KARINA

KARINA
Tiga


__ADS_3

"Kamu lihat gimana muka Bu Mei tadi, Nes?" tanya Karina pada Nesa.


Nesa mengeluarkan gawai dan menunjukkan pada Karin apa yang ada di dalamnya. Karin bertepuk tangan kagum, luar biasa sekali sahabatnya ini.


"Niat ya Nes, buat foto itu Ibu rempong."


"Momen langka, harus diabadikan."


Di kantin kantor tadi. Ketika semua sedang makan, seperti biasa Bu Mei akan sibuk mencari perhatian Presdir. Mengambilkan air minumlah, tissu lah, membuat Presdir risih saja. Mungkin Presdir kesal dengan kelakuan Bu Mei yang berlebihan, Presdir membentak wanita itu saat kantin sedang ramai-ramainya. Bu Mei menangis, mungkin maksudnya biar ditenangin sama Presdir, tapi yang ada malah tambah diomeli.


"Super Nesa." Karin mengacungkan dua jempolnya.


"Apa yang super?" tanya Pak Dio pada dua gadis yang asik berbincang itu.


"Kinerja Karin, Pak. Super," Jawab Nesa sambil masih menahan tawa mengingat tragedi Bu Mei di kantin tadi.


"Bagus, pertahankan, ya, Karin."


"Siap Pak."


Pak Dio masuk lebih dulu ke ruangannya, Karin dan Nesa juga kembali mengerjakan pekerjaan mereka yang tertunda tadi. Kedua gadis itu adalah kombinasi yang paling pas. Nesa yang terlalu murah hati dan Karin yang sedikit pemberontak. Tiap kali ada yang mencoba memanfaatkan Nesa, Karin akan pasang badan menantang.


Nesa pribadi tak pernah keberatan, tapi tidak dengan Karin. Tidak sepatutnya kebaikan seseorang dimanfaatkan sesuka hati, itu sungguh tak pantas.


******


Karin bersiap akan pergi ke kantor, saat membuka pintu, Papa yang dulu begitu tega menyebutnya dengan sebutan anak durhaka ada di baliknya. Demi sopan santun, Karin mengajak Papa masuk.


"Ngapain Papa ke sini?" tanya Karin ketus.


"Papa cuma mau tahu keadaan anak Papa." Karin berdecih.


"Papa gak salah, aku ini 'kan anak durhaka."


Papa Rudi marah mendengar apa yang putrinya katakan. Ia memang pernah menyebut Karin anak durhaka, tapi itu tidak disengaja, kalimat itu keluar begitu saja. Faktanya, setelah berkata seperti itu, papa Rudi menyesal bukan main.


"Cukup Karin! Kita bicara lain kali. Kamu jaga diri."

__ADS_1


Papa Rudi meninggalkan apartemen putrinya dengan perasaan kecewa. Selalu saja begini tiap bertemu, tidak ada pembicaraan yang mengarah kebaikan. Yang ada malah semakin membuat jarak di antara ayah dan anak itu.


Karin sendiri tak ingin begini, tapi harus bagaimana lagi. Kata-kata Papa Rudi saat itu begitu membekas dalam ingatan. Ia selalu berusaha untuk tak mengindahkan, tapi itu seperti lem yang begitu kuat menempel.


[Belum sampe kantor? Apa lagi di mana? -Nesa]


[Baru mau on the way. Mau dibawain sarapan apa?]


[Gak usah, aku udah sarapan. Kamu hati-hati nyetirnya.]


******


Thomas, model papan atas yang baru saja pulang dari Paris-Prancis. Akan menjadi model utama untuk peluncuran produk minuman terbaru DeeKa Food. Presdir memilih Thomas atas saran Bu Mei. Kalau bukan karena kinerja dan ide-ide cemerlangnya, Bu Mei pasti sudah dipecat dari dulu. Tingkahnya memang sangat menyebalkan.


Presdir meminta Pak Dio bertanggung jawab seluruhnya. Dari proses pengiklanan, akomodasi, kontrak dan lain-lain mengenai produk baru ini. Mudah saja bagi Pak Dio, tak sampai tenggang waktu yang ditetapkan, semuanya sudah hampir rampung. Tinggal pemotretan untuk katalog resmi.


Sampai sesi pemotretan Thomas selesai, Esther belum juga datang. Karin berlari dari ruang makeup ke tempat pemotretan, ia memberitahukan pada Pak Dio kalau Esther tidak ingin satu frame dengan Thomas.


