Just Because

Just Because
Just 26


__ADS_3

Gravitasi adalah salah satu alasanku jatuh cinta.


...•••...


Sepanjang Yandra menikmati makanannya, ia terus memikirkan perihal bunga yang Ayi dapatkan tadi pagi. Apakah gadis itu menyukainya atau tidak adalah pusat kegelisahannya saat ini. Merasa jika itu adalah hal yang harus ia khawatirkan. Selain itu, Yandra juga ingin memastikan tentang kenapa Ayi mengatakan tentang hal ‘itu’ kemarin.


Setelah makan di kantin yang akhirnya mereka bayar masing-masing, Ayi dan empat temannya menuju pintu utama sekolah, ingin pulang.


Hujan masih belum reda, walau tidak terlalu deras. Ayi terlihat mengambil bunga tulipnya, lalu membungkus dan memasukkannya ke dalam tas miliknya, seolah itu adalah sesuatu yang berharga. Dari caranya memperlakukannya, Ayi jelas menyukai bunga itu.


Setelah mengingatkan dirinya sendiri untuk mengambil payung, Ayi yang sejak tadi ia perhatikan,  juga mengambil payungnya sendiri.


Di sisi lain, Io terlihat membuang sesuatu ke dalam tong sampah, ia sengaja melakukannya karena kurang kerjaan. Sedangkan Yandra juga terlihat menyembunyikan payung lipatnya ke sisi terdalam lokernya dan menimbunnya dengan beberapa buku yang ia baca akhir-akhir ini.


Tidak ada yang melihatnya apa yang mereka berdua lakukan. Ada apa dengan mereka?


  “Jemputan loe belum datang?” tanya Ayi pada Yandra yang saat ini sudah dalam mode menunggu. Ia sama seperti beberapa orang lainnya yang masih berdiam di depan koridor, menunggu hujan reda sepenuhnya.


Ahsa dan Dena baru saja beranjak. Mereka berdua berboncengan memakai motor Ahsa dan juga mengenakan jas hujan. Setelah sebelumnya bertengkar siapa yang membonceng, keduanya akhirnya pulang.


  “Eh, iya. Kak Aydan mau jemput tadi, tapi aku batalin,” ujar Yandra mengelus tengkuknya. Io yang berdiri di dekat mereka terlihat kedinginan.


  “Kok?” Ayi terlihat bingung, ternyata dia masih belum menyadari sesuatu.


  “Tadi katanya mau ngajakin pulang bareng,” gumam Yandra mengingatkan. Sedikit kekecewaan mekar di wajahnya saat Ayi melupakan janji yang ia buat sebelumnya.


Gadis itu akhirnya menyadari sesuatu.  “Astaga! Gue lupa,” ujar Ayi menepuk dahinya.


  “Astaga, aku suka.” Yandra mengikuti gerakan dan ucapan Ayi. Namun, sepertinya ia salah bicara.


  “Hah?” Ayi terlihat kaget.


  “Eh?” Yandra tidak tahu bahwa kebiasaannya yang selalu mengikuti dn membalas perkataan orang lain akan membuatnya mengatakan hal itu secara spontan. Itu benar-benar di luar kendalinya.


  “Apaan tadi?” tanya Ayi lagi. Sepertinya ia samar-samar mendengar sesuatu yang tidak biasa. Namun, jelas wajahnya menyimpan rona bahagia yang tak bisa disembunyikan di balik senyum tipisnya.


Yandra tidak punya alasan yang tepat untuk menjelaskan. “Eng–enggak kok. Lupain aja,” sahutnya, kikuk. Ia merutuki dirinya sendiri yang keceplosan.


  “Payung gue ilang,” ujar Io sembari melihat sekitar, mencari sesuatu dan terlihat tak berminat dengan percakapan kecil antara Ayi dan juga Yandra.


Orang-orang yang semula berkerumun, kini sudah pergi satu-persatu menembus hujan. Sangat jelas bahwa mereka tidak ingin berlama-lama menunggu sesuatu yang tidak pasti. Mungkin karena itu jugalah Yandra merasa sedikit lebih sepi.


