KARINA

KARINA
Tujuh belas


__ADS_3

Sesuai yang ia bilang ke Dio pagi tadi, Karin berangkat ke kantor dengan mobil kesayangannya. Sebelum masuk ke ruangan, Karin ke pantry terlebih dahulu, ia meminta office girl untuk membuatkan teh hangat.


"Mbak Karin, ini tehnya." Karin menerima teh yang OG ulurkan.


"Terima kasih, Lia. Saya balik ke ruangan, ya."


"Sama-sama, Mbak Karin. Iya, silakan."


Baru mau duduk, ia sudah mendapat pesan dari Presdir untuk segera menemuinya. Setelah meletakkan teh manis hangat, juga membawa buku catatan kecil Karin langsung menuju lift, yang akan mengantarnya ke ruangan pimpinan perusahaan tempatnya bekerja ini.


Dari kejauhan, Karin melihat Dio tengah menunggu pintu besi itu terbuka. Rupanya, Dio juga mendapat pesan yang sama sepertinya.


Ting ... pintu lift terbuka. Dio menekan angka yang menunjukkan lantai tujuan mereka. Meski di dalam lift hanya berdua, mereka tetap tak bisa bersikap layaknya kekasih. Sebab di sana ada kamera CCTV, yang siap siaga mengawasi gerak-gerik siapa pun yang berada di bawahnya.


Tiba di ruangan Presdir, mimik muka Karin langsung berubah masam. Model sombong nan menyebalkan bernama Thomas, ada di situ juga.


"Silakan duduk, Karin, Pak Dio." Presdir menunjuk sofa panjang yang ada di depannya. Posisi duduk Karin pas berhadapan dengan Thomas, itu semakin membuatnya tak nyaman.


"Jadi, tujuan saya mengundang kalian berdua adalah, untuk membahas mengenai produk kita yang launching beberapa bulan lalu. Seperti yang kita tahu, respon masyarakat sangat bagus. Untuk itu, saya ada rencana ingin menambah varian rasa dari minuman tersebut. Karena sebelumnya kalian yang menangani, sekarang saya ingin, kalian berdua lagi yang menghandle. Bagaimana?" jelas Presdir panjang lebar.


"Saya tidak keberatan. Saya rasa, Karin juga ok." Karin mengangguk, mengiyakan apa yang Dio sampaikan.


"Baik, kita bahas lebih lanjut pada rapat lusa. Kalian boleh kembali."


Model ternama itu tak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari Karin. Tentu saja itu membuat Karin risi. Gadi itu langsung pamit undur diri, disusul Dio. Muak rasanya dipandangi seperti itu.


*****


[Boss, kita dapat informasi kalau Ibu yang Boss cari terlihat di daerah Menteng, kemarin. Sekarang kami sedang menuju ke sana. Nanti kita shareloc.]


[Informasi sekecil apa pun, segera sampaikan padaku,] balas Dio.

__ADS_1


Mendapat pesan dari Jafar, orang kepercayaannya, alih-alih menelpon, Dio memilih menyambangi Karin langsung, yang tengah makan siang di kantin bersama Nesa.


"Hai Karin, Nesa," sapa Dio pada dua gadis yang sedang asik bersenda gurau itu.


"Hallo, Pak Dio," jawab Nesa dan Karin bersamaan.


"Hari ini saya ada temu klien di luar. Karin, kamu ikut saya. Ini kunci mobil saya." Dio menyerahkan kunci mobilnya. "Kamu tunggu saya di mobil, saya ke ruangan Presdir dulu," lanjutnya, lalu berdiri dari duduknya. Namun, Karin menahan.


"Mohon maaf, Pak. Tidak apa saya menunggu di mobil Bapak? Saya juga 'kan harus ambil tas?" sergah Karin.


"Kamu cukup bawa handphone. Udah sana, kita harus memburu waktu, kalau tidak, saya bisa kehilangan klien," tukas Dio, dan langsung meninggalkan keduanya.


Nesa menasihati Karin agar lekas menjalankan perintah atasannya, siapa tahu klien ini benar-benar penting bagi Manager Marketing itu. Ia pribadi ragu kalau ini soal klien, Karin tahu betul seperti apa kekasihnya jika menyangkut tentang pekerjaan. Pasti ada hal lain, klien hanyalah alibi.


