
Tak mengapa dengan mendung, asalkan jangan hujan.
...•••...
Hubungan akan terjalin untuk mereka yang memiliki tujuan sama, dan akan berakhir jika salah satunya sudah menemukan tujuan yang lain. Kadang, pengaruh dari pihak luar juga akan menjadi pemicu terciptanya tujuan yang baru. Untuk mereka yang berkomitmen, sudah memantapkan hati, niat, dan keyakinannya, tentu tidak akan mudah goyah.
Berpaling bukan perihal kenapa, tetapi siapa.
Ayi sudah sampai di rumah Yandra hanya dengan menggunakan sepedanya. Saat ini, ia mengikuti langkah menuju kamar laki-laki tersebut. Sudah dua hari berlalu semenjak ulang tahun Ahsa dan empat hari setelah pertemuannya dengan Dimas. Selama itu pula, banyak hal yang terjadi pada gadis itu.
Pintu kamar dibuka oleh pemiliknya. Ayi ikut masu saat wajah cerianya berubah menjadi terperangah.
"Kamar loe rapi banget!" seru Ayi, menjadi meledak saat mengamati betapa nyamannya suasana di ruangan itu.
Dengan ini, Yandra sudah merasa sangat puas.
Di sana, semua barang tertata rapi. Satu rak yang berdiri dan memenuhi satu sisi dinding, menjadi pemandangan yang mencolok di mata Ayi. Terdapat banyak buku di sana. Dindingnya putih bersih. Hanya ada satu poster berukuran sedang berwarna hitam putih yang menempel di sebelahnya.
Taylor Swift.
Ayi semakin tertarik dengan seorang Yandra. Laki-laki itu ternyata benar-benar sama sepertinya.
"Di kamar gue juga satu poster aja yang gue tempel," tutur Ayi, mulai menjelajahi sudut-sudut yang terlihat oleh matanya. Setelah ia teliti, ternyata sebagian besar satu sisi dinding di dekat jendela, dipenuhi dengan kata yang tertulis rapi.
Sebagian dari itu adalah tulisan tangan Yandra. Terdapat banyak kalimat dengan huruf besar dan kecil yang dipadu. Sangat berseni. Lalu, muncullah pertanyaan, "Loe bisa nulis macam-macam font?" Pertanyaan itu Ayi ajukan sementara ia memandang ke arah Yandra yang berjalan ke tempat tidurnya, mengambil sesuatu dari bawah ranjangnya.
Dinding di sebelah tempat tidur justru monoton dengan warna broken white, tanpa ada hiasan apa pun.
Ia menoleh pada Ayi sebelum menjawab, "Itu bukan aku, tapi Kak Aydan. Dia belajar otodidak." Saat Yandra melewati meja belajarnya, ia mendapati gelang yang lupa ia simpan. Lebih tepatnya gelang yang ingin ia berikan pada Ayi. Dengan cepat, ia pun menyembunyikannya.
"Terus, kenapa tulisan dia bisa ada di kamar loe?" Ayi sepertinya masih tertarik membahas topik tersebut.
Yandra tanpa keberatan menjelaskan, "Aku yang minta." Matanya sedikit berbinar saat melanjutkan, "Kamu tahu nggak, kalau itu sebenarnya lirik—"
"Taylor Swift."
Ternyata Ayi menyadarinya lebih cepat dari yang Yandra kira. Ia tersenyum.
Sementara Ayi mengagumi tulisan yang ada di dinding, Yandra mulai menyiapkan meja kecil untuk mereka belajar. Ia juga memutar lagu Speak now yang tentu saja menjadi salah satu lagu kesukaan mereka berdua. Mereka sesekali bersenandung, mengikuti lirik yang menggema di ruangan yang rapi dan bersih tersebut.
Mereka itu sama.
Tidak lama kemudian, Mama Yandra datang membawakan air minum dan juga cemilan, kemudian keluar lagi. Hanya sebentar, ia tak ingin mengganggu anaknya yang sedang belajar.
Tanpa basa-basi, Ayi mulai mengeluarkan semua buku yang ia bawa. Ia tak ingin membuang waktu dan segera memilih tugas mana yang lebih dulu mereka kerjakan. Ayi merasa terbantu dengan adanya Yandra. Ia merasa ada sesuatu yang baru ia rasakan semenjak mengenal laki-laki yang kini duduk di depannya itu.
Sambil memikirkan hal tersebut, Ayi memandang wajah serius Yandra yang membalik-balik halaman buku. Dua buku paket masing-masing mereka pegang. Beberapa buku juga berserakan di sekitarnya.
Tiba-tiba, sebuah kertas yang terselip di antara buku Ayi, jatuh dan berserakan. Satu amplop yang hanya Ayi lihat satu kali sebelumnya ada di antara kumpulan kertas itu.