  “Aku tadi pagi juga nggak bawa payung.” Yandra menimpali Io.

__ADS_1


Ia dan Io yang saling tatap sebelum kemudian mengalihkan pandangan mereka ke arah Ayi yang sudah membuka payungnya. Yandra tidak menyangka bahwa Io juga sama sepertinya. Namun, ia sudah merencanakan ini sejak pagi. Entahlah dengan Io. Sepanjang pagi, ia berdoa agar hujan tidak reda supaya ia bisa—


  “Apaan?” tanya Ayi pada dua laki-laki yang mempunyai tinggi hampir sama itu, yang menatapnya penuh harap.


  “Hehe.” Io nyengir, sedangkan Yandra terlihat merapikan rambutnya.


Situasi ini membuat Yandra berpikir bahwa ia sekali lagi memiliki kondisi yang sama saat ia dan Io yang dulu juga memberikan jaket mereka untuk Ayi ketika ulang tahun Ahsa.


Ayi yang mengerti maksud dari dua orang tersebut, hanya bernapas pasrah. “Tapi gue yang di tengah!” cetusnya, memindahkan tas punggung miliknya ke bagian depan tubuhnya.


  “Maaf,” lirih Yandra, tersenyum lemah karena merasa bersalah.


  “Baiklah sahabatku,” timpal Io, tersenyum lebar karena merasa senang.


Hujan juga perlahan mereda saat ketiganya sudah siap berada di payung yang sama.


Yandra menikmati suasana tersebut dengan yang ada bersamanya. Hampir seperti yang diharapkan dan direncanakan Yandra.


***


Haachim.


Io bersin untuk kesekian kalinya pagi ini. Ia masuk angin dan flu karena kehujanan kemarin. Tubuhnya terlambat beradaptasi dengan cuaca dingin yang sudah memasuki musim penghujan ini.


  “Iya, makanya gue nggak bisa jemput loe,” lanjut Io, berbicara pada Ayi lewat teleponnya. Ia masih menghangatkan tubuhnya di bawah selimut.


  “Yandra. Loe sama Yandra aja,” potong Io cepat.


  “Dih, tumben?” pungkas Ayi, sedikit heran. Awalnya, ia sempat berpikir untuk mengajak Dimas, tapi karena mereka tidak begitu dekat, maka Yandra adalah pilihan kedua.


Io lekas menjawab, “Biar bisa gue suruh-suruh, masa iya gue nyuruh Dimas mandiin gue? Nggak elit ‘kan?” Suara khas hidung tersumbatnya langsung dikenali mengganggu  pendengaran Ayi.


  “Loe resek kalau sakit tau nggak, Yo.” Ayi mencibir.


Io berusaha tertawa, tapi kepalanya masih terasa pusing dengan gerakan berlebihan.


Tak lama, ia  kembali  berkata,  “Sekalian bawa—“


Tut!


Io hanya bisa menatap layar teleponnya nanar saat panggilan diputus secara sepihak oleh Ayi.


  Galak, batinnya, tersenyum tipis saat ia kembali bersin.

__ADS_1


Pagi  itu, cuaca tidak cerah. Io kembali berbaring dan berniat melanjutkan tidurnya hingga sesaat kemudian kembali membuka matanya. Ia kemudian menatap jendela yang menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan remang itu.


Banyak hal yang dipikirkan laki-laki itu saat ia tidak memiliki ekspresi apa pun pada wajahnya.


Io tiba-tiba teringat lagi bagaimana mamanya merawatnya yang sakit saat kecil dulu. Menepuk-nepuk punggungnya yang menangis sesegukan setelah muntah karena demam. Io juga selalu minta dibuatkan sayur bening dari jagung muda yang menjadi menunya saat sedang sakit. Masakaan yang  juga selalu Ayi bawakan untuknya. Rasanya hangat saat itu, bahkan juga saat ini, karena air matanya menetes tanpa ia sadari. Matanya menghangat.


Ia sangat merindukan mamanya.


