Just Because

Just Because
Just 41


__ADS_3

Seperti sedang mengintip isi pikirannya.


...•••...


Ayi dan Io sedang berada di depan rumah Yandra saat si pemilik rumah sibuk mengganti bajunya yang basah. Mereka memilih untuk memotret beberapa tanaman dan bunga yang ada di sana.


Halaman samping rumah Yandra memang luas. Untuk itulah Aydan lebih banyak mengelola tanamannya di sana, selain di depan dan belakang rumahnya.


Ayi dan Io sudah beberapa kali ke sana, mereka selalu mendapati tanaman baru setiap berkunjung. Kali ini tanaman aloe vera berderet di samping bunga berwarna kuning pucat yang mereka berdua tak tahu namanya.


Io mengarahkan ponselnya dan mulai memotret. Sedangkan Ayi memetik beberapa bunga yang tentu saja sudah izin dengan si pemilik saat berpapasan beberapa saat yang lalu.


"Lo percaya gak kalau gua bisa baca masa depan?" Ayi tiba-tiba bertanya. Tadi pagi, sejak ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri penyebab Io kecelakaan, hingga membuatnya tewas. Ayi tak bisa membayangkan hal tersebut benar-benar terjadi dalam kehidupannya. Meskipun ia percaya, tapi tidak sepenuhnya. Io yang ia lihat sekarang sangat sehat.


Akan tetapi, ia tak bisa tahu apa yang akan terjadi.


Bukannya menjawab, Io malah memotret Ayi.


"Gue serius!" Ayi terlihat kesal.


Io menatapnya, melotot, kemudian menyipitkan matanya. "Coba loe liat, Yi. Muka loe kalau lagi seru itu lucu banget," pungkas Io, memperlihatkan layar teleponnya yang menampilkan wajah Ayi.


Terdengar Ayi menarik napas panjang. Io tahu bahwa itu akan sahabatnya tersebut gunakan untuk membalasnya. Karena itulah, ia cepat-cepat menjawab, "Nggak."


"Kalau misal gua mati duluan, loe nangis nggak?"


"Lo kenapa sih, Yi?" Io yang sudah sepenuhnya menghadap pada Ayi, bisa menyadari apa yang mengganggu pikiran orang yang ada di depannya itu. Meskipun pikirannya juga sedang tidak baik, tapi ia bisa menyembunyikannya lebih baik.


Ayi memaksa, "Udah jawab aja."


"Kayaknya iya," jawab Io setelah terlihat berpikir sejenak.


Ayi tidak terlihat tertarik. Ia memetik bunga sepatu dan menyobek-nyobek kelopaknya. Bahkan, ketika Io mengembalikan pertanyaan yang sama pada Ayi, gadis itu masih terlihat tidak tertarik. Wajah seriusnya tidak terlihat seperti biasanya.


"Gue tau siapa yang si pengirim bunga tulip," tutur Ayi pelan. Suasana yang Io rasakan saat itu adalah keseriusan. Ia tidak tahu mengapa Ayi membahas hal acak dengannya.


"Gue juga," sahut Io, mengambil bunga yang ada di tangan Ayi. Ia tidak menatap gadis tersebut.


Ayi tiba-tiba terpana.


"Gue gak akan nanya loe tau dari mana, tapi gue harap kalian saling mengaku," jelas Io. Ayi merasakan suara Io yang dalam, menggema di telinganya.

__ADS_1


"Tunggu, tunggu! Ini maksudnya apa?" Ayi merasa tidak bisa berpikir dengan baik. Perkataan Io yang menyebutkan perihal perasaan barusan, terkesan seperti sedang mengintip isi pikirannya.


"Dia suka sama loe, Ayi," decak Io.


Ayi kembali terpana, kemudian, tertawa. Tawa yang menurutnya sangat lucu. Hingga kemudian berhenti karena Io tidak ikut tertawa bersamanya.


