
Dear pacar. Maukah kamu menjadi mantanku?
...•••...
Kekal dan fana adalah dua kata yang saling berseberangan. Saling bertolak belakang, tapi tidak pernah saling membenci. Mungkin karena mereka memang ditakdirkan untuk itu.
Layaknya sebuah hubungan, fana berarti berpisah dan kekal berarti hingga akhir hayat. Dua orang yang memiliki hubungan, memiliki banyak tujuan dan keinginan saat di awal. Namun, ketika sudah berakhir, mereka sudah tidak memiliki apa pun lagi untuk dikatakan. Lalu, terciptalah istilah ‘yang berawal pasti akan berakhir’.
Cinta … kadang bisa melahirkan kebencian, begitu juga sebaliknya. Namun, jangan jadikan salah satu darinya untuk melakukan hal buruk. Jika seseorang melakukan hal buruk, maka hal buruk juga yang akan menjadi alasannya.
Sungguh sangat tidak bagus.
Beberapa hari setelah Ayi mengetahui rencana Io, ia tak pernah menanyakan alasan sahabatnya itu ingin mengakhiri hubungannya dengan pacarnya saat ini. Ayi hanya mempercayai Io tanpa perlu ikut campur, jika ia ingin. Mungkin mereka belum menemukan saat yang tepat untuk membahas tentang hal tersebut. Atau … mungkin saja tidak akan perlu dibahas.
Di hari minggu, banyak waktu yang harus dihabiskan bersama orang terdekat. Ayi berjalan bersama Io di sebuah supermarket, mereka berdua terlihat sedang memilih sayuran. Ayi mengajak Io untuk menemaninya membeli bahan masakan karena disuruh mamanya. Ayi memilih Io daripada Dena. Temannya itu memang suka makan, tapi tidak tahu bahan makanan. Maka, Ayi memilih opsi yang tak membuatnya pusing sendiri, tapi pusing berdua. Karena ….
Di bagian bumbu dapur, mereka dua mampir.
“Kok loe ngambil merica, sih?” seru Ayi pada Io yang mengambil dua bungkus benda yang berisi bulat-bulat kecil berwarna kuning pucat dan sedikit kecoklatan. Plastik transparan yang membungkusnya membuat benda tersebut manampakkan isi yang ada di dalamnya.
Tanpa memiliki pengetahuan apa pun mengenai bumbu dapur, Io mengambilnya sembarangan.
“Ini ketumbar, bukan merica!” balas Io, menunjuk benda yang diambilnya tadi.
Sama seperti Io, Ayi juga minim pengetahuan tentang bumbu dapur.
“Itu merica, Helio!” geram Ayi, merasa gemas. Ia meletakkan kembali apa yang diambil Io tadi ke tempatnya, kemudian mengambil lagi dua bungkus benda yang ia sebut ketumbar.
Io tak terima. “Ini ketumbar, Ayla Ink,” balas Io, tak kalah gemas. Ia mengambil lagi benda tersebut. Namun, Ayi kembali meletakkannya. Kedua orang itu tidak mengandalkan kebenaran yang mereka ketahui, hanya bermodal firasat yang sembarangan.
Apa yang sudah Ayi ambil, Io kembalikan ke tempatnya. Lalu, ia mengambil bungkusan semula setelah menyingkirkan pilihan Ayi tadi. Gadis itu tentu tak akan diam saja. Mereka terus saja seperti itu hingga ....
Setelah teringat sesuatu, Ayi mengusulkan, “Eh, tunggu. Mama tadi nyuruh beli merica apa ketumbar?” Sambil mengingat, ia berujar. Io yang berusaha memasukkan kembali dua bungkusan itu ke keranjang belanjaan Ayi, juga ikut berhenti, lalu diam dan berpikir. Sambil berpikir pun, Ayi masih sempat saja mengeluarkan apa yang Io yakini sebagai ‘merica’.
Io melirik tangan Ayi. “Nggak loe catet emang di daftar belanjaan?” Io balik bertanya. Ayi tidak terlalu berusaha mengingat, lalu menggeleng seolah itu bukanlah kesalahan yang ia buat. Mereka saling tatap, kemudian senyum jahil muncul dari bibir Ayi disusul oleh Io yang juga mengerti. Jelas mereka sudah sepakat untuk merencanakan sesuatu.
