
Hujan bukan hanya menciptakan kenangan, tetapi juga genangan.
...•••...
Tiada hal yang lebih menyenangkan ketika apa yang kit inginkan, sedikit lebih cepat untuk terkabul. Seperti halnya yang sedang Yandra rasakan saat ini.
Sahabat dari Io itu mengiriminya sebuah pesan, mengajaknya untuk bertemu. Seorang Ayi.
Meskipun saat Ayi dan Dimas berpacaran, tapi gadis itu bebas ingin pergi dengan siapa saja yang ia suka. Ia tidak suka jika dilarang melakukan apa yang ia kehendaki, dan tak luput Yandralah yang menjadi orang yang lsering ia ajak setelah Io.
Memangnya Io ke mana, ya? batin Yandra saat membalas pesan Ayi yang mengatakan hanya akan mengajaknya seorang.
Ya, walaupun akhir-akhir ini mereka sering keluar bersama. Namun, tak sesering dengan Io. Ayi akhir-akhir ini lebih sering mengajak Yandra. Apa jangan-jangan ....
Sebelum pergi, Yandra mengambil kembali gelang yang ia letakkan di kasurnya tadi, memasukkan ke dalam saku jaket. Ia memutuskan untuk memberikannya pada Ayi hari ini juga selain ingin menanyakan perihal hubungannya dengan Dimas. Terlebih, ia jelas mengharapkan sesuatu darinya.
Pada awal mereka pacaran, Yandra sering menahan ekspresi dan perasaannya. Namun, ketika ia sadar bahwa Ayi juga tidak mengabakan kedekatannya, Yandra merasa sedikit lebih baik, terlebih saat ia tahu bahwa Ayi tidak—dalam artian— benar-benar menyukai Dimas.
Pikiran panjangnya itu berakhir saat Yandra akhirnya tiba di tempat yang mana, Ayi terliat sudah menunggunya
“Karena gue yang nungguin, loe yang traktir,” ujar seorang gadis pada Yandra yang baru saja tiba. Ternyata ialah yang sedang ditunggu.
Ini yang ngajak siapa? Yang traktir siapa? Namun, seorang Yandra tidak akan bisa mengumpat seperti itu.
Saat ini, gadis itu tengah berdiri di bawah pohon yang ada di pinggir taman sambil memegang sebuah paper bag. Saat Yandra tiba, barulah ia duduk.
“Kamu mau es krim?” tanya Yandra yang terkekeh pelan. Garis bibirnya membelah menjadi senyuman.
“Iya, tapi nanti. Kita nunggu hujan dulu,” ujar Ayi, seraya menatap awan yang sedikit menggelap. Ia kemudian menyorot wajah Yandra yang tak akan bisa mengikuti arah pandangan gadis itu.
“Hm, kayaknya gue nggak suka sama Dimas deh, Ndra,” gumam Ayi, sembari menepuk-nepuk pelan pahanya sendiri.
Yandra sudah menduga hal seperti ini akan terjadi mengingat apa yang disampaikan oleh Io di hari sebelumnya. Ia berpikir reaksi pa yang seharusnya ditunjukkan untuk menanggapi.
Melihat dan mendengarnya, membuat Yandra gatal ingin menunjukkan kesenangan yang ia rasakan. Terpendam sangat luar biasa. Ia seolah tidak bisa mencegah tangannya sendiri yang mengepal di samping tubuhnya, dan masih di luar jangkauan sudut penglihatan Ayi.
Ternyata lebih cepat dari yang ia duga. Ia tidak tahu jika dengan seorang Ayi, basa-basi adalah topik utama.
“Hm?” Yandra menyahut dan menoleh cepat ke arah gadis yang ia sukai itu. Masih dengan bara rasa senang yang ia sembunyikan, berkobar tanpa ingin dipadamkan.
__ADS_1
“Maksud kamu ...."
“Iya. Gue sama Dimas udahan dua hari yang lalu,” jelas Ayi, menatap langit lagi sambil mengayun-ayunkan kakinya. Ia tersenyum, sama sekali bukan jenis ekspresi orang yang sedang putus cinta. Lagi pula ia memang tidak cinta dari awal pada Dimas, dan Ayi akhirnya memang sudah memutuskannya.
Meskipun ia sedikit lebih awal sudah tahu hal itu dari Io, tapi tetap saja perasaan senangnya kembali muncul begitu saja.
“Nih, buat kamu,” ujar Yandra, tiba-tiba memberikan sebuah gelang dengan mainan merpati kecil, ia langsung meletakkannya di telapak tangan Ayi.
Ayi menatapnya, terlihat sedikit berpikir dengan ekspresi bingung yang kemudian berubah setelah senyumnnya muncul menyusul.
“Dulu pas kalian jadian, kamu minta hadiah. Jadi, pas kalian putus, aku juga ngasih hadiah, biar adil.” Yandra tersenyum tulus. Ini adalah berita paling bahagia baginya hari ini.
Ayi tertawa, ia bahkan terpingkal.
“Gue nggak nyangka loh. Loe ternyata lebih lucu dari yang gue kira, Ndra. Loe unik, gue suka,” ujar Ayi saat tawanya sedikit mereda.
Tak jauh dari tempat mereka, seorang terlihat memesan es krim.
“Maaf,” lirih Yandra seperti biasa. Kata yang selalu ia ucapkan itu seolah sudah mendarah daging saja. Entah dia merasa salah ataupun hal lainnya.
