
Akan terasa manis jika menjadi seorang yang dibutuhkan.
...•••...
Entah sudah berapa lama Io tidak pernah mengisi halaman diarynya lagi. Terlebih semenjak ia yang disibukkan dengan mencari buku kesayangannya yang hilang. Ditambah, waktu yang ia habiskan bersama Ayi, semakin berkurang setiap harinya karena hal tersebut.
Mungkin sudah hampir satu minggu semenjak ia demam beberapa hari yang lalu. Untuk itulah, hari ini Io akan menuangkan kisah hidupnya akhir-akhir ini pada lembaran kertas itu.
Io mulai menulis diary semenjak SMP. Ayi yang sahabat dekatnya, tidak pernah tahu hal itu. Ia sengaja menyembunyikannya agar tidak diledek. Teman sepermainannya tidak ada yang memiliki diary, terutama laki-laki. Io ingin saja menulis perasaannya dengan berlabel hari dan tanggal itu saja.
Jika setiap orang berbeda, maka ini mungkin adalah salah satu perbedaannya.
Semua keseharian, pengalaman, dan kenangannya, Io tulis di sana. Terutama mengenai keluarga, teman, dan tentu saja ... Ayi.
Seperti saat ini, Io terlihat membalik-balikan beberapa lembar halaman yang sudah ia tulis. Io tersenyum saat membaca salah satu halaman yang ada dalam buku tersebut.
17 September 20xx
Dear Diary ...
Ayi pacaran. Dia bilang tadi malam. Tapi, aku nggak kaget, karena dugaanku benar. Sudah lama ternyata.
Hm. Sepertinya ada yang akan sakit hati, mungkin?
Hanya singkat. Setelah itu, Io membalik lagi halaman berikutnya lalu membaca lagi.
15 Nopember
Ini kedua kalinya Ayi dapet bunga dari orang misterius. Anehnya lagi, itu adalah bunga kesukaanku. Siapa? Siapakah orang pengecut itu?
Aku hanya mencurigai satu orang, apa mungkin dia? Aku tau laki-laki itu mulai menyukai Ayi dan sepertinya Ayi juga begitu.
Ah, sepertinya akan ada yang cemburu, mungkin?
Kata cemburu sering Io dapati dalam tulisannya dalam sebulan terakhir ini. Ia sendiri tidak menyadari bahwa dirinya memerhatikan seseorang di sekitar Ayi sedetail itu. Atau mungkin orang lain saja yang bertindak sangat jelas di sekitar mereka.
Akan tetapi, tetap saja Io masih memikirkan seseorang yang sampai sekarang masih diam-diam meneror sahabatnya Ayi dengan bunga tulip.
Io mengingat hari itu, bagaimana Ayi menemukan bunga di lokernya dulu, juga hari di mana ia mendapat tantangan dari Yandra. Rasanya ada yang janggal. Namun, ia masih belum tahu tujuan dari si pengirim. Juga karena merasa terganggu, Io diam-diam memikirkan sebuah rencana untuk mengatasi hal itu.
__ADS_1
Ia tidak suka sesuatu berjalan tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Laki-laki yang masih sibuk membaca itu, kemudian membuka halaman terakhir, yaitu lembaran kosong yang akan diisi untuk hari ini. Sejak tadi, ia belum bisa menulis apa pun saat jam masih menunjukkan pukul delapan pagi. Alasan lain ia tidak menulisnya adalah karena belum mendapatkan hal yang patut untuk dicatat di sana.
Ini adalah hari Minggu. Io yang hanya menatap halaman kosong bukunya, mengingat sesuatu. Tentang rencananya hari ini. Ia harus segera pergi sebelum tempat yang akan ia kunjungi tersebut menjadi ramai.
Tempat yang Io kunjungi kai ini masih berhubungan dengan pencariannya pada buku dongengnya yang tak sengaja dihilangkan oleh mamanya. Io sudah mencari ke banyak tempat untuk menemukan buku yang serupa, termasuk mengarungi tempat sampah yang mengangkut sampah di area rumahnya. Namun, ia terlambat setengah hari semenjak bukunya diangkut mobil pembawa sampah.
Kemarin, saat Io tanpa sengaja mengomentari buku yang dibaca Yandra, ia dengan sengaja bertanya pada laki-laki itu mengenai tempat penjual buku-buku lama. Karena sampai sekarang, ia masih berusaha mencarinya.
Pada akhirnya, hari ini Io akan pergi ke bazar buku bekas yang disarankan oleh Yandra. Untuk itulah, Io harus bergegas.
Karena sampai saat ini, ia masih belum menemukan yang serupa semenjak bukunya dibuang tanpa sengaja oleh ibunya dulu, pikirannya tidak pernah merasa tenang. Seperti ada bagian dari tubuhnya yang menghilang.
Jika ia membiarkan satu hal berharga dalam hidupnya hilang, maka kepercayaan akan hal—berharga—lainnya pun akan ikut menghilang. Jika tidak bisa menjaga, setidaknya jangan membiarkan.
“Ta, kalau Ayi datang, bilang aja gue pergi,” pesan Io pada Arta yang baru saja muncul dari dapur. Ia tahu bahwa dirinya sedang buru-buru dan tak bisa menunda untuk menjelaskan lebih.
“Iya,” jawab adiknya saat Io sudah tak terlihat. Ia juga tak sempat menanyakan ke mana kakaknya itu pergi.
Arta melanjutkan kembali apa yang tadi ia lakukan, sambil berpikir untuk menanyakan pada Ayi—yang nanti akan datang—kenapa kakaknya itu tidak melibatkan Ayi bersamanya.
