Just Because

Just Because
Just 39


__ADS_3

Ayi kesal.


  "Udah, Ma. Aku udah bangun."


Dari kamarnya yang dengan barang-barang yang menghuninya tidak tertata dengan baik dan benar, Ayi berseru saat mamanya membangunkannya.


Di pagi hari Minggu, ia berencana akan merapikan kamarnya. Namun, karena Ayi tidur larut untuk menghafal lagu baru dari penyanyi favoritnya —Taylor Swift, maka ia pun bangun kesiangan.


  "Walaupun janjinya sama sendiri, bukan berarti kamu mudah ngelanggar, loh," pesan mamanya dari pintu kamar Ayi yang membisu. Hanya dengan menatap benda mati tersebut sambil mendengarkan mamanya yang terus berkelakar, ditambah dengan alarmnya yang terus saja berbunyi, membuat Ayi akhirnya mengakhiri tidurnya.


Ia duduk di atas kasur dengan wajah yang masih belum dialiri nyawa. Dihiasi dengan rambut kusut dan baju yang terlihat seperti terjun bebas.


Saat orangtuanya yang membangunkan, Ayi biasanya akan menawar dengan lima menit lagi. Namun, kali ini ia sudah menggunakan dua kali lima menitnya. Ia benar-benar merasa masih harus melanjutkan tidurnya jika saja alarm yang sudah ia—pukul saat—mematikannya tadi tidak terus berbunyi.


Alarm yang merupakan kado ulang tahun yang ke-15 dari Io itu sepertinya sudah hampir menemui ajalnya.


  "Ayi," panggil mamanya lagi.


  "Iya, Ma. Iya. Ini aku mau mandi."


Begitulah yang akhirnya bangun dan siap untuk segalanya.


Satu jam kemudian.


Sambil menempelkan sebelah wajahnya ke lantai, Ayi berubah menjulurkan tangannya untuk membersihkan lantai di bagian bawah ranjangnya. Saat mulai bekerja setelah sebelumnya sarapan. Keadaan kamar Ayi justru semakin bertambah lebih mengerikan dari sebelumnya.


Sambil membongkar semua barang dan mengosongkan raknya, Ayi menggumamkan lagu yang terdengar dari  earphone-nya yang terhubung ke teleponnya, "Cause it was never mine."


Itu adalah lagu yang ia hafal liriknya sejak semalam saat baru saja rilis.


Cara kedua Ayi menghafalkannya adalah dengan cara bermain sambung lirik dengan Yandra. Semenjak ia menemukan seorang juga sama-sama menyukai Taylor Swift, Ayi menjadi sadar saat mengingat betapa lebih sering ia menghabiskan waktu dengan laki-laki tersebut


Ayi menghentikan apa yang sedang ia lakukan dan juga mem-pause musiknya. Ia tiba-tiba teringat pada Yandra. Mulai dari pertama kali mereka bertemua bahkan hingga sekarang. Ayi merasakan sesuatu yang selama ini tidak ia sadari. Sebuah perasaan aneh yang ... memang aneh entah bagaimanapun ia memikirkannya.


  Ia lalu membatin, Apa jangan-jangan gue ...  eh? Apaan tuh?

__ADS_1


Ayi langsung lupa dengan apa yang ia pikirkan sebelumnya saat menemukan kertas-kertas yang berserakan di belakang meja belajarnya. Kertas itu tersangkut di antara dinding dan kaki meja.


Sambil menyetel ulang lagunya untuk kembali diperdengarkan, Ayi mulai membaca tulisan pada kertas yang baru saja ia temukan itu.


  "Bunga tulip?" Ayi langsung menangkap tulisan itu pada salah satu lembaran yang paling atas. Selain halamannya yang dipenuhi dengan tulisan yang padat, Ayi juga menemukan sebuah amplop yang di dalamnya juga terdapat beberapa lembar kertas lagi.


Semakin Ayi membacanya, semakin serius raut yang ia buat. Untuk kedua kalinya, Ayi kembali menghentikan lagunya. Ia duduk di kursinya yang menghadap lurus ke arah jendela.


Ia tidak bisa menghentikan saat membaca semua tulisan tersebut. Wajah cerianya yang sebelumnya masih bertahan, kini perlahan berubah menjadi muram. Semakin serius saat ia tau apa maksud dari tulisan tersebut.