"Ini apa?" Yandra yang melihat surat yang dulu Ayi ambil dari rumah Io itu bertanya.
Ayi memperlakukannya seperti bukan sesuatu yang penting, lalu kembali menyimpannya saat menjawab, "Bukan apa-apa."
Dan surat itu pun kembali terabaikan.
"Untuk soal nomor satu sampai tiga, pakai rumus yang ini," tunjuk Yandra pada deretan angka dan beberapa abjad yang ada di buku paket di depan Ayi. Yandra yang sebenarnya lebih pintar dari Ayi, seolah terlihat menjadi senior di sana. Ayi tidak mempermasalahkannya.
"PR loe sendiri udah siap, Ndra?" Akhirnya, Ayi bertanya setelah satu jam berada di tempat yang ia sukai selain orangnya itu.
__ADS_1
Tanpa menyadari apa yang akan terjadi, Yandra menjawab dengan jujur, "Udah."
"Hm," gumam Ayi, angguk-angguk dengan gaya yang sedikit aneh. Ia kemudian merogoh sakunya, mengambil selembar uang sepuluh ribuan dan perlahan menyodorkannya pada Yandra dengan cara sembunyi-sembunyi.
Hening. Hanya suara musik pelan yang terdengar di antara mereka.
Yandra yang terus memperhatikan tingkah laku Ayi mengerutkan keningnya, ia tak mengerti. Apa jangan-jangan ada sesuatu yang ia lewatkan? Atau mungkin Ayi masih belum mengerti rumus yang sudah dijelaskan Yandra tadi.
Maksud tersembunyi Ayi belum ia tangkap. "Ini apa?" tanya Yandra, masih tak mengerti. Jika ia tidak bertanya, ia tidak akan mengerti.
"Hehe." Cengiran Ayi membuat Yandra menghela napasnya. Ia akhirnya paham setelah melihat gerak-gerik Ayi.
Ayi menyogok Yandra agar meminjamkan buku untuk ia salin. Ayi menyontek.
"Kamu ...." Yandra mengerti maksud tersirat Ayi tersebut, lalu mengambil buku tugasnya dan menyerahkannya pada Ayi. Ia lupa dengan apa yang ingin ia katakan sesaat yang lalu.
Yandra membuka bibirnya lagi. "Kukira mau pakai cara jujur, tadi," ungkapnya saat Ayi mulai menyalin buku miliknya.
"Gue maunya sih ngerjain sendiri, tapi lama. Lagian bagus juga, biar gue sering deket loe." Pernyataan Ayi membuat Yandra berdegup tiba-tiba. Ada gempa kecil yang ia rasakan di dadanya.
Karena tidak tahu apa yang harus dikatakan, Yandra hanya bergumam, "Bagitu."
Ayi tersenyum puas, ia suka menggoda Yandra seperti sekarang ini.
Pagi yang menjelang siang itu, mereka mengerjakan tugas milik Ayi dan juga Io. Gadis itu bahkan ikut makan siang bersama dengan keluarga Yandra.
***
Sekarang adalah hari Minggu. Setelah mengerjakan semua tugasnya, Ayi mengajak Yandra untuk jalan-jalan di area rumah laki-laki itu. Ia menolak saat Yandra ingin mengantarnya pulang saat semua tugasnya sudah selesai. Yandra awalnya mengira Ayi ingin pulang saat itu alih-alih mengajaknya ke tempat lain.
Mereka sudah berada di jalan setapak yang di sampingnya dikelilingi pohon mangga para tetangganya. Ayi memarkirkan sepedanya di bawah pohon besar itu.
"Ayi," panggil Yandra pada Ayi yang terlihat menyapu keringatnya. Cuaca hari ini panas.
Gadis itu menoleh dan menyahut, "Ya?"
Yandra berjalan mendekat, ia terlihat menyembunyikan sesuatu di telapak tangannya. Sesuatu yang pernah dibelinya saat memilih kado Ahsa dulu. Sebuah gelang yang belum sempat ia berikan.
Yandra sudah duduk di samping Ayi, tapi ia tak kunjung bersuara. Gugup. Ia takut jika Ayi menganggapnya aneh jika memberikan gelang itu.
Awan sudah menggumpal di langit saat Yandra tak kunjung bersuara.
"Loe kenal Dimas, 'kan?" Ayi berkata lebih dulu.
"Yang di kelas tiga itu, kan?" pertanyaan dibalas dengan pertanyaan. Yandra mengingat seorang yang bernama Dimas di sekolahnya. Ingatan Yandra mulai bermunculan mengenai laki-laki yang disebutkan oleh Ayi. Ia juga mengingat interaksi singkat Ayi saat di kantin dulu.
"Iya.
"Kenapa?"
