
Setia bukanlah pilihan, tapi tindakan.
...•••...
Tak semua orang bisa setia. Bukan kerena itu sulit, tapi lebih karena ia memilih untuk tidak mau. Pada akhirnya, semua masihlah perihal pilihan. Dasar dari setia adalah kemauan. Menyimpulkannya dengan sifat tiap orang juga patut untuk dipertimbangkan, karena manusia tidak ada yang sama.
Setia kerap kali memenuhi ucapan banyak orang, tapi hanya sedikit yang memiliki nilai dalam tindakan. Mereka sama sekali tidak memiliki niat dan kemauan.
Memaksa juga bukan cara dan keputusan yang tepat. Pada akhirnya, ia terjebak keputusasaan.
Suara riuh rendah masih terdengar. Keputusan belum didapat, Ayi dan semua yang ada di rumah Dena masih belum menentukan apa yang akan dilakukan. Bukankah ini untuk silaturahmi sesama wanita?
Keputusan Laila jelas mereka tolak.
Sang pemilik rumah itu menatap temannya yang datang paling awal.
“Menurut loe, kita bagusnya ngapain, Yi?” Dena lagi bersuara, bertanya pada Ayi yang dari tadi hanya diam saja. Ayi terlihat senyam-senyum, ia yang asyik chatting dengan Yandra, menghentikan jarinya untuk mengetik.
Ayi melirik sekitar, sedikit kurangnya ia tahu apa yang sedang terjadi. Mereka belum menemukan hasil keputusan.
“Sesuai tema lah, ‘kan kita niatnya mau saling kenal dan tambah akrab,” tutur Ayi, mengeluarkan pendapatnya. “Ya nggak, Fiona?” lontarnya pada Fiona yang duduk di seberangnya.
Fiona mengangguk. “Iya,” sahutnya, membenarkan perkataan Ayi. gadis itu juga tahu bahwa waktu akan semakin sedikit jika mereka terlalu lama mengulur.
Bagaimanapun, usulan terakhir dari Laila masih tidak bisa mereka pertimbangkan.
“Iya, tapi apa?” ujar Dena, merasa putus asa. Sepertinya ia harus menambah air yang ada di gelasnya lagi.
Ayi mengembuskan napas pelan. “TOD, kita main Truth or Dare aja, gimana?” Ayi akhirnya mengusulkan. Ia juga berhenti membalas chat dari Yandra. Ayi sebenarnya sangat bersemangat sebelumnya. Mereka yang sedang membahas dan bermain sambung lirik lagu harus berhenti, mungkin akan berlanjut nanti malam. Mungkin saja.
“Semuanya setuju, nggak?” tanya Fiona mengetuai. Tidak ada sanggahan atau tolakan. Semua hanya manggut-manggut sebagai tanda setuju.
Dengan begitu, artinya sudah diputuskan apa yang akan mereka lakukan.
Lalu, dimulailah permainan Truth or Dare di antara mereka. Diawali dengan memilih satu orang sebagai pembukaan, interaksi sesama perempuan itu berawal.
Jangan harap orang itu Laila.
Permainan benar-benar dimulai saat satu orang sudah dipilih secara acak.
“Truth or dare?” Ayi bertanya lebih dulu pada Poppy yang sudah terpilih.
“Truth,” jawab Poppy cepat. Ia tidak ingin disuruh melakukan hal yang menurutnya akan memalukan.
“Nama pacar pertama?” tanya salah satu dari mereka. Setiap orang dari mereka hanya diberikan kesempatan menanyakan satu pertanyaan. Itu pun bagi mereka yang mau saja.
“Ruli,” sahut Poppy, masih sama cepatnya seperti sebelumnya. Semua terlihat sedikit tertegun dengan jawaban gadis berambut pendek itu. Semua yang ada mengira bahwa Poppy tidak pernah pacaran. Namun, ternyata mereka salah. Poppy juga menjawab pertanyaan sederhana lainnya. Sepertinya berjalan dengan baik.
“Truth or dare?” Poppy bertanya pada Dena yang menjadi target setelah ia tunjuk pada putaran kedua.
“Dare,” sahut Dena, sedikit malas. Ia seperti mempunyai banyak rahasia yang tak ingin diketahui orang.
“Tambahin air kita,” perintah Ayi, mendahului Saras yang ingin berucap. “Sekalian keluarin coklat yang loe punya,” sambung Ayi lagi. Saras mendengus tak suka. Sudah jelas apa yang menjadi alasan ketidaksukaan gadis itu pada Ayi.
