Just Because

Just Because
Just 45


__ADS_3

"Maaf, sepertinya aku tidak bisa ...."


...•••...


Tiada yang bisa lebih melampaui rasa bahagianya saat seseorang menerima balasan perasaan cinta. Begitu juga dengan Ayi yang tak mau melarutkan senyumnya saat bersama Yandra.


Semenjak dua orang itu saling mengungkapkan perasaan masing-masing, Ayi sedikit berubah lebih girang lagi daripada ia yang biasanya.


Semua undangan sekaligus teman Io sudah pulang. Arta dan ibunya membantu membersihkan bekas acara. Dibantu Ayi dan juga Yandra. Ayahnya bermain dengan anaknya si bungsu, adik Arta dari ibu yang sama dan adik Io dari ayah yang sama.


"Woy, Yi. Loe belom ngasih gue kado yang loe bilang tadi. Mana?" Io memanggil Ayi seraya menengadahkan tangannya. Sahabatnya itu baru saja kembali dari mengantar tumpukan piring. Di belakangnya terlihat Yandra. Mereka terlihat seperti menahan sesuatu yang menyenangkan.


"Oh iya, gue hampir lupa." Ayi segera mengambil tas miliknya dan mengeluarkan satu paper bag. Diberikannya pada Io yang sudah cengar-cengir.


Orangtuanya sedang berbincang santai. Semua sudah dibereskan. Acara malam itu berjalan lancar. Selancar pengungkapan perasaan Yandra pada Ayi.


"Kok jelek, sih." Io bersungut-sungut. Ia menenteng sebuah dream catcher yang berukuran sedang di tangannya.


"Yaudah sini!" seru Ayi mengambil apa yang Io pegang itu. Namun, belum sempat Ayi meraihnya, Io sudah menjauhkannya dari jangkauan gadis yang sepanjang acara selalu tersenyum itu. Ayi sangat bahagia malam ini. Ia tak berharap ada yang lebih dari ini. Hanya karena seorang Yandra saja.


"Karena itu juga yang bikin kami terlambat tadi sore. Itu buatan Ayi sendiri. Dia lama membujuk yang punya toko." Yandra yang di antara mereka menjelaskan.


"Tuh, dengerin dan hargain!" celutuk Ayi pada Io. Ekspresi Io saat pertama menerima hadiah dari Ayi tadi sebenarnya sudah senang. Ia hanya meledek Ayi saja. Namun, sepertinya mereka tak memerhatikannya.


"Oke deh, tapi gua gak pernah mimpi buruk. Gimana dong?" ujar Io bertingkah polos. Ia seperti ingin menyita perhatian semua orang malam ini.


"Berarti mimpi kamu indah semua?" Yandra dengan netralnya ikut bertanya.


"Gak. Dia mimpiin gue mulu, Ndra." Ayi menyahut dengan niat bercanda. Yandra hanya mengangguk singkat untuk meresponnya. Ada sesuatu yang membuat ekspresinya sedikit berubah.


"Hei, tenang, dia itu Io." Ayi merangkul bahunya "Apa pun tentang dia, loe gak boleh cemburu," tutur Ayi mentoel hidung Yandra.


"A-aku gak cemburu kok!" seru Yandra berusaha menyamarkan raut tertebaknya.


"Masa? Coba liat." Ayi mencubit kuat-kuat dan melebarkan pipi Yandra. Membuat laki-laki itu sedikit susah untuk berbicara. Gadis itu merasa gemas dengan apa yang ia lakukan.


Mereka asyik berdua.


"Cicak cicak di dinding. Diam-diam merayap. Datang seekor Ayi. Hap! Lalu ditangkap." Io yang sedari tadi menjadi patung hidup, mulai mengeluarkan aura kehadirannya. Manusia tak terjamah kata, kasihan.


Dengan tertawa riang, rona bahagia di wajah Ayi itu tak kunjung pudar semenjak Yandra mengatakan perasaannya tadi. Mereka bertiga berbincang sebentar sebelum Arta memanggilnya. Mengajak makan malam bersama.


Io masuk ke kamarnya selagi makanan disiapkan. Ia juga mengajak Yandra dengan alasan membantunya membawakan beberapa kado. Io juga memberikan sesuatu pada Yandra sebagai titipan. Hadiah kecilnya karena berhasil mengungkapkan perasaanya.


"Tante masakin sup jagung muda buat kamu," tutur Mama Io tersenyum bahagia. Senyum sejati seorang ibu yang seperti baru bertemu anaknya setelah sekian lama. Ia sangat bahagia karena hubungannya dan Io sudah membaik. Io sudah sepenuhnya merestui kehadirannya. Juga, memanggilnya dengan sebutan 'Bunda.' Sama halnya dengan panggilan Arta.


