
...•••...
Tidak ada yang abadi. Sejatinya, tidak pernah ada kata selama-lamanya dalam sebuah kehidupan. Perubahan sering terjadi, begitu pula dalam sebuah hubungan.
Seseorang tidak bisa membenci orang lain selamanya. Apa yang terjadi selama rasakan, itu akan mempengaruhinya sedikit demi sedikit jika selalu memiliki kesempatan saling bertemu.
“Loe sini deh,” panggil Io, menyuruh Arta untuk mendekat. Ia mengajak adiknya itu duduk di kasurnya lalu membuka laci dan mengambil sebuah album foto, menunjukkannya.
Arta menyimak saja saat Io mulai menceritakan tiap foto yang menempel di sana. Menceritakan ia saat kecil dulu. Mereka sesekali tertawa saat melihat foto Io kecil yang memalukan. Ia sangat hangat dan ramah pada Arta.
Rasanya seperti demamnya sedikit turun dengan saat tawa yang mereka hasilkan bersama itu membuatnya sedikit lebih tenang. Hanya saja, Io menyayangkan bahwa orang itu bukanlah Ayi.
Io juga memberitahu buku dongeng kesayangannya yang dihilangkan tanpa sengaja oleh ibu tirinya beberapa waktu lalu. Buku yang selalu dibacakan oleh mamanya saat Io hendak tidur ketika ia masih kecil. Satu-satunya barang peninggalan mamanya.
Meskipun bukan kesalahannya, tapi Arta tetap merasa bersalah dan juga kasihan.
“Nanti aku cari yang mirip gini, biar kenangan Kak Io nggak hilang,” ungkapnya, memberikan dorongan kecil dengan harapan agar Io merasa baikan.
Arta tahu bahwa semenjak buku kesayangan Io itu hilang, kakaknya itu selalu mencarinya setiap hari ke setiap penjuru tempat pengumpulan sampah di kotanya. Tak jarang, Io akan pulang lebih terlambat dari jam pulang sekolahnya.
“Makasih, Ta. Tapi ... sebuah kenangan itu nggak bisa terganti dan digantikan.” Io mengatakannya dengan wajah lesunya. Sarapan yang dibawakan oleh Arta hanya ia makan sebagian selama mereka mengobrol.
Arta bergumam, “Maaf.”
Meskipun tidak banyak berekspresi, tapi Io tahu apa yang dirasakan Arta hanya dengan sedikit tindakan saja. begitipun dengan ibu tirinya yang tidak pernah bersikap jahat padanya. Io tahu bahwa ibunya saat ini sangat mengkhawatirkann keadaannya. Tapi tetap saja ia tidak bisa.
“Gue maafin,” ujar Io tersenyum lebar.
Udara yang ia rasakan semakin kering saat demamnya kembali kambuh.
Teleponnya berdering tiba-tiba. Io segera mengangkatnya. Sebuah panggilan.
[Sayang, kamu sakit? Kok nggak bilang sih? Nanti aku ke rumah ya, sekalian kamu mau makan apa? Kamu jangan lupa istirahat,] sosor Sheila panjang lebar. Io bahkan belum berucap.
Menyebalkan.
“Iya. Aku mau istirahat dulu, dah,” sahut Io, tak sabar ingin mengakhiri panggilan tak bermutu tersebut. Pasti Ayi yang memberitahu wanita itu.
Io lupa bahwa ia harus segera mengakhiri hubungannya dengan Sheila. Ia terpikir kembali dengan saran Yandra. Beberapa kali ia mencobanya, tapi tetap saja gagal.
Di sisi lain, Arta tersenyum saat melihat sebuah foto yang menampakkan Io kecil yang dicium oleh dua wanita. Saorang wanita dewasa—mama Io. Seorang lagi sahabat kecilnya, seseorang yang sering Arta lihat bersama Io hingga sekarang.
