Just Because

Just Because
Just 31


__ADS_3

Memendam perasaan bukanlah sebuah bakat.


...•••...


  “Udah lama?” tanya Aydan sambil menyiram beberapa tanamannya. Ia dan adiknya sedang berada di halaman belakang rumah mereka. Menghabiskan waktu libur bersama.


  “Baru sebulan, Kak,” sahut Yandra, setelah terang-terangan menghitung dengan jarinya.


  “Pantesan! Maksimal itu harus dua bulan. Kalau keseringan disiram juga nggak baik,” jelas kakaknya lagi, tak kalah dengan seruanya sebelumnya.


Saat ini, dua saudara itu tengah membahas tentang tanaman yang sedang sang adik tanam di sekolahnya.


  “Cold Treatment-nya berapa lama, Kak?” tanya Yandra lagi. Ia memang sering menanyakan perihal tanaman pada kakaknya itu. Anehnya, tanaman apa pun yang ditanam dengan tangannya, tidak akan pernah tumbuh tanpa seizin kakaknya. Lebih sering  mati. Padahal, ia sudah merawatnya dengan benar.


Belum sempat Aydan menjawab, telepon Yandra berdering. Ia mengubah keberdaan dirinya dari tempatnya semula,  baru kemudian mengangkatnya.


Mengobrol dengan seseorang.


  “Iya, sama-sama, nanti aku tanyain lagi. Mungkin .. kalau masih ada,” ujar Yandra. Hanya sebentar sebelum ia mengakhiri obrolannya hari  itu.


Panggilan itu kemudian diakhiri oleh si penelepon. Tidak ada yang berubah dalam raut Yandra selain senyumnya yang semakin merekah.


Seorang yang baru saja menelponnya adalah Ayi. Gadis itu meminta Yandra untuk mencarikannya sesuatu. Ia juga tidak tahu untuk apa benda tersebut. Yandra hanya merasa senang saat wanita yang disukainya itu meminta bantuan seperti ini.


Menjadi seseorang yang dibutuhkan itu ternyata manis juga.


Saat ia ingin beranjak kembali menuju tempat kakaknya, lagi-lagi teleponnya berdering. Kali ini orang yang berbeda.


  “Kenapa, Yo?” tanyanya lebih dulu.


  “Gue lagi di lampu merah,” sahut Io dari seberang sana.


  “Kenapa?” tanya Yandra lagi, dengan wajah  bingung  yang mulai terlihat.


  “Mau nyebrang jalan, tapi masih lampu merah.”


Kernyitan dahinya berubah  saat ia terkekeh.


  “Sama Ayi?”


  “Ayi mungkin di rumah.”


  “Jadi?” Yandra bertanya kembali,  karena Io yang menelponnya itu maasih belum mengatakan maksudnya.


  “Nggak jadian, hahahaha.” Io terbahak dengan lawakan yang dibuatnya sendiri.

__ADS_1


Yandra langsung mematikan panggilan. Ia hanya bisa menggeleng saja. Mungkin Io sedang kurang kerjaan. Namun, teleponnya kembali berbunyi, kali ini sebuah pesan. Yandra terlihat lebih serius saat membacanya. Ia bergegas masuk ke rumah dan langsung pergi ke tempat yang Io maksud.


Ia harus segera bertemu dengan Io untuk mengetahui kebenarannya. Karena Io sudah tahu siapa yang mengirim bunga pada Ayi.


Hanya butuh waktu sepertiga jam untuk Yandra tiba di tempat yang dimaksud. Ia masuk ke tempat tersebut, kemudian mencari seseorang di sana, di sebuah kafe. Hingga lambaian tangan ia dapati dari salah satu meja. Itu Io yang sudah tersenyum lebar.


  “Yakin, kamu udah tau, Yo? Kok bisa? Siapa?” sosor Yandra saat sudah di depan Io. Ia terlihat panik dan tidak sabar. Sekilas tidak ada sikap Yandra di sana. Mungkin karena ia buru-buru. 


  “Hmm, iya,” jawab Io singkat.


  “Siapa?” tanya Yandra yang masih tak mendapatkan jawaban. Pada pesan yang Io kirim sebelumnya, Io mengatakan pada Yandra bahwa ia sudah tahu siapa orang yang selalu mengirim bunga pada Ayi.


