Just Because

Just Because
Just 35


__ADS_3

Selain misterius, ternyata takdir itu juga mengerikan.


...•••...


Ahsa dan Dena terus mengobrol mengenai sahabat mereka hingga hujan mulai mereda.


  "Menurutku loe sendiri gimana?" tanya Dena. Saat ia ingin menyeruput minumannya lagi, air di dalam mug tersebut sudah tandas dan hanya menyisakan ampas berwarna cokelat.


Ahsa tidak mengerti. "Apanya?" Ia bertanya pada Dena yang meletakkan kembali mugnya dan kembali membuat hanya kepalanya saja yang menyembul dari selimutnya.


  "Tentang Io," pungkas Dena sedikit kesal. Mereka berdua sejak tadi membahas temannya itu, tapi respon Ahsa dengan wajah bingungnya seolah seperti mereka baru saja mengobrol.


  "Oh. Menurutku gue, ya ... gitu." Ahsa memberikan jawaban yang membuat Dena semakin kesal.


Dena mendesak, "Gitu gimana?" Sepupunya itu jelas terlihat marah. Mungkin pengaruh dari masa merahnya saat itulah yang membuatnya sedikit sensitif.


Ahsa bisa membaca situasi itu dan segera menjawab, "Sebagai laki-laki dan sebagai orang yang selalu bareng dia, menurutku gue nggak. Io kayak nggak minat atau serius kalau pacaran atau suka sama seseorang."


Begitulah percakapan di antara kedua berakhir.


Ahsa meraih lagi obeng yang tadi ia letakkan. Di luar sana hujan sudah reda, sepertinya ia sudah bisa pulang.


Rumah mereka tidak terlalu jauh. Selain bersepupu, mereka berdua juga teman yang cukup dekat, seperti halnya dengan Ayi dan Io. Mereka bertemu dua sahabat itu semenjak SMP. Dulu, Ayi dan Io itu sangat labil. Sering bertengkar tak jelas. Namun, mereka tidak pernah terlihat sendiri-sendiri, selalu saja bersama. Unik dan beruntungnya juga, mereka selalu di kelas yang sama.


Selain misterius, ternyata takdir itu juga mengerikan.


Di tempat lain di waktu yang sama. Hujan juga sudah reda beberapa saat yang lalu. Ayi terlihat memutar-mutar payungnya, membuat air yang masih menempel pada benda tersebut terpercik sembarangan, bahkan sempat mengenai dua orang laki-laki yang ada di sampingnya.


  “Besok,” ucap Ayi dan Yandra bersamaan. Mereka kemudian terkekeh saat menyadarinya.


  “Ada apa dengan besok?” tanya Io yang masih berperan sebagai orang ketiga di antara mereka. Ia baru saja datang dari membuang sampah plastik es krimnya tadi. Terlalu tauladan.


Ayi menjelaskan padanya secara singkat dan tidak jelas, karena Io tidak mengerti.


  “Loe duluan,” suruh Ayi kemudian pada Yandra.


  “Nggak. Kamu aja yang duluan.” Yandra menyuruh balik setelah menolak.


  “Gue ngalah biar keliatan feminim, jadi loe yang duluan.” Ayi lagi-lagi menyuruh. Ia sama bersikerasnya dengan Yandra.


  “Lady first,” ujar Yandra membalas kembali dengan istilah yang ia rasa Ayi tak bisa membantahnya. Yandra juga bahkan sama keras kepalanya seperti Ayi. Cocok.

__ADS_1


  “Kalau gitu, kita bikin istilah baru, namanya boy first.” Dengan mudahnya Ayi berpendapat dan mengusulkan.


Yandra terkekeh dan membalas, “Kamu.”


  “Loe,” sahut Ayi tak bergeming.


  “Kamu.”


  “Loe.”


Mereka terus saja seperti itu, tidak ada yang mau mengalah. Io yang mendengarnya merasa jengah. Rasanya ingin mengguyur mereka berdua dengan seember air.


  “Yaudah, gue aja yang ngomong duluan, ribet!” seru Io ikut menyela, ia makin greget saat kedua orang yang ada di depannya itu tak kunjung berujar.


Dengan kerasnya suara yang Io buat, membuat Yandra dan Ayi menoleh padanya.


  “Gue ...," kata Io, "mau pipis." Io yang dengan wajah lempengnya kemudian berlari mencari toilet umum, meninggalkan Ayi dan Yandra yang menatapnya bengong.


  "Io tadi ngapain?" Ayi seketika lupa dengan apa yang ingin ia katakan sebelumnya setelah melihat Io yang berlari dengan membuat banyak genangan air berkecipak.


  "Seperti yang dia bilang." Yandra menjawab, "kencing."


Keduanya kembali saling tatap. Yandra melirik pada payung yang masih Ayi mainkan dalam genggamannya.


Karena suatu dorongan, Yandra memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket yang ia kenakan. Selain untuk meredam rasa dingin, ia juga berusaha menyembunyikan kegugupannya.


Setelah hujan, udara di sekitar mereka terasa lebih lembab dan dingin, meskipun tidak ada angin.


  “Oke,” sahut Ayi, lalu mengangguk. “Gue tunggu jemputan loe,” tambahnya lagi. Inilah besok yang Ayi maksud saat ia mengatakannya bersamaan dengan Yandra tadi. Dengan kata lain, Ayi menyuruh laki-laki itu untuk menjemputnya besok.


Yandra tidak tahu harus menanggapinya dengan apa selain menyerukan kegirangannya yang tak bisa lagi ditahan. Rasa senang yang tak bisa ia pendam.


