Just Because

Just Because
Just 34


__ADS_3

Dugaan sementara akan membawamu sedikit lebih menuju satu fakta.


...•••...


  “Jadi, kalian lagi ngomongin apaan?” Kali ini, Io yang bertanya balik sambil bertopang siku pada sandaran kursi yang diduduki Yandra dan Ayi.


“Ngomongin gue ya?” tambahnya lagi.


  "Io?" Yandra masih dalam keterkejutannya. Ia tidak tahu bahwa Ayi akan mengajak Io. Untuk itulah ia menoleh.


  "Io maksa mau ikut. Dia datang nggak lama sebelum loe." Ayi menjelaskan untuk kebingungan yang ditunjukkan Yandra padanya.


Yandra semakin terkejut saat mengingat bahwa obrolannya dan Ayi mungkin akan terdengar oleh Entah dan hal itu juga makin membuat dugaannya Io benar. Ia memang menyukai Ayi. Pasti Io berpikiran begitu. Yandra kini sibuk dengan pikirannya sendiri.


  “Ge-er banget jadi orang.” Ayi mendengus menatap Io tak suka. Ia kemudian mengambil sebuah payung dari di sampingnya. Memberikannya pada Io yang hanya nyinyir dengan beberapa es krim yang sedang ia bawa.


  “Siniin es krimnya,” pinta Ayi mengambil plastik belanjaan dari sahabatnya yang masih berdiri itu.


Entah mengapa, Yandra merasa sedikit canggung dengan suasana di antara mereka. Apalagi saat ini ia hanya mendengarkan Ayi dan Io yang membahas tentang Dimas. Namun, hanya sebentar sebelum mereka berdua mengubah topik, lalu kemudian juga melibatkan Yandra.


Kenapa hanya Io yang diberi payung? Yandra membatin saat gerimis mulai turun. Karena semenjak tadi, ia terus menunggu.


Atau mungkin mereka akan sepayung bertiga lagi? Yandra terlihat menunduk, menatap kakinya yang memijak tanah. Sampai kapan ia akan memendam seperti ini? Kenapa ia tidak jujur saja pada Io dulu? Mungkin temannya itu akan–ah, Yandra makin pusing memikirkan perasaannya sendiri yang jika ia pikir-pikir, itu sama sekali tidak berjalan dengan cukup baik.


Io dan Ayi sedang memperebutkan es krim saat Yandra kembali dalam pikirannya.


Ia memang menyukai Ayi, tapi bagaimana perasaan gadisnya itu pada dirinya sendiri, Yandra tidak tahu. Perasaannya memanglah jelas, tapi tidak dengan orang yang ia sukai.


Perlahan, sisa dari rasa senang—saat tahu bahwa Ayi dan Dimas sudah berakhir, hilang saat Yandra memikirkannya. Ia tetap saja tidak memiliki sesuatu yang membuatnya bahagia selain Ayi balik menyukainya.


Volume gerimis semakin bertambah saat Yandra menyadari tangannya dititiki air hujan.


Sepertinya ia juga harus mengajak Ayi mencari tempat berteduh, karena hujan sudah turun. Namun, Yandra tidak merasakan adanya air yang merintik di atas kepalanya lagi saat mendongak. Sesuatu sudah menghalanginya dari hujan.


  “Muka loe minta dikasihanin tau nggak?" Yandra sedikit terlambat saat menyadari bahwa Ayi sedang berbicara padanya. "Hari ini kita bertiga ngerayain gue yang putus sama Dimas,” tutur Ayi yang merapatkan tubuhnya di samping Yandra sambil memegang payung. Jarak mereka sangat dekat hingga berhasil membuat laki-laki itu lagi-lagi berdegup kencang.

__ADS_1


  “Sekalian juga ngerayain putusnya gue ama Sheila ‘kan, Yi?” sela Io yang menyembulkan kepalanya dari jaket yang baru saja ia pakai. Laki-laki itu juga hanya memakai payung seorang diri.


Ayi hanya bergumam sebagai tanda setuju, lalu mulai membuka es krimnya setelah ia bagikan pada dua orang yang duduk di sampingnya. Mereka mulai mengobrol apa pun yang ingin mereka bincangkan di tengah hujan yang sudah deras.


Yandra diam-diam tersenyum, ternyata ia salah sangka. Ia akhirnya tahu kenapa Ayi memberikan payung pada Io tadi.


Hujan masih deras. Mereka sama sekali tidak beranjak dari sana. Ketiganya kompak saat terlihat melipat kaki di tempat duduk mereka yang masih kering, meskipun terasa dingin. Jelas sekali terlihat tak ingin memijak tanah yang basah dan sibuk dengan obrolan yang mengalir begitu saja.


  "Kamu pernah makan es krim di cuaca panas?" Yandra bertanya pada Ayi yang ada di sebelahnya yang masih menikmati makanan dingin itu.


  "Apa?!" Ayi menyahut dengan sedikit meninggikan suaranya. Hujan yang diiringi guntur itu memang bukanlah saat yang tepat untuk mengobrol.


Mereka berbicara, tapi berteriak. Suaranya teredam jika tidak begitu. Rasanya menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama.


Io menghabiskan es krimnya paling awal, sedang Ayi masih tersisa setengah. Ia yang sepayung dengan Yandra terlihat asyik mengobrol berdua saja dengan saling berteriak.


