
Mood Karin rusak, kini mereka bertiga sedang di apartemen Amel. Keduanya tengah tidur siang, sedang Karin masih kesal karena ulah Ibu tiri, ahh tidak ... ia lebih suka menyebutnya penyihir, waktu di cafe tadi. Bagaimana tidak kesal, penyihir itu bertingkah seperti ibu yang baik. Menanyakan kabar, juga bilang kangen sambil memeluknya, itu sangat memuakkan. Ditambah Amel dan Merlin tidur, makin buat Karin bad mood, ia memilih pulang.
Beberapa tahun silam. Karin memasuki rumah sambil membawa hasil test dari kampus yang akan ia jadikan tempat melanjutkan pendidikannya nanti, dengan riang. Rencananya, selepas mengganti baju, ia ingin memperlihatkan hasil test itu pada Papa. Namun, saat melewati kamar orang tuanya.
"Kita itu harus berhemat, Pah! Anak-anak masih butuh banget banyak biaya. Mending Karin gak usah kuliah, buang-buang uang. Langsung nikahin aja sama anak temen Papa itu."
Deg ... sampai detik ini, sedikit pun Karin tak melupakan hari itu.
Dalam hati Karin berkata, "cih, dasar penyihir licik tak tahu diri."
Srreeeet, dugg. Karin menabrak sesuatu, untung ia membawa mobil tidak dalam kecepatan tinggi.
"Aish, sial! Gara-gara penyihir tua itu, aku jadi hilang fokus."
Segera ia keluar, melihat apa atau siapa yang sudah tertabrak. Rupanya Karin menabrak seekor kucing, dan kucing itu mati seketika. Tanpa rasa jijik, Karin memungut tubuh kucing itu kemudian membuangnya ke tempat sampah. Sebelum dibuang, sudah ia bungkus dengan sweater yang selalu ada di dalam mobil. Dari kejauhan, telinganya mendengar suara orang berteriak, tampak di seberang jalan seseorang menunjuk-nunjuk ke arahnya. Karin melihat sekeliling, tidak ada orang lain lagi selain dirinya.
"Saya?" tunjuknya pada diri sendiri. Orang di seberang jalan mengangguk, lalu berjalan ke tempat ia berdiri.
"Kamu?"
Karin memiringkan kepalanya, mengamati wajah yang ada di depannya kini. Wajah itu terlihat sangat marah, juga tampak familiar. Ia mengingat-ngingat sejenak, di mana pernah melihat pria itu. Hotel! Iya, mereka tidak sengaja bertemu di hotel kemarin malam.
"Kamu, sudah nabrak kucing saya, harus tanggung jawab," ujar pria itu angkuh. Karin menanggapinya dengan santai saja.
"Udah saya buang, tuh. Saya pakaikan sweater juga, biar dia gak kedinginan." Karin berlalu begitu saja.
"Dasar gadis angkuh!"
******
Senin, rasanya berat sekali bagi Karin untuk meninggalkan tempat tidur, ia masih ingin bermesraan dengan guling dan boneka-bonekanya. Jam sudah menunjukkan pukul 6.30, ia segera ke dapur untuk membuat sarapan, ia akan membuat nasi goreng dengan sosis. Sosis, sayur, juga teman-temannya sudah dipotong, untuk bumbu halus tenang saja, 'kan ada bumbu kemasan, praktis. Ok, eksekusi dimulai.
Dengan gaya ala chef profesional gadis itu mengolah nasi yang sudah berada dalam wajan. Di luar terdengar suara pintu di buka, sudah pasti itu sang pujaan, cuma dia yang tahu code pintu apartemen ini selain Karin. Benar saja, pria itu langsung memeluk Karin sangat erat, begitu menyusulnya ke dapur.
__ADS_1
"Aku gak lama, Sayang. Mesti cepet-cepet ke kantor, laporan hasil kemarin. Kamu juga buruan sarapannya, terus berangkat, hari ini kita ada meeting."
"Siap, Pak. Karena Bapak sudah di sini, jadi, Bapak harus nyobain nasi goreng buatanku." Karin meniup-niup sebentar. Sang kekasih membuka mulutnya lebar, siap menerima suapan dari gadis pujaannya ini.
"Hmm ... lumayan, tapi terlalu pedas. Besok-besok kalau bikin apa pun, cabainya dikurangi. Ingat perut yang udah gak bersahabat sama pedas."