  “Loe ....“ Io terlihat menopang dagunya, sedangkan Yandra memasang wajah horor. “Tau nggak?” lanjutnya yang menjadikan kalimatnya berubah menjadi pertanyaan. Yandra hampir saja kaget jika Io tidak menyelesaikan kalimatnya tadi. Namun, bukankah Io tahu? Lagi pula, kenapa Io berkata seperti itu?


  “Katanya kamu tau tadi?” desak Yandra, setengah kecewa. Juga ada rasa lega yang terdengar dari helaan napasnya. Untuk sesaat, ia merasa jika Io mencurigainya.


  “Hehe, sebenarnya gue masih belum tau, Yan. Gue bilang gitu supaya loe datang ke sini,” ungkap Io kemudian nyengir, ia memasang wajah tanpa dosa, bahkan tanpa pahala.


Yandra yang mendengar hal tersebut, menjadi tak habis pikir. Untuk sejenak, ia lupa jika orang yang ada bersamanya ini adalah Io. Hampir saja.


Yandra selama ini selalu menjaga agar perasaannya terhadap Ayi tak diketahui oleh orang lain. Ia masih belum siap untuk mengungkapkannya. Namun, entah mengapa jika dengan Io, ia harus lebih waspada. Io itu terlalu peka untuk hal seperti ini, terlebih kalau itu menyangkut Ayi. Lebih tepatnya, ia selalu bisa tahu hal kecil yang berhubungan dengan Ayi. Rasanya aneh saja bagi seorang Yandra.


Ia juga tidak kaget lagi jika Io begitu terhadap sahabatnya sendiri. Mungkin ia seseorang yang tepat untuk menjaga wanitanya itu.


Wanitanya? Ah, memikirkan hal itu saja Yandra sudah tersipu begini.


Sampai sekarang, tidak ada yang tahu identitas dari si pengirim bunga tersebut. Jika pun kurang kerjaan, sangat tidak mungkin.


Apakah mereka berdua memang tidak tahu?


Yandra menggeleng. “Belum, Yo,” ujarnya, menatap gelas minuman Io. Ia belum memesan apa pun semenjak datang tadi.


  “Gue sebenarnya penasaran, apa motif dia ngirim tuh bunga ke Ayi,” gumam Io sembari memegangi dagunya.


  “Ayi sendiri bilang kalau itu ulah stalker yang ... mungkin baik? Karena sejauh ini nggak ada ancaman atau teror apa pun,” sahut Yandra, kemudian memanggil pelayan untuk memesan. Sepertinya ia kehausan setelah berlari tadi.


  “Hmm, bisa jadi. Tapi, menurut gue pribadi, nih orang kayaknya suka sama Ayi deh,” cerca Io yang membuat Yandra sedikit tersentak. Ada sesuatu yang membuatnya merasa tertarik.


Dengan begitu, bukankah saingannya akan bertambah?


  “Suka? Kok bisa?” Yandra terlihat berminat kali ini.


  “Dugaan kuat gue sih gitu.” Io menjawab sekenanya. Ia menatap Yandra dengan tatapan yang tak bisa dimengerti. Rasanya seperti ingin mengatakan sesuatu yang sudah ia pikirkan semenjak dulu.


  “Tapi, Ayi sama Dimas ‘kan masih belum ada ...  kepastian.” Yandra berucap pelan pada akhir kalimat. Ia mengingat kembali bagaimana hubungan dua orang itu.

__ADS_1


  “Udah ada kok, tenang aja. Ayi udah cerita ke gue. Dia ternyata nggak punya perasaan apa pun ke Dimas dan sekarang tuh anak lagi mikirin cara bilang ke Dimas. Jadi, loe tenang aja,” jelas Io mengatakan sebuah kebenaran. Padahal, Ayi sudah melarangnya mengatakan pada siapa pun, terutama pada Yandra. Namun, Io ingin memastikan sendiri hal yang ia duga selama ini.


  “Wah! Ternyata bener dugaanku. Tapi, ‘tenang aja’ tadi maksudnya apaan, Yo?” Yandra bertanya lagi. Mendengar penuturan Io barusan, ia tidak bisa tidak tersenyum karenanya. Jauh di lubuk hatinya, Yandra merasa sangat senang. Tentu saja.


  “Dugaan atau harapan loe?” tanya Io yang masih memerhatikan mimik orang di depannya. Ia terus meneliti perubahan wajah laki-laki yang sudah berteman lumayan lama dengannya itu. Laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya.


