Just Because

Just Because
Just 28


__ADS_3

Harusnya kita akui saja.


...•••...


  “Iya. Kamu benar, itu juga alasanku menyukainya.”


Semua langsung menatap Yandra saat ia mendeklarasikan kalimat tersebut tanpa sempat mengkhawatirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Untuk itu juga, wajahnya menjadi mati ekspresi saat melihat orang-orang di sekitarnya.


Semua orang terpana dalam jeda waktu yang cukup lama sebelum Yandra tergagap saat ia mulai menjelaskan. ada  kesalahpahaman yang akan terjadi jika ia tidak menjelaskannya walaupun ia tidak tahu bahwa mereka mungkin sudah tahu.


Kadang, ia berpikir untuk mengakuinya saja.


  “Kakak yang ini suka sama Kak Ayi?” tanya Arta lebih dulu. Kecanggungan yang sempat menguar, teralihkan oleh pertanyaan itu dengan cepat.


Laki-laki yang memiliki senyum manis itu tiba-tiba diserang rasa gugup, menyadari sesuatu gelombang perasaan baru yang seakan menghantamnya. Ia menyesal karena sudah keceplosan. Mungkin ini bukanlah pertama kalinya, dan juga bukan rasa kaget yang baru, tapi tetap saja ia merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri karena melakukan kesalahan yang berulang.


Io dan yang lainnya terlihat kaget awalnya. Namun, akhirnya kembali ke jalan pikiran masing-masing. Mereka sempat tersenyum sekilas. Seolah kompak mengatakan ‘tuh ‘kan.’


Bagaimana mungkin Dena, Ahsa, dan Io memerlukan penjelasan untuk sesuatu yang sudah jelas? Bukankah seharusnya akui saja?


  “Ma-maksudnya bukan gi-gitu,” ujar Yandra kesulitan dengan kata-katanya sendiri. Ia terlambat sadar dan hanya bisa merutuki dirinya sendiri. “Aku suka ... suka liat Ayi cembe–bukan! Maksudku ... i-itu–“


  “Kok loe gugup gitu sih, Yan?” tanya Dena, memerhatikan gerak-gerik Yandra. Ia terlihat tidak mempersalahkan apa yang terjadi lagi. Bukankah dugaannya selama ini benar? Diam-diam Dena suka menyaksikan Yandra ketika hal seperti itu terjadi.


Ahsa  juga ikut. “Tau tuh, Yandra.” Ayi yang ingin memukulnya tadi memilih mengurungkan niatnya. Perhatiannya kini tertuju pada Yandra. Perkataannya tadi seperti mengingatkannya pada sesuatu.


  “Apa–“


  “Nggak! Maksudku suka dalam hal wajar.” Yandra memotong ucapan Io. Ia kembali menjelaskan. Namun, masih terlihat selalu menyalahkan apa yang akan ia ucapkan yang berarkhir dengan tidak berani melihat wajah Ayi seperti sebelumnya. Karena rasa canggung itu benar-benar masih ada.


Io yang ucapannya sempat terpotong oleh Yandra tadi, hanya terkekeh. “Apa gue bilang,” pungkasnya, seperti memenangkan taruhan besar dan merasa sangat senang. Mereka semua tidak menganggap perkataan Yandra itu hal yang aneh atau baru lagi.


  “Apaan?” tanya Ayi yang akhirnya membuka suara.


  “Loe sesekali gitu, keliatan manis, Yi. Biar ada yang suka, ya nggak, Yan?” tutur Io mengambil air minum yang Arta bawa tadi. Ia sudah tidak selera untuk tersedak lagi. Dengan berkata begitu, ia sengaja memancing Yandra untuk semakin mengakui.


Memangnya siapa di antara mereka semua yang tidak tahu bahwa Yandra menyukai Ayi selain Ayi sendiri.


  “Gue udah manis, kali.” Ayi mendengus. “Tapi ... akhirnya Yandra bilang juga,” sambungnya lagi. Nyengir.