  “Nggak salah lagi,” gumam Io, menopang dagu dengan tangan kirinya. Ia melirik pada sesuatu yang melingkar di tangan Ayi. Masih memerhatikan dua orang yang duduk di sampingnya itu asyik masih dengan masing-masing. Mereka tengah tertawa keras, sepertinya kali ini membahas lagu. Lagi.


***


Hujan masih deras di luar sana saat ia terjebak di rumah sepupunya tersebut.


  “Gue minta coklat panas aja. Cemilan juga kalau ada. Kalau nggak ada, coklat punya loe juga nggak pa-pa,” ujar Ahsa tak merasa keberatan, kemudian duduk di sofa yang ada di belakangnya. Meletakkan obeng yang tadi ia pinjam. Karena saat ingin pulang beberapa saat yang lalu, tiba-tiba saja turun hujan.


Sejak saat itu, sudah hampir setengah jam ia menunggu.


  “Buat sendiri aja, perut gue masih nyeri,” sahut Dena yang tengah berselimut. Ia sesekali meringis memegangi perutnya yang sakit. Ini adalah jadwal bulanannya. Ia selalu begitu saat datang bulan.


Menghela napaslah yang bisa Ahsa lakukan. Ia hampir saja lupa jika Dena yang sepertinya sedang tak bisa ia ajak bercanda.


Tanpa permisi, Ahsa beranjak dari tempatnya menuju dapur dan membuat minuman hangat.


Dena masih sibuk dengan teleponnya. Ia bahkan tak menyadari Ahsa yang sudah kembali dengan dua buah mug. Tanpa diberitahu pun, Dena tahu itu adalah untuknya.


Sepupu yang pengertianmya itulah yang membuatnya terkekeh sambil menerima minuman hangatnya.

__ADS_1


Seperti sebelumnya, keduanya kembali menatap jendela kaca yang berair. Hujan jelas terlihat masih lama bertahan.


  “Na,” panggil Ahsa pada Dena yang saat ia lihat, hendak memejamkan matanya.


  “Hm?” Dena menyahutinya dengan malas dan  nada penegasan bahwa ia tidak ingin diganggu.


  “Apa gue aja ya, yang ngerasa kalau Yandra itu suka sama Ayi,” tuturnya untuk mengungkapkan apa yang selama ini ia rasakan, ia pikirkan, dan duga.


Karena akan membosankan jika Ahsa hanya diam saja.


  “Ya, kayaknya emang loe doang deh, soalnya gue nggak." Dena menjelaskan dengan mata tertutup.


Kemudian, ia kembali membukanya saat merasa apa yang ditanyakan Ahsa menarik rasa ngantuknya.


  "Tapi gue justru ngerasa kalau Ayi yang suka sama Yandra.” Dena berucap  seperti ia merasa heran saat mengingat dua orang yang ia munculkan dalam benaknya saat ini, lalu menyesap kembali minumannya, sudah tak berminat untuk mengantuk lagi.


  “Gitu, ya. Berarti mereka sama-sama suka dong." Ahsa bergumam sendiri, tapi juga bermaksud untuk didengar oleh Dena.


"Gue kadang greget aja liat Yandra yang berusaha nyembunyiin perasannya. Kenapa nggak jujur aja, ya.” Ahsa yang mulai larut dalam pikirannya, mengaduh saat bibirnya bersentuhan dengan coklat panas. Ia lupa meniupnya.


  “Harusnya gimana Ayi sama Dimas, tapi mereka udah putus deh kayaknya. Ayi itu aneh, masa nerima orang yang nggak dia suka. Sok berusaha ngebalas perasaanya lah. Padahal jelas-jelas ada Yandra." Dena menyampaikan pendapat terpendamnya.


  "Kalau dipikir-pikir, mereka berdua nggak peka emang. Hidupnya penuh ketidakjelasan, gue sebagai temannya merasa malu secara nggak langsung.” Curahan hati seorang Dena disimak baik oleh Ahsa. Ia bahkan ikut membayangkan Ayi dan Dimas semasa berpacaran. Sahabat mereka itu memang tidak terlalu peduli dengan omongan orang lain.


  “Iya, kayaknya udah. Soalnya ini udah tiga bulan. Tapi, Na ...” Ucapan Ahsa menggantung. Ia menoleh Dena yang kini menikmati coklat panasnya. “Menurut loe, Io ama Ayi itu beneran nggak ada terlibat perasaan, ‘kan?” Ahsa menatap serius orang yang bersamanya itu. Mengungkapkan pikiran yang selalu mengganggunya.


Ia berharap agar itu bukan bukan hanya pikirannya saja, mungkin Dena dan juga orang yang berada di sekitar mereka memikirkan hal yang sama.


Pertanyaan yang sudah mereka tahu jawabannya. Namun, sebagai seorang yang termasuk teman dekat Io, Ahsa dan Dena juga merasa bahwa hal itu masih belum terlalu jelas.


  “Tenang," ujar Dena, "gue justru ragu kalau Io itu bener-bener suka sama orang. Ya, dia emang sahabatan sama Ayi dari kecil. Tapi, loe juga tau ‘kan gimana dia pacaran?” jelas Dena yang diangguki oleh Ahsa.


  “Resek,” imbuh Ahsa meminum habis coklatnya yang sudah sedikit dingin. Suhu di saat hujan seperti ini sedikit membantunya berkeinginan untuk tidur


Ya, benar. Io yang keduanya kenal memang cukup brengsek saat berpacaran. Seperti mengajak ikut Ayi saat ulang tahun salah satu pacarnya dan berakhir dengan mereka putus saat Io memberikan kuenya pada Ayi.

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2