Ayi ingat sekali bahwa itu adalah surat yang ia temukan dan ambil di rumah Io. Surat yang sempat ia abaikan hingga akhirnya ditemukan kembali olehnya.


Ayi memeriksa amplop yang sebelumnya membungkus semua kertas-kertas yang sudah selesai ia baca. Tidak ada alamat si pengirim, tapi ia tahu siapa yang mengirim surat tersebut.


Itu adalah Ayla Ink, dirinya sendiri. Namun yang membuatnya kaget adalah bahwa itu berasal dari ia di suatu tempat.


Meskipun tidak sepenuhnya yakin apakah itu memanglah surat darinya, tapi apa yang tertulis di sanalah yang membuat Ayi mempercayainya.


Seperti sebuah ramalan.


Ayi tidak tahu bagaimana surat yang ia yakini berasal dari dirinya itu bisa terkirim ke rumah Io.


Ia sangat yakin tidak pernah menulis apa pun yang terjadi pada dirinya sendiri ke dalam buku, ataupun surat dan mengirimnya ke orang lain. Apalagi itu Io. Namun, ia merasa bahwa itu memanglah tulisan tangannya sendiri. Tulisan yang sangat ia kenali.


Akan tetapi, bukan itu yang membuatnya merasakan perasaan sakit yang saat ini datang tiba-tiba.


Ayi meletakkan surat itu di lantai, bersamaan dengan ia yang juga ikut berbaring. Memikirkan bagaimana bisa sesuatu seperti itu terjadi.


Dengan rasa tidak percaya yang sedikit tersisa dan juga untuk membuktikan kebenaran yang tertulis pada surat itu, Ayi menelpon Yandra. Ia ingin tahu apakah yang benar yang tertulis di sana, bahwa orang misterius yang selalu mengiriminya bunga tulip itu adalah Yandra.


Teleponnya tersambung dan langsung diangkat pada deringan ketiga. Suara seseorang di seberang sana terdengar saat mengatakan, [Halo, Ayi. Ada apa?]


Saat mendengar suara laki-laki tersebut dan setelah membaca surat tadi, akhirnya Ayi tahu bahwa ia ternyata menyukai Yandra.


Ini adalah bukti pertama yang tak bisa ia salahkan. Ia memang menyukai laki-laki itu. Sama persis dengan apa yang ia baca pada surat itu yang masih bersamanya.

__ADS_1


Sambil berusaha menahan sesuatu yang ingin membuatnya ingin marah, Ayi menahan napas.


  "Bunga tulip," ucap Ayi. Hanya itu kata yang keluar dari tenggorokannya. Ia tidak tahu bagaimana untuk kembali berkata.


  [Orang itu ngasih bunga tulip lagi?]


Suara Yandra terdengar sedikit bingung. Ayi sedikit bisa menebak kenapa Yandra menjawab seperti itu.


Karena Ayi hanya diam, Yandra kembali memanggilnya.


Ayi langsung pada pertanyaannya. "Yandra," panggilnya. Setengah perasaannya adalah kecewa, dan sisanya adalah senang.


Yandra meresponnya.


  "Loe suka sama gue?" Ayi tidak berbasa-basi. Langsung, selangsung-langsungnya.


  [Eh? Kamu bicara apa, Yi?]


  "Loe cinta sama gue?" Ayi kembali bertanya. Meskipun ia tidak mendesak, tapi tercecap rasa marah di ujung lidahnya.


Yandra masih belum menjawab seperti yang Ayi inginkan.


  "Gue, Ayla Ink. Yandra, apa loe suka sama gue? Jawab!" Ayi menyisakan sedikit kesabarannya untuk tidak marah. Karena tidak tahu pada siapa ia ingin marah.


  [Ayi ... aku—]


  "Aku anggap itu iya."


Setelah mengatakannya, Ayi langsung memutus panggil tersebut. Ia mendesah lega. Lega karena apa yang tertulis di surat itu memang benar-benar terjadi.


Ayi yang semula berbaring di lantai, menutup matanya terpejamnya dengan lengan sebelum menjadi panik.


  "Io," gumamnya dengan suara lirih sambil menangis.


Sekarang, ia hanya ingin tahu kenyataan ketiga  yang mengatakan bahwa Io akan meninggal.

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2