
[Sayang, Aku di kamar 4009. Jangan lupa pakai dress yang waktu itu aku belikan, ya.]
Melihat siapa yang mengirim pesan, Karin segera membayar makanan dan meninggalkan teman-temannya yang masih asik dengan minumannya. Sambil menunggu taksi online datang, Karin mengganti pakaiannya sesuai permintaan pengirim pesan.
"Cantik!" Karin memuji pantulan wajahnya di cermin.
Dress hitam selutut, dipadukan dengan warna kulit Karin yang kuning langsat, terlihat sangat pas. Tak lupa lipstick merah muda ia bubuhkan di bibir tipisnya.
Gerimis membuat jalanan sedikit tersendat. Sampai di tempat tujuan, ponsel Karin kembali bergetar menandakan ada pesan masuk.
[Aku masih di jalan, kamu istirahat aja dulu. Kuncinya di resepsionis.]
Tanpa membalas pesan, Karin menuju resepsionis untuk mengambil kartu kamar yang dimaksud. Ini bukan kali pertama Karin datang ke Hotel Victoria, hotel berbintang lima yang hanya bisa dimasuki oleh kalangan elit. Tapi mudah saja bagi Karin, melihat siapa yang selalu berada di belakangnya.
Tanpa perlu diantar, Karin sudah di depan kamarnya. Begitu masuk, Karin mencium aroma parfum yang tidak seperti biasanya. Tapi Karin tak ambil pusing, mungkin dia bosan dengan parfum biasanya. Selesai membersihkan diri, Karin membaringkan tubuhnya di atas kasur king size, tak lupa ia juga mengganti dress hitamnya dengan lingerie warna merah favorit prianya.
Karin tak tau kapan ia terlelap dan sejak kapan pula dia memeluknya posesif. Yang pasti, ia selalu menikmati tiap pelukan yang diterima.
Ponsel Karin kembali bergetar, berulang-ulang. Merasa terganggu, ia berniat mematikan benda pipih itu. Namun, saat melihat siapa yang menelepon, Karin terkejut. Jika lelakinya menelpon, lantas siapa yang memelukku ini? Batin Karin, ia segera bangun dan mendorong tubuh itu kuat-kuat. Karin membungkus tubuhnya dengan selimut lalu menyalakan lampu, matanya terperanjat melihat tubuh seksi terpampang jelas di depan mata. Sedang sang pemilik tubuh langsung menutupinya dengan bantal.
"S-siapa kamu? Ngapain kamu di kamar saya?" seru Karin sambil menodongkan botol air mineral pada pria di hadapannya.
"Kamu yang siapa, kenapa kamu ada di kamar saya?"
Tak lama manager hotel meminta izin masuk, menjelaskan dan meminta maaf atas keteledoran resepsionis barunya. Seharusnya Karin ada di kamar 4006, bukan 4009. Dengan ketakutan resepsionis meminta maaf pada Karin.
"S-saya benar-benar minta maaf, Mba, Mas. Saya salah memberi kunci."
Tak mau ambil pusing, Karin yang masih terbungkus selimut meninggalkan kamar 4009 tersebut. Ia juga meminta resepsionis untuk membawakan tasnya. Sedangkan si pria, ia tak habis pikir ada seorang gadis yang dengan santainya pergi begitu saja tanpa meminta maaf, padahal jelas-jelas dia yang salah.
"Bu Wulan, siapa gadis tadi?" tanya pria itu pada manager hotel.
"Maaf, Pak, kami tidak bisa memberitahu Bapak siapa Nona tadi, itu privasi."
__ADS_1
"Bu Wulan tidak tahu siapa saya?"
"Sekali lagi kami minta maaf, Pak. Lebih baik, Bapak melanjutkan istirahat Bapak. Saya permisi." Pamit manager tadi ramah.
Menarik, manager sendiri melindungi gadis itu, berarti dia di sini bukan dengan sembarang orang. Aku akan mencari tau dengan siapa kau kemari. Gumam pria tadi dalam hati.
Di kamar 4006, Karin tengah memadu kasih dengan prianya. Mereka bermain begitu panas, membuat mulutnya beberapa kali mengerang kenikmatan. Ia memang tak pernah bisa menahan segala hasratnya bila sudah berada dalam pelukan lelaki itu, bagai kerbau dicocok hidungnya, apa pun yang diberikan, akan selalu merasakan kenikmatan yang berlipat ganda.
