Just Because

Just Because
Just 44


__ADS_3

"Kamu ingat nggak?"


...•••...


Seringkali, ekspresi bisa menipu seseorang. Tempat paling tersembunyi di muka bumi adalah hati. Tidak ada yang bisa mendengar saat ia bicara kecuali sang pemilik. Tidak ada yang tahu di mana ia berada dan ingin berada. Seringkali, hati juga adalah tempat paling mudah dikunjungi, lalu ditinggalkan.


Di dunia masa lalu, ia tidak tahu siapa orang yang selama ini selalu mengiriminya bunga tulip. Namun, jika ditanya siapa orang yang ia sukai, Ayi akan mengatakannya yang berpikir keras. Ayi sudah yakin dengan perasaannya sendiri.


Suasana nampak meriah saat teman-teman yang diundang menyanyikan lagu ulang tahun. Io yang memakai topi kertas berbentuk kerucut, sudah meniup lilin yang berbentuk angka delapan belas. Sesuai dengan umurnya saat ini.


Ayi yang berada di sampingnyalah yang paling antusias saat menyanyikan lagu ulang tahun untuk sahabatnya itu.


Potongan kue pertama dan tentu paling besar, Io berikan pada Ayi, sahabat tercinta. Dengan antusias Ayi menerimanya dan memakannya lahap. Tidak memedulikan keanggunan atau apapun itu yang berbau feminim. Disusul potongan kedua untuk ibunya yang menggendong adiknya yang masih kecil. Hasil pernikahannya dengan Ayah Io. Potongan ketiga ia berikan untuk adiknya, Arta.


Io sudah tidak semarah dulu lagi pada sang ibu. Hanya masalah waktu saja.


Hm. Keluarganya yang bahagia. Setidaknya Io bisa merasakannya sekarang.


Sangat Ayi sekali.


"Buat loe ambil sendiri, Yan," tutur Io pada Yandra yang berdiri di sebelah Ayi. Ia mengenakan pakaian dengan warna yang sama sepertinya dan juga Ayi.


Abu-abu.


Warna kesukaan Ayi dan juga Io.


"Aku gak terlalu suka yang manis-manis." Yandra menyahut dengan sedikit terkekeh. Ayi bahkan memotong lagi kue yang masih tersisa, seperti ingin menghabiskannya.


"Masa? Bukannya selama ini yang loe sukai itu manis?" Io menyindir halus. Cukup dimengerti dan sedikit menohok bagi Yandra. "Tunggu apa lagi, buruan sekarang," desak Io mulai menyapa dan melayani beberapa temannya yang memberikan kado. Orang tuanya memilih duduk di sudut ruangan yang jauh dari kerumunan. Biarkan yang muda bertingkah.


Yandra berulang kali menarik dan mengembuskan napas. Ia masih saja gugup. Berjalan menuju paper bag-nya dan mengambil dua tangkai bunga yang ia bawa tadi. Ia sedikit kesulitan menyembunyikan bunga tersebut saat Io dan Ayi yang menjemputnya saat Yandra sudah bersiap-siap ingin pergi tadi. Ia tidak bisa menolaknya. Permintaan dari seorang yang sedang berulang tahun.


Yandra berjalan mendekati Ayi yang berbincang dengan Ahsa dan Dena. Perhatiannya hanya pada satu arah. Ayi.


Menyodorkan dua tangkai bunga tulip dan selembar kertas kecil yang hanya terdapat simbol hati pada Ayi.


Ayi terpana.

__ADS_1


Ahsa dan Dena sama tak mengertinya dengan Ayi saat ini. Semua orang masih sibuk mengucapkan selamat pada Io. Juga Saras yang kini mengajaknya mengobrol. Io benar-benar sibuk dibuatnya. Ia terlihat bahagia sepertinya malam ini.


"Loe? Loe yang selama ini ngirim bunga ke Ayi?" Itu suara Dena.


Dengan sifat Ayi yang seadanya, ia sangat mengerti apa yang sedang Yandra lakukan. Ia akhirnya tahu.


"Iya, gue mau," ucap Ayi sok terharu. Ia benar-benar kaget. Tak menyangka jika orang yang selama ini mengiriminya bunga tulip itu adalah laki-laki yang selalu bersamanya dan saat ini tengah berada di depannya.


"Dia belom ngomong woy!" seru Ahsa menepuk jidat Ayi.