Hampir setahun bulan sebelum meninggal, mamanya menghilang dari rumah waktu itu. Io yang masih berumur tujuh tahun terus menangis dan hanya dikasihi oleh mama Ayi. Ia mudah menangis dan cengeng saat itu. Untuk itulah, Ayi selalu menyemangatinya. Io kecil.


Tok tok tok.


Bunyi dari ketukan pintu kamarnya itu menandakan adanya kehadiran seseorang dibaliknya. Io melayangkan pandangan pada jam yang ada di atas nakas, masih pukul tujuh pagi. Io setidaknya sudah tahu siapa yang akan ada di rumah saat jam seperti ini.  Itu kemungkinan besar  adalah ibu tirinya. Jadi, Io hanya mengabaikannya dengan menutup matanya kembali.


Akan tetapi, panggilan pelan ‘Kak Helio’ yang pelan setelah ketukan kedua, kembali membuat Io tak bisa mengabaikannya. Suara  itu jelas bukan ibu tirinya, tapi adiknya, Arta.


Dengan memaksakkaann diri, Io berjalan membuka pintu. Tak menduga bahwa Arta juga tidak masuk sekolah. Ia tidak tahu bahwa flu yang ia alami akan menular secepat itu. Pintu terbuka dan di depannya sudah berdiri seorang laki-laki yang lebih muda darinya. Wajah hidup dan sehat anak itu mematahkan dugaan Io sebelumnya.


Arta memasang senyum ragu sambil membawa makanan. Dengan sekali lihat, orang-orang bisa tahu bahwa ia adalah anak yang patuh dan pendiam.


Semenjak kemarin sore, Io belum makan sama sekali. Ia yang pulang dengan keadaan basah kuyup, membuat ibu tirinya khawatir karena jauh dari waktunya pulang sekolah. Namun, masih tetap Io abaikan dan memilih mengurung diri di kamar hingga sekarang.


Io kembali berbaring, badannya masih terasa lemas. Sepertinya ia sudah demam semenjak kemarin.


Arta mendekat dan meletakkan nampan yang berisi makanan di atas drawer. Semenjak Arta masuk, ia sudah menghapus air matanya. Rasanya memalukan saat Io berpikir Arta melihatnya menangis.


  “Loe nggak sekolah?” tanya Io saat Arta hendak beranjak.


  “Enggak, Kak. Lagi ada rapat orang tua di sekolah. Jadi, Bunda nyuruh aku buat jagain Kak Io di rumah,” jelas Arta. Meskipun Io jarang berbicara dengan mamanya, tapi perlakuannya pada Arta sangat berbeda. Ia sering mengobrol dengannya layaknya saudara.


  “Gue nggak pa-pa, kalau loe ada keperluan di luar, pergi aja. Ntar siang juga Ayi datang,” ungkap Io pada adiknya itu.


  “Iya,” gumam Arta, menurut. Tubuhnya yanng masih mematung dan tak banyak bergerak itu jelas memberikan hal lain untuk  Io maknai. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh adik beda ayah dan ibunya itu.


Jadi, Io memutus keterdiaman singkat antar keduanya dengan mengatakan, “Ngomong aja.”


Mata  Arta dilapisi oleh setitik kelegaan.


“Aku boleh nanya?” ujar Arta memberanikan diri. Io memang tidak pernah marah atau menunjukkan amarahnya pada Arta. Sebagai saudara, mereka bersikap biasa. Namun, Arta juga tahu kakaknya itu tidak begitu menyukai bundanya, bahkan ayahnya sendiri. Ia setidaknya sedikit mengerti apa yang Io rasakan.


Gumaman kecil dari Io pertanda sebagai persetujuan. Tanpa melihat ke arah adiknya, ia meminum susu yang masih hangat.


  “Kalau boleh tau, buku kesayangan Kak Io itu yang gimana? Aku juga mau bantu nyari. Siapa tau, kan?” ungkap Arta terlihat menunduk. Ia takut jika Io memarahinya, walaupun hal itu tidak pernah ia alami.

__ADS_1


Padahal, Io tak membencinya, sama sekali tidak.


To be Continued


__ADS_2