Sesuai perintah Dio, Karin sudah menunggu di dalam Honda Accord putih kesayangan pacarnya itu. Tak lama Dio masuk, ia menyerahkan ponsel miliknya, minta Karin untuk membaca pesan yang belum lama ia terima.


"Mama?"


"Sudah, pasar tradisional Gondangdia."


"Kita ke sana sekarang!"


Pria bersurai hitam itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, membelah jalanan Jakarta yang tengah lengang, bagai memberi jalan pada gadis yang sudah tak sabar ingin segera bersua dengan sang mama.


Sesekali ia melirik gadis ayu yang duduk di sampingnya, ia paham, dia pasti gugup. Terlihat dari gerakan tangannya yang sesekali saling remas. Digenggamnya tangan itu sesaat, Karin tersenyum, Dio pun tersenyum sambil mengangguk, mengisyaratkan semua pasti baik-baik saja.


Jafar, orang kepercayaannya Dio langsung bangkit dari duduknya, kala mobil sang boss memasuki area parkir pasar. Ia segera berlari menghampirinya.


"Bahar, Igam dan yang lain sedang mencari di dalam pasar Boss."


"Di mana kamu pertama kali melihat mama?" tanya Karin pada pria berjampang yang ada di depannya kini.

__ADS_1


"Bukan saya yang melihat, Non. Tapi Igam, makanya saya suruh dia untuk mencari. Dia bilang, melihat mama Nona keluar dari kompleks perumahan elit Menteng sana. Terus, mama Nona masuk ke dalam pasar," jelas Jafar pada wanita yang akan menjadi pendamping hidup bossnya itu.


Karin menatap Dio penuh harap. Ia bawa gadisnya dalam pelukan, ia belai lembut rambut panjang pujaan hatinya. "Jangan perlihatkan tatapan seperti itu padaku, Sayang. Hatiku sakit, tersenyumlah. Mereka pasti akan membawa kabar baik." Dio berusaha menghibur kekasihnya. Karin mengangguk.


Setengah jam kemudian, orang-orang Jafar keluar dari arah yang berbeda. Mereka menunduk memberi hormat, pada Boss besar yang bersandar di pintu mobilnya.


"Gimana?" tanya Jafar pada keenam anak buahnya.


Mereka melaporkan hasil penelusurannya satu persatu. Jangan salah, anak buah yang Dio miliki bukanlah kaleng-kaleng. Mereka semua adalah, anggota terbaik dari salah satu penyedia jasa keamanan di Indonesia.


Karin menggenggam tangan kekasihnya. Wajahnya tak lagi lesu. Ia yakin, dengan semua usaha yang Dio kerahkan, tak butuh waktu lama lagi, ia akan segera bertemu sang mama. Dio tersenyum. Ini baru benar, Sayang. Rona seperti itu yang seharusnya tinggal di sana. Bukan kesedihan, batinnya.


*****


Berdasarkan hasil rapat pagi tadi, sudah disepakati, Karin akan menjadi asisten Thomas selama proses pembuatan iklan nanti. Rasanya ia mau meledak, membayangkan satu minggu penuh menjadi asisten model gila itu.


Ia tak bisa menolak, tentu saja. Jika ia tidak mau, model sialan itu akan memberi review buruk pada perusahaan.


"Arggghhh ... bedebah, sialan, brengsek, terkutuk kau model sialan. Arggghhh ...." teriak Karin dalam bilik toilet bersungut-sungut.


"Rin ...." tok ... tok ... tok.


Karin membuka pintu bilik kasar, rasanya ia ingin menelan bulat-bulat model songong bernama Thomas itu. "Kenapa manusia sialan itu memilihku untuk menjadi asistennya, Nes. Kenapa ... kenapa?"


Nesa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menepuk-nepuk bahu sahabatnya yang tengah dilanda kemarahan itu. Nesa meminta Karin untuk mengatur napasnya.


"Tarik napas ... embuskan. Tarik napas lagi ... embuskan." Perintah Nesa sambil menaik-turunkan tangannya. "Udah tenang?" Karin mengangguk.


"Ayo ke kantin, aku laper," ajak Nesa. Tapi Karin menolak.


"Males, gofood aja. Bye!"

__ADS_1


"Lah ... aku ditinggalin. Karin ...."


__ADS_2