
"Ingat. Apa pun tentang loe, gue ingat."
...•••...
Io sudah pergi beberapa menit yang lalu. Meninggalkan Ayi dan Yandra yang hanya berdua.
Saat pulang, Io mengajak Ayi dan Yandra ke rumahnya untuk makan siang dengan keluarganya, karena nanti malam ia akan merayakan ulang tahunnya di rumah. Sederhana, hanya teman sekelas yang ia undang.
Percakapan saat makan siang itu juga sedikit berat bagi Io. Untuk pertama kalinya ayahnya bertanya detail tentang kehidupan anaknya, termasuk kisah cintanya. Io hanya menjawab datar, tak berminat sama sekali saat sang ayah ingin mengenalkannya dengan salah satu anak sahabatnya.
Arah obrolan dalam makan siang itu random saja. Io juga sedikit akrab dengan ibu tirinya. Menjawab apa yang ditanyakan.
Io sebenarnya ingin membahas tentang mamanya saat itu. Namun, pasti itu akan merusak acara siang itu. Jadi, ia memilih untuk merahasiakannya sementara waktu.
Sejauh ini, Io sudah tahu sedikit banyak tentang penyebab kematian mamanya. Ibunya saat ini adalah salah satu perawat yang merawat mamanya saat sakit dulu. Sepertinya mereka sangat dekat. Untuk itulah akhir-akhir ini Io mencari lebih banyak dari Arta.
Setelah ditinggal Io, Ayi mengajak Yandra pulang ke rumahnya. Ia sudah berencana untuk pergi ke ulang tahun Io bersama lelaki yang disukainya itu.
Cuaca panas menaungi tempat mereka mendorong motor milik Yandra siang itu. Ban motornya tiba-tiba bocor, terpaksa mereka mendorongnya mencari bengkel terdekat.
Ayi menyeka keringat di leher dan dahinya. Yandra sudah melarangnya, tapi gadis itu malah mengabaikannya. Bercerita sepanjang jalan.
"Es krim," seru Ayi saat sudah sampai di bengkel.
"Sekarang lagi gak hujan." Yandra menyahut setelah melihat langit yang bahkan tidak mendung.
"Nunggu hujan keburu loe jadian sama Fiona," sungut Ayi yang ekspresinya sudah berubah.
"Fiona?" Yandra tak mengerti arah obrolan mereka di siang yang terik ini. Fiona adalah sekretaris di kelas mereka, akhir-akhir ini Yandra lumayan dekat dengan gadis itu. Ia beberapa kali terlihat belajar bersama saat Ayi tiba di kelas.
Ayi cemburukah?
Lagipula kenapa Ayi tiba-tiba membahas tentang Fiona. Antara bingung dan senang yang Yandra rasakan sekarang.
"Iya, loe deket banget sama dia," balas Ayi yang sudah duduk. Motor Yandra sedang ditambal. Tiga pagi terakhir, Fiona memang minta diajari oleh Yandra. Ayi bahkan juga ikut bersama mereka.
Lalu, apa yang salah?
"Ka-kamu cemburu?" Yandra mencoba menanyakan hal yang lebih sensitif. Ia ingin memastikan keadaan saat ini. Bukankah jika itu benar, membuat suatu bisa dipastikan?
Akhirnya. Semoga. Sangat.
"Iya. Gue cemburu, apa pun tentang loe gue cemburu!" seru Ayi sedikit cemberut. Kali ini tidak dibuat-buat. Jika sebelum-sebelumnya Ayi selalu menggodanya, kali ini perkataannya terdengar serius. Hingga terbitkan segaris simpul senyum pada wajah Yandra.
Yakin. Ia benar-benar yakin ingin mengungkapkan perasaanya malam ini.
"Eum ... ya ... aku itu ... anu ma—"
"Kali ini rasa coklat," potong Ayi lebih dulu. Wajahnya juga sama merahnya seperti Yandra. Ia berjalan lebih dulu menuju minimarket yang sempat mereka lewati tadi.
Berjalan dalam diam tanpa sepatah kata pun. Cukup dimengerti dengan pikiran masing-masing. Sekali lagi, mereka berada dalam ranah perjatuhcintaan. Dunia asing pertama bagi mereka berdua.
"Gak pa-pa es krim kamu meleleh gitu?" Pertanyaan pertama Yandra meluncur saat mereka menikmati es krim masing-masing di bawah terik matahari.
__ADS_1
"Sebenarnya apa-apa sih. Karena selain gak suka es yang cepat mencair, gue juga gak suka Fiona." Jawaban Ayi berhasil membuat Yandra tersedak. Untung saja es krimnya tidak jatuh.
