Just Because

Just Because
Just 38


__ADS_3

Perasaan paling menakutkan setelah memiliki seseorang adalah kehilangannya.


...•••...


  Hujan.


Ayi yang baru saja keluar dari sebuah minimarket untuk membeli payung ketika, mendapati hujan turun di depannya. Namun, sepertinya kilat dan guntur yang tiba-tiba hadir bersama hujan pada pagi yang menjelang siang itu, membuatnya sedikit takut untuk kembali ke mobil mereka. Untuk itu, Ayi memilih berdiri saja di sana.


Cuaca itu seperti perasaan manusia; cepat berubah.


Ia kemudian menyadari saat dengan tidak terlalu tiba-tiba, sebuah rangkulan hangat dari arah belakang ia rasakan saat ingin membuka payungnya. Yandra terlihat tersenyum dan mengajak Ayi duduk di depan minimarket tersebut. Sangat berbahaya jika ia menembus hujan untuk sekarang.


Angin serta tempias dari air hujan menjilat-jilat di sekitar kaki mereka.


Meskipun cuaca saat itu cukup mengerikan, tapi Ayi  masih saja ingin menemui anaknya.


  "Jia aman sama mereka. Kamu bisa tenang." Saat Yandra yang mengatakan hal itu, langsung membuat perasaan khawatir Ayi separuh terangkat.


Untung saja Dena membawa Jia bersamanya dan Ahsa di mobil lain. Mereka memang tidak ikut mampir seperti Ayi dan Yandra. Sepertinya putrinya itu akan baik-baik saja. Setidaknya, buah hati mereka itu lebih aman daripada tempat di mana mereka berada saat ini.


Hujan masih deras saat Ayi memainkan payungnya, terlihat gelisah. Sepertinya ia tidak bisa memungkiri bahwa ia memang khawatir terhadap anak semata wayangnya itu. Feeling seorang ibu itu sangatlah kuat.


  "Gimana kalau kamu telepon Dena," usul Ayi sesaat kemudian. Perkataan Yandra hanya bisa bertahan sebentar untuk rasa khawatir yang Ayi punya.


Tak lama setelah itu, Yandra memberitahunya keadaan Jia saat ini setelah menelpon Ahsa. Ia bahkan diperlihatkan sebuah foto putri mereka yang sedang tertidur di pelukan Dena.


Akhirnya, Ayi sudah bisa benar-benar merasa lega.


Ayi memandang ke arah langit yang sesekali menunjukkan kilatan yang kemudian disusul guntur. Ia kembali mengingat tempat yang baru saja ia datangi beberapa saat yang lalu. Tempat terakhir di mana sahabatnya beristirahat. Masih ada sedikit ketidakrelaan yang ia rasakan. Rasanya waktu begitu mengerikan saat berlalu.


  “Adanya cuman rasa vanilla,” beritahu Yandra, memberikan satu es krim pada Ayi yang masih memandang hujan. Ia tahu bahwa Ayi melamun.


  “Kamu masih tetap bisa menikmatinya tanpa harus takut mencair,” tambahnya lagi, mengingatkan Ayi pada ucapan pertamanya saat bersama Yandra dulu.


  “Kenapa?” Ayi bertanya lirih.


  “Karena hujan,” sahut Yandra yang sudah memakan es krimnya.

__ADS_1


“Maaf, aku—"


  “Kamu nggak perlu minta maaf, ini aku belinya nggak ngutang kok,” potong Yandra, kemudian tersenyum hangat. Ia paham sekali dengan apa yang Ayi maksud. Pasti istrinya itu ingin mengungkit kebersalahannya lalu kemudian merasa terpuruk. Ia tak ingin Ayi bersedih. Untuk itulah, Yandra berusaha menghiburnya.


  “Hmm. Lain kali kita coba makan es krim pas cuaca panas. Aku mau nyoba hal baru,” tutur Ayi mulai merasai es krim vanilla-nya yang sudah dibukakan Yandra.


Saat ini, mereka hendak menuju ke rumah orang tua Io. Setelah berkunjung ke makam Io, Ayi dan yang lainnya selalu mampir ke rumah keluarga sahabatnya itu.


  "Sampai kapan ya, hujan baru brenti," gumam Yandra sambil berusaha menghabiskan es krim miliknya dan sedikit menahan hawa dingin yang merayapi ujung-ujung jarinya.


  "Mungkin ... sampai kita ganti rasa es krimnya," sahut Ayi. Sol sepatunya ia injakkan pada genangan yang tercipta akibat dari air hujan yang mengalir di sana.


