
Karena dalam hal mencintaimu, aku masih belum sempat.
...•••...
Romantis itu bukan soal rasa. Romantis adalah ketika seseorang merasa bahagia dengan tindakan seseorang atau orang yang berhubungan dengannya saat melakukan aksi romantisasi. Tak luput, romantis adalah kejadian yang membawa aura bahagia bagi orang-orang yang terlibat.
Mengutip sedikit kalimat yang berbunyi, ‘Bahagiamu, bahagiaku juga.’ Kita bisa saja mengartikannya dengan saling berbagi rasa bahagia. Lalu, bagaimana menghubungkan bahagia dan romantis? Tidak perlu diperumit jika semua yang dibutuhkan sudah ada di sekitar kita.
Tidak harus romantis untuk bahagia.
Begitu juga dengan seorang Yandra yang menyukai hubungan yang tak akan bisa mencekiknya. Apalagi jika itu perihal perasaan. Hingga kini, ia masih menyukai jenis hubungan antara Io dan Ayi yang natural. Menurutnya, mereka adalah teman yang sesungguhnya.
Sekarang, Yandra sudah menjadi bagian dari Ayi dan teman-temannya. Ia hampir selalu ada bersama mereka saat di sekolah. Selain dirinya yang sudah menemukan pencerahan dan kebenaran perihal perasaannya sendiri, Yandra juga tidak membenci seorang Dimas. Yang ia takuti dan tak inginkan adalah apa yang menjadi persyaratan dari Ayi. Ia takut jika Dimas membuat hal itu menjadi nyata.
Ia takut jika Ayi jatuh cinta.
Yandra dibunuh oleh keberuntungan, sedang Dimas dibela oleh kesempatan. Namun pada akhirnya, takdirlah yang akan memihak salah satu dari mereka. Karena keberuntungan merupakan dari kekuatan dasar, sedang kesempatan adalah pelengkapnya.
Bahwasanya, Yandra tak bisa menghindari perkataan seseorang dulu yang pernah mengatakan bahwa dirinya menyukai Ayi. Yandra tak bisa mengingkarinya saat ini. Sebab, hal tersebut justru benar adanya. Tanpa mungkin.
Sekali lagi, Yandra tak pernah membenci Dimas. Karena … bukan hanya ia di luar sana yang sedang jatuh cinta saat ini. setap orang pasti memiliki perasaannya sendiri.
Mata Dena menyipit saat mendapati sesuatu yang besar di depan Ayi. Itu adalah makhluk hidup yang disebut manusia.
“Tumben? Io mana, Yi?” tanya Dena pada Ayi yang duduk di salah satu meja kantin. Dena menghampiri Ayi yang terlihat bersama seseorang.
Ayi membuat pergerakan yang menyadari kehadiran temannya. Ia masih mengunyah. “Ya kali, gue pacaran gini ngajakin dia,” jawab Ayi. Apa yang ia katakan hanya sebagian saja yang bisa dimengerti oleh Dena. Mulut gadis itu penuh dengan makanan.
“Telan dulu,” tegur Dimas, terdengar lembut. Ia yang duduk di hadapan Ayi bergegas mengambil tisu dan membersihkan sisi bibir Ayi. Apa yang tergambar di wajahnya hanyalah keceriaan. Berbeda dengan dirinya dulu yang seolah terlihat selalu patah hati.
Jika saja dari dulu ia mengatakan perasaannya, mungkin tingkat kebahagiannya akan sedikit lebih jauh sebelum ini. Namun, pada akhirnya takdirlah yang menentukan segalanya.
Ayi memandangnya. “Apaan sih, ‘kan romantis jadinya,” ujar Ayi, mengambil alih apa yang dilakukan Dimas. Ia tidak bermaksud menolaknya. Semenjak mereka menjalin hubungan, Ayi belum memeriksa bagaimana perasaannya. Ia hanya tak tahu saja bahwa sudah ada seseorang yang sudah setengah masuk di hatinya.
Terlambat menyadari, kadang jadi alasan utama seseorang menyesal.
Dimas masih berusaha. Kesempatan yang diberikan oleh Ayi akan ia gunakan untuk membuat seorang Ayla Ink balik mencintainya. Peroses itu perlu, agar tahap setiap rasa bisa tercecap manis. Perlahan dan setengah pasti. Ia terkekeh saat mendengar ucapan Ayi sesaat yang lalu.
Dena yang bahkan belum duduk sudah diberikan adegan romantis pasangan yang setengah kasmaran. Ya … hanya satu orang saja di antara dua orang di hadapannya yang jatuh cinta.
