Just Because

Just Because
Just 36


__ADS_3

Bukan hanya suka. Kata itu lebih dari cuma sekedar. Dia suka, juga lebih dari itu.


...•••...


Dari dalam toilet laki-laki, Ayi dan Yandra terlihat mengisi tempat penyiram tanaman—berwarna abu-abu—dengan sebanyak yang bisa terisi.


Yandra benar-benar menjemputnya tadi pagi. Rencananya yang ngin mengajak Ayi menyiram tanaman yang selama ini ia rawat di belakang sekolah, kini hampir terkabul saat keduanya sedang mengambil air. Ia juga akhirnya menepati janjinya saat dulu Ayi menyelamatkannya di hari kedua mereka sekolah: untuk mengajaknya ke tempat tersebut.


Setelah lama, barulah kali ini Ayi benar-benar datang memenuhi undangan lamanya.


Untuk menyiram tanaman, tentu saja mereka memakan waktu yang hanya sebentar, dan karena juga Yandra ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Ayi, ia pun mengajaknya untuk memperkenalkan lahan yang ia kelola sendiri saat di sekolah. Itulah alasan mengapa ia menyuruh Ayi datang lebih pagi.


Hari ini, Ayi juga tidak atau mungkin belum menerima kiriman bunga tulip lagi. Mungkin besok atau lusa. Ia hanya akan menerima bunga tersebut seminggu dua kali dan itu secara rutin. Walaupun tidak mengganggunya, tapi sebagai manusia biasa, ia juga penasaran. Karena hingga saat ini, mereka masih belum mengetahui siapa orang di baliknya.


  “Ngomong-ngomong, loe suka bunga apa, Ndra?” tanya Ayi yang menyiram tanaman yang memiliki daun lebar. Ia tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Saat ini, mereka berdua terlihat seperti berkebun saja.


Yandra yang terlihat mencabuti rumput liar, menoleh dan berkata, “Hmm, kayaknya bunga Raflesia.”


Ayi yang mendengarnya langsung terbahak. Ia sama sekali tak menyangka jika bunga kesukaan Yandra adalah bunga yang tak biasa.


  “Loe aneh tau nggak. Mana ada orang yang suka sama bunga gituan,” ungkap Ayi yang kini ikut berjongkok di samping Yandra. Ikut melakukan apa yang laki-laki itu lakukan setelah meletakkan tempat penyiram tanamannya. Ia merasa bosan jika melakukannya sendiri.


  “Karena itu bunga pertama yang kutahu, jadi aku suka. Tapi, kalau dalam hal romantis, aku suka bunga Lavender,” sahut Yandra, cukup membuat Ayi yakin dan tidak meremehkan jawabannya seperti sebelumnya.


Yandra memperhatikan gerakan kecil yang ada pada wajah Ayi. Ia merasa aneh sendiri mengatakan hal itu di depan gadis tersebut.


  "Kenapa?" Karena Ayi tak kunjung bersuara, jadi ia bertanya.


  “Lavender, ya.” Ayi bergumam sendiri. Namun, meskipun begitu, isi kepalanya sedang merencanakan sesuatu.


Hal itu menjadi kenyataan saat ia mengatakannya, “Kalau gitu, gue mau bunga yang loe suka. Gimana?”

__ADS_1


Yandra bertanya, "Bunga Lavender?”


Sebagai jawaban, Ayi mengangguk lebih dari sekedar yang dibutuhkan.


  "Boleh. Nanti aku temenin kamu beli. Kalau soal tempat, aku bi—"


  “Nggak!" Ayi menolak tawaran Yandra dengan cepat. "Gue mau kita tanam sama-sama aja. Gimana? Kayaknya seru,” seru Ayi, mengajak alih-alih memaksa laki-laki yang sudah ia kenal hampir setahun ini. Laki-laki yang hampir setiap hari ia temui di sekolah. Laki-laki yang selalu diconteknya bersama Io setiap ada tugas atau apa pun tentang pelajaran. Laki-laki yang diam-diam ia sukai—entah itu rasa nyata atau hanya sekedar. Ayi masih meragukan dirinya sendiri mengenai hal itu.


Untuk hal ini, Yandra tidak ragu-ragu untuk menyetujuinya. “Oke, nanti aku nanya sama Kak Aydan caranya,” ujar Yandra yang setuju begitu saja. Sudah menjadi sifat alamiahnya yang tidak keberatan saat berhubungan dengan Ayi. Apa pun itu selama ia bisa melakukannya.


Mereka berdua terus mengurusi tanaman Yandra. Tidak ada banyak bahkan mungkin belum ada murid yang datang sepagi itu. Yandra juga menjelaskan beberapa tanaman yang ia rawat selama ini. Memang tidak banyak, tapi itu cukup untuk dijadikan bahan obrolannya dengan Ayi. Ia tak ingin melewatkan waktu begitu saja ketika bersama dengan Ayi. Bahkan tanpa ia sadari, setiap mereka bersama, akan selalu ada pembahasan mengenai lagu Taylor Swift. Seolah mereka berdua tidak pernah bosan dengannya.


  “Soal si pengirim bunga ....” Yandra berujar pelan. Ia mencoba mencari topik lain. “Menurut kamu gimana?” tanyanya pada Ayi yang yang membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitar sebuah tanaman paling sudut. Ia juga menyiraminya. Namun, apa yang dilakukan Ayi itu justru membuat Yandra tertawa. Ayi bahkan tidak bisa membedakan mana rumput liar dan mana tanaman yang harus dirawat. Bagaimana tidak, tanaman yang Ayi siram itu adalah rumput liar yang sudah tumbuh besar.