"Siap, Bapak. Udah sana, katanya mau ke kantor."
"Kiss!" si pria memajukan bibirnya. Cup ... Karin mengecup kilat.
"Aku berangkat!"
"Hati-hati."
Sarapan, mandi, sudah selesai. Karin ke kantor menggunakan taksi online, di lobby ia bertemu Nesa, mereka bertemu saat sama-sama interview di DeeKa Food, kebetulan juga mereka berada di divisi yang sama, yaitu marketing. Di mata Karin, gadis keturunan Tionghoa ini, gadis yang sangat baik, dia juga pintar. Namun sayang, karena kebaikannya itu banyak yang suka memanfaatkan. Hebatnya, Nesa biasa saja. Itu membuat Karin yang menjadi sahabat, merasa sangat kesal.
"Tadi pagi pak Dio ngasih pengumuman di grup chat kantor, katanya hari ini meeting all karyawan."
"Aku gak masuk grup, 'kan di-kick sama bu Mei."
Karin mencubit lengan Nesa agar diam, mereka akan berpapasan dengan bu Mei, kalau sampai wanita itu dengar, urusannya bisa sangat panjang. Ya, sekretaris Presdir itu memang terkenal dengan julukan drama queen. Apa pun yang menyangkut dirinya, pasti akan dibesar-besarkan.
"Pagi, bu Mei," sapa Karin ramah.
"Lengan kamu kenapa?" tanya Bu Mei pada Nesa. Wanita itu tidak menjawab sapaan Karin.
"Gatal Bu, digigit nyamuk tadi," jawab Nesa.
"Perasaan kantor kita bersih deh, kenapa bisa ada nyamuk." Bu Mei pergi begitu saja meninggalkan Karin dan Nesa, yang masih mematung di koridor.
"Pffttt, Bu Mei gak jawab sapaan kamu, Rin."
"Terserah!" Kini Karin yang meninggal Nesa, ia berjalan cepat.
__ADS_1
"Tungguin, iihhh."
Pukul 10.30 semua karyawan diminta hadir dalam meeting room, Presdir sendiri yang memimpin jalannya rapat. Presdir menjelaskan cukup panjang mengenai statistik penjualan produk mereka yang di Hongkong, Karin sampai bosan, ia menguap beberapa kali. Bu Mei yang melihatnya, menatap dengan tatapan tajam.
"Aishh, wanita tua ini. Menyeramkan sekali," gerutu Karin dalam hati. Tak lupa senyum palsu ia kembangkan.
Tepat waktu makan siang, rapat selesai. Cacing dalam perut Karin sudah mulai protes karena belum juga mendapat suplai makanan. Malas keluar, ia dan Nesa memilih makan di kantin kantor. Ia merasakan benda pipih yang berada di kantongnya bergetar, ada pesan masuk.
[Kamu makan di mana?]
[Kantin. Kenapa? Mau makan di sini juga?] balas Karin.
[Iya, sebentar lagi aku ke sana.]
Nesa mengetuk-ngetuk piring Karin dengan sendok. Makanannya akan dingin kalau tidak cepat dimakan. ia tersenyum dibarengi ekspresi yang menyebalkan, menurut Nesa.
"Jijik tahu gak, udah cepet makan."
"Boleh saya ikut makan di sini?"
Suapan Nesa tertahan melihat siapa yang mengajukan pertanyaan. Presdir? Makan di kantin? Apa tidak salah? Presdir tidak sedang kesurupan 'kan? Begitulah kira-kira yang dipikirkan Nesa.
"Boleh Pak, silakan duduk di mana yang Bapak suka." Nesa menunjuk kursi kosong di depannya juga Karin.
Presdir duduk di depan Karin. Tak lama, Pak Dio marketing manager ikut bergabung. Gadis bermata sipit itu seperti mendapat rejeki nomplok, dua pria paling populer di kantor kini makan satu meja dengannya. Tapi kesenangan Nesa berakhir sangat cepat, sekretaris Presdir ikut duduk di antara mereka juga. Gantian, kini Karin yang menertawakan Nesa.
☘️☘️☘️
—Salah satu orang yang paling dekat dengan hatimu ialah, orang yang paling kau benci—
@lcasirih
__ADS_1