Tubuh mereka mengejang hebat, erangan nikmat saling bersahutan memenuhi setiap sudut ruang. Karin roboh di atas dada bidang prianya.
Dikecupnya dada bidang yang ada di bawah. Peluh membasahi tiap jengkal tubuh dua insan itu, kenikmatan dunia selalu berhasil membuat Karin ingin mengulangi.
Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, pria itu meminta Karin untuk membersihkan diri. Tentu saja gadis itu menurut. Selesai membersihkan diri, ia duduk di meja rias, lalu mengoleskan krim untuk menyamarkan kissmark yang ada di sekitar leher.
"Sayang, besok aku ke Hongkong. Mau ikut?"
"Enggak, ngapain. Yang ada, nanti aku bosan. Aku juga gak mau ganggu kamu kerja."
"Aku juga cuma tiga hari, kamu jangan nakal."
"Aku pasti bakal kangen banget sama kamu."
"Aku juga, Sayang. Aku mandi dulu, ya."
******
Pukul 8.25, Karin terbangun karena ada yang menelponnya. Siapa lagi yang menelpon sepagi itu kalau bukan pujaan hati. Rupanya dia sudah sampai Hongkong. Dia memberitahu Karin jadwal acaranya untuk hari ini, malah dijawab dengan erangan mesra khas bangun tidur.
"Kamu membuatku bergairah, Sayang. Aku tutup, nanti aku telpon lagi. Miss you." Pria itu langsung menutup telponnya.
Karin bangkit dari tempat ternyaman di seluruh dunia yang bernama kasur, dan menuju dapur untuk membuat sarapan. Ia tinggal di apartemen sederhana, seorang diri. Karin tak begitu pandai memasak, tapi ia tahu cara memasak, hasil masakannya pun tak terlalu buruk. Selesai sarapan Karin segera mandi dan bersiap untuk pergi ke cafe, ia ada janji bertemu dengan teman semasa kuliahnya dulu. "Lama juga gak ketemu sama gadis-gadis ini," batinnya.
[Hari ini Aku mau ke cafe, ketemu sama temen kuliah dulu, paling juga habis itu kita nonton, terus pulang.]
__ADS_1
Kekasih tidak membalas, mungkin sedang sibuk. Karin mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, tak lupa lagu romantis ia putar untuk menemani perjalanan. Sampai juga di cafe yang sudah mereka janjikan, di sana baru ada Amel.
"Hai, udah lama? Merlin mana?"
"Lumayan, ada lah lima belas menitan. Tahu tuh anak, dari tadi di-chat juga gak dibalas." Amel menunjukkan chat-nya yang tidak Merlin balas.
"Hai girls, sorry lama. Cowok gue ribet banget, suruh nganter ke sini aja banyak banget alasan nolaknya, pusing gue." Merlin menenggak habis minuman Amel. Karin dan Amel geleng-geleng saja melihat tingkah sahabatnya ini. Mengeluh soal pacarnya yang kurang perhatianlah, cueklah, ngeselinlah, tapi tetap aja dijalanin.
"Gue juga pusing dengerin lo ngoceh. Lo tuh, ya, ngeluh ini, ngeluh itu, tetap aja dipacarin. Putus dong," tukas Amel kesal.
"Udah, udah. Mending sekarang lo berdua pesan, pada lapar, 'kan?" ujar Karin menengahi.
Ponsel Karin bergetar. Pesan masuk dari pria yang paling ia cintai.
[Aku baru selesai meeting, gak nyampe tiga hari juga aku pulang. Kamu pulangnya jangan terlalu malam, istirahat. Besok harus kerja.]
[Kutunggu kepulanganmu, sayang (emoticon kiss)]
"Karina sayang ...."
Karin sangat kenal suara itu, suara wanita yang paling ia benci sedunia.
☘️☘️☘️
—*Terkadang, satu kesalahan dapat menunjukkanmu ke arah yang benar. Namun, bukan berarti kau bisa membenarkan sesuatu yang sudah jelas-jelas salah—
@lcasirih\*
__ADS_1