Tepat saat mereka saling diam dan membaca pikiran masing-masing, Yandra datang dan ikut berpartisipasi. Ia diam-diam mengambil satu foto yang menyorot Ayi dengan latar matahari yang menyilaukan. Ayi yang tersenyum lebar.


Io lebih dulu menyadari kedatangan Yandra.


"Sejak kapan loe di situ?" Io bertanya saat menyadari kehadiran Yandra yang sudah berdiri di sampingnya. Ia sudah memakai seragamnya. Io yang sudah menyadarinya dari tadi, tidak kaget lagi.


"Barusan." Yandra memberitahu kemudian mengajak mereka berangkat sekolah. Sudah beberapa kali mereka pergi sekolah bersama. Ayi dan Io kadang mampir ke rumah Yandra terlebih dahulu sebelum ke sekolah. Tentu saja itu atas inisiatif Ayi sendiri. Itu pun jika Ayi bangun cepat.


Sudah hampir satu tahun mereka kenal dan dekat. Namun, tak pernah lebih lama dari itu Yandra mengembangkan bakat memendamnya.


Mereka kini sudah hampir tiba di pertengahan kelas dua, masih di penghujung bulan Nopember. Sudah selama itulah mereka saling kenal. Syukur saja tak pernah berselisih paham atau terlibat masalah satu sama lain. Kisah mereka seolah flat tanpa ada konflik.


Semenjak Yandra memastikan untuk mengatakan perasaannya pada Ayi beberapa bulan lalu, ia masih belum bisa dan berani mengatakannya sampai sekarang. Io pernah beberapa kali mendesaknya, ditambah Ahsa yang selalu menyindirnya. Ayi juga menunjukkan respon positif padanya.


Lalu apa lagi yang Yandra coba ulur? Apa mungkin dia se-pengecut itu dalam perihal mengungkap perasaan?


Ya, Yandra bukan pengecut. Dia hanya memantapkan yakin, membulatkan tekad dan sedikit memudarkan ragu.


Sejauh ini, Yandra selalu menghabiskan waktu bersama Ayi. Ia bahkan sudah mengikis waktu yang biasa Ayi gunakan dengan bersama Io. Gadis itu sudahkah jatuh cinta juga padanya? Pada seorang Yandra.


Pertanyaan yang dibalut keraguan itulah yang banyak memakan waktu Yandra selama ini. Ia bukan tak berani, ia hanya sedikit ragu. Bukan ragu dengan apa yang akan Ayi lakukan setelah ia mengatakan perasaannya. Namun, apakah ia masih bisa memiliki perasaan seperti ini saat menerima penolakan?


Yandra takut jika saat Ayi menolaknya, ia tak bisa secinta seperti ini lagi pada cinta pertamanya itu. Namun, bukankah semua layak dicoba? Selain berkorban, cinta juga butuh resiko.


"Lagi?" Dena yang mengemut permen lollipop-nya mengomentari saat Ayi mendapatkan lagi setangkai bunga tulip. Mungkin sudah setahun ia mulai mengoleksi bunga tersebut. Ayi juga beberapa kali memberikannya pada Io.


"Tapi, dua bulan terakhir dia gak ngirim loh." Ayi kembali mengingat aktifitas sebulan terakhirnya tanpa mendapat kiriman. Ia merasa ada yang kurang saat tak mendapat kiriman. Seperti hal yang biasa ia lakukan seolah tak lagi ada.


"Loe gak mau nyari tau, gitu?" tanya Dena lagi. Kali ini ia yang membaca sepenggal kata yang tertulis. 'Selamat pagi Ayla Ink dan semoga pagimu juga selamat. Sebulan yang lalu akan kuganti dengan sebulan lagi.'


Dena mulai menegakkan tubuhnya yang tadi ia sandarkan ke sisi tembok yang ada di sebelah mejanya. "Maksudnya sebulan lagi, itu ultah Io 'kan?" tanyanya pada Ayi yang menempelkan dua tangkai bunga tulip di sudut mejanya.