Walaupun tidak terlalu lapar, Ayi tetap melahapnya sampai tak menyisakan sedikitpun pada mangkuknya. Masih menjadi makanan kesukaannya.


Yandra yang duduk di sampingnya juga menikmati makanannya, menikmati suasana baru yang kini ia rasakan. Sudah tidak ada lagi yang ia sembunyikan. Perasaannya sudah tersampaikan. Sudah terjawab juga terbalas.

__ADS_1


Memang, Ayi dan Yandra tidak berstatus pacaran. Namun, dengan saling menyatakan dan tahu perasaan dari seseorang yang dituju masing-masing, membuat jalinan transparan di antara mereka. Ikatan tanpa hubungan. Merek lebih dekat satu langkah.


Sepasang orang yang saling mencintai itu duduk tepat di depan Io. Mereka menikmati masa saat bercanda, saling membalas kata, dan juga berbagi kisah.


Sesekali Arta yang tak tahu-menahu tentang Yandra ikut menyelip pada obrolan mereka. Ia justru menjodohkan Ayi dengan kakaknya. Semua sempat menertawakan ide konyol itu. Ide yang sangat mustahil berangkap tidak mungkin.


Malam yang bahagia itu mereka nikmati bersama Io yang sudah berusia delapan belas tahun. Io yang beranjak dewasa.


Mulai berbicara tentang masa depan masing-masing. Hingga semakin larutlah malam itu, malam yang menjadi awal atau mungkin akhir mereka.


"Aku mau ngantar Ayi sama Yandra dulu," pamit Io pada ibunya yang berdiri di dekat sofa. Senyum wanita itu sangat damai. Senyum seorang ibu sambungnya.


"Hati-hati, jangan pulang larut," pesan sang ibu pada Io. Ayi dan Yandra juga tak lupa berpamitan.


"Aku ikut!" Arta berseru ingin menjadi orang keempat di sana, di dalam mobil.


"Jangan, loe mending tidur aja. Ini jamnya orang dewasa." Io memberitahu dari kaca mobil yang terbuka sepenuhnya. Ayi dan Yandra memilih duduk di belakang.


"Bawa aja napa, Yo. Biar lu duduk di depan ada temennya," ujar Ayi setelah mobil sudah berjalan. Laki-laki yang dicintainya terlihat duduk diam tanpa bersuara. Ia gugup, karena sedari tadi Ayi terus menggenggam tangannya. Rasanya degupannya semakin kencang.


Sang sahabat hanya terkekeh pelan, ia tidak berniat menjawab. Ada hal yang lebih penting untuk dikatakan daripada itu.


Ucapan selamat untuk sahabatnya itu belum ia berikan.


"Ngomong-ngomong, selamat ya." Tidak terdengar lirih, tutur kata yang Io ucapkan itu terdengar dan terlihat ikut berbaur dengan kebahagiaan Ayi. Terkesan lebih ke arah dukungan. Pasti begitu.


"Kita gak pacaran." Itu adalah Ayi yang membalas kata. Bahagia yang ia pancarkan mampu menyeret orang-orang di sekitarnya. Termasuk sang sahabat.


Tawa kalem Ayi yang menepuk pundak Io menggelegar lembut. Ia berujar, "Semua hal tentang mencintai seseorang itu tidak harus dengan pacaran." Bukan gadis itu yang mengatakannya. Itu adalah Yandra.


Napas sudah terhela, Io sedikit demi sedikit mulai menangkap maksud yang Yandra katakan. Mulai memahami cara berpikir dan bertindak dua sejoli itu. Setidaknya mereka sudah saling mengatakan masing-masing perasaannya. Cukup saja dengan itu baginya.


Io sudah terbiasa dengan ungkapan perkataan Ayi dan Yandra selama perjalanan. Lebih mendahulukan untuk menuju rumah Yandra sebelum berakhir nanti mengantar Ayi pulang.


Lamanya waktu untuk perjalanan mereka dihabiskan untuk bercerita tanpa mengenal tanda titik bagi Ayi. Gadis itu memiliki kebahagiaan yang berlebih malam ini. Juga menjadi pendengar yang baik adalah hal yang Io pilih. Ia tak bisa tak ikut bahagia juga.


"Kalian baik-baik ya, nanti." Laki-laki yang menempelkan tangannya pada kemudi itu berpesan. Bertindak sebagai sahabat yang seharusnya dan semestinya.