Masih dalam kekehannya, Yandra memberitahu Ayi untuk mencabutnya saja. Mungkin saja Ayi juga akan merawatnya hingga menjadi semak belukar. Ketidaktahuan Ayi itu justru membuatnya terlihat lugu dan lucu di mata Yandra. Lagi-lagi rasa itu mengharu biru setelah sekian lama ia pendam. Apakah kali ini saja ia ungkapkan?


Mungkinkah?


  “Boleh juga,” sahut Yandra, menaruh minat. Memangnya apa yang membuatnya tak tertarik tentang Ayi? Lagi pula ini sangat penting baginya. Ia sangat penasaran dengan pendapat Ayi mengenai pengirim misterius tersebut.


  “Siapa. Kenapa. Dimana. Apa dan Bagaimana.” Ayi membuat dugaan terlebih dulu. “Siapa ... dia, perempuan atau laki-laki? Tapi, menurut Io itu laki-laki dan gue juga ngiranya gitu.” Ayi mulai menjelaskan.


Yandra hanya mendengarkan, sambil berpikir.


  “Kenapa ... dia ngirim bunga tulip ke gue?” Ayi bertanya pada dirinya sendiri dan juga mungkin pada Yandra. “Kata Io dia suka sama gue,” tutur Ayi dan diangguki begitu saja oleh Yandra, karena laki-laki yang duduk di sampingnya itu juga berpikiran sama.


  “Dan ... di mana dia, menurut gue dia di sekolah ini juga. Karena gue nggak pernah mergokin atau ketemu langsung pas dia naruh bunganya. Otomatis dia tau apa yang gue lakuin.”


Kali ini Yandra juga setuju dengan pendapat Ayi. Mereka banyak samanya, apa jangan-jangan ... mereka belum sarapan, karena terlalu pagi berangkat sekolah tadi? Mungkinkah begitu?


  “Apa ... dia?” tanya Yandra melanjutkan dugaan selanjutnya.

__ADS_1


  “Yang itu jangan ditanya, Ndra. Jelas dia manusia lah,” jawab Ayi mengomentari pertanyaan tak masuk akal Yandra. Laki-laki itu merasa dipermalukan oleh pertanyaannya sendiri. Ia menggaruk spontan pipinya karena merasa aneh sendiri dan meninggalkan jejak di sana. Sedikit tanah terlihat menempel itu Ayi bersihkan dengan punggung tangannya.


Suasana romantis ini mereka nikmati berdua. Ah, mungkin hanya bagi sisi ketidakyakinan mereka saja. Karena nyatanya, mereka menyembunyikan hal ‘itu’ dan juga menyadarinya. Bukan tak ingin mengakui, mereka terlalu keren saja untuk mengungkapkannya.


  “Kalau gitu, bagaimana dia ngasih bunga ke kamu?” Pertanyaan Yandra kali ini makin membuat Ayi tertawa.


  “Yang itu makin nggak perlu ditanya, Ndra. Jangankan gue, loe ama Io aja pasti tau ‘bagaimana’ dia ngasih bunganya ke gue. Pasti dia taruh pas kita nggak ada lah!” cerca Ayi geleng-geleng. Ia bahkan sempat-sempatnya mencubit pipi Yandra. Apakah itu semacam kebiasaan? Atau mungkin hobi baru? Tapi, kenapa itu manis?


  “Iya juga sih,” gumam Yandra menggaruk kepalanya. Keakuratan berpikirnya seperti hilang saat bersama Ayi. Kenapa dia jadi selugu ini?


   “Tapi, gue nyimpulinnya dia itu pengecut,” ujar Ayi berpendapat, seperti menghina si pengirim secara tidak langsung. Seandainya saja pengirim itu ada di sana, pasti dia akan tertohok dengan sangat.


Bukankah begitu, Yandra?


Yandra yang merasa kaget dengan jawaban Ayi itu, menyahut, “Pengecut?”


  “Iya. Pertama, dia nggak mau nunjukin siapa dia,” ucap Ayi dan dihitung oleh Yandra dengan mengangkat satu jarinya.


  “Kedua, dia nggak ngasih tau kenapa dia ngasih bunga ke gue, kalau lewat tulisan doang mah nggak gentle namanya.” Yandra mengangkat jari keduanya.


  “Ketiga, dia selalu nyembunyiin diri dan nggak mau ketemu langsung sama gue. Tapi menurut gue, kayaknya gue tau sama dia. Ngasih bunga langsung gitu kek, ‘kan keren kalau gitu! Lah, yang ada ini namanya pengecut!” cetus Ayi kesal sendiri. Sebegitunya ia menjelaskan asumsinya mengenai seorang yang tak diketahuinya itu.


  “Keempat?” tanya Yandra memiringkan kepalanya, menjenguk wajah Ayi yang mulai berkeringat.


  “Keempat, dia nggak gentle. Kelima, dia pengecut. Intinya dia itu pengecut!” seru Ayi mengakhiri pendapatnya tentang orang yang menjadi pembahasan mereka.


  “Gitu, ya. Ada juga orang pengecut kayak dia yang hidup, ya?” gumam Yandra sembari menatap langit dengan matahari yang mulai menyalakan sinarnya. Ia memikirkan perkataan Ayi yang mengatakan bahwa orang itu pengecut.


  “Entah kenapa, aku nggak suka dia,” gumam Yandra dengan pikirannya yang entahlah.


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2