Kanava (Transmigrasi)

Kanava (Transmigrasi)
[32] Kutukan


__ADS_3

Suara anak anak yang tengah bermain ditaman memenuhi pendengaran seorang pemuda yang tengah terduduk disalah satu kursi taman sendirian,seperti nya pemuda itu tengah menunggu seseorang bisa dilihat kepalanya celingak celinguk ke sembarang arah.


dia mengalihkan pandangannya ke depan dimana ada dua anak laki-laki yang tengah menyuapi seorang anak perempuan yang seperti nya itu adalah adiknya.


Wajah datar pemuda itu memperhatikan bagaimana telatennya anak itu menyuapi adik perempuannya, dia berasa Dejavu dengan pemandangan di depannya.


Dulu sebelum kedua orangtuanya bercerai Dia sangat dekat dengan adik kesayangannya,selalu memanjakan adiknya itu namun karena perceraian orangtuanya dia jadi jarang bertemu dengan adik dan ibunya karena ayahnya yang meminta dirinya untuk tetap bersamanya.


Dia sangat merindukan kebersamaannya bersama sang adik dulu yang selalu bermanja kepadanya.Meskipun dia sering berteleponan dengan adiknya karena suatu hal menjadikan mereka jarang bertemu ataupun bermain bersama seperti waktu mereka masih kecil.


Sifatnya jadi berubah setelah orangtuanya bercerai dan Tahu akan kenyataan pahit kalau darah yang mengalir didalam tubuhnya bukanlah Darah baik melainkan darah dari Keturunan yang sangat jahat dan kotor di masa lalu.


Dia sadar akan hal itu kalau dirinya dari keturunan yang terhubung janji dengan iblis Menjadikan dirinya merubah sifatnya menjadi dingin dan kejam karena mau bagaimana pun darah itu mengalir di tubuhnya.


Tapi tidak dengan adiknya yang selalu dalam pendiriannya yang sangat kuat, tidak seperti dirinya yang langsung terpengaruh oleh semua itu. Itu juga satu hal yang mengakibatkan persodaraan mereka seperti renggang karena Pendapat masing-masing yang berbeda.


Pemuda itu menghela napasnya lelah, kenapa semuanya terjadi di kehidupannya. Sungguh dia sangat membenci Kepada dirinya sendiri, mau mengelak dari semuanya pun tidak bisa.


Ditaman yang sama namun ditempat yang berbeda seorang gadis tengah mencari kesempatan untuk kabur dari genggaman tangan pemuda disampingnya.


Mereka berjalan sambil bergandengan tangan bak sepasang kekasih yang tengah jalan jalan bersama.


"Mules, lepasin dong tangan Lo gue pengin ke toilet,"Ujarnya, gadis itu ialah Kanava tangannya yang di genggam oleh tangan Raefan.


"No, mamih suruh gue jagain Lo,"Terangnya.


"Kan ada ayang Raja,"Raefan menoleh ke arah Kanava.


Matanya menatap sinis gadis itu selalu saja rajarajaraja yang ada dipikirannya. Dia memutar kedua bola matanya malas.


"Raja? Dia udah balik duluan tolol, Leanord kebelet jadi dia minta pulang dianterin langsung sama raja,"Bohongnya padahal Leanord sama sekali tidak meminta apapun pada Raja.


Mau melangkah saja Leanord terasa kaku apalagi meminta yang tidak mungkin terjadi kepada Mantan rivalnya,sekarang mereka berdua tengah berada di salah satu pedagang cilok tentu yang bayarin adalah Raefan karena Raja maupun Lea tidak membawa uang.


Semua ucapan Raefan tadi cuman akal-akalan nya saja yang tidak mau Kanava berada di samping Raja.


"Cih nyatanya Lo juga jago ngibul, mana ada Lea kebelet ditaman ini ****** gue gak percaya sama Lo! Lagipula gue gak akan percaya sampai maut menjemput,"Sewotnya.


