Just Because

Just Because
Just 20


__ADS_3

Jangan biarkan kita menjadi asing.


...•••...


Seseorang pernah berkata, ‘Berpura-puralah mencintaiku sampai kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura.’


Kalimat yang memiliki pesan tersirat dalam menawarkan sebuah peran palsu, lalu membuatnya terlibat hingga memiliki peluang besar untuk terikat.


Akan tetapi, dia yang diberikan tawaran memiliki pilihan. Menolak atau menerima. Sebelum melakukan sesuatu, sesorang akan menghadapi pilihan. Tidak berlaku untuk mereka yang tak menyadarinya.


Sepertinya Dimas dan Ayi memerankan hal yang serupa dalam kepura-puraan ini. Tujuan apa yang ingin mereka capai dengan cara itu?


Di pagi hari, Yandra datang lebih awal untuk menyiram tanamannya seperti biasa. Lalu, ia akan duduk sambil membaca bukunya. Atau juga mendengarkan musik kesukaannya. Yandra sedang menunggu seseorang. Lalu, ia akan saling menyapa dan berbincang jika orang itu sudah datang. Begitulah hari-hari terakhirnya berjalan.


Namun, obrolan mereka hari ini sedikit berbeda.


  “Hah?” Yandra berseru, kaget saat mendengar penjelasan Ayi. Ia kaget saat mendengar pengakuan dari gadis tersebut pagi itu.


Buku yang ia baca tergeletak begitu saja di atas mejanya. Ada jejak sedikit bahagia yang ia tunjukkan saat ini daripada mendengar penjelasan Ayi yang kemarin. Berbeda halnya dengan Io, sahabat Ayi itu terlihat tidak berlebihan. Hal-hal mengejutkan yang Ayi ciptakan tidak serta merta selalu membuatnya seolah itu adalah hal baru.


Io sudah mengenal Ayi dan segala kebiasaannya. Namun, saat dalam hal-hal tertentu saja yang kadang membuat seorang Helio seperti pertama kali mengenal Ayi. Ya … hal-hal tertentu.


Ayi sedikit tertegun dengan reaksi Yandra, tapi ia tidak kaget. Karena hal ini sudah ada dalam dugaannya sebelum membeberkan hal ‘itu’.


  “Iya. Lagian, pas gue cerita ke loe, loe-nya nggak nanya, sih,” decak Ayi, merasa tak ada yang salah dengan perkataannya.


Io geleng-geleng dengan tampang bodoh. “Anak orang loe gituin? Nggak pa-pa tuh mentalnya?” komentar Io, melipat kedua tangannya dan duduk menyender di kursinya.


Yandra masih terlihat kaget.


Ayi mencibir, “Ya, nggak pa-pa, lagian gue udah bilang juga sama dia.” Ayi jujur dan polos secara bersamaan. Tangkai permen lolipop masih bertengger di mulutnya.


Io menghela napas lemah, kemudian mendekat pada Yandra. “Yan, loe jangan sampe kayak dia, ya. Nggak baik buat kesehatan hati loe,” ujar Io, sembari merangkul dan menepuk bahu Yandra yang masih tercengang. Ia masih pada posisi semula. Masih kaget. Kata-kata Io hanya ia serap setengahnya saja. Setengah lainnya mungkin masih menggantung di dahinya atau mengantri untuk masuk ke telinganya.


Pendengaran Ayi sedikit terserang dengan apa yang Io ungkapkan.


  “Huh, kayak yang bilang nggak aja,” sindir Ayi, merasa tidak terima.


Bagaimanapun, Yandra masih terlihat tidak percaya. Nasib bukunya yang kini jatuh dari meja ke pangkuannya juga masih belum terhirau.


Io terpancing. “Tapi gue nggak nyakitin anak orang loh, ya,” balas Io, tak mau disalahkan.


Sampai saat ini, Yandra masih tak bergerak, wajahnya masih sama. Ia sangat kaget mendengar penjelasan Ayi yang mengatakan bahwa gadis itu pacaran dengan Dimas bukan karena ia menyukai lelaki itu, tapi karena ....


  "Gue nggak cinta sama loe. Kalau mau pacaran, ya, gue terima aja. Tapi harus buat gue jatuh cinta sama loe selama tiga bulan. Kalau ngggak, aku anggap itu ...."


"Remedi?"


Apa yang menjadi jawaban Ayi saat mendengar respon Dimas seperti itu hanyalah tertawa.

__ADS_1


Begitulah perkataannya saat menjelaskan bagaimana caranya menerima pernyataan cinta Dimas beberapa hari yang lalu. Ia bahkan tidak menyebutnya dengan ‘Kakak.’ Ayi seperti kehilangan sopan santunnya. Namun, tidak ada niat ingin menghina, meremehkan, atau pun merendahkan perasaan Dimas saat itu. Ia mengatakan perasaannya yang sebenarnya.


