
Dalam perihal mengungkapkan, aku ragu, apakah harus ada kesempatan atau di saat yang tepat?
...•••...
Hanya dengan mengatakan apa yang kamu rasakanlah, orang lain bisa mengetahuinya. Memilih orang yang tepat juga patut untuk dijadikan alasan sebelum memberitahunya. Namun, terlalu lama memendam itu sangat tidak baik untuk beberapa aspek.
Jika tak bisa temukan orang lain yang bisa dipercaya, katakan hal itu pada dirimu sendiri. Mempercayai diri sendiri juga adalah bagian dari mencintai diri sendiri. Ada batasan seberapa sering kamu mengungkapkan apa yang kamu rasakan pada orang lain.
Tidak ada seseorang yang benar-benar mengenal dan mengerti diri kita selain kita sendiri.
Hampir sama dengan Yandra yang saat ini berada di fase itu.
Ingin mengatakan apa yang ia rasakan, tapi ada beberapa hal yang tak mendukung keadaan itu. Selain kesempatan dan juga seseorang. Sekali lagi, keberuntungannya sudah dibunuh oleh takdir. Maka, mungkin ia akan membiarkannya mengendap sedikit lebih lama lagi.
Sebuah rasa yang tidak akan mengalami pelapukan atau pun pengkaratan. Karena itu bukanlah sebuah benda.
Jendela kamar laki-laki yang akhir-akhir ini menyukai lagu berjudul You Belong with Me, terlihat berembun. Hujan membuatnya malas untuk membuka mata pagi ini.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu kamarnya yang berirama itu bahkan membuatnya masih bergeming. Masih mengantuk, tadi malam ia hampir tak bisa tidur karena memikirkan perkataan Ayi kemarin. Laki-laki yang adalah Yandra itu sangat bahagia ketika mendengar apa yang telah Ayi ucapkan. Sama sekali tak menyangka.
‘Gue suka sama loe.’
Kalimat itu terus membuatnya senyum-senyum tak jelas. Bahkan, orangtua dan kakaknya pun terheran-heran saat Yandra pulang kemarin sore.
“Yandra! Sekolah! Mau sekolah nggak, nih? Udah jam tujuh loh,” teriak laki-laki yang masih dengan piamanya, Aydan. Ia tidak masuk kuliah pagi ini.
Aydan yang lebih tua lima tahun dari Yandra, masih menjadi mahasiswa di salah satu universitas di kota tempatnya tinggal saat ini. Ia yang menyukai tanaman sejak kecil, mengambil bidang yang berhubungan dengan hal yang disukainya itu.
“Iya!” jawab Yandra nyaring agar terdengar oleh kakaknya yang awalnya mengetuk, kini berubah menggedor. Selain menyelamatkan pintunya, ia juga harus menyelamatkan telinganya.
***
Dua kakak beradik itu kadang akur di saat tidak ada yang memulai pertengkaran saudara. Walaupun Yandra sedikit pendiam di lingkungan luar dan sekolah, tapi ia akan aktif saat di rumah bersama keluarganya. Namun, tidak pernah lebih daripada kakaknya.
Yandra melirik.
“Kak,” panggilnya pada laki-laki yang duduk menyetir di sebelahnya. Saat ini, mereka masih dalam perjalanan menuju sekolah. Jalanan yang mereka lewati masih diguyur hujan.
Mata Aydan terlihat segar. “Kenapa?” jawabnya, tanpa mengalihkan pandangan. Kaca mobil bagian depan yang mereka tumpangi diguliri banyak air. Hujan masih betah.
Apa yang ingin Yandra tanyakan sudah ia pikirkan. “Kakak percaya nggak, kalau cewek sama cowok sahabatan tanpa terlibat perasaan?” tanya laki-laki yang lebih muda, menggenggam erat payung lipatnya. Ia teringat kembali perkataan seseorang yang adalah dirinya sendiri.
“Percaya percaya aja, sih,” sahut Aydan, tanpa berpikir lebih. Ia membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Banyak genangan air yang terlewati.
Jawaban yang didengar Yandra bukan yang ia inginkan.
“Jawabnya yang jelas dong, Kak,” protes Yandra, tak terima dengan jawaban setengah-setengah lelaki yang lebih tua darinya itu.
__ADS_1
“Nggak, sih,” sahut Aydan sambil tertawa. Ia merasa emosi Yandra tidak stabil semenjak kemarin.
“Nah, ‘kan!"seru Yandra, berubah bersemangat.
Aydan menoleh cepat ke arah adiknya “Apaan?”
Yandra meliriknya lagi. “Hm, nggak pa-pa sih,” imbuh Yandra, tak ingin menjelaskan lebih. Ia tak ingin kakaknya itu terlalu banyak bertanya dan ia terlalu banyak menjawab.