  “Maksudnya?” Io semakin menggoda  keduanya. 


Suatu waktu, jika  mereka berdua  saling mengungkapkan, Io berpikir untuk merayakannya. Namun, sepertinya tidak akan ada pihak yang akan memulai jika tidak didesak. Jika bukan dirinya, lalu siapa lagi?

__ADS_1


  “Kalau Yandra suka sama gue, dia harus bilang. Gue yang nyuruh dia. Gitu,” jelas Ayi lantang. Yandra makin salah tingkah. Sepertinya ia memangn harus menjelaskan sesuatu.


  “Ini kok jadi ribet, ya?” timpal Ahsa.


  “Yandra ‘kan cuman bilang suka, what’s wrong with that?” imbuh Dena.


  “Tapi gue beneran ngakak loh, pas Arta bilang loe manis, Yi,” sahut Ahsa lagi.


  “Gue juga. Ayi versi feminim itu gimana, ya?” ujar Dena mulai berimajinasi. “Kayaknya ....”


  “Maaf,” lirih Yandra pelan. Setelah banyak pertukaran pikiran yang ia lewatkan, Yandra akhirnya berkata.  Kata yang pernah ia tinggalkan dari lidahnya. Maaf.


  “Apaan sih, Ndra! Nggak ada yang salah kalau loe suka ama gue. Gue juga suka kali sama loe, loe baik, sering ngasih contekan. Sesama teman ‘kan harus gitu. Kalau loe bilang cinta, baru gue kaget,” ujar Ayi, kemudian terbahak. Ia tidak  sadar bahwa apa yang ia katakan itu malah membuat nyali orang yangn diajak bicara itu semakin menjadi. Menjadi semakin ciut karena dianggap enteng.


Yandra tahu bahwa ia tak memiliki keberanian yang akan dibanggakan banyak orang jika ia bisa melakukan hal  seperti itu. Sulit saat ia memikirkannya, dan lebih sulit lagi bagaimana jika ia melakukannya langsung.


  “Bener tuh,” sela Dena membenarkan—bukan untuk contekan. Mereka sedikit lebih tahu dengan kebenaran tentang seorang Yandra yang menyukai Ayi. Perkataan Yandra barusan dapat mengubah opini mereka berubah menjadi setengah fakta.


  “Makasih,” gumam Yandra, berusaha bersikap tidak ada yang terjadi. Sepertinya ia harus hati-hati lain kali. Akan bermasalah jika perasaannya diketahui orang lain. Ia masih belum siap.


  “Ya kali Yandra suka sama loe!” sembur Io menutup wajah Ayi dengan tangannya. Sepertinya demamnya perlahan hilang ketika bersama dengan teman-temannya itu. Mereka bahkan melupakan kepergian Sheila.


Dena terlihat beranjak ingin mengambil makanan lain. Karena mangkuknya sudah kosong.


Di samping orang lain, Arta hanya terkekeh melihat kakaknya yang lebih ceria saat bersama Ayi dan yang lainnya. Merasa senang karena saudaranya itu sudah lebih sehat dari tadi pagi saat ia menemuinya di kamarnya.


Orang tua mereka masih belum pulang. Awalnya hanya ada ia dan Io saja di rumah. Namun, kini sudah ada Ayi dan yang lain. Sesekali ia melirik pada Yandra yang menatap Ayi dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Arta juga melirik pada kakaknya yang sedang bercanda dengan Ayi.


  “Impossible! Kayak gue nih, banyak yang suka,” ujar Io membanggakan dirinya.


  “Emang, tipe cewek yang loe suka itu yang gimana, sih? Gue nggak pernah liat loe serius pacaran,” tanya Ahsa, mengambil cemilan yang ada. Ia masih menunggu Dena mengambil makanan di dapur. Sepupunya itu merasa bahwa makanan yang ada di sana tidak akan cukup untuk menemani waktu mengobrol mereka yang mungkin akan panjang.