***
__ADS_1
“Io! Woyy!! Helio!!” teriak Ayi saat sudah berada di depan rumah Io.
Setelah pulang sekolah, ia, Ahsa, Yandra, dan Dena langsung ke rumah sahabatnya itu dengan Ayi yang terlihat membawa plastik besar.
“Sopan dikit, napa?” tegur Sheila, tak suka. Ia juga ada bersama Ayi saat ini. Mereka tanpa sengaja bertemu di jalan saat menuju rumah Io.
Ahsa dan Dena sudah berada di depan pintu, mereka memilih memencet bel daripada berteriak seperti Ayi. Sedangkan Yandra bersiap-siap untuk menjadi penengah antara Ayi dan Sheila yang bisa saja bertengkar tiba-tiba. Yandra bisa merasakan aura tak baik Sheila.
“Iya Kak Sheila, pacarnya Io,” tutur Ayi tak tak peduli. Ia kemudian mengambil bola pingpong dari dalam tasnya dan melemparnya ke jendela kamar Io yang masih tertutup sambil memanggil si pemilik kamar. Io tidak mengangkat panggilan teleponnya. Seolah rumah yang mereka datangi tersebut tidak ada orang.
Sheila terlihat kesal dengan apa yang Ayi lakukan, ia ingin menegur lagi, tapi ....
“Berisik woy!” seru Io setelah membuka jendelanya. Wajahnya masih sedikit pucat, hidungnya memerah. Io benar-benar sakit.
Ayi menjulurkan lidahnya dan melemparnya lagi dengan bola berwarna kuning itu. Ia mengenai tepat pada dahi Io yang kemudian meringis.
Sheila ingin memarahinya, tapi pintu rumah Io sudah dibuka oleh Arta yang membuat Ayi berlari masuk, begitu pun dengan yang lainnya. Lagi-lagi Sheila mendengus tak suka.
“Sayang,” ucap Sheila saat Io sudah di depannya. Ia terlihat perhatian dengan memeriksa tubuh Io juga memegang dahinya.
“Udah baikan kok,” gumam Io, suaranya sedikit mendengung, sepertinya hidungnya masih tersumbat.
“Gue kira loe mati,” imbuh Ayi, tak ada khawatirnya sama sekali. Ia merasa bahwa kunjungannya itu hanyalah kunjungan seperti biasa.
“Kalau gue mati, gue yakin loe orang pertama yang nangis,” balas Io, seolah itu adalah hal yang bisa terjadi dengan mudah.
Yandra hanya mengangguk. Sheila masih dengan ekspresi tak sukanya.
“Kak Ayi mau masak?” tanya Arta yang tiba-tiba muncul di antara mereka.
Ayi hanya mengangguk dan berjalan menuju dapur bersamanya. Untuk makanan yang ia suka, Ayi bisa memasaknya. Yandra menoleh pada laki-laki yang tadi mengajak Ayi bicara, kemudian menatap wajah Io secara bergantian. Mereka berdua tidak mirip.
“Adek tiri gue,” ujar Io yang dari tadi memerhatikan Yandra. Laki-laki itu hanya tersenyum. Ahsa dan Dena terlihat menyalakan tv, mulai bermain game di sana. Sheila masih duduk di samping Io. Hanya Yandra dan Sheila yang benar-benar terlihat seperti tamu di sana.
“Aku cuman bawain kamu buah,” papar Sheila, mulai membuka kulit jeruk.
“Makasih,” ucap Io. Ia melipat dan menaikkan kakinya ke atas sofa. Yandra merasa canggung duduk di depan mereka berdua.
Pacar Io itu masih mengajaknya berbicara. Namun, tidak terlalu Io respon. Ia tidak suka terlalu dikhawatirkan.
Cukup lama mereka berbincang. Sepertinya ia harus menjalankan rencananya. Io kemudian mengetik di teleponnya, mengirim pesan pada seseorang.