“Jangan sering-sering minta maaf, gue nggak suka,” tutur Ayi yang membuat Yandra mendongak kemudian mengangguk. “Dan ... makasih buat gelangnya, gue suka,” lanjutnya lagi sembari memakainya di pergelangan tangan kiri, berdampingan dengan gelang persahabatannya dengan Io.
“Ini nih yang gue suka dari loe, Ndra. Karena loe lebih mikirin Io daripada perasaan Dimas. Orang normal pasti nanya gimana perasaan Dimas setelah gue tolak. Tapi, loe beda. Maksud gue bukan berarti loe nggak normal.” Ayi terkekeh kemudian duduk bersila. Sepatunya masih ia kenakan.
“Emm, makasih, Yi.” Yandra terlihat menunduk dan memerah saat mendengar ucapan Ayi tersebut. “Tapi ... perasaan kamu sendiri gimana?” Pertanyaan Yandra kali ini membuat Ayi makin tertawa geli. Bukan seperti respon yang Yandra kira. Hari ini gadis itu lebih sering tertawa, sangat bertolak belakang dengan ia yang baru putus cinta. Atau apakah Yandra yang salah bertanya?
“Kali ini gue makin suka sama loe, Ndra. Ternyata loe lebih meduliin perasaan gue daripada Io,” tutur Ayi sambil terkekeh. “Gue kira gue bakal sedih karena nggak bisa balik cinta sama orang yang cinta sama gue, tapi ternyata gue malah bisa ketawa gini karena loe,” ujar Ayi terlihat senang dan menepuk-nepuk kakinya.
“Kalau nggak suka jangan dipaksa, nggak baik,” sahut Yandra, memperbaiki rambutnya yang diterpa angin. Cuaca sudah sedikit mendung.
“Dan ini juga kesekian kalinya kamu bilang ... suka,” gumam Yandra pelan. Sampai sekarang, ia tidak pernah menanyakan perihal Ayi yang mengatakan kata suka pertamanya lewat telepon dulu. Ayi merasa jika yang ia rasakan selama ini benar adanya saat melihat gelagat Yandra. Terutama saat ini. Apakah?
“Eh, yang pertama kapan?” Ayi terlihat antusias. Ia terlihat seolah berpikir keras, mencoba mengingat lagi.
“Yang di telepon waktu itu. Em maaf, bukannya aku ge-er atau apa. Cuman jangan sering bilang suka ke orang asing. Kalau mereka baper gimana?” tutur Yandra menasihati. Ya, walaupun Ayi tak pernah mengatakan hal itu pada orang lain selain ia dan Io.
“Ya ampun.” Ayi menepuk dahinya. “Gue hampir lupa loh kalau loe nggak bilang sekarang." Ayi mulai menjelaskan, "Jadi, waktu itu gue sama Dena dan yang lain lagi main TOD. Gue ditantang nelpon orang dan bilang suka, terus gue nelpon loe deh.” Ayi merasa bersalah karena ia ternyata benar-benar melupakan hal tersebut. Ia sendiri juga lupa menjelaskan pada Yandra saat di sekolah setelahnya.
“Eh gitu. Maaf, aku udah salah sangka,” imbuh Yandra kelepasan. Ia hanya refleks mengatakannya.
__ADS_1
“Lah, kok loe yang minta maaf, sih? Salah sangka gimana? Loe baper gitu? Loe suka sama gue? Hmm? Hm? Hm? Hm~” Ayi menyerang laki-laki di sampingnya dengan runtutan pertanyaan. Ia memasang senyum jahil dengan alisnya yang naik turun. Jauh di dalam hati, ia justru merasa ada yang bergetar. Aneh dan lumayan ... nyaman.
“Eng-enggak kok, ma-maksud aku minta maaf i-itu karena udah buat kamu lupa,” jelas Yandra mulai berkeringat dingin. Kali ini ia gugup dan benar-benar tak bisa menghindarinya.
“Terus, kenapa wajah loe merah sama keringatan gitu?”
“Ka-karena panas. Iya, karena panas,” jawab Yandra tersenyum kikuk lalu mengibas-ngibaskan tangannya berlagak kepanasan.
“Haha, loe lucu. Gue kadang mikir mikir loe beneran suka sama gue, Ndra.” Lagi-lagi Ayi mencubit pipi Yandra.
“Maaf kalau aku beneran suka,” gumam Yandra yang entah sengaja atau tidak. Ia selalu saja meminta maaf. Sedetik kemudian, ia melotot.
“Tuh, kan!”
“Eng-engak, maksud aku bukan gitu,” kelitnya menggeleng kuat.
“Terus wajah loe itu kenapa?” Ayi menggoda Yandra yang terlihat tak tenang.
“Ini masih panas.”
“Terus, itu apa?” Ayi menunjuk ke arah langit, di mana awan terlihat makin menggelap. Bahkan, matahari pun sudah tak terlihat.
Mendung.
“I-itu awan.” Yandra menjawab pasrah. Ia tahu pasti Ayi sudah tahu dan sengaja mengerjainya. Kali ini apakah perasaannya ketahuan? “Tapi aku beneran ngerasa panas,” lanjutnya lagi.
Rintik gerimis pertama jatuh, tepat pada lengannya, membuat alasan Yandra makin lemah. Ayi tersenyum puas.
"Ini apa?" Ayi masih menyerangnya agar mengatakan bahwa laki-laki itu salah.
"Itu air." Yandra menyadari bahwa ia jelas terdengar konyol.
“Terus, itu siapa?” Ayi menunjuk ke arah seorang yang sudah berdiri di belakang Yandra. Seorang sama yang tadi memesan es krim.
Yandra menoleh dan terlihat kaget.
“I-Io?”
To be Continued
__ADS_1