"Loe gak pa-pa?" Ayi yang mengelus-elus punggung Yandra, bertanya sedikit khawatir.
"Gak pa-pa. Selain suka Taylor Swift, ternyata aku juga suka es krim rasa cokelat," jawab Yandra asal. Ia terlalu bahagia saat ini. Bolehkah ia bersorak sekarang juga? Baiklah itu berlebihan.
Mereka kembali ke bengkel untuk mengambil motor Yandra yang sudah selesai dan menuju pulang ke rumah Ayi.
Tepat pukul satu siang, Ayi sudah selesai makan siang di rumahnya. Ia juga mengajak Yandra makan bersama keluarganya. Hal itu membuat Yandra tersenyum saat mengingatnya.
Itu adalah kali kelima Yandra makan di rumah Ayi, saat dulu ia menjemput Ayi sekolah. Ia sudah sedikit lebih dekat dan mengenal keluarga Ayi.
Mama Ayi yang selalu mengira Yandra pacar anaknya, sangat suka meledek lelaki itu. Ia sama jahilnya dengan sang anak. Ayi dan yandra kini duduk di ruang tamu. Yandra sesekali melirik pada bunga yang ada di sudut ruangan. Bunga yang mengingatkannya pada sesuatu.
"Abis ini temenin gue beli sesuatu ya." Ayi berseru setelah meletakkan piring kotor. Mencucinya lain kali saja. Kasihan jika Yandra terus diledek mamanya.
"Ke mana? Beli apa?" Yandra ingin tahu.
"Kado buat Io. Pokoknya bagus," sahut Ayi tersenyum lebar setelah memeriksa sebuah notifikasi pada teleponnya. "Ngomong-ngomong, loe ngasih Io kado apaan, Ndra?
"Dia—buku," jawab Yandra setelah hampir salah ucap.
"Buku apaan?" Ayi mengambil air dari keran dan mengisi pot kaca bunga tulip. Bunga itu menjadi hiasan di sudut ruang tamu dan kamar Ayi. Yandra sudah dua kali pernah masuk ke kamar Ayi.
"How to be a good man," sahut Yandra memberitahu judul bukunya. Ia sebenarnya memberikan dua buku pada Io sebagai kadonya nanti. Ayi terkekeh. Sepertinya itu cocok untuk Io.
"Kado kamu udah dibungkus?" Yandra bertanya lagi. Mamanya sudah tidak ada di sana.
[Gue temenin.] Io menawarkan diri. Yandra menyimak saja obrolan lewat telepon itu.
"Gue udah sama Yandra. Lagian loe mending bantuin nyiapin acara ntar malam. Kasian mama loe tuh," suruh Ayi menolak tawaran Io.
Mau tidak mau, Io menyetujui saja. Padahal ia sangat berharap waktu siang sampai sorenya itu ia habiskan bersama Ayi. Namun, setidaknya sudah cukup tadi pagi. Pelan Io membujuk hatinya. Keinginannya di hari ulang tahun tidak apa-apa 'kan jika berlebih? Sesekali bermanja pada sang sahabat tercinta.
Tepat pukul setengah dua, Ayi dan Yandra melajukan kendaraannya menuju tempat yang ingin Ayi kunjungi.
Sebuah lonceng berbunyi saat pintu didorong dari luar oleh Ayi. Mereka memasuki sebuah toko yang di depannya memiliki kaca etalase yang memajang barang dagangan.
Ruangan yang cukup unik saat Ayi dan Yandra memasukinya. Banyak aksesoris di sana. Rangkaian bunga imitasi, lukisan dinding yang terbuat dari daun kering yang dibentuk sedemikian rupa, dan benda melingkar yang sejak tadi ia cari itu masih menarik perhatiannya.
Ayi melihat sebuah postingan beberapa saat yang lalu. Untuk itulah ia mengunjungi toko ini. Semua barang dibuat dengan handmade. Lebih banyak barang pesanan di sana. Mereka harus memesan terlebih dulu barang yang ingin dibeli. Kebetulan hari ini tidak ada barang yang ready.
"Kalau ini siap berapa lama, Mbak?" Ayi bertanya pada salah satu penjaga toko. Sepertinya ia lelaki yang ramah.
Kening Yandra dan lelaki itu sama-sama mengkerut mendengar panggilan Ayi.
Mbak? Untuk seorang laki-laki?
"Saya cowok, maaf," ucap laki-laki tadi. Sepertinya ia seumuran dengan dua pengunjung tersebut.
