Just Because

Just Because
Just 46


__ADS_3

Maaf.


...•••...


Io sudah sampai di kamarnya. Membaringkan tubuhnya pada kasur empuk yang baru diganti beberapa hari yang lalu. Mengambil benda bulat yang berhiaskan beberapa tali kecil yang terangkai. Beberapa bulu halus imitasi menjadi juntaiannya.


Perasaan marah masih melekat dalam dirinya. Setelah pertengkaran dengan ayahnya beberapa saat lalu, Io akhirnya masuk ke kamarnya dengan membanting pintu.


Ia marah.


Selama ini, ternyata ayahnya menyembunyikan fakta mengenai kematian mama kandungnya yang ternyata mengidap penyakit dan berakhir dengan bunuh diri. Io tahu semua itu saat menemukan rekam catatan medis milik mamanya.


Sebelumnya, saat semua tamu undangannya sudah pulang, Io sengaja membahas hal itu dengan ayahnya yang berakhir dengan pertengkaran.


"Maaf," lirihnya sambil menangis." Loe gak bisa menangkap mimpi gue malam ini," bisik Io dengan tawa hambar.


Ia mengambil sebuah kado pertamanya hari ini. Sebuah kotak yang diberikan oleh Ayi pagi-pagi sekali. Sahabatnya itu bahkan datang sebelum matahari terbit.


Io mulai membukanya dan mencarik kertas yang menempelinya.


Sebuah buku bergambar di sampul depannya terlihat terlebih dahulu. Tawa yang sedikit bahagia, Io gemakan. Tak begitu nyaring. Cukup untuk telinganya saja.


Ayi memberikannya sebuah buku yang dulu selalu ia cari. Buku yang sama seperti peninggalan mamanya. Buku dongengnya yang sempat hilang. Io antara terharu dan senang. Ia sendiri tak tahu apa dan bagaimana seharusnya bertindak.


Mulai membuka halaman pertama. Membacanya hingga akhir. Ia tak bisa mengantuk untuk malam ini walau sudah larut.

__ADS_1


Sebuah foto dan beberapa lembar kertas, tergeletak di atas meja belajar. Io sudah yakin dengan kebenaran tentang mamanya itu. Matanya sedikit dingin dalam tatapan..


Ia sudah memutuskan.


Dengan begitu, menyelesaikan pekerjaan terakhirnya dengan membuka dan mencatat kejadian hari ini pada buku diary-nya. Itu adalah hal yang sudah sering ia lakukan. Namun, sepertinya ini akan menjadi penutup.


Dengan kamarnya yang sudah terlebih dulu ia rapikan, Io tersenyum puas. Sepertinya ia bisa tidur sekarang.


Mengirim pesan singkat pada sang sahabat dan pergi tidur.


***


Pekikan dan suara lengkingan berbaur satu. Ibunya memanggil anggota keluarganya dengan teriakan.


Malam itu juga, keluarganya pergi ke rumah sakit. Namun, tetap tak terselamatkan, seorang Helio.


Arta yang bermata basah mencoba menelpon Ayi hampir dini hari atau bahkan sudah lewat. Tak tahu sudah jam berapa.


"Hhh. Kenapa, Ta?" Ayi menyahut pada panggilan kesekian Arta. "Loe nangis?" Suaranya lebih jelas daripada tadi.


"Kak-Kak Io udah gak ada ...," ujar Arta masih terisak. Begitupun dengan suara di sampingnya, orangtuanya.


"Ini tuh tengah malam, loe jangan bercanda," ujar Ayi masih tak bergeming. Ia berusaha tidak memercayai instingnya yang mengatakan kabar buruk.


Arta memberikan teleponnya pada sang ayah yang lebih baik lagi dalam menyampaikan daripada dia sendiri. Ia masih dalam duka.

__ADS_1


"Apa kamu mau datang ke rumah sakit sekarang?" Ayahnya berkata tanpa lebih. Tak ingin menjelaskan secara langsung. Sebelum panggilan terputus, ia juga memberikan alamat mereka sekarang.


Hanya butuh lima belas menit, Ayi dan kedua orangtuanya datang tergesa-gesa. Wajah orang-orang yang khawatir dan pilu bertambah lagi.


Ayi mengeluarkan emosi aneh saat mendorong pintu masuk. Di mana Io sudah terbaring di sana. Wajahnya sudah tertutup kain putih. Hanya ia sendiri di sana. Para keluarga Io menjelaskan kejadian di belakang Ayi. Mereka dalam suasana berkabung saat ini.


Ayi menghampirinya dan membungkuk.


"Loe ngapain, Yo?" Gadis itu menyapanya dengan air mata yang tak ia ingini. Jatuh begitu saja mengikuti lekuk pipinya.


Io yang sudah memucat tidak menjawab. Matanya tertutup.


"Woy! Gue nanya!!" Teriakan sudah di ambang tengah kapasitas suaranya. Ayi sangat tempramen saat ini. Berbeda dengan ia saat bersamanya dua jam yang lalu.


"Io!" Sudah bosan ia menyebutkan nama itu. Memanggilnya berulang kali tetap tak membuat si sahabat membuka matanya.


Io sudah tidak ada di sana. Namun, Ayi tak mengizinkannya pergi.


Air matanya berjatuhan di lantai. Ayi sudah setengah sadar saat tenaganya dihabiskan untuk berteriak tanpa henti. Kehilangan seorang yang penting dalam hidupnya membuatnya tak bisa tak lebih terpuruk lebih dari ini. Kepiluan terpahat dalam dirinya untuk esok yang berkepanjangan.


Senyum pedih menjadi ekspresi terakhir Ayi sebelum ia limbung dan tak sadarkan diri.


Kepergian Io mengubah hampir segalanya. Mengubah hidupnya.


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2