Just Because

Just Because
Just 42


__ADS_3

Dunia yang sebenarnya.


...•••...


Ayi cemas.


Dena baru saja mengiriminya pesan agar segera menghentikan aksi romantis dan pergi dari minimarket tempat mereka berteduh.


Karena hujan masih belum berhenti, ia dan Yandra memutuskan untuk menerobosnya dengan berbagi payung untuk menuju mobil. Mobil Ahsa dan Dena sudah tidak ada.


"Jia gimana, ya." Ayi semakin cemas saat Yandra baru saja duduk di sebelahnya sambil mengibaskan payungnya dari sosial air hujan.


"Aman kok. Apalagi dia tidur kan tadi," sahut Yandra untuk menenangkan istrinya.


Ayi kembali bersuara, "Kalau gitu, kita bisa berangkat sekarang. Ayo!"


Sampai sekarang, Yandra tahu bagaimana kecemasan Ayi. Untuk itulah, ia segera melakukan mobilnya membelah tirai air hujan. Mereka perlahan menyusul Ahsa dan Dena menuju ke rumah Io.


Meskipun masih hujan, tapi guntur masih terdengar merajai langit. Ayi tiba-tiba teringat sesuatu dan segera bertanya," Kita pernah berantem gak, Bee?"


Yandra melirik, "Hm, kayaknya enggak. Kenapa?"


"Ah, enggak. Aku kadang mikir, kalau alasan kematian Io itu karena dia berantem sama ayahnya, terus kabur dari rumah sampai ... sampai ...." Ayi tidak bisa lagi melanjutkan perkataannya.


"Maaf," lirih Ayi.


Sebagai respon yang menenangkan, Yandra hanya menggenggam punggung tangan Ayi yang mencengkram celananya.


Karena kembali hening, Yandra menukas, "Kamu tau? Aku pernah cemburu sama Io, loh."


Senyum Ayi kembali muncul.


"Masa sih?" Kapan?


"Waktu aku berantem sama Io. Dia bilang aku harus nyatain perasaan ke kamu, tapi aku belum siap. Kamu tau dia bilang apa?"


Ayi menggeleng.


"Pengecut."


Ayi mengangguk. "Yah, Io gak salah. Karena kamu memang pengecut."


Yandra mencoba membela diri, "Tapi, tapi ... aku tidak lebih pengecut dari dia, apalagi semuanya ada di diary." Setelah mengatakannya, Yandra segera meminta maaf.

__ADS_1


"Kali ini kamu benar, Io memang pengecut." Suara Ayi sedikit tidak bertenaga.


Mereka kembali saling diam. Ayi menoleh ke jendela dan menggenggam balik telapak tangan Yandra yang hangat. Udara memang dingin, tapi tak sedingin kenangannya saat mengingat dengan jelas kematian Io. Di dunia bagaimana Io akan pergi. Saat itu ....


"Ini beneran lavender?" tanya Ayi tidak percaya


Yandra kembali menjawab, "Iya." untuk yang keempat kalinya.


Bunga Lavender yang Ayi dan Yandra tanam dulu, kini sudah tumbuh sesuai dengan harapan mereka. Semenjak mendapat bibit dari Aydan beberapa minggu lalu, Ayi dan Yandra mulai menanam dan merawatnya bersama.


Mulai dari mengelola tanah, membeli pot hingga menyiram. Bunga berwarna ungu itu terlihat indah pada dua pot hitam berukuran yang ada di antara beberapa tanaman Yandra terdahulu. Semua perawatan sesuai dengan instruksi yang diberikan Aydan


"Andai kita juga nanam bunga tulip," ujar Ayi, terlihat sedikit kesal saat menyiram bunganya di suatu pagi. Masih dengan penyiram bunga warna abu-abunya.


Yandra yang berada tepat di sampingnya segera menyahut, "Aku ada kok nanam bunga tulip." Cepat-cepat ia menutup mulutnya saat sadar dengan apa yang ia ucapkan. Yandra keceplosan.


"Kok aku gak tau?" Ayi bertanya menyelidik. Ia sendiri tidak tahu jika Yandra menanam bunga yang dimaksud. Karena bunga itu tidak pernah Ayi temukan di sekolah maupun di rumah Yandra.


Apa yang coba ia sembunyikan dari ekspresinya itu? Yandra terlihat sedikit mencurigakan baginya. Ayi mencoba menerka, jangan-jangan ... Yandra belum sarapan?


Masih dengan sedikit gelagapan, Yandra mencoba berpikir keras. Ia mencari satu alasan yang, entahlah, untuk ia apakan.


Dapat!


"Oh, gitu," gumam Ayi sambil mengangguk.


"Hmm, ngomong-ngomong, kamu mau ngapain sama bunga tulip?" tanya Yandra lagi. Walaupun Ayi seminggu sekali mendapat kiriman rutin, tapi ia sudah cukup banyak bunga tulip.


"Loe seolah menganggap si bunga tulip ini kayak orang aja, Ndra. Kayak orang yang lagi cemburu tau gak," seru ayi yang berhasil membuat Yandra tergagap. Ayi tahu betul dengan ekspresi ini. Yandra tersipu.


"Maksud aku bukan gitu. " Yandra hanya tertawa canggung, ia terlihat mengelus tengkuknya. Ayi juga suka memerhatikannya diam-diam. Ia tak bisa memungkiri yang terjadi dengannya selama ini.


