yang ingin Ayi katakan tadi. Namun, seketika ia sadar bahwa apa yang Ayi lakukan barusan, sama seperti apa yang ia lakukan beberapa saat lalu.
Pada gadis yang ada di depannya ini, Yandra merasakan hal pertama yang sebelumnya belum pernah ia alami. Namun, ada satu hal yang mungkin akan menghanyutkan mimpiannya ke dasar jurang. Ia tak berharap itu akan menyakitkan baginya. Bagaimana jika bukan dia orang yang membalas perasaannya?
Apa yang terjadi pada setiap orang itu berbeda. Hati seseorang juga akan mudah berubah, tapi Yandra tak bisa mengandalkan sesuatu yang kemungkinan berhasilnya bukan berasal dari perjuangannya. Ia tidak suka bergantung pada keberuntungan yang hanya memiliki sedikit peluang. Perasaannya bukanlah suatu yang sederhana seperti itu.
Sembari memikirkan itu, Yandra menatap Io yang asyik berbincang dengan Ahsa, mereka sepertinya tidak memperhatikan interaksi antara Ayi dan dirinya. Dena masih belum terlihat, sepertinya wanita itu tidak sekolah. Yandra tidak tahu.
Dua orang itu larut dalam pikiran masing-masing. Mereka masih belum tahu betapa seseorang di luar sana dengan waktu yang berbeda sedang bersedih karena apa yang akan terjadi pada kedua orang itu akan menjadi pemicunya. Katakan saja itu jauh sebelum hal ini terjadi. Dunia di mana seseorang sedang kehilangan.
“Eh, loe udah hafal belom, nih lagu?” tanya Ayi, berubah menjadi penuh semangat. Sudah tiga mata pelajaran kosong. Hujan pagi ini awet, hanya ada beberapa murid saja yang datang. Mungkin sekitar sepuluh orang untuk kelas Ayi. Waktu yang sangat nyaman untuk Yandra membaca bukunya.
Selain menyukai Ayi, Yandra juga suka dengan dunia literasi. Namun, bakatnya tipis untuk menjadi perangkai kata. Maka membacalah yang ia amalkan.
“Udah dong.” Yandra sumringah. Ia bahkan melupakan sesuatu yang penting.
“Asik.” celetuk Ayi, bersemangat. Tidak ada orang lain yang bisa membuatnya sesenang ini dalam membahas apa yang ia suka selain Yandra.
Yandra memandang wajah Ayi dalam ketika gadis itu mulai menyanyi, "So this is me swallowing my pride. Standing in front of you, saying I’m sorry for that night
__ADS_1
And I go back to December all the time. It turns out freedom ain’t nothing but missing you."
Mereka saling tersenyum, terus melantunkan lagu dari yang mereka dengar dari headset. Tidak ada makna yang berarti dalam lirik tersebut. Setidaknya untuk apa yang sedang mereka rasakan.
Kini, giliran Yandra yang menyambung liriknya. "Maybe this is wishful thinking. Probably mindless dreaming.
But if we loved again, I swear I’d love you right."
Ia bahkan memejamkan matanya menghayati liriknya. Tak ingin berada seperti di lirik itu, sebuah rasa penyesalan.
Yandra berharap agar bisa mengungkapkan perasaannya pada Ayi suatu hari nanti. Lebih dari itu, ia baru sadar bahwa itu bukanlah lagu yang cocok untuk mereka saat ini.
Diam-diam Ayi memandang lekat wajah Yandra yang mana matanya masih terpejam. Ada yang aneh yang ia rasakan.
“Manis.”
Sepertinya Yandra benar-benar melupakan seseorang yang memberi Ayi bunga. Seseorang yang tanpa diduga nantinya akan sedikit beruntung.
***
Dimas datang menghampiri Ayi yang baru saja keluar dari kelasnya. Ia terlihat buru-buru.
“Ayla,” panggilnya pada Ayi yang berjalan bersama Yandra, Io, juga Ahsa dan Dena.
“Yo,” balas Io mengajak Dimas tos tinju. Dimas meladeninya.
Semenjak berpacaran dengaan sahabatnya, Io dan Dimas semakin akrab. Yandra hanya tersenyum tipis. Ahsa masih mengomel di belakang.
“Maaf ya, aku nggak bisa pulang bareng, ada yang harus aku urus,” jelasnya pada Ayi. Ia merasa tidak enak karena membatalkan rencana untuk pulang bersama Ayi.
Masih ada raut bersalah saat Dimas tersenyum lega. “Yaudah, kalau gitu aku pergi dulu,” pamit Dimas, kemudian menghilang di balik tembok koridor.
Ayi menghela napas. Ini bahkan sudah setengah dari waktu perjanjian, tapi ia masih belum ada rasa pada laki-laki itu. Atau jangan-jangan ia sudah menyadarinya?
Atau mungkin ... dia sudah menyukai orang lain?
Tidak! Tidak! Ayi menggeleng dalam diam. Ia merasa tidak begitu. Memangnya siapa? Ia hanya dekat dengan Io, Ahsa, Dena, dan Yandra. Oh iya, Dena tidak termasuk.