Io yang ditanya, tersenyum remeh. Ia ingin menjawab sebelum hal yang yangn lebih mengejutkan dikatakan oleh Arta.


  “Bukannya Kak Io suka sama Kak Ayi?”


***


  “Ukuran sepatu loe berapa, Ndra?” tanya Ayi saat pelajaran olahraga. Mereka saat ini ada di lapangan, praktik lari jarak pendek.


  “Tiga sembilan,” sahut Yandra.


  “Gue tiga tujuh setengah,” ujar Ayi memamerkan telapak sepatunya. Kening Yandra sedikit mengerut, karena yang ia lihat di sana hanyalah angka tiga tujuh.

__ADS_1


  “Setengah?” tanya Yandra memicingkan matanya. Dia tidak salah lihat ‘kan? Atau mungkin salah dengar?


  “Sepatu gue agak sesak, jadi gue tambahin ukuran setengahnya,” jelas Ayi yang duduk di sampingnya. Ah, Yandra mungkin lupa dengan siapa ia berbicara saat ini.


Lalu, apa hubungannya?


  “Dia nggak nanya oi,” tandas Io, mendekati mereka berdua setelah baru saja lari. Ia meminum air mineralnya.


Ayi membalas seakan itu adalah hal yangn tak bisa untuk tidak dibalas, “Gue juga nggak nyuruh nanya.” Setelah mengatakannya, ia tertawa dan merasa senang.


  “Hahaha, lucu,” ujar Io yang juga tertawa. “Ketawa, Yan, biar keliatan dia lagi ngelawak,” ajak Io pada Yandra.


Yandra yang tak mengerti, menurut saja. Mereka terlihat tertawa terpaksa dan berakhir mendapat pukulan dari Ayi sebelum gadis itu beranjak karena namanya sudah dipanggil. Kini giliran Ayi yang berlari. Ia sudah menuju garis start dan terlihat bersiap-siap.


  “Izin bentar, Pak,” ucap Ayi saat guru olahraga mulai memberi aba-aba.


  “Ada apa?” tanya laki-laki tua saat ia hendak meniup peluit.


  “Tali sepatu saya lepas, Pak,” sahut Ayi menunjukkan tali sepatunya yang memang terlepas, lalu kemudian berlari ke tempatnya semula. Menghampiri Yandra dan Io yang masih bersama.


  “Tukeran sepatu,” ujarnya saat sudah di depan Yandra.


Yandra memasang wajah bingung. “Hah?” Ia tidak tahu apa yang dimaksud Ayi. Kenapa dia harus?


Ayi merasa bahwa respon itu lambat dan menjadi greget karenanya. “Lepas sepatu loe. Gue pinjem, biar keliatan keren pas lari nanti,” jelas Ayi seraya melepaskan sepatunya.


  “Kaki loe ‘kan kecil?” tutur Io pada Ayi yang hanya nyengir.


  “Buruan!” Ayi mendesak.


Yandra melepas sepatunya dan memberikan pada Ayi. Ia sendiri juga tidak mengerti kenapa Ayi melakukan hal itu. Gadis itu bahkan sudah kembali lagi dan mulai berlari. Ia akhirnya berlari menggunakan sepatu Yandra.


Selain unik, Ayi itu juga aneh.


  “Ngapain, Yo?” tanya Yandra pada Io yang terlihat berjalan menuju pohon di sisi lapangan. Ia melempar sesuatu ke atas pohon hingga tersangkut.


  “Ada barang ilegal, jadi harus dibalikin ke habitatnya. Kalau yang punya nanya, bilang aja gue,” jelas Io tersenyum bahagia.


Yandra tidak bisa berbuat lebih, ia hanya bisa tercengang.


Selain unik, Io itu juga keterlaluan.


...To be Continued ...

__ADS_1


__ADS_2