Dengan ringan Ayi menjawab, "Gue sama dia udah gladi pacaran kemarin."
Yandra tercekat mendengar pengakuan Ayi barusan. Bergegas menyembunyikan kembali gelang yang ingin ia berikan. Dengan cepat, ia merasakan rasa yang sangat tidak nyaman di dalam hatinya.
"Io udah tau?" tanya Yandra lagi. Sesuatu yang aneh tak lekas hilang.
Ayi merasakan sedikit kejanggalan saat melirik ekspresi Yandra. "Iya. Loe orang kedua yang tahu setelah Io."
Tentu saja, memangnya kapan Yandra akan menjadi orang pertama. Apalagi jika itu menyangkut tentang Ayi.
__ADS_1
Miris, bukan?
Yandra menunduk lesu, menatap kedua telapak tangannya yang berkeringat. Terasa kosong. Seperti ada yang hilang tepat sebelum ia miliki. Dia dua langkah jauh tertinggal di belakang. Atau langkahnya saja yang terlalu pelan untuk terus maju.
Orang yang diberitahu tidak memberikan respons apa pun.
"Loe nggak ngucapin selamat, gitu?" Ayi berbalik, membuat Yandra kembali mengangkat kepalanya.
"Selamat, ya," lirih Yandra cepat dan berusaha tersenyum. Terlihat palsu, tapi sangat apik ia sembunyikan rasa itu.
"Telat!" protes Ayi, sok merajuk sambil berseru.
Yandra terkekeh. Ia berusaha untuk menutupi perasaannya saat ini dengan senyum palsu. "Tidak ada pahlawan yang datang tepat waktu," ucap Yandra, kembali tersenyum. Senyum yang masih sama.
Ayi memandang orang yang ada di sampingnya, tak mengerti. Apa maksudnya? Selain itu, ada rasa lain yang juga ia rasakan saat melihat bagaimana ekspresi yang Yandra tunjukkan.
Angin sedikit berembus, awan sudah menghitam. Mendung. Secepat itu cuaca berganti. Ayi yang menyadarinya mengajak Yandra untuk segera beranjak.
"Eh, mau hujan. Pulang yuk," ajak Ayi, mengambil sepedanya.
"Tak mengapa dengan mendung, asalkan jangan hujan," gumam Yandra cukup pelan.
"Loe ngomong apaan tadi?" tanya Ayi yang tak mendengar atau ia memang mendengarnya dan memilih berpur-pura tidak tahu.
"Bukan apa-apa, kok," sahut Yandra, tersenyum. Ia lebih dulu berjalan, melangkah dengan gontai. Rasanya masih sama bahkan bertambah menjadi ....
Sakit, batin Yandra memegangi dadanya. Sepertinya ia terlambat menyadari sesuatu. Ia ternyata menyukai Ayi. Sama persis seperti yang dikatakan seseorang padanya dulu.
Beberapa menit setelah mereka pergi, hujan turun dengan derasnya. Untung saja mereka sudah menemukan tempat berteduh di depan sebuah minimarket.
"Ice cream," gumam Ayi, seraya menyisir rambut yang sedikit basah dengan jari.
"Apa?" Yandra bersuara lebih keras. Suara Ayi tenggelam oleh suara hujan.
"Gue mau loe traktir gue es krim sebagai ucapan selamat yang telat tadi!" pekik Ayi, agar suaranya terdengar.
Yandra sebenarnya ingin menolak karena sedang hujan. Namun, Ayi menatapnya memelas. Yandra akhirnya luluh.
"Ini kan hujan, kenapa malah es krim?" tanya Yandra saat menikmati es krim yang sudah dibelinya.
"Karena hujan," jawab Ayi, dengan coklat yang menempel di hidungnya. Yandra tertawa, Ayi yang menyadarinya segera menghapusnya.
"Apa hubungannya?" tanya Yandra lagi.
Ayi terlihat tak sabar saat mengatakan, "Karena aku bisa menikmatinya tanpa harus takut mencair," Gadis itu menatap hujan. Kata-katanya terdengar sedikit puitis.
Yandra tertegun, benar apa yang Ayi katakan. Saat hujan, es krim akan lebih lama mencair. Ia terkekeh.
"Bisa aja," ujarnya, mengusap rambut setengah basah Ayi. Itu hanya refleks. Yandra segera menarik tangannya kembali.
Namun ....
Ayi sontak mengangkat tangannya, melakukan hal yang sama seperti yang Yandra lakukan. Ia mengusap rambut Yandra dan tersenyum manis pada lelaki yang lebih tinggi darinya itu.
"Makasih es krimnya," ungkapnya, menampilkan garis horizontal melengkung pada bibirnya.
Ayi tersenyum.
Yandra segera membuang muka. Ia terlihat salah tingkah dan ... tersipu.
__ADS_1
To be Continued