“Ekhem woyy! Ekhem!” Dena menginterupsi sepasang kekasih tidak resmi itu. Ia masih berdiri dengan nampan berisi makanan. Apa-apaan itu?
Ayi akhirnya menoleh. “Iri woyy! Iri!” kelakarnya, membalas perkataan Dena. Temannya itu sudah mengambil tempat duduk di sana tanpa meminta izin. Selain membawa nampan yang berisi makan siangnya, Dena juga membawa satu plastik cemilan.
Ayi meliriknya dan tiba-tiba mengingat apa yang menjadi motto hidup Dena. ‘Tak mengapa jika itu hati, asal jangan mulutmu saja yang kesepian.’ Untuk seorang yang suka mengunyah, berat badannya tidak pernah naik secara drastis. Dena mensyukuri anugerah tersebut.
__ADS_1
Saat jam istirahat, Dimas mengajak Ayi makan bersama. Ayi yang sudah mengajak seseorang, awalnya bingung karena orang tersebut ternyata mempunyai kesibukan lain.
Sebelum pergi, dia meminta maaf pada Ayi.
Ayi melanjutkan makannya. Begitu pula dengan Dimas. Dena diam-diam memerhatikan mereka. Walaupun sudah tahu alasan Ayi menerima perasaan Dimas, tapi Dena masih kurang yakin bahwa hubungan mereka akan bertahan lama. Namun, bukan berarti ia mengharapkan yang buruk pada temannya itu.
Dena terpikir sesuatu saat itu juga. “Eh, jadi nggak, ke rumah gue nanti?” Dena bertanya dan menyantap makanannya. Tidak memedulikan di mana ia berada saat ini. Lagipula, tidak ada yang terganggu dengan kehadirannya. Ayi bukan seorang sedang benar-benar kasmaran saat ini.
Seolah tahu apa yang dimaksud Dena, Ayi menjawab girang, “Jadi dong.” Sebenarnya, tidak salah jika ia mengatakan bahwa ia tidak tahu daripada harus berpura-pura tahu. Ia sadar akan sifatnya yang menyebalkan seperti itu.
“Kalian mau ke mana? Aku nggak diajak?” sela Dimas, ia sudah selesai dengan makanannya. Ada dua buah gelas air minum di meja mereka. Semua itu adalah milik Ayi. Ia mempunyai pasokan air minum saat makan.
Dena dan Ayi yang sudah tahu menyadari pertanyaan itu.
“Biasa, kumpul-kumpul betina,” sahut Ayi, menjelaskan. “Kalau mau ikut, ntar gu–aku tel–argh! Gue! Guueee!! Astaga, gue nggak biasa make aku-kamu. Ribetnya!” kesal Ayi, terlihat frustasi sendiri dengan cara menyebut dirinya sendiri di depan Dimas. Ia masih belum terbiasa.
Menyaksikan hal tersebut, Dimas terkekeh geli, lalu berkata. “Jangan dipaksain kalau nggak bisa.” Ia tahu, mungkin Ayi ingin memanggilnya dengan panggilan khusus. Namun, hal itu malah terlihat membebaninya. Lagipula, itu adalah ide Ayi sendiri.
Jika ada Io, mungkin laki-laki itu akan meledeknya.
Dena merasa aneh. “Loe nggak manggil Kak Dimas ‘Kakak’?” tanya Dena. Kata-katanya sudah meluncur saat ia terlambat menyadari hubungan apa yang dua orang itu miliki.
Sebelum menyahut, Ayi mengambil dua suapan, “Umur kita cuman selisih tujuh bulan.” Lalu, ia menghabiskan dua gelas minumannya. Cuaca hari itu sedikit panas. Gadis itu merasa sedikit asing saat sudah kenyang, ia tidak melihat wajah Io. Tidak ada yang bisa ia jadikan samsak saat ingin bersendawa.
“Kita juga satu tingkat di bawah dia, Na,” sahut Ayi, tak kalah benar. Dena ingin menyahut lagi, tapi ia urungkan. Rasanya hanya sia-sia saja. Ia hampir saja lupa jika orang yang menjadi lawan bicaranya ini adalah Ayi.
“Ya ampun, Ayi!” seru Ahsa yang baru saja datang dengan nampan yang ia bawa. Ketiga orang itu sontak menoleh.
“Ini juga, satu. Kenapa lagi?” tanya Ayi, tanpa merasa diganggu oleh mereka. Ia sudah biasa dengan kehadiran temannya itu saat bersama Dimas.