"Dibilangin juga Lo malah ngeyel kampret! Gua itu Udah Yuyun seyuyun Yuyun nya,"


"Gue lagi bad mood tau lah gak mau ngomong lagi,udah capek badan gue pengin istirahat,"Kanava duduk ditanah dengan tangan kiri yang masih di genggam pemuda itu.


Kanava mengipas wajahnya menggunakan topi yang tadi dipakai olehnya,rambut-rambut nakal yang berada di depan wajahnya menyapu pipi putihnya yang sekarang terlihat memerah akibat sinar matahari pagi.


Semua yang Kanava lakukan tentunya di perlihatkan oleh satu pemuda, siapa lagi kalau bukan Raefan si mulut lemes,


Glek


Raefan yang melihat gadis yang duduk dibawah tanah tanpa sadar dia menelan salivanya Dengan kasar Karena dibawah kendali pandangan matanya yang nakal dia melihat pipi yang terlihat sedikit memerah bukan hanya itu dia dengan kurang ajarnya melihat leher jenjang kanava dari atas.


Kanava sekarang terlihat begitu menggoda Dimata Raefan keringat yang bercucuran dari dahi Sampai ke leher jenjangnya itu, memang leher gadis itu terekpos dengan jelas karena rambut panjangnya yang diikat seperti kuda.


Kalau saja Kanava sadar akan Raefan menatap nya seperti itu bisa dipastikan dia akan membabak belur lagi pemuda tampan itu yang sialnya adalah rivalnya.


untung saja Kanava sekarang terlalu malas untuk menengok ke arah Raefan jadi keberuntungan Raefan sekarang tengah menggelora.

__ADS_1


Pengen Lagi gue ngerasain manisnya bibir Nava tapi bagaimana caranya ege! Manis bibirnya aja masih gue inget sampe sekarang, kemarin ditoilet kenapa gue malah diem sih? kan gue bisa aja langsung Nyambar bibirnya itu dasar Raefan tolol diberi rejeki malah Lo tolak,batin Raefan yang tidak sadar mengucapkan hal itu.


Tangan kiri dia melayang dengan lembut mengarah ke Kanava, Raefan yang melihat tangannya pun langsung sadar dengan kelakuannya yang astagfirullah tadi dia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


apa-apaan dirinya itu malah melihat dan memikirkan sesuatu yang nanti akan membuat dirinya dihajar habis-habisan oleh gadis itu.


Dia berdeheman Untuk menghilangkan rasa salah tingkah di dalam tubuhnya pipinya saja sama seperti Kanava yang memerah, tapi di antara mereka berdua memiliki alasan yang berbeda untuk pipi masing-masing.


"Bangun,"titahnya pada kanava.


"Males,"Kanava menjawab sambil menatap seorang pemuda yang berambut gondrong dari kejauhan sana.


"Cepet bangun,"titahnya lagi penuh dengan penekanan, mau bagaimana pun Raefan sekarang harus menjaga imannya agar tetap kuat melihat gadis itu semakin menjadi di bawah sana.


Kanava menggelengkan kepalanya sambil terus dengan aksinya mengipasi wajahnya,"ogah sebelum Lo lepasin tangan gue,"Dia mencebikan bibirnya dan menoleh ke arah kanan.


"Gak pasti nanti Lo bakalan kabur aksi Lo nanti juga yang akan buat gue ngejar Lo, gue capek harus lari,"


"Janji deh gue gak bakalan kabur dari Lo asalkan Lo lepasin tang gue, sakit tau Lo genggamnya kenceng kayak gitu gue kan lemah,"Ucap Kanava mengalihkan pandangannya ke arah Raefan dan menatap memohon ke pemuda di atas sana.


Matanya saja berkedip-kedip lucu bukannya membuat Raefan gemas aksinya itu malah membuat Raefan ingin sekali mencolok mata gadis itu dengan telunjuk kirinya.