Beberapa dari mereka juga memerintah Dena untuk meminta cemilan lebih. Dena pasrah saja. Untung saja ia mengamalkan istilah ‘tamu adalah raja’. Sifatnya yang kadang peduli dan kadang tidak, sedikit sulit untuk dimengerti. Namun, lain halnya bagi Ayi. Selama Dena bisa mengunyah dengan damai, itu artinya temannya itu sedang normal.
Setelah puas menyuruh-nyuruh Dena, kini giliran Dena menunjuk seseorang. Kali ini Ayi yang menjadi sasarannya. Dena tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya untuk mengerjai Ayi.
__ADS_1
Jejak bosan sudah sedikit nampak pada wajah Ayi. “Oke, gue pilih truth,” ujar Ayi, sebelum ditanya. Ia tidak peduli dengan pilihan apa yang ia pilih. Tidak banyak rahasia yang bisa ia simpan untuk dirinya sendiri.
Seseorang menyambar, “Gue sebagai temen loe sebenarnya masih ragu, loe sama Io nggak ada hubungan yang lebih dari sahabat, ‘kan?” Ia bertanya, mengungkapkan isi pikirannya. Iya atau pun tidak, jawaban Ayi tetap tidak akan mengubah perasaannya saat ini. Ia sendiri hanya belum menyadarinya saja. Mungkin sedikit terlambat.
“Setuju,” tambah Dena. Ia juga selalu mendapati Ayi dan Io sering bersama hampir setiap saat saat pertama mengenanya. Ternyata mereka masih meragukannya.
“Gue sama Io cuman sahabat, nggak lebih dan nggak kurang.” Ayi berucap yakin.
“Sekedar suka?” Saras bertanya remeh.
Ayi juga tersenyum remeh, ia tahu jika Saras menyukai Io.
“Kalau iya, kenapa? Dan kalau enggak juga kenapa? Kalau pacaran pun kita nggak bakal bilang ke kalian. Ada masalah?” Ayi menjawab dengan senyum miring. Entah mengapa, siapa pun itu, ia sangat tidak menyukai seseorang yang melarangnya untuk dekat dengan Io. Memangnya mereka siapa?
“Oke, udah gue rekam dan bakal gue kirim ke Io biar ka—“
“Coba saja,” tantang Ayi, merasa tak gentar. Saras menggertakan giginya.
“Kalian!” murka Dena dan Fiona bersamaan. Dua orang itu seolah melupakan apa tujuan mereka datang ke mari. Inilah salah satu sifat dari Ayi yang tak disukai Dena.
“Ingat niat awal kita, kalian jangan bikin yang lain nggak nyaman, dong,” seru Dena, menasihati kedua temannya itu.
Ayi bernapas pasrah. Sepertinya ia harus menjaga amarahnya. “Yaudah, gue minta maaf,” gumam Ayi. “Jawaban gue enggak. Gue nggak ada rasa sama Io. Loe tenang aja.” Suara Ayi tanpa emosi.
Saras tersenyum puas. “Oke.” Namun, tidak dengan perasaan.
Setelah selesai, Ayi memilih teman lainnya. Permainan masih berlanjut hingga semua mendapat giliran. Permainan dilakukan dua ronde.
“Truth,” ujar Saras saat mendapat giliran.
“Orang yang loe suka?” tanya Fiona lebih dulu. Ia penasaran saja dengan keberanian gadis itu.
Ayi sudah tidak kaget lagi dengan hal itu. Ia justru berharap agar semua ini segera berakhir. Ia masih ingin bermain sambung lirik dengan Yandra.
Permainan terus bergulir, kini Ayi lagi yang mendapat giliran. Ayi benar-benar bosan.
“Karena loe udah milih truth, sekarang loe cuman bisa milih dare,” cerca Laila yang hampir saja membuka bajunya saat menerima Dare dari Poppy. Semua yang ada di sana cepat menghentikan gadis itu.
Ayi menghela napas pasrah.
“Telpon seseorang dan katakan loe suka dia,” tantang Fiona. Beberapa terlihat berminat kali ini. Hanya sebagian dari mereka saja yang mengetahui hubungannya dengan Dimas.
Ayi menurut saja, ia hampir ingin menelpon Io yang ada di daftar pertama panggilannya. Namun, ia urungkan karena mengingat Dimas. Io memang selalu menjadi orang yang pertama ia panggil saat membutuhkan sesuatu. Ayi kadang lupa jika Dimas adalah pacarnya.
Ia akhirnya memilih nama Dimas, menunggu orang di seberang teleponnya mengangkat. Cukup lama ia menunggu.
Tidak ada jawaban.
Semua sudah terlihat menunggu. Ayi ingin menelpon Io, tapi ia teringat jika sahabatnya itu sedang bersama Sheila. Bisa-bisa mereka bertengkar lagi seperti kemarin. Akhirnya Ayi memutuskan untuk menelpon Yandra. Hanya itu pilihan yang ia punya.
