Just Because

Just Because
Just 29


__ADS_3

Dia adalah salah satu dari segala rencanaku.


...•••...


  “Loe jadi cewek jangan sok!” pekik Sheila, melempar beberapa sampah yang masih ada di dalam loker Ayi. Itu adalah pertengkaran yang dimulai oleh pacar Io itu.


Gadis itu sudah membuat kesalahan yang fatal.


Saat Ayi ingin mengambil bukunya beberapa saat yang lalu, tiba-tiba saja banyak sampah yang keluar dari sana. Tentu saja seseorang sengaja melakukannya.


Orang yang menyebabkan itu tidak lain adalah wanita yang saat ini tengah mencegat dan berteriak seolah ia akan ditakuti dengan tingginya suara yang ia buat itu. Seorang yang sangat tidak menyukai Ayi, Sheila dan juga Saras yang sudah saling berhadapan.


Ayi yang dari tadi memilih tidak melawan, masih diam. Ia hanya mengabaikannya dan diam-diam membuang rasa pedulinya pada orang yang lebih terlihat ingin mengunyah daripada mengajaknya bertengkar itu.


Sheila semakin mengganas saat sadar bahwa Ayi mengabaikannya.


  “Gara-gara loe gue putus sama Io!” pekik gadis itu menarik kerah baju Ayi dengan tangan kanannya. Ia yang dari tadi mengomel mulai kesal karena Ayi hanya melongok dan melongok. Semenjak tadi, ia  hanya menghitung jumlah huruf yang ada dalam perkataan Sheila. Namun, saat tiba-tiba tubuhnya tersentak karena dorongan dari orang lain, ia pun mulai terganggu.


  “Lepas,” sentak Ayi pelan. Wajahnya terlihat biasa, dan tidak takut sama sekali.


  “Hajar aja, Kak,” seru Saras yang berdiri di belakang Sheila dan mendesak orang yang sekarang menjadi mantan Io itu untuk terus merongrong Ayi.


Karena saat itu masih pagi, maka murid yang hadir di sana tidak banyak. Hanya pasukan yang dibawa oleh Sheila saja yang mendominasi jumlah orang yang ada di sana.


  “Sekarang gue tanya,” ucap Ayi yang membuat kedua wanita itu menoleh. “Yang mutusin loe itu, loe sendiri apa Io?” tanya Ayi, sarkas. Ia sudah tidak memanggilnya dengan embel-embel ‘kakak’ lagi. Sudah muak.


  “Loe ...” Sheila mengerang dan mengangkat tangannya saat ingin melibaskannya sebelum—


Sebuah tamparan mendarat manis di pipi kanan Ayi. Meskipun ia sudah berusaha mengelak, tapi tetap saja jari-jari gadis itu sedikit mengenai sebagian wajahnya dan membuatnya menjadi gatal. Ayi yang wajahnya sudah tertoleh ke samping, merasa itu lucu. Lucu karena sepatu yang ia kenali pemiliknya, sedang mendekat ke arahnya.


  “Sudah keliatan siapa di sini yang sok,” ujar Io yang tiba-tiba muncul. Sheila dan Saras terlihat panik saat laki-laki itu semakin mendekat. Laki-laki itu kemudian mencengkram kuat pergelangan tangan Sheila yang masih memegangi kerah Ayi.


  “A-aku bisa jelasin,” ucap Sheila terlihat seperti tertangkap melakukan kesalahan. Io menatapnya tajam.


Yandra yang juga datang bersamanya, langsung beralih ke sisi Ayi. “Kamu nggak pa-pa?” tanyanya yang terlihat khawatir. Bisa ia melihat sebelah pipi gadis yang disukainya itu sudah memerah karena bekas tamparan. Mereka sedikit terlambat.


  “Kalian apa-apaan, sih!” Dimas yang juga datang setelahnya, terlihat berdiri di depan Ayi. Mereka bertiga ada di sana dengan Io yang datang lebih dulu. Pemandangan yang sangat langka. Tiga orang laki-laki yang lumayan berpengaruh, membela satu wanita.


Kasak-kusuk terdengar, orang-orang yang dekat dengan Ayi dan Io juga ikut mencela Sheila.


  “Pacar loe tuh, yang kecentilan!” pekik Sheila menunjuk Ayi. Ia merasa tertekan dengan umpatan beberapa orang. Belum sempat Dimas berujar lagi, sesuatu terjadi.