Hingga pagi ini, Ayi membeberkan semuanya di depan Yandra dan juga Io. Ia bukan tipe orang yang suka memendam hal yang sedang ia alami dan lakukan dengan baik.


Bagaimanapun, hal tersebut tetap membuat Yandra tak bisa tidak terkejut. Ia seperti memiliki harapan baru saja. Memang, Ayi terlihat dan terdengar murahan bagi Io, tapi lebih baik daripada munafik, bukan? Jujur itu aspek, bohong itu konsep.


  “Masa? Nggak pernah gue liat loe bener-bener jatuh cinta sama anak orang,” cibir Ayi, mengambil headset Yandra yang masih terselip sebelah di telinganya.


Saat Ayi dan Io datang tadi pagi, Yandra sedang mendengarkan musik sambil membaca sebuah buku. Ketika merasakan seseorang yang duduk di belakangnya sajalah baru ia melepas satu headsetnya. Yandra menghadap ke arah samping sambil mendengarkan Ayi yang sedang bercerita. Lalu, ia memiliki ekspresi yang seperti sekarang setelah menyimak apa yang Ayi sampaikan.


Seharusnya, Ayi bisa saja merahasiakan hal itu. Namun, ia tak bisa karena ia mau.


Perdebatan antara Ayi dan Io masih berlanjut.


  “Ya, mau gimana lagi. Gue nggak pernah duluan nyatain perasaan, sih. Mereka aja yang matanya waras karena sadar sama ketampanan gue,” balas Io, membusungkan dada seraya mengangkat dagunya. Wajahnya sengaja ia dekatkan pada Ayi agar gadis itu bisa melihatnya dengan leluasa.


Mode Io bangga dan sombong, On.


Ayi menimpali, “Tampan kalau diliat dari lubang hidung loe! Loe tampannya cuman sebagai manusia, kalau sebagai mayat baru gue jatuh cinta."


Io terkesiap, kaget untuk beberapa saat sebelum ingin membalas lagi.


Ayi memandang Io remeh dan sedikit jengkel. “Nih, liat.” Ayi menunjuk wajah Yandra yang sudah sedikit kehilangan jejak kaget, berpikir. Entah apa lagi, dia harus lebih kaget atau mungkin ... senang?


  “Ini definisi ganteng yang sebenarnya,” imbuh Ayi, kemudian mengambil Ipod hitam kecil yang ada di tangan Yandra. Mulai menyetel musik yang ada di sana, yang penuh dengan lagu ... Taylor Swift.


Yandra meraih bukunya. Tak begitu bebas saat bergerak karena Ayi dan ia saling berbagi headset dengannya.


  “Setidaknya ... In my mind, sayin’ it’s gonna be alright,” gumam Yandra, tersenyum. Senyum ikhlas pertamanya sejak kemarin. Rasa senangnya saat ini jelas hanya dikarenkan satu hal.


Dari semua, ia bisa kembali dengan jaminan setengah harapan. Yah, setidaknya semuanya akan baik-baik saja.


Io yang ternyata mendengar ucapan Yandra, berpikir dan menegur, “Hati-hati Yan, loe jangan sampai baper digituin sama Ayi. Gue aja merinding denger dia bilang loe ganteng. Baru kali ini, terus kemarin, kemarinnya dan kemarinnya lagi dia muji orang secara langsung.” Io menasihati Yandra dengan serius.


  “Eh, baru dua kali, sih,” lanjutnya lagi dengan sengaja.


  “Emang biasanya gimana, Yo?” tanya Yandra, ia akan antusias jika menyangkut perihal Ayi. Tidak salah lagi, apa yang ia rasakan sepertinya tidak salah lagi.


  “Biasanya sih, dia sering muji gue di belakang. Walaupun gue nggak tahu, tapi indera keenam gue aktif kalau sama Ayi,” ungkap Io, kemudian tertawa. Ia merasa hal itu sangat lucu untuk ditertawakan. Yandra yang mendengarkan dengan serius, mengangguk saja. Percaya.


  “Yee, ge-er amat jadi orang. Gue doain loe putus ama Sheila baru tau loe!” Ayi yang mendengar, menyahut dengan apa saja yang terlintas di pikirannya.


  “Amin,” ucap Io dan Yandra bersamaan,  lalu mereka kemudian saling pandang.


Selama seminggu terakhir, banyak hal yang terjadi di antara ketiganya. Ayi dengan Dimas-nya. Yandra dengan pemikiran yang mencoba memahami perasaannya, sedangkan Io dengan rencananya.