Kedua wajah perempuan yang ada di sana, Ahsa pindai “Kalian paling berisik di sini,” decak Ahsa, mengambil tempat di samping Dimas. “Io mana?” Ia kembali berujar.
Kebiasaan orang-orang selalu bertanya seperti itu atau sebaliknya saat tidak mendapati mereka—Ayi dan Io—bersama. Dimas sebenarnya cemburu, tapi ia memegang teguh perkataan Ayi, “Loe nggak boleh marah. Apa pun tentang Io, loe nggak boleh cemburu.” Ia sendiri juga tahu, bahwa Ayi dan Io itu teman dari kecil. Dibanding dengannya, Dimas hanya orang baru.
Ayi menyahut, “Sama Yandra tadi, nggak tau ke mana.” sahut Ayi mengambil botol kecap dan melumuri baksonya kemudian melahapnya seperti biasa, sama seperti saat ia makan bersama Io.
Dena dan Ahsa terperangah. “Buset! Loe lagi makan sama pacar, Yi, tapi nggak ada feminimnya sama sekali,” tegur Ahsa, melihat cara makan Ayi yang terlalu liar untuk seorang wanita.
Gadis itu sama sekali tidak tersinggung. “Terus kenapa? Yang penting gua nggak ngutang, ‘kan?” sahutnya, ia tidak suka berpura-pura menjadi orang lain. Apa adanya saja.
Mungkin itu adalah salah satu alasan Yandra menyukainya.
Yandra?
Sepertinya anak itu masih patah hati mini sekarang. Walaupun tidak membenci Dimas, Yandra tidak ingin melihat saat mereka bersama. Baru saja ia menyukai seseorang, baru juga ia merasakan sakitnya.
__ADS_1
“Nggak pa-pa, itu juga salah satu alasanku menyukainya,” tutur Dimas, terdengar kalem. Ahsa dan Dena melongo. Mereka tidak begitu tahu bagaimana sifat dasar seorang Dimas, tapi apa yang ia katakan tersebut sedikit ….
“Tuh, ‘kan! Gara-gara kalian, dia jadi ngegombal gitu,” sungut Ayi, menunjuk dua temannya itu dengan sendok makannya.
Ahsa dan Dena lagi-lagi terperangah.
“Tanggung jawab! Bayarin makanan gue ntar loe, Na,” desis Ayi seolah tertindas.
“Kok gue?” Dena merasa tidak terima.
Ahsa geleng-geleng, Dimas senyum maklum.
***
“Tumben nggak sama Io?” tanya Dena saat Ayi sudah sampai di rumahnya.
“Dia jalan sama Sheila,” sahut Ayi, lalu masuk ke rumah Dena tanpa disuruh. Di dalam sana sudah ada semua teman perempuan dari kelasnya.
Mereka mengadakan pertemuan kecil-kecilan yang dicetuskan oleh Fiona—sekretaris kelas—agar lebih akrab satu sama lain. Semua perempuan dari kelasnya terlihat hadir. Hubungan antar classmate di antara mereka masih kaku walau sudah hampir setengah semester mereka bersama.
Ayi menelisik satu persatu wajah yang sudah tidak terlalu asing baginya. Termasuk seorang perempuan yang masih saja menatapnya dengan tatapan sinis.
Saras.
Dia adalah wanita yang menyukai Io, tapi membenci dirinya. Ayi yang menyadari tatapan itu tersenyum remeh saja.
“Jadi, kita mau main apa, nih?” tanya Dena sebagai tuan rumah.
Sekitar hampir lima belas orang ada di sana, termasuk Ayi. Mereka duduk melingkar di ruang santai.
“Obrolan santai bergilir,” usul Reni.
“Makan-makan,” seru Andela yang terlihat paling gendut di antara semuanya. Dena adalah orang pertama yang menyetujuinya.
“Apa adu panco aja kali, ya?” gumam Poppy, yang terlihat tomboi.
“Cerita pengalaman memalukan,” tandas Saras. Sepertinya ia ingin mengerjai Ayi hari ini.
“Tanding anu siapa yang paling gede!” Sebuah suara yang berseru lumayan keras terdengar, membuat semua yang ada di ruangan itu terdiam. Mereka sontak melihat ke arah Laila yang bersuara tadi. Sedang, yang menjadi pusat perhatian terlihat mengerjap polos.
“Kalian kok … pada ngejauh gitu, sih?” sungut Laila saat dua orang di sampingnya sedikit beringsut menjauh.
Tentu saja mereka takut, Laila!
...To be Continued ...
__ADS_1