  “Maksudnya?” Yandra yang awalnya tersenyum, kini berubah mengerutkan keningnya. Pertanyaan Io tersebut membuatnya sedikit aneh dan was-was. Apakah Io mengetahui hal yang paling ia rahasiakan selama ini atau hal lainnya?


  “Oke, sebenarnya gue mau mastiin lagi dugaan gue yang dulu,” imbuh Io menautkan kedua tangannya dan meletakkan sebagai tumpuan. Memandang Yandra dengan tatapan serius.


  “Sesuatu? Dulu? Maksudnya apaan, Yo?” tanya Yandra lagi. Kali ini ia benar-benar tak tahu dan berharap agar Io tidak membahas hal yang paling ia hindari. Entah apa pun itu.


Io masih menahan pertanyaannya saat seorang pelayan datang dan memberikan pesanan Yandra dan juga yang dipesankan untuknya. Mereka masih diam bahkan saat pelayan tadi pergi, suasana terasa kaku seketika.


  “Pasti. Gua pastiin loe suka sama Ayi,” ucap Io itu membuat Yandra terdiam sejenak, matanya juga terlihat membola untuk sesaat. Namun, sedetik kemudian, Yandra tertawa lepas, ia terlihat menggeleng dan menyeruput cappucino-nya. Ekspresi yang masih sama seperti dulu.


  “Gak mungkin, lah. ‘Kan udah kubilang, kalau aku suka Ayi itu sebatas teman,” jelas Yandra mengingat kembali bagaimana Io juga pernah mengatakan hal yang sama jauh sebelum ini. Jika dulu Io hanya bercanda, maka kali ini ia terlihat serius.


Io terlihat berpikir sejenak, sepertinya ia kurang puas dengan jawaban Yandra barusan.


  “Oke, kalau gitu gue ganti pertanyaannya,” ujarnya melipat kedua tangan ke dadanya. Io lebih serius lagi kali ini. Yandra mulai berpikir keras, mencari dan mengumpulkan jawaban paling logis.


  “Kayaknya loe cinta sama Ayi, deh,” ujar Io yang membuat Yandra tersedak sendiri. Ia bahkan tak memikirkan Io akan mengatakan hal tersebut. Rasanya seseorang kini telah membaca semua tentang dirinya. Lalu, bisa apa dia?


Sama  seperti sebelumnya, Io juga sedikit mendesak sebagaimana Yandra bertanya padanya. “Jujur sama gue.”


“A-aku nggak tau, Yo,” ujar Yandra seadanya kemudian mengusap tengkuknya. Sepertinya ia tak bisa mengatakan kebohongan. Namun, ia juga tak bisa mengatakan kejujuran.


  “Daran gue masih kayak fulu. Loe ungkapin ke Ayi. Kalau nggak, loe bisa lanjutin bakat loe, Yan,” ujar Io menepuk pelan bahu Yandra. Ia sendiri juga tak menyangka dengan jawaban tak terduga temannya itu.


  “Bakat apa? Tapi, aku masih nggak tau, Yo. Aku cuman suka aja sama Ayi. Maaf kalau seandainya ini menyalah. Aku sama sekali nggak bermaksud bu–“


  “Yandra. Gue cuman nanya, dan tugas loe cuman jawab. Gue nggak bilang itu salah. Gua sama sekali nggak nyalahin loe. Gue juga udah ngira loe suka sama Ayi dari kemarin-kemarin. Gue nanya buat mastiin aja. Ya, nggak pa-pa kali kalau loe suka beneran. Gue malah bersyukur,” jelas Io, tertawa pelan. Ada kelegaan dalam kalimat yang ia sampaikan itu. Juga terlihat jelas melalui kilatan matanya.


  “Maaf,” lirih Yandra yang kini tertunduk.


  “Dih! Kok malah minta maaf? Udah gue bilang loe nggak salah, Yan,” seru Io tertawa lepas. Sangat Io sekali.


  “Makasih,” sahut Yandra polos.


  “Udah ah! Ngeri gue dengernya.” Io terlihat bergidik. Mereka kemudian sama-sama tertawa. Menertawakan hal yang … entahlah.


  “Ngomong-ngomong, bakat apaan, Yo?” tanya Yandra yang masih belum mendapatkan jawaban. Io terlihat mengingat sesuatu yang hampir terlupakan. Karena sedari tadi, Yandra terus bertanya padanya.


Io tersenyum penuh arti sebelum berujar.

__ADS_1


  “Bakat ... memendam.”


To be Continued


__ADS_2