  “Hahaha. Tuh, kan. Apa gua bilang tadi. Dasar cowok,” sungut Ayi, terdengar puas.


  “Tapi ...” Yandra kembali berujar.

__ADS_1


Ayi menungu kata selanjutnya. “Ya?”


Laki-laki yang menutup bukunya itu masih ingin memastikan sesuatu. “Kalau beneran jatuh cinta, gimana?” Ia menatap Ayi, matanya menyiratkan sedikit harapan. Ada keengganan dan was-was dari nada suaranya.


  “Gue?”


Io sudah tak memerhatikan saat Yandra dengan girang mengatakan,  “Iya. Jangan bilang ….”


  “Ya, bagus lah. Setidaknya jumlah penduduk jomblo di dunia ini berkurang,” sela Io, ikut menjawab. Ia tidak memandang dua orang yang menoleh cepat ke arahnya. Dengan satu orang yang merenung dan satu lainnya takjub.


  Ayi terbahak, Yandra bengong. “Bener sih, tapi nggak gitu juga kali, Yo.” Ayi masih tertawa. “Kembali ke awal lagi, kalau dia bisa buat gue jatuh cinta sama dia, ya ... gua terus jalanin nih hubungan,” tambahnya, kemudian menoleh ke depan di mana Yandra juga menatapnya. Ayi sudah memberikan jawaban dan Yandra hanya mengangguk.


Ahsa dan Dena memasuki kelas. Io menatap pada dua orang itu, kemudian menimpali ucapan Ayi, “Buset, temen gue bucin,” ejek Io, menatap Ayi dengan tatapan konyol. Ini adalah hal yang sedikit tidak Io duga dari sahabatnya.


  “Terus, alasan nerima dia?” tanya Yandra lebih lanjut. Ayi berpikir sejenak, ia merasa kalau Yandra sedikit antusias kali ini. Apa jangan-jangan ... Yandra belum sarapan?


  “Karena dia cinta sama gue, gue nggak suka ngejar-ngejar orang, capek. Kalau udah ada yang suka sama gue, cinta sama gue, ya, gue tinggal balas balik. Asal baik, sih.” Io dan Yandra terdiam mendengar jawaban Ayi yang kali ini lebih masuk akal. Yandra diam-diam mengingatnya. Apakah setiap orang yang menyukai Ayi dengan sungguh-sungguh tidak akan mendapatkan cinta yang bertepuk sebelah tangan?


  “Buset, temen gue bijak,” seru Io, menarik-narik lengan baju Ayi yang dibalas pukulan oleh gadis itu.


Yandra merasa tidak patah hati sepenuhnya, ia seperti diembuskan angin segar saja. Ada sesuatu yang menghangat dalam perasaannya.


  “Yandra,” panggil Ayi, pada Yandra. Ia terlihat memasang kedua headset pada telinga Yandra dan mengeraskan volumenya.


  “Ya?” sahut Yandra, mencoba melepas kedua headset. Tangan Ayi menghalanginya. Gadis itu sudah mengakhiri candaannya dengan Io yang baru saja pergi ke meja Ahsa.


“Seperti yang gue bilang dulu. Kalau loe suka ama gua bilang, ya,” tutur Ayi, tersenyum. Ia sama sekali tidak malu saat mengatakannya. “Jangan biarkan kita menjadi asing.”


Yandra hanya mendengar samar-samar. Selain suara Ayi, telinganya dipenuhi lirik dari Today was a fairytale saat ini.


  


  “Nggak kedengaran, kamu bilang apa tadi?” tanya Yandra, setelah Ayi melepas sebelah headsetnya. Gadis itu sengaja meningkatkan volume musik saat mengatakannya barusan, karena Ayi memang sudah merencanakannya.


  “Ngak pa-pa. Lupain aja,” ujar Ayi tersenyum jahil, tak mempertanggungjawabkan ucapannya.


Karena penasaran, Yandra berniat untuk bertanya,  “Ta—“


"Today was a fairytale. All that i can say is now it’s  getting so much clearer. Nothing made sense until the time i saw your face. Today was a fairytale." Ucapan Yandra terpotong oleh nyanyian Ayi. Ternyata lagu mereka baru saja berganti.


Laki-laki yang ada di dekat Ayi itu tenggelam dalam pikirannya.


  “Terus, kenapa loe mau mutusin Sheila?” tanya Ayi pada Io secara tiba-tiba. Karena jaraknya tidak jauh, Yandra juga bisa mendengarnya.


Io sedikit kaget.  “Hah?”


Ia ketahuan. Ayi menjadi peka seperti sekarang ini adalah hal lain yang dimaksud Io. Sesuatu yang lain.


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2