"Sengaja gue pegang Lo kenceng biar gak kabur,Kalau Lo bersikap kayak gitu gue Colok juga mata Lo itu Sama telunjuk kiri gue,"Ancamnya.


Kanava mendatarkan Wajahnya setelah mendengar ancaman Raefan yang akan mencolok matanya menggunakan telunjuk kirinya.


dia kecewa dengan aksinya tadi padahal dia sudah menurunkan sedikit jati dirinya kepada pemuda itu tapi lihat saja hasilnya malah zonk.


Kanava bangkit dari duduknya di tanah tadi dia menatap kesal ke arah Raefan yang tengah membuka plastik permen karet menggunakan tangan kiri dan giginya pemuda itu  terlihat kesusahan yang hanya membuka satu pembungkus saja.


Dia mendecitkan lidahnya kesal melihatnya Raefan seperti itu, untunglah dirinya sekarang masih bad mood karena Raja dan Leanord yang meninggalkannya sendirian di taman.


Raefan menatap bungkus permen karet miliknya yang tengah di buka oleh Kanava menggunakan mulutnya.


Matanya mengerjap lucu manatap Kanava,itukan bekas dirinya tadi yang sempat terkena giginya sekarang malah berada di gigi gadis itu bukankah itu sama saja mereka melakukan kiss tanpa bersentuhan langsung?.


Jadi ciuman kedua mereka terhubung oleh pembungkus permen karet?.Sungguh keberuntungan macam apa yang terjadi di hidup Raefan sekarang.


Kanava memasukan permen karet itu ke dalam mulut Raefan yang menatapnya cengo."Ngapain Lo liatin gue segitunya? Lo pikir gue itu cocok buat jadi tontonan apa? Sini bayar sekali lirik dua juta,"


Raefan mengerjapkan matanya,kesadarannya sekarang sudah pulih kembali ketempat nya.


Tuk


"Orang pada nggak mau liat wajah Lo kali,"Kanava mengusap keningnya yang terasa sakit akibat hentikan pemuda itu.


Dia menginjak keras kaki Raefan beberapa kali.


Semua aksi mereka berdua dilihat oleh satu makhluk berjubah merah di atas pohon dekat sungai di sebrang sana, memang taman ini ialah taman yang pertama kali di kunjungi oleh Kanava beberapa hari yang lalu.


Entah siapa makhluk yang berada di atas pohon itu yang jelas dia memakai jubah merah wajahnya ditutup oleh selendang berwarna merah juga hanya terlihat matanya saja yang melihat ke arah taman.


"Apakah benar gadis yang bersama keturunan Louis itu gadis yang diucapkan nona Lezza?"Gumam nya, dia menggulung selendang merahnya yang tadi hampir saja mengayun kebawah sana, kalau saja telat sedikit dia pasti akan ketahuan oleh pemuda yang bersama gadis itu.


Dia terus saja memperhatikan gerak-gerik gadis itu yang sekarang tengah berjalan ke arah seorang pemuda yang tidak asing dipandangan matanya.

__ADS_1


Kanava menyeret tangan Raefan supaya dia dengan cepat mendekat ke pemuda tadi yang sempat dilihatnya di kursi sana.


"Cepet ege,"titahnya pada Raefan.


"Mau ngapain sih Lo?"Tanya Raefan kesal.


Kanava hanya menulikan pendengaran nya saja mendengar pertanyaan Raefan dia dengan cepat langsung menyeret kuat pemuda itu.


Raefan sendiri hanya pasrah tangannya di seret seperti itu karena dirinya sendiri yang salah menggenggam tangan mungil Kanava yang seakan dia enggan untuk melepaskan genggamannya itu.


Langkah Kanava berhenti tepat di didepan salah satu laki-laki membuat Raefan yang melihatnya geram apa hadis itu akan memulai aksi nya tadi yang sudah di ganggu olehnya.


