
Kamu nggak boleh marah, apa pun tentang Io kamu nggak boleh cemburu.
...•••...
Di masa kini, Ayi dan rombongannya belum meninggalkan makam Io dengan cuaca yang masih mendung. Sama seperti perasaannya.
Tempat dan waktu di mana ia berada sekarang, sudah tidak ada Io. Di mana pun. Entah bagaimana dan di mana pun ia mencari sahabatnya itu. Namun, setelah mengungkapkan apa yang ia ingin sampaikan di makan Io tadi, perasaan sedih yang ia tanggung sudah sedikit menyurut.
Sebelumnya, jika Yandra dan yang lainnya tidak membujuk Ayi dengan baik, maka mereka mungkin akan berada di sana seharian. Dengan melihatnya pun, Yandra sudah tahu. Ini bukanlah kali pertama mereka ke tempat ini. Rasanya masih sama menyakitkannya seperti dulu.
Semenjak kepergian Io, banyak hal yang berubah dan tidak berubah. Termasuk perasaan orang-oran yang ia tinggalkan.
Yandra melangkah perlahan agar tak mengganggu percakapan searah yang dilakukan Ayi. Rasanya sangat menusuk saat melihat tangan gemetar istrinya yang memegang sebuah buku diary. Dengan susah payah, Yandra berusaha menahan luapan perasaannya. Karena rasanya masih saja memilukan.
“Jadi, loe yang ngilangin sepatu gue, Yo. Hahaha, tapi untung Yandra ngasih tau. Gue yakin, pasti loe juga ngancem dia, ‘kan?”
Yandra diam-diam memerhatikan Ayi dari belakang. Hanya berjarak beberapa langkah saja. “Tapi nggak Yandra namanya kalau nggak ngasih tau gue. ”Ayi terdengar berdialog sendiri sembari membaca salinan dari buku diary milik Io yang turut ia bawa.
“Loe pernah janji bakal mastiin gue jadi sahabat loe sampai mati. Tapi kenapa loe tepatin janji yang itu, Yo,” gumam Ayi yang membuat suaranya kian melirih, tapi tak kunjung mencapai ujung kesedihannya sendiri.
Seolah tak ingin hal tersebut terjadi, walaupun sudah berlalu beberapa tahun yang lalu. Menyesalinya. Ini bukan salahnya, sama sekali bukan. Tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang sudah terjadi.
“Gue ... gue nggak mau ini semua, Yo. Mungkin loe bakal ngetawain gue yang ngomong kayak gini, Tapi ...” Ayi sepertinya tak bisa meneruskan perkataannya lagi. Air matanya sudah berceceran dengan matanya yang sudah sembab entah sejak kapan. Ternyata ia menangis sambil bercerita tadi. Sesuatu yang memang tak bisa ia tahan ketika ‘bertemu’ dengan Io saat ini.
Yandra bergegas memeluk istrinya dari belakang, seolah ikut merasakan bagaimana rasanya sebuah sesak dan kepedihan. Ayi terlihat terkejut untuk sesaat, tapi segera merapikan wajahnya kembali.
Helio, sahabat terbaik yang mereka miliki, sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan.
“Kamu bener. Dia bakal jadi orang yang tertawa duluan. Juga pasti pamer setelahnya, seperti yang akan kita duga. Tapi ... dia juga pasti terus menutupi kebenaran tentang dirinya. Nggak mau terlibat kisah romantis seperti yang dia katakan,” gumam Yandra yang membuat Ayi menoleh.
Mendengar sang suami mengatakanhal terebut, Ayi langsung menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan yang sebelumnya sudah ia usahakan agar tidak terjadi.
Bagaimana tidak. Seorang Yandra sedang cemburu.
“Kamu nggak boleh marah, apa pun tentang Io kamu nggak boleh cemburu,” sahut Ayi mencoba tersenyum. Ia seolah membela seorang Io seperti dulu ketika Dimas mulai membahas tentang sahabatnya itu. Itu saat mereka masih berpacaran.
__ADS_1
Yandra tahu bahwa apa yang ia rasakan itu salah.
“Yandra,” panggil Ayi setelah hening yang terjadi secara tiba-tiba di antara mereka.
“Ayi.” Ia pun turut memanggil nama satu-satunya wanitanya dari dulu hingga sekarang.
“Kenapa ya, aku cinta kamu.” Dibanding pertanyaan, apa yang Ayi katakan itu adalah pernyataan untuk dirinya sendiri.
Yandra tersenyum. Bagaimanapun ia mencintai wanitanya itu, tak pernah ia merasa jika Io menjadi saingannya atau pun penghalang. Justru sahabatnya itulah yang memberitahukan kebiasaan Ayi padanya disamping juga menjelekkan wanita yang tengah ia dekap saat ini. Tentu saja, siapa memangnya Io jika tidak begitu.
Semua yang berlalu terasa seperti mimpi bagi Yandra. Walaupun ia juga akhirnya tahu Ayi sudah menyukainya saat itu. Namun, butuh waktu lama untuk seorang Ayi bisa tetap ‘waras’ setelah insiden tersebut. Terlebih untuk mereka berdua, karena bahkan sampai sekarang pun, seorang Io masih hidup di ingatan mereka.