"Iya, iya, gue tau kok. Gue cuman mau ngasih ke Ioe, Ndra. Io kan ultah Kalau tanaman sendiri, lebih puas aja daripada beli. Sesekali mau bikin tuh anak seneng," terang Ayi memberitahu rencananya. "Apa minta sama Kak Aydan aja ya?" gumamnya lagi. Otaknya sudah menyusun sebuah rencana.


"Tapi, setahuku bunganya udah mati, dia lupa nyiram," timpal Yandra. Ia seperti menghalangi saja. Terlihat jelas dari perkataanya itu.


"Hmm, kalau gitu yaudah deh." Ayi sedikit kecewa. Walaupun ia sudah menyiapkan kado untuk Io, tapi sepertinya Ayi ingin menambahnya lagi.


Mereka menghabiskan waktu istirahat kedua itu dengan berbincang di belakang sekolah tempat tanaman mereka berada. Obrolan yang hanya sekedar membahas lagu, lagu, dan lagu. Ayi juga sesekali menggoda Yandra yang selalu tersipu dan salah tingkah dibuatnya. Bahkan, seseorang yang tanpa sengaja memerhatikan tak membuat keduanya menyurutkan obrolan manis itu.


Apa ini saat yang tepat bagi Yandra untuk mengungkapkan perasaannya? Tapi, bukankah ia sudah memutuskan untuk mengatakannya saat ulang tahun Io? Bukankah akan sama saja hasilnya.


Lagi.

__ADS_1


Ayi mencubit pipi Yandra lagi saat laki-laki itu melamun. Akhir-akhir ini Yandra lebih sering termenung dan memikirkan tentang perasaanya itu.


Apakah diterima atau ditolak? Yandra masih belum tahu. Atau mungkin Ayi akan memperlakukannya sama seperti Dimas dulu? Dengan masa percobaan tiga bulan? Mencoba membuat seorang Ayi mencintainya, mungkin?


"Kamu kenapa suka nyubit pipi aku?" Yandra bertanya dengan sedikit cemberut, lalu kemudian tersenyum. Senyum yang berhasil membuat Ayi masih merasa tenang saat menyaksikannya. Menyukainya dengan sangat, hal yang terlalu indah untuk diabaikan.


Baiklah, mungkin itu terlalu berlebihan, tapi memang begitu adanya. Tatapan takjub dan penuh cintanya tak pernah absen saat ia menatap Yandra. Juga sebaliknya. Yandra juga merasakan hal yang serupa.


Sudah dipastikan bahwa mereka benar-benar dalam zona itu, dalam ranah perjatuhcintaan.


"Hmm, karena aku suka?" Jawaban Ayi yang malah menjadi pertanyaan. Yandra sedikit bingung karenanya. Perkataan Ayi tersebut juga terdengar ambigu. Suka apa yang ia maksud? Apakah Ayi menyukai pipi Yandra? Suka menggodanya seperti ini? Suka karena itu sudah menjadi kebiasaan? Atau kemungkinan terakhir, suka yang dimaksud adalah suka pada Yandra?


Mungkinkah?


Berbagai asumsi bermunculan. Namun, apa pun yang menjadi kemungkinan itu, Yandra mengharapkan kesemogaan padanya.


"Kamu suka sama aku, gitu?" Pertanyaan itu berhasil lolos tanpa hambatan dari bibir Yandra. Ia sudah yakin dengan apa yang diucapkan. Alur pembicaraan mereka kini berubah cepat ke arah lain. Tidak ada lagu lagi yang bisa dibahas. Ayi sudah terlalu sering membahas hal itu saat bersama Yandra. Untuk itulah mungkin mereka mencari bahan obrolan lain.


"Memangnya loe juga suka sama gue kalau gue suka sama loe?" tutur Ayi dengan segala apa yang ia rasakan. Ia sendiri sudah tahu sejak beberapa waktu lalu tentang apa yang ia rasakan pada Yandra selama ini. Namun, apakah laki-laki itu juga mempunyai hal yang sama sepertinya? Padanya? Apakah ia harus mengambil inisiatif lebih dulu?


Yandra tergugu dan terpaku dengan apa yang memenuhi indera pendengarannya saat ini. Seolah telinganya sedang membohonginya. Ia ingin menyangkalnya, namun itu benar. Apa yang harus ia lakukan?


Seandainya kata 'kalau' itu berubah menjadi 'karena,' maka tingkat bahagianya akan jauh melambungkannya.


Mata Yandra masih sama meski beberapa detik sudah berlalu, menatap Ayi tak percaya. Aura di sekitar mereka juga terasa berbeda dari beberapa saat yang lalu. Kali ini terasa lebih berat dan lebih berwarna secara bersamaan.


Mereka berdua sama-sama diam setelahnya.


Yandra yang terlalu canggung dan Ayi yang terlalu terbawa suasana.


"Sebenarnya ... a-aku juga iya."


"Hah?" Ayi terlihat kaget.


"Eh?" Yandra juga tak kalah kaget.


"Maksud loe apaan tadi?" Ayi kurang jelas mendengarnya.


"A-aku ...."


"Maksud gue, kapan kalian mau masuk ke kelas? Udah bel dari tadi woy!" Io yang tiba-tiba datang dan tidak tahu apa yang sedang terjadi, langsung berseru memutus momen berharga mereka. Hampir saja Yandra mengatakan perasannya tadi.


"Io?"

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2