Just Because

Just Because
Just 37


__ADS_3

Karena tidak ada yang berubah, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


...•••...


Masih berbincang di sepanjang koridor setelah kembali dari acara pagi mereka tadi. Ayi dan Yandra, mereka berdua terlihat berbeda saat pertama kenal dulu, terlihat lebih dekat. Andai saja ada sebuah hubungan yang mengikatnya. Lebih dari sekedar hubungan romantis. Seandainya saja.


Keduanya yang masih tertawa, berhenti saat tiba di belokan dan mendapati seseorang yang mereka kenal.


  "Io?" tegur Ayi pada Io yang membelakanginya, ia terlihat seperti memegang kerah seorang perempuan yang tersembunyi dari penglihatan Ayi. Atau mungkin Ayi hanya salah lihat saja. Yang jelas itu memang Io.


  "Sheila?" Yandra yang berdiri di samping Ayi, ikut menegur saat melihat siapa orang yang bersama Io itu. Ia terlihat kaget ketika melihat Io baru saja menatapnya tajam, seakan ingin ******* Sheila. Belum lagi ia melihat cengkraman Io yang seolah mencekik wanita itu, yang baru saja ia lepaskan dengan enggan saat mereka berdua tiba.


Semua adegan itu terlihat jelas dari tempat Yandra berada daripada Ayi. Namun, bukan itu yang menjadi masalah, tapi adalah Io. Yandra belum pernah melihat Io dengan ekspresi seperti itu selama mereka kenal. Ada apa dengan Io?


Dengan ekspresi yang berubah dengan cepat, Io berbalik untuk menatap Ayi dan juga Yandra.


  "Hei, kalian dari mana aja. Gue tadi nyariin," ujar Io yang tersenyum lebar. Ia tiba-tiba saja merangkul dua orang yang baru tiba itu dan mengajak mereka beranjak dari sana. Meninggalkan Sheila dan juga Saras yang masih mematung. Sheila terlihat batuk dan memegangi lehernya.


  "Nyiram tanaman," jawab Yandra yang langkahnya sedikit terseret karena Io.


  "Loe sendiri ngapain sama mantan?" tanya Ayi tanpa bermaksud ingin tahu. Ia tidak terlalu suka dengan hal yang berhubungan dengan orang yang membencinya. Namun, sebelum Io menjawab, sepertinya ia tahu apa yang akan sahabatnya itu katakan. Seperti ....


  "Dia ngajakin gue balikan."


Benar seperti yang Ayi duga. Ia hanya membuat pertanyaannya sia-sia saja. Percuma ia bertanya jika sudah tahu jawabannya. Sangat tidak Ayi sekali.


Tanpa bermaksud melepaskan rangkulannya pada kedua orang itu, Io terus berjalan hampir seperti setengah menyeret mereka.


  "Dia nanyain Taylor Swift juga, nggak?" tanya Ayi lagi. Ia melepas rangkulan Io yang membuatnya kesulitan berjalan.


  "Yang itu jelas nggak, lah!" tegas Io sambil tertawa. Tawa yang benar-benar keluar dari hatinya. Bahkan sama halnya dengan Yandra yang masih berada bersama mereka.


Laki-laki yang sebelumnya merasa ada yang aneh, dengan cepat menyembunyikan sedikit perasaannya setelah melihat Io sekarang. Seperti Io yang ceria biasanya.


Karena tidak ada yang berubah, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, tetap saja itu mengganggu perasaan Yandra. Ia seolah merasa ada yang aneh. Kenapa Io bersikap kasar seperti tadi. Ayi mungkin tidak melihatnya karena terhalang bahu laki-laki tersebut. Meskipun itu mungkin hal yang sudah diketahui Ayi, tapi tetap saja itu mengganggunya. Tidak mungkin Io begitu 'kan? Sepertinya ia mulai berpikir yang tidak-tidak.


Saat mereka kembali ke kelas, Dena dan Ahsa sudah menunggunya. Mereka terlihat menikmati cemilan pagi. Ayi dan dua orang yang bersamanya, ikut bergabung di sana. Siap untuk memulai morningtalk.


Lengkap sudah lima jomblo itu di habitatnya.


Saat ini, Io dan Ayi yang sama-sama sudah putus. Yandra yang tak memiliki pengalaman soal cinta. Ahsa yang tak mempunyai hubungan yang jelas dan Dena yang ... entahlah apalagi istilah yang bisa menggambarkan tentang mereka.