"A-aku minta maaf." Yandra akhirnya membuka suara. Ia masih memegang dua tangkai bunga tulip di tangan kanannya dan mengeluarkan tangan kirinya yang dipenuhi banyak tangkai bunga tulip lainnya yang sempat ia sembunyikan di balik punggungnya.


"Harus gitu ya, kata pembukaannya?" sahut Ayi menerima bunga dari kedua tangan Yandra. Ia tak bisa kaget lagi. Stok kagetnya benar-benar terkuras dengan pengakuan Yandra malam ini. Ayi antara terharu dan sedikit kesal. Kenapa baru sekarang Yandra mengatakannya. Ia benar-benar tak bisa marah sekarang.


"Eh, gue lupa minum," dehem Ahsa yang memberi kode mata pada Dena.


"I-iya, gue juga lupa ngasih kado ke Io," sahut Dena yang paham maksud Ahsa. Berjalan menuju keramaian dan ikut berbaur di sana, Ahsa dan Dena. Mereka memberikan ruang pada kedua orang tersebut.


Akhirnya hari yang mereka tunggu datang juga, Yandra akhirnya mengungkapkan perasaanya.


"Sesudahnya? Kamu minta maaf juga, gak?" Ayi bertanya. Aura di antara mereka terlalu canggung bagi Yandra. Ayi benar-benar membuatnya salah tingkah.


"Kamu ingat gak?"


"Apa pun tentang loe gue inget. Eh, tunggu-tunggu! Ini lanjutan yang tadi siang ya?" Ayi kembali mengingat sesuatu setelah lamat-lamat memerhatikan dua bila mata laki-laki yang selama ini ia sukai, diam-diam ia cintai. Ia mengakuinya.


Membuang pandangannya ke arah lain, ia benar-benar tak bisa menatap Yandra lebih lama dari biasanya. Sesuatu seolah menyuruhnya untuk tetap sadar.


Sedang apa ya, mereka sekarang?


"Iya," jawab Yandra singkat.


Masih sedikit canggung. Ayolah ubah suasananya.


"Kamu pernah bilang dulu, kalau aku suka sama kamu, aku harus bilang 'kan?" jelas Yandra mencoba mengajak Ayi menyelami ingatan mereka saat makan di salah satu tempat yang mereka kunjungi dulu.


Ayi mengangguk sebagai respon. Ia masih memegang erat bunga tulipnya. Terlalu senang.

__ADS_1


"Maaf, a-aku suka ka-kamu," ucap Yandra putus-putus.


"Please, 'maaf'nya dibuang."


"Ka-kalau begitu ... a-aku suka kamu," tutur Yandra lagi.


"Aku baru tau," gumam Ayi sedikit menunduk. Tak menghiraukan keramaian. Walaupun mereka bagian darinya.


"Sangat menyukai," lanjut Yandra mengelus tengkuknya. Rasa canggung masih ada di sana, terus menempel.


"Lebih menyukai," sahut Ayi memiringkan kepalanya ke kanan. Panggilannya berubah seketika.


"Kamu." Yandra mencoba menatap langsung ke dalam iris Ayi.


"Ya," sambung Ayi menegakkan kepalanya. Tersenyum membalas tatapan Yandra.


"Aku yang sangat," gumam Yandra. Waktu berjalan lambat bagi mereka.


"Dan aku yang paling," sahut Ayi tak mau kalah. Panggilannya sudah berubah.


"Jadi ...."


"Jadi?" Ayi mengulang ucapan Yandra dan menunggu. Gelak tawa dari para teman Io tak mengusik mereka.


"Cinta .... "


"Ya?" Ayi membalas Yandra yang masih menatapnya.


"Ayo kita lebih mencintai," cicit Yandra pelan. Bukan ajakan untuk pacaran atau menjalin hubungan, seorang Yandra mengajak Ayi untuk hal yang lain.


"Diterima." Ayi mengangguk sekali. Setelah jeda sebentar, ia kembali mengangguk ribut. Mereka sama-sama tertawa setelahnya.


Tingkat dan kadar bahagianya tak kalah dari rasa jatuh cinta apa pun selama Ayi mengenal laki-laki yang ada di hadapannya itu. Ia benar-benar merasa bahagia.


"Mereka berdua terlalu lebay. Dasar pasangan bucin."


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2