"Contoh manusia kayak dia, Ndra." Yandra tak mengerti dengan apa yang Ayi katakan. Pun lelaki tersebut.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Yang salah gue, tapi yang minta maaf dia," ucap Ayi kemudian tertawa.
"Iya saya maafin," tukasnya beralih pada si penjaga toko.
Laki-laki itu terkekeh dan menjawab, "Pengerjaannya sekitar 1-2 jam, tapi tidak bisa selesai hari ini."
"Kalau bikin sendiri bisa gak?" Ayi mengusulkan. Ia ingin memberikan kado dengan buatan tangannya sendiri untuk Io. Ia sudah menjelaskan pada Yandra saat perjalanan tadi.
Yandra ingin cemburu, tapi ia tak bisa. Apa yang ia cemburui dari dua orang sahabat? Bukankah Ayi sudah bilang bahwa Io tak boleh dicemburui siapa pun? Pasti itu termasuk Yandra.
Ah, jam-jam pengungkapan perasaan itu membuatnya cemas.
Ayi terus berusaha membujuk orang-orang yang bersangkutan dengan toko tersebut agar keinginannya terpenuhi. Sang pemilik toko yang juga ada saat itu akhirnya membolehkan saja saat Ayi memelas untuk kado ulang tahun sahabatnya hari ini.
Ayi benar-benar berusaha keras di mata Yandra. Membuatnya makin yakin untuk mempermanenkan hatinya hanya pada satu tempat.
Dengan dibantu langsung oleh sang pemilik toko yang juga tak kalah ramah dari penjaga toko tadi, Ayi berhasil membuat dua buah dream catcher yang hampir serupa. Walaupun hasilnya tidak begitu rapi, tapi usahanya patut dipertaruhkan.
Dua buah dream catcher itu pasti untuk Io dan Ayi sendiri. Wajar saja 'kan dua sahabat memiliki benda couple seperti itu. Lagi, Yandra menghela napas lemah.
Selama pembuatan, Ayi begitu serius menyimak apa yang diajarkan. Yandra yang duduk di dekatnya pun ia abaikan saat mengajaknya berbicara. Ayi penuh dengan konsentrasi dan fokus. Sekali lagi Yandra tak bisa cemburu dengan Io. Apa yang bisa ia tawarkan?
Io yang setiap sepuluh menit mengiriminya pesan, terus menanyakan apa dan di mana mereka berdua. Ia ingin dua orang itu datang lebih awal ke acaranya. Berharap.
Yandra mengatakan bahwa ia menemani Ayi memilihkan kado untuknya. Io lebih cerewet hari ini.
"Loe mau terus di sini sama nih Mbak apa gimana?" Ayi yang sudah membayar dan menerima bungkusan belanjaannya, menyapa Yandra yang membalas pesan Io. Ia mengatakan pada Io bahwa sebentar lagi mereka akan datang.
Laki-laki yang yang dimaksud Ayi itu sedikit tidak terima dengan panggilan 'Mbak' dari Ayi.
"Eh? Udah ya? Ayo," ajak Yandra pada Ayi yang sudah berdiri di depannya. Ia sempat melirik pada kotak abu-abu yang ada di dalam paper bag-nya saat dibungkus tadi. Heran saja, kenapa Ayi juga membungkus satu dream catcher lainnya. Ia tahu kotak abu-abu itu kado untuk Io, tapi satunya lagi?
Ah, sudahlah.
"Ayo ke mana? Loe kalau ngajakin jangan bikin ambigu gitu, ntar gue baper loe tanggung jawab loh ya," tutur Ayi saat Yandra sudah di luar.
"Baper gimana? Aku 'kan gak ngajak kamu ngapa-ngapain," jawab Yandra tak mengerti. Ayi itu susah ditebak.
"Ajak apa-apain dong, biar gue baper," balas Ayi sok polos. Perangai tak baiknya seperti ini pun tak menyurutkan perasaan Yandra padanya.
Yandra tertawa kalem. "Kamu ingat gak?"
"Ingat, apa pun tentang loe gue inget," sahut Ayi cepat dan tidak sabar.
"Baiklah, cerita bersambung sampai nanti malam," tutur Yandra yang meruntuhkan rasa penasaran Ayi.
Laki-laki itu tertawa saat ingin melanjutkan perkataannya tadi. Ia sudah tidak sabar ingin memenuhi permintaan Ayi yang dulu sekali.
Ayi mendengus kesal di belakang. Mengekor Yandra menuju motor mereka.
Sudah pukul lima sore, mereka harus pulang dan bersiap-siap pergi ke rumah Io. Telepon Ayi juga sudah beberapa kali menerima pesan dari Io.
To be Continued
__ADS_1