Ayi yang ada di antara tiga laki-laki itu, langsung menjentik bibir Sheila, merasa greget. Mantan pacar Io itu sontak memegang bibirnya, ia semakin kesal. Io menahan tawanya.


  “Terima kasih, saya anggap itu pujian,” ujar Ayi terlihat memasang kuda-kuda dan kedua tangannya yang sudah memasang kedua tinjunya. Ayi melakukannya sambil melompat-lompat kecil. Sheila ingin menjambak rambut Ayi, tapi Dimas sigap mencegahnya. Kedua tangannya kini dicengkeram oleh Io dan Dimas. Sedangkan Yandra berusaha menyembunyikan Ayi di belakangnya.


Mereka manis.


  “Udah gue bilang jangan gangguin sahabat gue!” seru Io kemudian melepas tangan Sheila kasar.

__ADS_1


  “Tapi, aku nggak mau kita putus,” lirih Sheila memelas. Dimas juga sudah melepaskan pegangannya.


  “Huuuu!” Semua terlihat bersorak.


Sedangkan di sisi lain, terlihat Ayi mengajak Yandra membersihkan lokernya yang dipenuhi banyak sampah.


Dimas juga terlihat membantu mereka, ia membiarkan Io dan Sheila menyelesaikan masalahnya. Mereka sudah putus kemarin, Io yang memutuskannya. Sheila yang masih belum tahu alasannya, memilih untuk menyalahkan Ayi.


Awalnya mereka baik-baik saja saat jalan kemarin. Sheila juga memaklumi tentang video saat dirumah Io kemarin lusa. Namun, saat Sheila mulai membahas tentang Ayi dan menjelekkannya. Ia juga mengatakan hal yang tak terduga hingga Io langsung memutusinya. Tentu saja Io bertindak saat itu juga.


Sheila sudah pergi saat Io mengambil plastik tempat sampah. Ia memberikannya pada Dimas.


Di sisi lain, Yandra yang mengambil sampah dari dalam loker Ayi menjadi kaget, ia menemukan sesuatu yang lain yang sudah ia temukan di beberapa waktu terakhir ini.


Bunga tulip.


Bukan dua tangkai seperti biasanya, kali ini hanya ada setangkai bunga. Ini adalah kesekian kalinya Ayi mendapat kiriman bunga dari orang yang belum mereka ketahui. Mungkin sudah hampir sebulan.


Yandra kemudian memberikannya pada Ayi, juga selembar kertas yang terselip. Ayi hanya bernapas pasrah.


  “Lagi?” tanya Dimas tak habis pikir.


  “Cie yang cemburu,” sembur Ayi mentoel hidung Dimas. Entah kenapa, kali ini justru Yandralah yang seharusnya cemburu.


  “Loe tenar amat, Yi. Sampai ada secret fans gitu” tutur Io, terlihat iri sekaligus terganggu dengan sampah yang mengganjal di sana.


“Gue malah ngira nih orang stalker, Yo. Bukan fans,” imbuh Ayi setelah membaca apa yang tertulis kali ini.


  “Uangnya abis kali,” ujar Io, kemudian terbahak. Ia bermaksud menertawakan si pengirim.


  “Kok loe tau dia beli nih bunga, gue kira dia nanam sendiri,” gumam Ayi menatap Io curiga. Karena bekas getah selalu ia temukan pada batang bunga itu.


  “Ya-ya gue nebak aja, biasanya ‘kan dua tangkai, ini tumben cuma satu. Kan bikin curiga” Io menjelaskan dengan menunjuk bunga yang dimaksud. Ayi terlihat berpikir sebelum akhirnya mengangguk.


Yandra yang diam di tempat memerhatikan saja saat Dimas juga ikut membaca apa yang Ayi sodorkan. Yandra sudah membacanya lebih dulu. Ia harus segera mencari sesuatu untuk itu.


  “Kamu hati-hati, ya,” saran Dimas melirik bunga yang masih Ayi pegang.


  “Iya. Lagian kayaknya dia juga nggak berbahaya,” sahut Ayi, tersenyum sambil berpikir.


  “Bunganya selalu kamu simpan?” tanya Yandra akhirnya.


  “Iya, Ndra. Nggak baik pemberian orang dibuang,” jelas Ayi memasukkan lagi sampah yang tersisa pada plastik yang dipegang Dimas. Semua sudah bersih ketika Io dan Dimas membawa plastik sampah untuk dibuang. Mereka terlihat berbincang ketika meninggalkan Ayi dan Yandra. Mungkin merencanakan untuk mencari si pengirim.