Pasti dua orang itu memiliki pikiran yang sama.
__ADS_1
“Kalau nggak ingat ...,” ujar Ayi, dua matanya berbinar, menunjukkan keantusiasan tak terhingga.
“Kita beli ....” Io menyahut. Ekspresi yang dibuatnya sama dengan wajah Ayi saat ini.
Lalu, keduanya mengatakan, “Dua-duanya.” Mereka saling tertawa, kemudian masing-masing mengambil dua bungkus merica dan ketumbar. Ayi mengambil bungkusan yang ia yakini sebagai ketumbar, sementara Io mengambil apa yang ia sebut merica. Bukankah hal itu lebih mudah? Tentu saja mereka tidak akan salah, bukan? Dua sahabat yang benar-benar unik.
Mereka pun pulang, Io ikut makan malam di rumah Ayi hari itu. Berada di antara keluarga kecil Ayi, membahas tentang sekolah. Orang tua Ayi juga menanyakan perihal ayah dan ibunya, tapi Io hanya menjawab singkat. Tidak ingin membahasnya terlalu lama. Jika orang tua Ayi mulai membahas tentang orang tuanya, Io berusaha mengalihkan topik.
Setelah makan malam, Io memilih bersantai di ruang tamu bersama Ayah Ayi. Beliau juga menasihati agar Io tidak bersikap acuh terhadap ayahnya, tidak ada sedikit pun niat sosok laki-laki yang lebih tua darinya itu untuk ikut campur. Secara, keluarga Ayi mengenal bagaimana Io sedari kecil.
“Ayah kamu kemarin bilang sama Om, katanya keluarga kamu mau liburan nanti. Terus kenapa kamu nggak ikut?” tanya Ayah Ayi, Io yang duduk di depannya sudah tak bisa mengelak. Ayi baru saja tiba dan ikut duduk di samping Io. Ikut mendengarkan.
“Ya jelas nggak mau lah, Yah. Orang Io nggak bisa tanpa aku. Dia, ‘kan nggak bisa berenang,” sahut Ayi, memandang Io remeh. Ia sudah tahu bahwa keluarga Io akan liburan di daerah yang dekat dengan laut.
Mama Ayi ikut bergabung.
“Kamu jangan ngeledek Io kayak gitu,” tutur mamanya, ikut duduk bersama mereka. “Kalau misal kamu diberi pilihan antara nyelamatin Io sama Ayah yang tenggelam, kamu milih siapa?” tanya wanita yang sudah melahirkan Ayi enam belas tahun lalu.
Ayi merasa heran, ia tidak tahu kenapa mamanya tiba-tiba bertanya seperti itu. Io dan Ayah Ayi yang mendengar hal itu, diam-diam menunggu jawaban Ayi yang terlihat berpikir. Sepertinya ia menganggap itu hal yang harus dijawab dengan benar.
Ayi tersenyum ringan. “Jelas milih Io dong, ‘kan Ayah bisa berenang,” jawab Ayi, yakin dan tertawa gelak setelah menyadari sesuatu.
Meskipun tahu bahwa jawaban Ayi akan aneh, tapi Io tetap dibuat terkejut. Tidak ada yang aneh, ia hanya tidak memikirkan pilihan itu. Mengira Ayi hanya membantunya mengalihkan pembicaraan. Tidak semua hal serius itu membawa ketegangan suasana. Jika itu perasaan yang membuat beku, maka cair dan hangatkan.
Hidup itu mudah, yang sulit itu adalah alasan.
Sang ayah tidak mau kalah. “Kamu bahkan tetap milih Io, walaupun kamu tahu itu hanya misal? Wah, Ayah kaget, ah,” cerca ayahnya, kemudian menghabiskan sisa tehnya dengan sekali teguk. Ia hendak beranjak saat Ayi masih ingin membalas.
Ayi tidak terima. “Kok gitu?” Ia ingin protes lagi, tapi laki-laki paruh baya itu sudah beranjak dari sana meninggalkan mereka berdua.
“Ayah mau tenggelam dulu,” ujar ayahnya, berlalu.
Tiga orang yang tersisa memilih untuk mengobrol sebentar hingga Mama Ayi juga pergi, dan hanya menyisakan dua orang.