Semenjak mengenal Ayi, ia tak pernah pergi bersama dengan gadis itu ke sekolah, karena selalu Io yang bersamanya.


  “Makasih,” gumam Yandra, tak bisa memudarkan senyumnya karena senang. Ia tak menyangka akan bertambah sedekat ini dengan Ayi. Apalagi harus menjemput dan pergi sekolah bersama. Rasanya hal itu sangat menyenangkan jika segera terjadi.


  “Gue suka.”


  “Eh?” Yandra menoleh cepat saat Ayi bersuara. Mereka masih menunggu Io.


  “Gelangnya. Gue suka gelangnya,” ujar Ayi nyengir seraya menunjukkan gelang yang ia pakai. Gelang pemberian Yandra itu melingkar manis di pergelangan tangannya.

__ADS_1


  “Iya. Aku juga suka.”


Hari itu juga akhirnya Ayi menyadari sesuatu terjadi pada dirinya. Ia masih belum menyadari bahwa apa yang ia katakan itu adalah perasaannya yang sebenarnya


***


  Baru saja Io tiba, keluarganya sudah terlihat berpakaian rapi dan sedikit formal. Mereka seperti hendak pergi ke luar. Dari gelagat ayahnya, Io sudah tahu bahwa mereka akan mengajaknya juga. Untuk itulah, saat ia datang tadi, adiknya, Arta, langsung menghampiri dan menyuruhnya untuk bersiap-siap. Mungkin mereka sudah menunggunya dari tadi.


  “Malam ini kita makan malam di luar,” ujar ayahnya yang membukakan pintu tadi. Terdengar cukup ramah sebagai sapaan pembuka. Ia terlihat sudah mengenakan kemejanya. Di sisi lain, Arta dan ibunya juga memakai pakaian yang senada.


Keluarga yang bahagia.


Io tidak tahu apakah jika ia juga ikut bergabung di sana, akankah keluarganya itu tetap bahagia. Atau, apakah selama ini ia pernah bahagia.


Pikiran itu ia tangkis. Ia tidak ingin membuat dirinya sendiri terkesan menyedihkan di mata siapa pun.


Io menatap ibu tirinya. Ia sangat sensitif bila membahas tentang hubungan dirinya dan orang yang menempati posisi mamanya saat ini. Bukan tak menyukai, ia hanya tak ingin jika harus membandingkan wanita tersebut dengan mamanya. Ia memang sudah bisa menerima kehadirannya di lingkungan hidupnya, di dalam rumahnya sendiri. Namun, jika harus memanggilnya ‘mama’, masih membuatnya tak nyaman.


Dengan tak ingin berdebat dengan ayahnya, Io menyetujui saja ajakan sang ayah. Karena tidak selamanya mereka akan seperti itu terus. Lagipula mereka masih seorang anak dan seorang ayah. Bertengkar itu boleh, tapi terlalu sering itu yang jangan.


Io tak ingin mengganti bajunya. Ia sudah merasa cukup hanya dengan memakai kemeja kotak-kotak dan jaket yang ia kenakan sejak tadi sore.


Mobil yang mereka gunakan masih belum beranjak saat semuanya sudah siap. Arta dan Io duduk di kursi belakang. Ayahnya yang menyetir. Namun ....


  “Umm, Papa lupa kuncinya,”  ujar ayahnya tersenyum kikuk. Ia kemudian melepas seatbelt yang sudah ia kenakan.


  “Biar aku aja,” tawar Io yang sudah membuka pintu mobil. “Ada yang mau aku ambil juga,” tambahnya lagi. Ketiga orang yang masih di dalam mobil itu menyaksikan punggung Io yang sudah menjauh, meyakinkan diri mereka sendiri bahwa Io tak mungkin kabur dari ajakan mereka.


Berjalan menuju ruang tamu, di sana Io bisa menemukan kunci mobil yang dimaksud dan sebuah dompet. Ah, sepertinya ayahnya juga melupakan dompetnya. Tanpa membuat keluarganya menunggu, Io mengambilnya. Namun, ia tanpa sengaja membuat dompet sang ayah terbuka.


Ia kaget saat menemukan foto mamanya yang terselip di sana. Wajah orang yang sangat ia rindukan itu tersenyum lebar. Untuk sejenak, Io mengingat kembali sosok mamanya itu. Sampai sekarang, ia masih merindukannya.


Saat asyik melihat foto tersebut, Io sedikit dikagetkan pada foto kecil yang juga terselip di sana, tepat di belakang foto tadi. Foto seorang wanita yang terbaring dan sepertinya ia sakit. Lalu siapa dia? Apakah itu ibu tirinya. Io mengambilnya dan memperjelas wajahnya.


Dan berapa kagetnya ia saat menyadari bahwa itu adalah mamanya sendiri. Apa maksudnya? Kenapa ayahnya menyimpan foto mamanya yang sedang sakit? Dan kapan itu? Apa itu saat Io masih kecil? Atau mungkin foto itu adalah salah satu kenangan yang tak bisa ayahnya lupakan?


Itu sedikit mengganggunya karena dari yang ia ingat, mamanya tak pernah masuk rumah sakit. Rasa penasaran itu juga yang membuatnya ingin mencari tahu.


Entahlah, hanya saja Io merasa terharu saat tahu ternyata ayahnya masih mengingat mamanya. Sudah cukup baginya dengan itu.


Memikirkan banyak hal hanya akan membuat waktu cepat berlalu, Io bergegas keluar dan menghampiri keluarganya yang sudah menunggu.

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2