  “Kamu suka tempat nyiram bunga warna apa?” tanya Yandra tiba-tiba.


  “Hijau, kenapa?” jawab Ayi sedikit heran. Untuk apa Yandra menanyakannya?


  “Nggak pa-pa. Yuk, ke kelas,” ajak Yandra tanpa menjelaskan maksud dari pertanyaannya. Ayi tidak mempermasalahkannya. Ia tahu jika Yandra mempunyai tanaman di sekolah. Mungkin dia butuh rekomendasi saja.

__ADS_1


Mereka berjalan menghampiri Io sebelum kembali ke kelas. Dimas juga sudah pamit pada Ayi.


  Kayaknya harus beli pupuk juga sekalian, batin Yandra yang langkahnya sedikit tertinggal. Ia terus mencari apa yang salah dengan tanamannya yang ada di belakang sekolah.


  “Loe ngelamun, Yan?” Io menyadarkannya yang terlihat masih memikirkan sesuatu itu.


  “Enggak kok.” Yandra menggeleng. “Aku heran aja, kenapa kalian bisa putus?” tambahnya mengalihkan pembicaraan kemudian menyamai langkah Io dan Ayi.


  “Gue nggak suka sama dia,” sahut Io dengan malas.


  “Gue juga,” sela Ayi memegang pipinya.


  “Loe nggak pa-pa?” tanya Io seolah merasakan bagaimana rasanya ditampar.


  “Masih sakit nggak?” Yandra ikut bertanya.


  “Sakit sih, sebenarnya,” keluh Ayi. Io yang melihatnya merasa bersalah karena terlambat mencegah Sheila tadi. Merasa sedikit kesal pada orang lain.


  “Ya ... maaf,” gumam Io pelan. Ini adalah pertama kalinya Io meminta maaf semenjak kelas dua.


  “Gue heran aja sama orang-orang yang ngira kita pacaran, Yo. Emang kita keliatan kayak gitu ya di depan mereka?” Ayi mulai berceloteh seperti biasanya. Sepertinya ia tidak terlalu kesakitan jika sudah begitu.


  “Maksudnya?” tanya Io tak mengerti, begitupun dengan Yandra.


  “Biar gue perjelas. Loe nggak ada rasa ‘kan sama gue? Kalau gue sih nggak bisa dijelasin, lagian loe sahabat gue. Temen gue dari kecil,” tutur Ayi yang membuat Io langsung terbahak. Yandra diam-diam menantikan jawaban dari Io.


  “Gue serius, Helio!” geram Ayi yang tak tertawa sama sekali. Ia benar-benar serius. Sontak Io menghentikan tawanya.


  “Oke. Oke. Dari kecil sampai sekarang, loe tuh gue anggap sahabat, Yi. Tentang rasa-rasa sejenis gitu nggak ada sama sekali. Gue pastiin kita akan jadi sahabat sampai mati,” terang Io meyakinkan.


Tidak ada kebohongan yang terlihat. Ia juga tersenyum tulus. Senyum yang jarang Ayi lihat. Io sendiri merasa senang mengatakan hal tersebut.


Bagaimana dengan Yandra?


  “Loe juga, Yan,” lanjut Io menatap Yandra dan merangkulnya bersama Ayi.


  “Makasih, Yo,” ucap Yandra tersenyum simpul. Entah mengapa ia merasa sangat lega mendengar jawaban Io. Dari awal, ia yakin bahwa Ayi dan Io itu bukan seperti yang ia pikirkan. Ternyata ia salah.


  “Hm, gue juga. Kalau gitu, gue pastiin gue bakal jadi sahabat loe sampai mati juga, Yo,” sahut Ayi percaya sepenuhnya. Kata-kata Io sedikit membuatnya terharu.


Mereka berdua kemudian berbagi tawa. Rasanya aneh saja bagi mereka mengatakan hal tersebut.


  “Ngomong-ngomong, kenapa loe nggak coba nanya yang tadi ke Yandra?” tanya Io pada Ayi. Ia menaik-turunkan alisnya memandang bergantian kedua orang yang ia rangkul saat ini.


  “Aku duluan, Ahsa manggil tuh,” ujar Yandra tiba-tiba, kemudian berlari cepat.


  “Gue juga, Dena manggil,” sahut Ayi yang juga ikut berlari meninggalkan Io. Kini, hanya ia yang tertinggal sendiri yang hanya bisa menatap kepergian dua orang tersebut.


“Ternyata ini lebih dari yang kuduga,” gumamnya, geleng-geleng dan tersenyum.

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2