Io kemudian beranjak ke depan televisi dan menyalakannya, ia tidak memedulikan Ayi, menganggap rumah Ayi seperti rumahnya sendiri. Ia duduk di karpet, menyandar pada sofa yang ada di belakangnya. Ayi juga ikut duduk di belakang Io setelah sebuah tayangan ditampilkan di layar depan mereka.
Mereka menonton sampai beberapa menit dengan sesekali bercanda. Tidak ada pembahasan yang terlalu berat di antara dua sahabat itu hingga akhirnya Io tertidur. Ayi ingin membangunkannya. Namun, sebelum itu, G
__ADS_1
Gadis itu sedikit waspada saat membuat suara rendah kamera, membidik sesuatu malam itu.
***
“Kan gue udah bilang, Ayi itu sahabat gue!” geram Io, saat ini berada di depan pintu masuk kelasnya. Ia yang baru saja datang bersama Ayi, dicegat oleh Sheila.
Ayi memilih masuk ke kelas, meninggalkan mereka. Dia bisa menebak apa yang akan terjadi.
Menyaksikan pertengkaran sepasang kekasih bukanlah apa yang sukai jika itu Io. Ia lebih memilih mengobrol bersama Yandra. Membahas lagu atau mungkin pelajaran, daripada—
“Tapi, kok, dia upload foto kamu pas lagi tidur?” Sheila merengut tak terima. Suara mereka masih bisa terdengar. Ayi tidak kaget lagi saat menyaksikan pertengkaran antar pasangan. Namun, ia tak bisa tidak dilibatkan kali ini.
“Tadi malam gue ke rumah dia, makan malam di sana,” jelas Io terlihat jengah. Ia sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan pada pacarnya itu.
“Setelah itu, ‘kan bisa langsung pulang, kenapa bisa ketiduran di sana?” desis Sheila, merasa sangat kesal. Ia merasa tak terima dan cemburu saat melihat Ayi memposting foto Io tadi pagi.
“Ya kali gue langsung pulang, emangnya rumah makan? Gue, ‘kan udah bilang, gue nggak suka dilarang kalau sama Ayi. Yaudah.”
“Aku nggak mau!” potong Sheila cepat sebelum Io menyebutkan kata terlarang itu. Ia sangat mencintai lelaki yang berdiri di depannya saat ini. Laki-laki yang membuatnya berusaha keras untuk mendapatkan posisinya saat ini. Sheila tahu jika Io itu bukan mostwanted, apa lagi tenar seperti yang lainnya. Ia hanya sahabat dari seorang Ayla Ink.
Kedekatan Io dan Ayi membuat orang-orang iri, termasuk dirinya.
Namun, Sheila tidak bisa tidak cemburu dengan Ayi. Bahkan sebelum mereka pacaran pun, ia sudah tidak suka dengan Ayi. Sheila hanya terpaksa mengiyakan ucapan Io yang tidak boleh melarangnya bersama Ayi saat sebelum jadian dulu. Ia tidak bisa berbuat lebih. Pengakuannya diterima oleh Io saja sudah menjadi suatu pencapaian yang luar biasa baginya.
‘Ayi itu hampir segalanya bagi gue.’
Itulah kata-kata yang diucapkan Io dulu. Jika dilihat, Io memang tidak memiliki perasaan khusus pada wanita dengan rambut sepunggung itu—Ayi. Walaupun begitu, Sheila tetap tidak menyukainya.
“Yaudah, loe jangan terlalu cemburu. Lagian, Ayi juga udah pacaran sama Dimas,” jelas Io yang membuat Sheila terperangah. Ia belum mendengar kabar itu.
Tapi, tetap saja.
Jika ditanya apakah Io menyukai pacarnya atau tidak, maka jawabannya setengah iya. Ia juga ingin menjaga wanita itu sebagai seorang laki-laki. Ingin menjaga dengan cara yang berbeda dari bagaimana dia ke Ayi. Karena tetap saja Io tidak bisa memperlakukannya seperti Ayi. Hanya Ayi.
“Yaudah, maaf,” cicit Sheila, pelan. Ia benar-benar sangat tidak ingin putus dari orang yang ia sukai semenjak dulu.
Tak bisa. Sikap Io ke Ayi itu tidak bisa dijelaskan. Mereka memang terlihat serasi. Namun, persahabatan mereka lebih besar daripada sebuah hubungan romantis.
__ADS_1
Seperti kata Io, Ayi itu hampir segalanya.
To be Continued