"Gue terima kasih banget buat loe, Yan. Jagain Ayi sebagai gua. Loe sekarang pengganti gue." Kalimat itu terucapkan saat mobil sudah berhenti di halaman rumah Yandra. Mereka baru saja sampai.


"Aku pasti," jawab Yandra yakin dan bulat. Ia seperti menanamkan janji pada kata-katanya. Cukup sebagai seorang yang berharga.


"Apaan sih. Jangan nakutin gitu, Yo. Loe tetep sama gue kayak biasa." Ayi menimpalkan beberapa kalimat padanya, pada sang sahabat.


"Iya, iya. Gue cuman mau nyampein perasaan gue. Masa cuman kalian yang saling ngungkapin perasaan. Gue juga bisa!" Seruan Io penuh dengan keceriaan. Menimbulkan aura sekitar menghangat.


Yang sedang duduk di samping Ayi sedikit bersemu dan salah tingkah. Berusaha cepat membuka pintu mobil. Ia harus bergegas.


"Makasih tumpangannya, Yo. Makasih juga udah mau ngantar," ucap Yandra yang senyumannya berbaur dengan wajah manisnya. Anggukan dan tepukan pelan juga ia terima dari Io.

__ADS_1


"Kalem, kita 'kan teman." Io memberikan senyum yang sama.


"Ndra." Namanya dipanggil si gadis yang dari tadi memerhatikan. "You belong with me." Demikian lanjutnya.


"Selamat malam juga." Sedikit rona merah hampir tak terlihat saat Yandra membalas ucapan orang yang dia cintai.


Mereka sudah saling berpamitan beberapa saat lalu. Lambaian tangan Yandra jadi pengiring kepergian mobil yang Ayi dan Io tumpangi. Mereka sudah pergi dan menuju pulang. Sebelum itu, Io mampir untuk membeli tali. Yang katanya untuk menggantung dream catcher pemberian Ayi. Namun, bukan ukuran tali yang sesuai. Io berlebihan.


"Cie." Lebih dulu Io mengatakannya. Tak memedulikan komentar Ayi pada tali.


"Apa sih," sergah Ayi tak bisa memblokir senyumnya.


"Cie cie." Lagi Io meledek.


"Gue gak nyangka selama ini ternyata orang itu Yandra, Yo," ujar Ayi yang sudah duduk di samping Io yang mengemudi.


"Awalnya dia gak berani ngungkapin karena loe sama Dimas itu dulu pacaran." Menoleh sedikit dan kembali seperti semula lagi arah pandang Io.


"Seandainya—"


"Eh?!" Ayi terkejut,' "Udah dari dulu? Jadi dia suka sama gue duluan?"


Io mencibir.


"Sayangnya ... dia yang lebih dulu punya perasaan ke loe," putus Io pada perkataan tak lengkap Ayi.


"Gua sedikit sadar, tapi gua dulu itu gak yakin." Melepaskan satu tarikan napas panjang. Punggung gadis itu sudah tersandar.


"Tapi, setidaknya kalian udah komitmen." Io lebih serius.


"Makasih udah yakini dia," kata Ayi tersenyum minim dan tulus. Senyum seorang yang benar-benar berterima kasih sekaligus seorang sahabat.


"Kok loe tau?" tanya Io tak menyangka.


"Gua ngeduga aja sih," sahut Ayi asal. "Nanti gue yang bakalan traktir loe selama sebulan. Sesuai perjanjian.


Gelak tawa pecah saat itu juga. Menikmati perjalanan pulang yang semakin tiba. Mereka membahas seputar perjalanan perkenalan mereka semenjak bertemu Yandra. Laki-laki itu menjadi topik pembicaraan di antara dua sahabat tersebut malam ini.


"Jangan lupa buka kado gue tadi pagi. Dream catchernya juga harus loe gantung," Ayi berkata sebelum menutup kembali pintu mobil sang sahabat. Mereka sudah sampai.


"Iya, iya iyyaaaaa," sahut Io sedikit jengkel. Ayi lebih rewel. Seperti tidak sabaran saja.


"Oke, gua mau tidur. Loe pulang." Ia menampakkan punggungnya dan mulai berjalan.


Io sedikit berat melihatnya, ingin memanggilnya dan mengatakan hal yang belum ia sampaikan. Tangannya sudah terangkat. Ia akhirnya memanggilnya, "Ayi."


Menoleh cepat saat namanya disebut, Ayi menunggu sejenak sampai Io kembali berkata.


"Besok ... gue gak bisa jemput."

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2