Kanava menyodorkan tangan kanannya ke arah depan wajah pemuda berambut gondrong yang tengah melamun.


Ck,Kanava awas aja gue buntingin lo juga nanti asal nyodorin tangan gitu aja sama orang papalagi cowok,batin Raefan, dia mengeratkan genggamannya di tangan Kanava.


Lamunan pemuda itu buyar karena tiba-tiba ada sebuah tangan yang berada di Depan wajahnya, apa adiknya sudah kembali dari toilet dia dengan cepat langsung mendongak ke arah pemilik telapak tangan itu.


Ternyata bukan adiknya yang berada di hadapannya melainkan musuh keluarga Narendra bukan hanya ada keturunan Agnibrata disana dia Juga melihat keberadaan satu pemuda yang tengah menggenggam tangan kiri gadis itu.


"Boleh kenalan gak ganteng? gue dari tadi lihat Lo sendirian disini lagi nungguin seseorang ya? Gue kanava blanche Lizzie panggil aja gue Kanava boleh juga sih Lo panggil gue sayang,"Cerocosnya sambil mengedipkan satu mata kirinya.


Pemuda itu menyambut tangan Kanava dengan wajahnya yang datar," Frederick Aslan Alamsyah, Aslan,"Ucapnya datar.


Pemuda yang bernama Aslan itu memegang erat telapak tangan Kanava,Kanava melototkan matanya terkejut sudah dari tadi dia menahan sakit ditelapak tangan kirinya yang digenggam erat oleh Raefan.


sekarang malah bertambah sakitnya di telapak tangan kanan yang dipegang kuat oleh pemuda bernama Aslan yang baru bertemu dengannya itu.


membuat Kanava harus menahan sakit di kedua telapak tangannya Yang sama-sama disana terasa dingin bukan panas.


Tubuhnya sekarang entah kenapa terasa Semakin dingin yang seakan menjalar di sekujur tubuhnya. Apalagi Perasaannya juga sekarang tidak beraturan karena kedua tangannya yang di pegang erat oleh kedua pemuda itu.


Entah apa Tujuan mereka melakukan itu kepadanya yang jelas sekarang Kanava mencoba melepaskan tangannya namun tidak bisa.


Orang Yang berada diseberang sungai sana masih melihat pergerakan mereka bertiga dengan penglihatan nya yang lebih tajam. Dia menyeringai di balik selendang miliknya karena melihat ada aliran kutukan yang berada di dalam tubuh gadis itu.


Tidak seperti tadi yang hanya melihat aura pembasmi makhluk saja, sepertinya sekarang gadis itu tengah menahan amarah nya yang akan memuncak.


Memang benar ucapan nonanya itu kalau gadis itu adalah gadis yang memiliki kekuatan dan kutukan yang sangat besar.


"Ya Sebantar lagi aku nanti akan mempunyai teman baru hahaha,"Tawanya menatap tubuh Kanava yang berada di seberang sana.


Ujung Selendang miliknya bergerak ke arah Wajahnya dan di tutuplah Sebelah matanya itu oleh ujung selendangnya, dia hanya melihat menggunakan satu mata nya saja.


Jemari tangan kanannya dia bentuk seperti huruf ok dan mengarahkan nya ke arah tubuh gadis itu yang masih berpegangan tangan bersama dua pemuda disana.


"Kutukan di dalam tubuh nya sekarang akan keluar, gadis kecil akan kutunggu kedatanganmu nanti malam akan kuserahkan dirimu pada tuan kita,"


Seringaian dia tak pernah pudar didalam sana, mungkin karena melihat tubuh kanava yamg semakin tidak terkendali. Dia menghitung mundur sambil dijeda-jeda olehnya.


"Tiga,"


"Dua,"


"Satu Dan,"Telunjuk kirinya Mengarah ke tubuh kanava.

__ADS_1


Wussh


ARRGGH


__ADS_2