"Kamu!" teriak Thomas ketika melihat Karin. Sontak membuat yang ada di dalam ruangan itu menengok ke arahnya. Karin memasang muka malas.


"Enggak, Pak. Tapi kita pernah gak sengaja ketemu." Jelas Karin.


"Ikut saya!" Thomas menarik paksa Karin. Kemudian menghempaskan tubuh Karin ke tembok cukup keras.


Karin mengaduh kesakitan sambil memegangi pundaknya yang membentur tembok tadi, tidak pernah ia diperlakukan se-kasar ini oleh orang lain, apalagi oleh seorang pria. Wajah Karin merah padam karena marah. Dasar cowok brengsek, kalau bukan karena kamu model perusahaan ini, aku pasti akan membalas berkali-kali lipat, umpat Karin dalam hatinya.


"Kamu sudah membunuh kucing saya, bukannya minta maaf, tapi kamu malah bersikap angkuh. Itu kucing kesayangan saya."


"Mohon maaf bapak Thomas, waktu itu saya tidak sengaja menabrak kucing Anda. Lagian, saya juga sudah mengurus mayat kucing bapak dengan benar. Soal maaf, ok, mungkin waktu itu saya lupa. Saya minta maaf karena tidak sengaja sudah membuat kucing kesayangan Anda mati. Saya permisi, masih banyak pekerjaan yang membutuhkan perhatian saya." Karin lekas meninggalkan Thomas. Semoga aku gak pernah ketemu lagi sama cowok kasar itu.


Presdir melihat apa yang model itu perbuat pada karyawannya. Baru sekedar model internasional, Mentri negara sekali pun tak akan ia biarkan bertindak semena-mena pada karyawannya. Presdir memanggil Thomas untuk ke ruangannya.


"Tolong jaga sikap, gak seharusnya loe bersikap kasar sama Karina."


"Oh, nama gadis itu, Karina. Dia udah membunuh Britney (nama kucing yang tertabrak Karin), Vin. Itu kucing kesayangan gue."


"Ya tapi 'kan, loe gak harus nyeret Karin kayak gitu, sampe loe dorong ke tembok pula. Loe gak lihat, dia kesakitan loh."

__ADS_1


"Alah, palingan juga memar dikit. Ngomong-ngomong, Esther beneran udah gak mau lagi satu frame sama gue?"


"Iya, dia ngancem bakal keluar dari kerjaan ini, kalau kita maksa buat satu frame sama loe. Jadi ya kita turutin."


******


Bertahun-tahun lalu, kala sebuah keluarga kecil terlihat tengah menghabiskan waktu bersama, di sebuah kebun binatang. Karin kecil gendong di punggung Papa Rudi, Mama berjalan di sampingnya sambil menyanyi lagi kesukaan. Tentu saja mereka adalah keluarga yang harmonis.


"Karin kalau udah gede nanti, mau jadi apa?" tanya Mama.


"Karin mau jadi kaya Papa," jawabnya polos.


"Kenapa Karin mau jadi kaya Papa?" Kini Papa Rudi yang bertanya.


"Karena, Karin mau buat Mama sama Papa bangga." Jawaban gadis kecil itu selalu mampu menghadirkan tawa.


Papa menurunkan Karin dari punggungnya, Mama membelai rambut anaknya lembut sambil berkata, "Karina sayang, selagi apa yang Karin lakukan itu baik untuk Karin dan orang-orang yang Karin kasihi, Mama dan Papa pasti akan sangat bangga. Iya 'kan, Pah?" Papa mengangguk setuju.


"Mama ...."


Lelaki itu menepuk-nepuk pipi gadis terkasihnya. Untuk kesekian kali ia melihat Karin menangis dalam tidur. Ia tahu, gadisnya kini, pasti sedang merindukan ibunya.


"Sayang bangun, Sayang!"


Karin tersentak, kesedihan tergambar jelas di matanya. Sang pria langsung merangkul gadisnya.


"Aku janji akan berusaha lebih keras lagi untuk mencari tau di mana keberadaan Mama, Sayang. Udah, kamu jangan nangis lagi ya. Ada aku yang akan selalu bersamamu." Karin makin mengeratkan pelukannya.


☘️☘️☘️


—Kenangan akan selalu tinggal, meski ribuan hari telah dilewati. Semua tergantung padamu, si manis, atau si pahitkah, yang kau pilih untuk menemani tiap langkah hidupmu—


 


@lcasirih


 

__ADS_1


__ADS_2