"Hm, kemungkinan dia anak kelas kita." Dena bergumam sambil berjongkok, masih mencoba menegakkan bunga yang ia tempel menggunakan plester. "Entah kenapa, gue justru ngarep itu Yandra," imbuhnya lagi kemudian nyengir lebar ke arah Ayi yang melotot tak menduga.


"Gue heran deh sama kalian berdua." Dena kembali berkata, "Kenapa gak jadian aja, sih? Kalian tuh saling suka tau gak!" Dena tak bisa menahan kekesalannya.

__ADS_1


"Hm, sama, Den. Gue juga heran," sahut Ayi yang terdengar tak berniat bagi Dena.


Ingin kembali menyambung kata, Dena dan Ayi dikagetkan dengan Ahsa yang datang terburu dan terlihat sedikit panik.


"Io sama Yandra berantem!" serunya tak sabaran. Ayi dan Dena menatapnya penuh minat. Namun, belum sempat Ahsa kembali berujar, Io datang memasuki kelas. Ia ditatap oleh tiga orang sahabatnya itu tanpa berkedip. Gerakan kepala mereka mengikuti arah Io berjalan bahkan hingga ia duduk.


"Kalian ngapain?" tanya Io yang mendapati tatapan yang membuat mode bangganya on. Ia sama sekali tak terlihat seperti orang setelah berantem.


"Loe berantem sama Yandra?" Ayi lebih dulu bertanya.


"Enggak. Kata siapa?" tanya Io balik. Ia menampakkan wajah bingung yang meyakinkan.


Ayi mengerjapkan matanya dua kali dan kembali menyahut, "Loe berantem sama Yandra?"


Io sedikit memutar tubuhnya dan membalas, "Enggak. Kata siapa?"


"Hm ... loe berantem ... sama Yandra?" tanya Ayi yang ketiga kali.


Io memandang Ahsa dan Dena sekilas. Dua temannya itu menggeleng kompak. Mereka selain tak mengerti, juga tak tahu.


"Enggak. Kata siapa?" jawab Io masih dengan jawaban yang sama.


"Apakah loe berantem sama Yandra?" Ayi sedikit merombak pertanyaannya.


"Enggak Ayi!! Kata siapa!!" teriak Io tepat di telinga sang sahabat.


"Yang ngomong dari tadi cuman kalian berdua, loe masih nanya 'kata siapa,' Yo?" sahut Dena yang kembali mengemut permennya yang mengecil.


Io kembali menatap Ayi yang meniup kepalan tangannya yang sedikit berongga dan mengarahkannya pada telinga. Ayi mendengar suara berlebih.


"Enggak, kata siapa gue berantem sama Yandra," gumam Io mengambil satu tangkai bunga tulip yang menjulang dari sisi meja Ayi.


Ayi dan Dena secara bersamaan menatap tajam ke arah Ahsa yang bertepatan saat Yandra datang. Wajahnya terlihat sedikit pias.


"Serius, gue tadi liat Io narik kerah Yandra!" Ahsa bersikeras tak ingin disalahkan. Yandra yang merasa nama disebut-sebut ikut menoleh.


"Oh, itu," sahut Io yang memberikan setangkai bunga yang tadi ia ambil dan diberikan pada Ayi, kemudian menatapnya dengan tatapan yang satupun dari mereka yang menyaksikan tidak mengerti. "Tadi gue ngajarin Yandra cara mukul yang bener. Siapa tahu pas gue gak ada, Ayi kenapa-napa. 'Kan ada yang jagain," tutur Io menjelaskan. Ia terlihat tak serius, ada rona canda yang ia umbar. Hal itu juga sekaligus menyelamatkan Ahsa dari tatapan 'penuh pesona' dua gadis yang sedang bersamanya itu.


Perasaan Ayi tidak enak.


"Loe kek mau pergi jauh aja," sela Dena menanggapi serius penjelasan Io barusan.

__ADS_1


"Enggak kok, kata siapa?"


To be Continued


__ADS_2