Tidak lama kemudian, telepon Yandra berbunyi. Itu adalah Io. Sepertinya ia harus meminta bantuan Yandra kali ini. Yandra mengangguk paham.
__ADS_1
“Yan, gue bosen tidur mulu dari pagi, nonton yuk,” ajaknya pada Yandra. Ahsa dan Dena masih menikmati game yang mereka mainkan. Sama sekali tak peduli.
“Boleh,” sahut Yandra, berlagak seolah itu adalah percakapan yang tak direncanakan.
“Aku juga, ya.” Sheila terlihat tak sabar, ia masih duduk di samping kiri Io dan Yandra di samping kanan saat Io mulai menyalakan laptopnya. Yandra terlihat mulai berkeringat dingin. Ini adalah pertama kalinya.
Suara khas dari video yang Io putar mulai memenuhi indera pendengaran mereka bertiga. Sheila terlihat kaget dan segera menjauh. Tanpa berkata-kata lagi, ia langsung beranjak dari sana dan pulang saat Io dan Yandra masih berpura-pura menonton.
Io langsung tertawa melihat reaksi Sheila. Wanita itu sepertinya marah dan jijik sesaat tadi. Seperti yang Io harapkan.
“Berhasil, Yan,” ujar Io pada Yandra. Ia masih tertawa. Yandra terlihat menutup muka dengan kedua tangannya. Ia juga tidak kalah kaget.
“Ini lebih dari keterlaluan, Yo,’’ ujar Yandra, mengomentari apa yang Io lakukan. “Matiin!” perintahnya pada Io yang masih tergelak sambil memegangi perutnya. Yandra merasa aneh.
“Kalian nonton apaan?” tanya Ayi yang datang tiba-tiba membuat Io menutup laptopnya kasar.
“Bukan apa-apa,” sahut Io beralasan. Mereka berdua terlihat salah tingkah dan gelagapan.
“I–iya,” imbuh Yandra tersenyum aneh. Mereka berdua aneh dan mencurigakan.
“Yaudah. Nih, Yo.” Ayi memberikan semangkuk sayur bening yang sudah ia masak tadi pada Io. Seperti yang Ayi lakukan biasanya saat Io sakit dan masih berupa jagung seperti biasa. Sebelum ke rumah sahabatnya itu, Ayi dan Yandra ke pasar terlebih dahulu.
“Nih, buat loe, Ndra,” ujar Ayi lagi, memberikan mangkuk yang lain pada Yandra, kemudian tersenyum. Senyum yang paling Yandra sukai berserta orangnya.
“Makasih,” ucap Yandra mengulas senyum yang sama. Mereka sama-sama manis.
Io sudah menikmati makanannya sembari berpikir. Kali ini tidak ada tantangan pastinya.
“Kalian tuh mau main game apa mau jenguk orang sakit, sih?” kelakar Ayi pada Ahsa dan Dena yang asyik berdua.
“Eh, makan apaan tuh!” seru Ahsa ikut bergabung. Dena terlihat mematikan tv dan juga beranjak dari sana. Mereka tidak memedulikan omelan Ayi.
“Punya kalian ambil sendiri di dapur!” ujar Ayi nyaring. Ia menampakkan wajah kesal yang dibuat-buat.
“Kak Ayi kalau cemberut manis, ya?” tutur Arta yang baru datang membawakan minuman.
Semua yang mendengar ucapannya itu langsung terbahak. Io tersedak makanannya sendiri, Ahsa guling-guling, sedangkan Dena terlihat menepuk bahu Arta, seolah mengasihani.
Ini adalah pertama kalinya seseorang mengatakan Ayi manis. Sangat bertolak belakang dengan Sikap Ayi selama ini.
Wanita yang disebut itu terlihat ingin memukul ketiga temannya tersebut.
Akan tetapi.
__ADS_1
“Iya. Kamu benar, itu juga alasanku menyukainya.”
To be Continued