  "Bunga?"


Io menoleh cepat saat Ayi mendapat kiriman bunga lagi. Ini adalah kali kelima bulan ini. Orang yang mengiriminya bunga tersebut tak pernah bosan. Apa tujuan sebenarnya?


  "Huh." Io merasa lelah. "Loe bikin sayembara aja di mading, Yi. Ngeri gue liatnya. Nih stalker kenapa nggak berani nunjukin mukanya. Maunya apa sih, heran gue!" seru Io merasa bosan saat Ayi yang lagi-lagi mendapat kiriman mingguannya.

__ADS_1


  "Loe cepat cemburu, Yo," tutur Ayi dengan nada mengejek.


  "Apaan? Yang ada gue malah curiga, kenapa dia ngasih loe bunga kesukaan gue? Bukankah ini penghinaan namanya." cerca Io lagi.


  "Gue juga curiga. Tapi, bukan karena itu." Ahsa menyela, "Jangan-jangan si pengirim ini suka sama Io lagi," tambah Ahsa membuat nada suaranya terdengar sedikit menakutkan. Ia yang duduk di atas meja, menatap satu persatu wajah keempat temannya.


  "Setuju!" Dena lah yang lebih dulu menjawab, "Kok gue nggak kepikiran ya?"Ia juga berpikir demikian.


Io protes, ia mengetok kepala kedua temannya yang berucap sembarangan itu. Sedangkan Ayi dan Yandra membaca tulisan di kertas kecil yang ada serta bersama dua tangkai bunga tulip itu. Jika biasanya hanya bertuliskan kalimat sapaan, maka kali ini sedikit berbeda.


"Taylor Swift?"


Ayi dan Yandra mengatakannya secara bersamaan. Keduanya jelas terlihat cukup terkejut. Namun di sisi lain, Io menelisik raut keduanya. Ia jelas sudah tahu sesuatu dari salah satu di antara keduanya.


Today was a fairytale.


  "Taylor Swift?" gumam Ayi lagi saat melihat tulisan yang sudah ia baca berkali-kali di dalam kepalanya.


  "Today was a fairytale," sambung Yandra saat tahu lagu tersebut, walau liriknya sedikit berubah. Jadi, itulah yang kali ini membuat tulisannya sedikit panjang dari biasanya?


"Kok dia tau sih gue suka nih lagu," gerutu Ayi, meluapkan perasaan kesal. Ia sama sekali tak menyangka bahwa orang tersebut juga tau lagu kesukaannya.


"Dasar pengecut!" seru Ayi yang sudah habis kesabaran. Entah kenapa kali ini ia benar-benar tak habis pikir. Mulai merasa terganggu. Biasanya Ayi tidak terlalu menanggapi lebih pada sesuatu seperti ini.


"Udah gue bilang bikin sayembara," timpal Io mengambil setangkai bunga tulip yang Ayi letakkan sembarang di mejanya. Ia memerhatikannya sembari melihat bekas petikan yang masih sedikit bergetah. Sepertinya baru dipetik.


"Pengecut, ya." Yandra bergumam pelan, ia mengingat kembali perkataan Ayi beberapa saat yang lalu.


"Kenapa nggak cek di CCTV aja sih?" Dena yang masih mengemil angkat bicara. Ia juga merasa ini bukan masalah sepele lagi.


"Bener. Ini lebih dari serius. Memang sejauh ini belum ada yang kehilangan atau dirugikan, tapi sedikit kurangnya, ini udah ngeganggu banget," ujar Ahsa ikut menanggapi.


Permasalahan biasa dengan reaksi yang luar biasa.


Jauh dari yang mereka harapkan. Walau awalnya hanya sekedar memberi bunga tanpa menunjukkan identitas. Namun, jika terus menerus seperti ini, tentu saja itu akan membuat seseorang Ayi khawatir.


"CCTV kelas kita udah rusak beberapa minggu yang lalu," tutur Io, membaca kembali catatan yang ada beserta dua tangkai bunga tulip . Sepertinya ia sedikit lebih berminat kali ini.


"Kamu tau darimana?" tanya Yandra merasa ada yang janggal. Kali ini semua mata menyorot Io untuk menunggu penjelasan. Ia merasa aneh. Sepertinya Io harus menyelidikinya.


"Penjaga perpus yang ngasih tau, walaupun masih terpasang di situ ..." Io menunjuk pada sebuah CCTV yang ada di salah satu sudut kelas, membuat semuanya menatap ke arah yang sama. "Tapi itu udah nggak berfungsi lagi," lanjutnya memerhatikan sekitar, agar tidak ada yang menguping pembicaraan mereka.