Karena ia tahu, bahwa es krim akan lebih cepat mencair ketika musim panas.


Setelah itu, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Ayi sedang menikmati hujan dan juga kenangan-kenangan yang ia miliki. Ia memang tidak bisa melupakannya, tapi juga tidak bisa terus mengingatnya.


Ia juga menatap dua gelang yang melingkari pergelangan tangan kirinya, gelang yang hanya ia pakai saat akan mengunjungi Io. Dua gelang yang berasal dari dua orang yang sangat berharga untuknya. Ia juga ingat bahwa setelah Io meninggal, semua barang-barang dari sahabatnya itu ia ambil. Ayi yang saat itu sangat sedih dan syok, benar-benar tidak bisa membiarkan siapa pun mengatakan bahwa Io sudah tida di depannya.


Ia akan sangat membenci orang tersebut.


"Kayaknya masih," jawab Yandra, lalu bertanya, "kenapa?"


"Nggak. Aku tiba-tiba ingat kalau kamu suka bunga Raflesia karena itu bunga pertama yang kamu lihat waktu kecil," jelas Ayi setelah mengingat kenangan abstrak tentang seorang Yandra.


Tidak ada jawaban kecuali suara deheman kecil dari Yandra.


"Mau tahu rahasia kecil?"


Ayi tidak tahu ingin melakukan apa lagi sambil menunggu hujan yang masih deras.


"Jika itu tidak membuatku terkejut." Yandra menangkap hal yang sedikit tidak bagus.


"Cinta pertamaku sebelum kamu." Ayi mengatakannya setengah tersenyum. Matanya terlihat jujur dan sangat serius. Udara dingin membuatnya tak bisa menahan keinginannya untuk menggoda Yandra.


Binar mata Yandra meredup. Pandangannya terlihat surut dari rasa senang yang sebelumnya ia rasakan. "Kamu yakin itu rahasia kecil?"


Ayi mengangguk dengan latar udara yang dipenuhi percikan air hujan dan suara guntur yang teredam. Tidak ada tanda rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.

__ADS_1


Ekspresi Yandra yang seperti itu membuatnya merasa menang. Ia lalu melanjutkan, "Seorang yang awalnya aku tidak tahu nama dan sosoknya."


Perasaan itu, entah kenapa membuat Yandra merasa was-was. Perasaan paling menakutkan setelah memiliki seseorang adalah kehilangannya.


Ayi kembali melanjutkan, "Tapi aku tau salah satu kebiasaannnya."


Yandra menatap genangan air di antara sepatunya dan Ayi yang ditetesi air dari atap. "Aku ...."


"Dia juga suka bunga Raflesia, tapi dia selalu memberiku bunga tulip."


"Maksud kamu ... dia ...." Yandra tidak bisa melanjutkan perkataannya.


"Aku jatuh cinta pada orang itu sebelum aku sadar aku menyukaimu, Bee." Senyum Ayi tercetak jelas di wajah lembabnya.


Yandra dengan cepat bangkit, bergerak saat ingin lebih dekat dengan Ayi.


"Kamu gak boleh cemburu, apa pun tentang dia kamu gak boleh cemburu," tutur Ayi menghentikan gerakan Yandra. Membuat laki-laki itu memiliki wajah antara malu dan dan gelisah.


"Aku ...." Yandra tersenyum, "Aku tidak tau kamu punya rahasia kecil yang membuatku malu. Kamu tau? Aku merasa marah."


Ayi merangkul pinggang Yandra. "Maaf, aku menduakanmu sebelum jatuh cinta padamu," ujar Ayi, dengan nada bergurau. Yandra tak bisa menahan tawanya.


Mereka masih menunggu hujan beberapa saat kemudian.


Dalam suasana seperti itu, Ayi menjadi teringat sesuatu yang ingin menanyakannya pada Yandra.


"Mungkin aku yang di sana akan patah hati," jawab Yandra saat Ayi menanyakan bagaimana jika surat yang selalu ia kirim itu sampai pada dirinya di masa lalu, dan mengubah takdir mereka.


  "Tapi aku tidak pernah berharap hal itu," beritahu Ayi.


Yandra merasa bahagia saat ia kembali menimpali dengan, "Padahal itu hanya misalnya, tapi kamu tetap ingin bersamaku? Begitu?"


Bahkan anggukan dari Ayi pun semakin menambah rasa yang bahagia yang tak bisa ia ungkapkan.


Untuk alasan inilah ia mencintainya.


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2