Just Because

Just Because
Just 40


__ADS_3

Apa yang bisa ia lakukan selain mencegah kematian itu terjadi pada Io, selain bersamanya?


...•••...


Salah satu keadaan yang bisa mengikis pikiran sadar adalah panik. Seseorang yang panik ditambah cemas, tidak akan bisa berpikir dengan baik. Terutama jika keadaan yang ia terima memberikan perubahan besar pada perasaannya.


Pagi itu, sambil membersihkan kamarnya Ayi menangis. Ia menangis, lalu kemudian berpikir. Berpikir lagi, lalu kemudian menangis.


Ayi terisak. Io, sahabatnya. Akan meninggal.


Ayi berpikir. Io, sahabatnya. Akan meninggal?


Ia kembali membaca surat tersebut. sebuah kalimat, 'Io meninggal karena kecelakaan', terus diejanya sampai kepalanya pusing.


Ayi sudah membuktikan kebenaran pertama dari surat tersebut, yaitu si pengirim bunga tulip. Ia sendiri cukup yakin setelah mendengar reaksi dari suara Yandra yang beberapa saat lalu ia telepon.


Ayi mengamati lagi tulisan yang identik dengan miliknya. tanggal kematian Io tertera jelas. Ia beranjak untuk menandai kalender.


Tiga minggu lagi, batin Ayi. Ia belum pernah sampai pada titik di mana perasaannya sangat tidak nyaman dan gelisah.


Untuk itulah, Ayi memutuskan untuk menemui Io dan selalu mengawasinya, berada di sisinya setiap saat sambil mencari penyebab kematian yang tidak tertulis jelas di dalam surat.


Apa yang bisa ia lakukan selain mencegah kematian itu terjadi pada Io, selain bersamanya?


***


"Loe tadi malam tidur jam berapa, Yo?" tanya Ayi—sambil menguap—pada Io yang duduk di sisi sungai, tempat yang biasa ia datangi saat sedang bermasalah.


Io sama sekali tak menduga dengan kedatangan Ayi kali ini. Kehadiran sahabatnya itu justru membuatnya kaget.


Kemarin malam, saat Ayi ke rumah sahabatnya itu, Io tidak ada di rumah. Ia bahkan tertidur saat menunggu Io yang tidak tahu ada di mana, hingga akhirnya terbangun di dalam kamarnya sendiri.


Hari ini, Ayi bangun sendiri saat Arta menelponnya. Ia buru-buru pergi ke tempat di mana Io berada sekarang setelah pagi-pagi sekali pergi lagi ke rumah Io. Saat ini, masih terlalu pagi untuk mereka pergi ke sekolah.

__ADS_1


"Gak tau," sahut Io, mengusap wajahnya yang tadi terlihat frustasi. Matanya masih sedikit sembab. Ia jelas sekali terlihat sedang sangat bermasalah. Ayi tahu hal itu walaupun Io memasang cengiran palsunya saat ini.


Untuk pertama kalinya, Ayi memandang Io tanpa tahu harus mengatakan apa. Apakah benar temannya ini akan mati?


"Sama dong kayak gue. Gue juga gak tau." Ayi menyahut, lalu duduk di samping sahabatnya itu. "Jangan-jangan kita jodoh lagi," tambahnya, membuat kemungkinan yang sangat mustahil.


"Kalau lagi mimpi itu dalam tidur aja, di kenyataan jangan," balas Io yang membuat mereka berdua tertawa. Menertawakan hal yang entahlah. Anggap saja itu lucu adanya.


Namun, Ayi bisa merasakan tawanya sendiri terasa hambar.


"Kalau lagi ge-er itu bilang," balas Ayi dengan nada mengejek.


"Siapa juga yang ge-er." Io berkelit dan sedikit menjauh. Tawanya jelas sekali ia paksa. Ayi yang melihatnya, tak bisa menahan perasaannya lagi.


"Terus ... kenapa loe nangis?" tanya Ayi yang sudah melenyapkan tawanya. Ia menyorot mata Io lamat-lamat. Ada keseriusan dan kekhawatiran yang ia pancarkan. Dewasa ini, ia belum pernah melihat Io menangis. Mungkin ini adalah kali pertamanya.


Ayi merasa hampa.


"Kok loe nelpon Yandra, sih?" tanya Ayi terlihat kesal. Untuk sesaat, ia lupa jika sebelumnya mereka dalam zona serius. Io malah cepat mengalihkan topik, seperti tak ingin menceritakan pada Ayi apa yang terjadi padanya. Itu bukan Io yang biasanya. Ada apa dengannya? Ia bahkan masih belum menjawab pertanyaan Ayi, mata dan air mukanya sangat tidak relevan.


"Gue laper," lirih Io secara tiba-tiba, ia terlihat menunduk dan meneteskan air matanya. Tubuhnya bergetar dibarengi isakan kecil.


Io menangis.