Dan benar saja, baru beberapa saat Ayi menelpon, Yandra sudah menjawab.
“Halo,” sapa Ayi lebih dulu, memastikan jika itu adalah Yandra. Ia tidak ingin jika kakaknya yang mengangkat teleponnya. Juga tidak lupa memasang mode speaker agar teman-temanya percaya.
“Iya, kenapa, Yi?” Sebuah suara menyahut dan itu adalah Yandra. Ayi yakin.
“Gue suka sama loe,” ucap Ayi lantang, lalu buru-buru mematikan teleponnya tanpa mendengar respon Yandra.
__ADS_1
Dare sudah terpenuhi.
Tidak ada yang tahu siapa yang Ayi telepon barusan. Mereka yang tahu siapa pacar ayi, mengira itu adalah Dimas.
Sedangkan di ujung sana, Yandra terpaku dengan segala yang ia dengar.
***
Aneh rasanya jika Ayi dan Dimas tidak menghabiskan waktu bersama untuk saat-saat tertentu. Maka dari itulah, dua orang itu memutuskan untuk jalan-jalan selama masa pacaran tidak sah itu.
“Ke mana lagi, nih?” tanya Ayi pada Dimas yang berjalan bersamanya. Mereka pacaran, tapi tidak bergandeng tangan layaknya sepasang kekasih. Dan ini adalah kencan ketiganya selama berpacaran. Hubungan mereka masih cinta sepihak untuk saat ini atau mungkin selamanya.
“Aku ngikut aja,” pungkas Dimas. Selama berpacaran dengan Ayi, ia tidak pernah memaksakan apa yang ingin ia lakukan pada Ayi jika gadisnya itu menolak. Ia merasa semua berjaan baik jika Ayi sedang bersamanya.
Hal ini jugalah yang sangat dikhawatirkan oleh Yandra.
Ayi memikirkan sebuah lelucon. “Yaudah, kita ke jenjang selanjutnya,” canda Ayi, kemudian tertawa girang. Dimas terlihat terpaku dalam diam.
“Yi,” panggilnya. Ia tahu jika Ayi hanya menggodanya.
Ayi merasa bahwa ia salah. “Iya, eh maaf tadi gu–aku becanda.”
“Nggak pa-pa, tapi .... “ Dimas menghentikan ucapannya.
“Tapi?” Ayi bertanya lebih lanjut.
“Kalau misal udah tiga bulan, kamu ngak ada rasa ke aku, gimana?” tanya Dimas, terdengar sedih dan menyiratkan sebuah harap.
“Ya .... “ Ayi mengelus tengkuknya. “Maunya gimana?” Ia balik bertanya.
“Kita ambil kemungkinan buruk dulu, misal nggak, ya ... aku nggak mau maksa kamu,” ungkap Dimas tulus. “Itu karena aku nggak bisa buat kamu seperti kemauanku,” tambahnya lagi.
“Loe baik,” sahut Ayi, tersenyum lebar. Dimas membalas senyuman itu.
Mereka kembali menuju tempat selanjutnya. Menghabiskan waktu bersama sebagai sepasang kekasih dengan cinta sepihak. Karena di luar pengetahuaannya, Ayi sudah menupuk rasa untuk seseorang.
Jika ditanya apakah Ayi sudah mencintai Dimas, maka jawabannya belum. Ini adalah jawaban dari hati terdalamnya.
Setelah diantar pulang oleh Dimas, Ayi langsung bergegas masuk ke kamarnya, lalu mandi. Baru saja ia keluar, dua tangkai bunga ia temukan di atas meja belajarnya.
“Ma, Mama!” teriak Ayi memanggil mamanya. Ia bahkan belum menemui mamanya saat pulang tadi.
“Kamu baru pulang?” tanya mamanya dari arah dapur. Ayi keluar dari kamarnya dengan membawa bunga tadi.
“Ini kok, bisa ada di kamar Ayi?” Ayi bertanya heran.
“Nggak tau, tadi mama liat ada di pintu depan,” jelas mamanya. “Tapi ada nama kamu di situ, jadi mama taruh di kamar,” tambahnya lagi.
Ayi mengamati bunga tersebut lebih rinci. Ia membaliknya dan mendapati sebuah tulisan pada kertas yang melilit dua tangkai bunga tersebut.
‘Terima kasih, Ayla Ink.’
Begitulah yang tertulis di sana. Tidak ada nama dari pengirim. Bunga tersebut juga sepertinya baru saja dipetik. Ayi mulai menebak si pengirim.
Io?
Sangat mustahil dan tidak mungkin.
__ADS_1
Pasti Dimas, batinnya sangat yakin.
To be Continued