Karena terus berpikir, Arta juga akhirnya menyadari sesuatu. Namun, ayahnya tiba-tiba-tiba muncul dari ruang makan.
Arta yakin bahwa ayahnya tahu bahwa Io baru saja berbicara dengannya. Atau mungkin ia mendengar percakapan mereka dari balik pintu. Karena tatapan ayahnya itu mengarah ke pintu di mana Io keluar.
“Pergi, Yah. Nggak tau kemana,” jawab Arta. Ia kebih dulu menjawab apa yang kemungkinan besar akan ayahnya pertanyakan. Sang Ayah hanya bisa menatap pintu tempat Io keluar tadi. Sampai saat ini, ia belum pernah berbicara serius dengan anaknya tersebut. Hubungan mereka terasa hambar semenjak istri pertamanya meninggal dan ia kembali menikah.
Kemudian, ia pun menghampiri sang istri yang baru saja selesai memandikan si kecil.
“Lemari tempat berkas-berkas dan surat-surat lama yang ada di kamar kita, kamu yang bersihin?” tanya ayah Io pada sang istri yang kini membawa keranjang pakaian. Mereka sudah memiliki satu anak setelah menikah.
“Iya, Mas. Soalnya ada banyak semut pas aku nyari laporan kesehatan rumah sakit. Jadi sekalian aku bersihin semua,” jelas wanita yang bernama Diara itu, seraya menunjuk tumpukan kertas yang ada di atas meja.
“Hm, gitu. Kalau sudah selesai, kamu letakin lagi. Jangan sampai Io tahu hal ‘itu,’" pesan sang suami sembari menatap istrinya sayu.
“Iya,” sahut wanita yang sudah menjadi ibu sambung Io itu, dan mencoba tersenyum. Sepertinya berat untuk mereka memendam semua yang telah terjadi. Merahasiakan hal yang sangat penting, menjaga agar Io tidak tahu keadaan keluarganya yang sebenarnya. Hal yang paling fatal untuk diungkit.
Ya, mereka merahasiakannya dari Io, bahkan hingga sekarang. Kebenaran tentang istri terdahulunya.
__ADS_1
“Maaf,” lirih Diara sedikit tiba-tiba. Ia terlihat sedih, karena masih merasa bersalah. Rasa kehilangan itu masih membekas dalam ingatan kedua orang itu.
“Hei, kamu nggak salah. Ini adalah keputusan yang sudah diambil. Jika kamu begitu, maka dia akan merasa bersalah di sana.” Ia mendekati sang istri, mencoba menenangkannya.
“Kita sudah berusaha keras waktu itu, tapi dia lebih memilih jalan lain,” tuturnya, sembari mengelus punggung wanitanya.
“Andai waktu itu aku datang lebih cepat, pasti—“
“Heliiooo!” Ucapan itu terputus saat suara teriakan tak asing terdengar. Itu adalah Ayi yang tiba-tiba berteriak dari luar.
Teriakan berisik dan dapat dipastikan akan mengganggu itu sangat Ayi sekali. Sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk mereka berbincang.
Mereka kemudian melepaskan pelukan. Diara bergegas menuju pintu dan membukakan pintu untuk tamu tak sopannya, karena kini Ayi terdengar mendobrak pintu Io.
Dan benar saja, sudah ada seorang gadis di sana, memasang cengirannya sebelum wajah kaget. Ia sedikit merasa tidak beradab untuk sesaat. Lalu, rasa bersalah itu ia hilangkan dengan cepat. Sepertinya ia berlebihan saat berteriak tadi.
“Eh, Tante? Aku nggak tahu kalau Tante ada di rumah,” ujar Ayi, menutupi rasa tak tahu malunya dengan berbasa-basi.
“Ayla? Memangnya Helio tidak bilang?”
Ayi tak perlu memberi kode lagi untuk Mama Io itu untuk melebarkan pintunya saat ia sudah dipersilahkan masuk sebelum ia menjawab, “Anak durhaka Tante itu bahkan nggak jawab panggilan aku, Tante.”
Senyum maklum. Ayi memang sudah biasa seperti itu. Semua keluarga Io sudah hafal dengan sikap sahabat dari anak mereka itu.
“Kayaknya dia masih di kamarnya dari pagi. Kamu sendiri aja?” tuturnya, tanpa tahu apa yang sudah ia lewatkan.
“Iya, Tante. Mau ngajakin Io keluar,” sahut Ayi, sudah tidak sabar untuk menerobos menuju kamar Io.
“Sayangnya Kak Io baru aja keluar.” Arta yang tahu dengan kedatangan Ayi, muncul lagi. “Tapi aku nggak tau dia ke mana tadi.”
“Tumben dia gak ngajak gue,” gumam Ayi, memegang dagunya.
“Akhir-akhir ini dia sering pulang malam,” ungkap Mama Io.
“Om liat tadi dia buru-buru,” imbuh Ayah Io yang juga ikut muncul.
Ayi tahu bahwa kedatangannya sia-saia, jadi ia akan memutuskan untuk pamit saat Mama Io mencegatnya dan berkata, “Kamu duduk dulu, sekalian ada yang mau Tante omongin,” suruhnya.
“Ngomong-ngomong … Tante mau ngomong apa?” tanya Ayi akhirnya yang tak ingin dibuat penasaran.
__ADS_1
Wanita yang duduk di hadapannya itu, menarik napas lemah. “Jadi, begini ….”
To be Continued