Ayi yang kaget, mendekatinya, mencoba menghibur. Ia ingin bertanya, tapi lebih membiarkan perasaan Io meluap terlebih dulu. Seperti memuaskan diri untuk menangis misalnya. Ia tahu 'laper' yang Io maksud bukanlah secara biologis, tapi hal lainnya yang tak bisa ia ceritakan. Ayi tak berniat memaksanya.


Ia masih ingin tahu apakah ini adalah salah satu penyebabnya.


"Yaudah, yaudah. Nih, gue tadi bawa roti, tapi cuman tinggal setengah karena gue makan," ujar Ayi, mengambil potongan roti yang ada di saku bajunya dan memberikannya pada Io yang masih menangis dalam diam.


Bukannya tertawa, Io malah makin terisak tatkala melihat setengah roti yang Ayi sodorkan.


Ayi dibuat makin panik. "Io, tenangin diri loe dulu. Terus ceritain sama gue. Kalau gini gue gak tau, Yo." Ayi yang merasa gamang tak mengerti lagi harus berbuat apa. Ia juga merasa sedikit kesal karena sahabatnya itu tak menceritakan apa pun padanya selama ini. Setidaknya ia memberitahu Ayi sejak tadi malam. Apakah Io sudah tak mempercayainya lagi?

__ADS_1


Io yang masih sesegukan, mulai mengatur napasnya dan berbalik, membelakangi Ayi. Bergegas menghapus air matanya, tak ingin dilihat oleh Ayi. Ia juga masih sempat mengambil roti yang tadi Ayi berikan lalu memakannya.


Diam-diam Ayi melongok, melihat apa yang Io lakukan dari samping.


"Mama," kata Io pertama kali. Suaranya sedikit berat kali ini. "Ternyata, sebelum meninggal mama sakit, Yi," tutur Io menyampaikan kebenaran. Kemarin malam, ia tanpa sengaja menemukan catatan kesehatan dari tumpukan berkas yang terselip di antara dokumentasi dan surat-menyurat keluarganya.


Io yang awalnya ingin mencari kunci mobil ayahnya dan Kartu Keluarga untuk difotokopi, tanpa sengaja menemukan beberapa lembar catatan tentang almarhum mamanya yang sempat dirawat di rumah sakit tempat ibunya bekerja sekarang.


Kemarin malam, ia mendatangi rumah sakit bekas ibunya dirawat dan mencari datanya. Alasan itulah yang membuatnya pulang larut malam. Saat ia sampai di rumah tadi malam dan ingin bertanya pada ayahnya, Io melihat Ayi sedang tertidur pulas di rumahnya. Ia memilih menahan emosinya dan memutuskan untuk mengantar pulang sahabatnya itu.


Pagi, saat mereka semua sudah sarapan bersama, Io bertanya perihal kematian mamanya pada ayahnya. Namun, mereka berakhir dengan bertengkar hebat karena Io tak bisa menahan emosinya dan Ayahnya yang tak memberikan jawaban yang ia inginkan.


Pagi itu, untuk pertama kalinya Io pergi setelah mendapat tamparan keras pada wajahnya. Ia bahkan berkata tak ingin pulang lagi ke sana.


Ayi masih duduk, mendengarkan Io yang bercerita. Tak biasanya sahabatnya itu bercerita panjang lebar seperti ini.


"Beberapa hari ini, loe di rumah gue aja, di rumah loe mungkin masih panas." Ayi yang menepuk punggung Io mencoba menenangkan perasaan sang sahabat. Sejak kecil, Io tak terlalu sering menceritakan tentang mama ataupun keluarganya. Ia justru menjadi pendengar yang baik saat Ayi menceritakan tentang lagu-lagu Taylor Swift dari pertama kali gadis itu menyukainya, hingga sekarang.


Io mengangguk pelan, ada rasa lega yang bersangkutan saat ia mengatakan hampir semua perasaannya. Sedikit lebih ringan. Mereka kemudian berbincang ringan, sesekali Ayi mengajaknya bercanda, mencoba agar Io kembali ceria seperti biasa.


"Nanti aku bantuin nyari informasi tentang mama loe." Ayi menawarkan diri. Io memang sudah membahas topik lain, tapi Ayi tak surut memberi kalimat semangat dan menenangkan. Sahabat yang pengertian.


Jauh dari belakang mereka, Yandra terlihat berlari dengan napasnya yang putus-putus. Ia berlari ke arah sungai yang berada tepat di depan Io. Terjun untuk menceburkan diri ke sana. Ia bahkan tak memerhatikan sekitar lagi. Wajah paniknya masih terlihat kentara.


"Yandra??" Ayi menatapnya bingung.


"Loe ... ngapain, Yan?" Io yang tanpa merasa bersalah, ikut bertanya.


Yandra yang masih merendam sebagian tubuhnya di dalam air itu, menatap Ayi dan Io. Takjub. Ia beberapa kali mengerjapkan matanya. Seketika pikirannya kembali.


"Bukannya Ayi jatuh ke sungai?"


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2