“Nggak jelas,” cibir Aydan pelan.
Kali ini Yandra menoleh. “Siapa yang nggak jelas?” sungut Yandra, merasa tersindir.
“Nggak, ini ... kaca mobilnya yang nggak jelas.” Aydan berkelit dan beralasan menyakan windscreen pada mobilnya, menghidupkan dan mematikannya. Benda mati yang tidak beryawa dan bersalah itu menjadi objek tuduhannya.
Mata seorang Yandra memicing.
“Alasan,” gerutu Yandra, membuang pandangannya ke arah jendela di samping. Sudah tidak ada niat dan minatnya lagi untuk mengobrol dengan sang kakak.
Mungkin mereka pengecualian, batinnya mengingat bagaimana Ayi dan Io bersahabat. Entah kenapa Yandra sempat berpikir, bagaimana jika seandainya dua sahabat itu ada yang memendam perasaan. Ia tidak berharap begitu. Namun, sampai saat ini, Yandra tidak pernah mendapati adanya kejanggalan di antara keduanya. Lagi pula, masing-masing dari dua orang itu sudah memiliki pacar, bukan?
Yandra terus mencari informasi tentang orang seperti apa yang Ayi sukai lebih detail lagi. Ia ingin bertanya pada Io, tapi sepertinya tindakan itu akan menganggu orang yang berhubungan, walau mereka sudah dekat.
Io pasti akan mencurigainya, tapi bukankah Io sudah mengatakan ... sudahlah.
Hujan masih belum reda saat Yandra sudah tiba di sekolah. Ia keluar dari mobil dan membuka payungnya. Jarak gerbang sekolah dan aula depan sekolah lumayan jauh. Pasti ia akan kebasahan jika tidak memakai payung.
Yandra sudah tiba beberapa saat lalu saat dua orang juga datang dan menghampirinya. “Hai, Ndra,” sapa Ayi, tersenyum lebar. Dari sekian banyak orang, hanya gadis itu yang memanggilnya begitu. Yandra merasa itu adalah panggilan spesialnya. Entahlah, ia hanya merasa bahagia saat namanya terdengar begitu indah ketika diucapkan seseorang.
Ah, ia hanya lupa saja jika pagi ini hujan. Itu berarti ia tak perlu menyiram tanamannya lagi. Hujan bisa melakukannya
Ada ingatan yang tiba-tiba melintas dengan nekat.
“Pa-pagi,” sahut Yandra, merasa sedikit canggung dan salah tingkah saat ingatan itu sudah sampai dalam pemikirannya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Ayi yang terpaku setelah membuka lokernya.
“Kenapa, Yi?” Memberanikan diri bertanya pada Ayi yang sudah memegang dua tangkai bunga yang sama seperti yang ia terima kemarin. Yandra sedikit memicingkan matanya. Ia merasa ada perasaan berat yang seperti sulit ia tanggung.
“Cie yang dapat bunga,” sorak Io, menyenggol bahu Ayi, kemudian tertawa girang. Tawanya berubah saat melihat bunga tersebut. “Tapi, ini ‘kan bunga ....” kata-kata itu terputus saat Io terlihat kaget ketika menyadari bunga apa yang Ayi temukan. Sebelumnya, ia sudah diberitahu oleh Ayi perihal bunga yang ia dapatkan kemarin. Namun, tidak dengan jenisnya.
Ayi berpikir sebelum berkata, “Baru dua kali sih, sama kemarin. Tapi, ini punya gue, loh.” Ayi menjauhkannya dari jangkauan Io, lalu membaca catatan pada kertas kecil yang juga ada beserta bunga tersebut.
“Selamat pagi, Ayla Ink,” gumam Ayi membaca kertas tersebut. Tulisan tangan yang rapi disertai gambar bintang di akhir kata, membuat Ayi tersenyum nanar.
Io menghentikan aksinya untuk meraih bunga yang Ayi dapatkan. “Pasti dari penculik,” tukas Io, sembari memegang dagunya, berpikir setelah ikut membaca.
“Penculik?” sela Yandra, membuat Ayi menatapnya. Yandra menunduk cepat. Ia tidak tahu apa nama perasaan itu. Ketika Ayi tersenyum menerima bunga tersebut, ia merasa sedikit tidak rela.
Yandra cemburu.
Gadis itu menyanggah, “Sembarangan.” Lalu kemudian memukul lengan Io. Ia sedikit menyadari perubahan sikap Yandra. Apa jangan-jangan ... dia belum sarapan?