"Kok gue baru tau, ya," ujar Ahsa mengerutkan keningnya.


"Sengaja sama pihak sekolah nggak ngasih tau, biar semua orang ngira CCTV-nya masih nyala," jelas Io yang membuat semua mengangguk. Mereka baru mengetahui hal itu termasuk Ayi. Pihak sekolah juga mungkin lupa mengurusnya.


"Kenapa loe ngasih tau kita?" Kini Ayi yang bertanya.

__ADS_1


"Selain saling percaya, seorang teman juga tidak boleh menyembunyikan apa pun dari temannya 'kan?" ungkap Yandra yang membuat Ayi dan yang lainnya berubah dengan tatapan haru. Seolah tersentuh dengan perkataannya barusan.


"So sweet banget," ucap Ayi langsung mencubit pipi laki-laki berwajah manis itu.


"Terlalu jujur loe, Yan," ujar Ahsa memukul bahu Yandra pelan.


"Gue salut." Dena mengomentari.


"Hm, sebagai teman dan nggak boleh nyembunyiin apa pun, ya?" Io dengan pikirannya, tersenyum tipis sambil memerhatikan Yandra yang kini bergurau dan bercanda bersama Ayi dan yang lainnya. Pikirannya sibuk memikirkan sesuatu yang hanya ia yang tahu. Sedangkan Io lebih tahu hal selain itu dan masih berniat menyembunyikannya hingga suatu hari tiba.


***


Saat Yandra sibuk memerhatikan kakaknya yang tengah merawat dan memberi pupuk pada tanaman di belakang rumahnya, ia sibuk dengan pikirannya sendiri.


Apa yang ia lakukan selama ini salah? Saat sang kakak mendekat dan mengejutkannya, ia bereaksi berlebih dan sedikit terjungkal. Isi kepalanya menyedot habis segala kemungkinan buruk perihal apa yang ia lakukan selama ini.


Aydan yang menertawakan Yandra itu sama sekali tak ia gubris. Kakak yang menyebalkan.


"Kak," panggilnya pada kakaknya yang kini merapikan cangkul dan alat lainnya. Ia baru saja membuat sedikit lahan untuk tanaman baru. Mereka juga sempat membahas tentang rencana Yandra yang ingin menanam bunga Lavender beberapa saat lalu.


"Ya?" Aydan menoleh saat sang adik memanggil.


"Kalau suka sama seseorang terus nggak berani bilang itu pengecut, ya?" tanyanya memulai obrolan. Ia tak bisa memikirkan sendirian hal ini. Mungkin butuh sudut pandang orang lain untuk mencari jalan terbaik.


"Tergantung keadaan. Dia nggak berani bilang karena apa dulu? Nggak semua hal itu mudah untuk dilakuin." Sang kakak memberi masukan dan nasihat.


"Karena dia gak berani—"


"Pengecut!" potong Aydan cepat sebelum Yandra menghabiskan kalimatnya.


Yandra cukup kaget dengan respon cepat yang diberikan oleh sang kakak. "Loh? Aku kan belum selesai."


"Kalau sudah berani memutuskan, maka harus berani menanggung resiko," ujarnya terdengar kalem.


"Cinta itu bukan keputusan," sergah Yandra cepat. Ia seolah tak terima dengan kalimat yang dilontarkan kakaknya itu.


"Hm, jadi adikku satu-satunya ini lagi jatuh cinta, ya?" gumamnya dengan nada mengejek. Ia juga terkekeh geli dan meletakkan kembali perkakas berkebunnya yang sempat ia tenteng tadi. Duduk di samping adiknya yang terlihat gelagapan.


"Nggak kok, aku cuman ceritain tentang temanku." Yandra berkelit kemudian membuang muka ke arah lain.


"Yaudah. Tapi, secara pribadi sih mending suruh DIA ngungkapin. Ntar jiwa pengecutnya nular lagi sama seorang YANDRA," ujarnya dengan keras dan sengaja menyebutkan nama adiknya itu. Ia jelas-jelas tahu bahwa adiknya itu sedang berbohong dan sepertinya ia juga tahu siapa orang yang disukai Yandra.


"Iya, nanti aku suruh ia buat ngungkapin." Yandra akhirnya memutuskan.


Sepertinya ini sudah saatnya.


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2