Ayi kembali beranjak bersama empat temannya, memerhatikan satu persatu wajah mereka. Hanya Yandra yang paling tampan menurutnya. Ayi mencubit pipi Yandra yang kini sedang tertawa karena lelucon Ahsa.
Laki-laki itu terperanjat, memegang pipinya yang seketika memerah karena cubitan Ayi yang cukup keras.
“Sorry, gue greget,” ujar Ayi, tanpa bersalah. Ia dan Io kembali tertawa. Ahsa dan Dena mendecak saja.
Pandangan Ayi beralih dari Yandra ke Io. “Loe nggak jadi pulang sama Sheila?” tanya Ayi pada Io yang masih menertawakan Yandra.
“Nggak, gue udah suruh orang lain buat ngantar tadi,” sahut Io, menampakkan senyum bangganya. Seolah mengisyaratkan bahwa ia adalah pacar idaman.
“Enak banget pacar loe,” sosor Dena.
“Gue sesekali napa, Yo,” gerutu Ahsa mendahului langkah Io.
“Kapan-kapan,” sahut Io, menampakkan cengirannya yang bagi Ayi itu terlihat sangat menyebalkan.
__ADS_1
Dengan pipi yang masih merah, Yandra melirik Io. “Masih belum?” bisiknya. Ia mengira jika Io dan Sheila sudah putus.
Io menggeleng sebagai jawaban. “Loe sendiri, masih belum?” Io balik bertanya. Yandra terlihat gugup. Ia hanya menggeleng dengan sedikit rasa bersalah.
“Ngomong-ngomong, kalian kok ke kantin? Ini ‘kan jam pulang?” protes Io saat menyadari arah tujuan Ayi.
“Gue laper,” imbuh Ayi yang berjalan paling depan.
“Gue juga, kayaknya,” ucap Dena tiba-tiba. Ahsa mengikut saja.
“Yaudah, kali ini apa tantangannya?” seloroh Io.
Yandra hanya bisa menghela napas panjang. Selalu begitu saat dua sahabat itu ingin makan. Secara, Yandra juga kadang terlibat dengan aturan itu, ia sudah menjadi bagian dari mereka. Itu karena Io yang mengajaknya melakukan tantangan traktir makan seperti yang biasa ia dan Ayi lakukan.
Ahsa dan Dena tidak ingin terlibat, mereka makan sendiri dan bayar sendiri.
“Hehe.” Ayi dan Io nyengir ke arah Yandra. Menunggu Yandra yang terlihat masih berpikir. Tugas pencetus tantangan kini mereka serahkan pada Yandra.
“Oke, gimana kalau ... siapa yang bisa nemuin orang yang ngasih bunga ke Ayi, dia ditraktir makan satu minggu?” usul Yandra, mengungkapkan ide cemerlangnya. Ia masih belum sempat membahas perihal orang misterius yang memberikan Ayi bunga.
“Masih belum tau siapa orangnya?” Dena yang sudah duduk ikut menyela. Ahsa terlihat menghitung jumlah sendok dan garpu.
“Belom,” balas Ayi, menarik satu kursi.
“Gimana?” tutur Yandra lagi.
Ayi mengangguk. “Setuju banget.” girangnya bersemangat. Ia sebenarnya juga ingin tahu siapa orang kurang kerjaan tersebut. Akan tetapi, bukankah itu manis?
Manis?
Ayi berpikir sejenak, Kenapa bukan Yandra saja orang itu? Tapi, itu tidak mungkin, ‘kan?
Di sisi lain, Io terlihat syok, ia memasang wajah horor. “Seminggu?” pekiknya, mengulangi ucapan Yandra.
Yandra mengangguk mantap. “Iya,” jawabnya tegas. Ia sedikit merasa aneh dengan Io.
“Loe kenapa?” tanya Ayi yang juga menyadari perubahan wajah Io.
“Buset! Seminggu, Yi. Seminggu?” Io terlihat panik berlebihan dan membuat Yandra sedikit memicingkan matanya menatap laki-laki itu curiga. Apa jangan-jangan … Io belum sarapan?
“Bilang aja loe takut,” cibir gadis itu, mulai memilih menu.
Untung saja kantin masih buka. Mereka pulang lebih awal hari ini, beberapa guru tidak datang mengajar karena hujan.
“Ya nggak, lah,” ucap Io yakin, tidak sepanik tadi. Ia hanya kaget saja saat Yandra berkata seperti itu.
“Deal?” Yandra mengulurkan tangannya dan dijabat bergantian oleh Ayi dan Io. Mereka sudah sepakat.
“Tapi, yang bayar sekarang siapa?” pungkas Io. Ayi sudah menyantap makanannya.
“Iya ya?” Yandra terlihat bingung. Sedangkan Ahsa dan Dena sudah bingung dari awal.
Untuk saat ini, Yandra melupakan hal penting.
__ADS_1
To be Continued