“Untuk mencemburui seorang Io, maaf, aku belum terlalu pantas,” gumam Yandra, melepaskan dekapannya dan menghapus jejak air mata sang istri.
Setiap tubuh dari mereka, terdapat jejak gerimis yang mulai turun lagi.
Mereka kini saling berhadapan. Yandra mendekatkan dirinya pada Ayi yang refleks mundur.
“Eh, kamu mau ngapain?” tanya Ayi terlihat kaget dan memegangi dada Yandra untuk mendorongnya.
“Mau—”
Ia tidak tahu apa yang Ayi maksud. Padahal, ia hanya ingin menutup diary Io yang juga ikut terkena tetes gerimis.
Dengan begitu, sudah tidak ada lagi yang ingin mereka sampaikan pada sahabat yanng sudah pergi beberapa tahun lalu. Sahabat masa remaja Ayi, Ahsa, Dena, dan juga Yandra.
“Yaudah, kalau gitu aku mau izin sama Io dulu.” ujar Yandra menatap gundukan tanah yang ditumbuhi rumput kecil-kecil.
“Hai Helio, kamu jangan marah ya, apapun tentang Ayi, kamu gak boleh cemburu,” tutur Yandra yang membuat Ayi tertawa begitu saja. Sudah tidak ada kesedihan lagi yang terpaut di wajahnya. Ia merasa lucu dengan sikap kekanakan Yandra ini. Sisi lain yang membuatnya jatuh cinta dulu.
“Walaupun nanti dia ngadu yang aneh-aneh ke kamu. Aku yakin pasti dia juga cerita tentang ... hmm, nggak jadi.” Yandra juga terlihat sama ‘gila’nya dengan sang istri ketika mengajak sahabatnya itu berdialog.
“Dih, apaan sih kamu, nggak usah ikut-ikutan aku juga kali,” sosor Ayi, tersenyum lebar sembari mencubit gemas pada lengan Yandra.
Sudah hilang jejak kesedihan pada raut wajahnya bebebrapa saat lalu. Ia jadi ingat perkataan Ahsa sebelumnya yang mengatakan bahwa mereka hanya bercerita tentang hal yang menyenangkan saja.
__ADS_1
Dari kejauhan, Dena dan Ahsa terlihat bermain dengan si kecil Jia. Gelak tawanya terdengar sayup-sayup. Sama sekali tak mempengaruhi sepasang suami istri itu.
“Kamu hebat, Yo. Dulu ketika kamu ada, aku nggak pernah cemburu sama kamu. Tapi, pas kamu udah pergi aku benar-benar cemburu, Yo,” aku Yandra pada akhirnya sembari menggenggam pergelangan Ayi di mana masih ada dua buah gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Lama-lama aku gigit nih,” ancam Ayi yang kemudian memerah saat Yandra mengecup telapak tangannya. Ia terpana.
“Dengan senang hati, Tuan Putri,” ujar Yandra memejamkan matanya kemudian sedikit mendongakkan wajahnya. Seperti menanti sesuatu untuk mendarat di area wajahnya.
Namun ...
“Aw! Sakit, Bee!” pekik Yandra sedikit tertahan. Ia membuka matanya dan mendapati Ayi mencubit lehernya. Meninggalkan bekas kemerahan di sana. Bekas yang pasti akan membuat ambigu orang yang melihatnya.
“Rasain!” Ayi mendengus pelan dan melirik pada nama yang ada di sebuah nisan. “Maaf, Yo, sahabatmu ini pamit dulu,” tutur Ayi tersenyum lembut. Ia memasukkan kembali diary Io tadi, kemudian berdiri dan menatap makam Io dengan tatapan yang siaapa pun yang melihatnya pasti akan mengerti. Ayi menggenggam tangan Yandra untuk beranjak dari sana setelah mengucapkan salam perpisahan.
Gerimis masih betah saat Yandra dan Ayi sudah melangkah pergi.
“Kamu masih ingat nggak?” Ayi tiba-tiba bersuara saat mereka sudah berjalan menuju tempat Ahsa dan Dena.
“Apa?”
“Pas kamu ngasih nih gelang,” ujar Ayi menunjukkan pergelangan tangannya. Yandra terlihat sedikit bingung. Gelang mana yang Ayi maksud? Bukannya di situ ada ...
“Gelang?”
***
“Gelang?”
Saat Yandra mengambil bukunya yang terjatuh di kolong ranjangnya, ia tanpa sengaja menemukan sebuah gelang. Gelang yang hampir ia lupakan. Sampai sekarang, ia masih belum memberikan gelang tersebut pada Ayi. Bukan tak ingin memberikannya, Yandra hanya lupa. Gelang itu juga sepertinya jatuh ke sana tanpa ia ketahui. Entah sejak kapan, sepertinya ia melupakan gelang tersebut.
Ia masih memikirkan perkataan Io beberapa minggu lalu yang mengatakan jika Ayi tidak memiliki perasaan apa pun pada Dimas. Ah, ia juga baru ingat sebentar lagi sudah tiga bulan semenjak Ayi jadian. Jika itu tidak salah ... mungkin hari ini.
Ting!
Yandra segera membuka sebuah pesan yang masuk lalu membacanya. Melihat nama si pengirim saja ia sudah tersenyum.
__ADS_1
Ayi.
To be Continued