__ADS_1
“Nggak, jelas itu dari penculik. Kalau anak-anak , ‘kan dikasih permen. Lah, kalau buat orang kayak loe dikasih beginian, lah,” jelas Io, mencoba meyakinkan.
Ayi diam. Benar juga.
“Loe jangan nakutin, deh,” tutur Ayi, mulai percaya. Io kembali tertawa karena berhasil mengerjai Ayi. Lagi-lagi ia mendapat cubitan maut di lengan kirinya.
Kenapa Io tidak menduga itu adalah bunga dari Dimas?
“Ternyata ... Dimas romantis, ya,” tutur Yandra ikut berkomentar, wajahnya terlihat lesu. Ayi dan Io sontak menoleh ke arahnya.
“Bukan dari dia, Ndra.” Ayi menyahut cepat. Yandra sedikit mengerutkan dahinya. ”Gue juga nggak tau dari siapa.” Ayi menjelaskan, kemudian menutup lokernya setelah memasukkan bunga tersebut. Tidak mungkin ia membawanya ke kelas. Pasti Io akan merebutnya.
Ya ... Ayi mendapat bunga tulip lagi, bunga kesukaan Io. Kenapa bisa? Apa hanya kebetulan saja?
Io sediki terperanjat. “Lah, kok?” Io terlihat bingung. “Kalau bukan Dimas, terus siapa, dong?” tanyanya, masih tak percaya. Ayi belum mengatakan ini pada Io, terutama pagi ini.
Yandra juga kaget. “Bukan kamu, Yo?” tanyanya, mulai mengikuti Ayi yang sudah melangkah.
“Gue?” Io menunjuk dirinya sendiri lalu tertawa, ia terlihat lebih ceria hari ini. Io tertawa sambil memegangi perutnya, seolah itu adalah hal yang sangat lucu.
“Ya, bukan lah, Ndra. Ngeri gue kalau Io ngasih gue bunga kayak gitu. Pake kata-kata manis lagi.” Ayi bergidik ngeri membayangkan apa yang diucapkannya itu. Membuat Io mulai meredam tawanya.
“Mending gue ngasih Yandra daripada loe,” cibir Io, menaikkan dagunya yang dibalas dengusan oleh Ayi. Yandra yang ingin bertanya serius perihal bunga itu terhalang candaan Ayi dan Io.
“Yaudah, sana pacaran aja kalian berdua,” usir Ayi pada Io yang sudah merangkul Yandra, meninggalkan mereka berdua.
“Ayi.” panggil Yandra, ingin menyusul. Ia ingin menanyakan tentang perkataan Ayi kemarin. Dari tadi, ia sudah menahan perasaannya. Apa dia salah dengar, yang kemarin itu?
Di sisi lain, Ayi masih memikirkan siapa orang yang mengirim bunga padanya itu. Kemarin, ia sudah mengatakannya pada Dimas, berniat ingin berterima kasih. Namun, pacarnya itu justru mengatakan kalau itu bukanlah dia.
Lalu siapa? Ayi mengeluarkan Io dari daftar orang yang yang ia duga setelah ia juga memberitahunya. Lalu kenapa harus bunga tulip?
Apakah itu mungkin dari fans atau pengagum rahasia?
Akan tetapi, Ayi tidak setenar itu. Ia merasa aneh dengan bunga tersebut, merasa penasaran. Kenapa harus bunga kesukaan Io? Yang pasti, tidak mungkin itu dari Io. Sahabatnya itu tidak akan melakukan hal seperti itu, lagipula mereka berangkat bersama tadi pagi.
“Eh, Ndra. Ntar pulang sekolah loe sama siapa?” tanya Ayi pada Yandra yang sudah duduk di kursinya. Laki-laki itu masih kikuk sedari tadi. Ayi tidak terlalu memerhatikannya.
“Mungkin dijemput, tadi diantar Kak Aydan soalnya, kenapa?” sahut Yandra memutar badannya. Menghadap Ayi.
“Loe pulang bareng sama gue, Io nganter Sheila,” putus Ayi sepihak.
“O-oke,” ujar Yandra pasrah. Ia juga tidak berniat menolaknya. Dan ... sepertinya ini kesempatannya untuk bertanya.
Ayi kembali menyumpal kedua telinganya dengan headset. Ia masih menghafal lirik Back to Desember.
“Yi,” panggil Yandra pelan. Ayi tidak bisa mendengarnya, tapi gerakan bibir Yandra jelas terbaca.
“Kenapa, Ndra?” jawab Ayi, melepas satu headset dan meletakkannya ke telinga lelaki berlesung pipit itu. Yandra terlihat salah tingkah. Sejenak, ia melupakan susunan kalimat yang sudah dipersiapkannya.
__ADS_1
“Nggak. Nggak jadi.”
To be Continued